Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Udara musim panas di Washington D.C. sore itu terasa begitu tenang, seolah-olah dunia sedang menahan napas untuk memberikan perpisahan yang manis bagi keluarga Baskoro. Dari jendela lantai dua rumah dinas mereka yang asri, Almira bisa melihat bayangan pohon-pohon oak yang memanjang di atas aspal jalanan yang bersih. Di telinganya, alunan musik jazz dari speaker kecil di sudut kamar terdengar seperti latar belakang sebuah film lama yang sebentar lagi akan mencapai babak akhir.
"Al! Kopernya jangan diisi buku semua, nanti kelebihan muatan!" teriak Debo dari ambang pintu. Adiknya itu muncul dengan kamera DSLR yang menggantung di leher, hobi yang tak pernah lepas darinya sejak mereka menginjakkan kaki di Amerika lima tahun lalu.
Almira hanya menoleh sekilas, lalu kembali menekan tumpukan pakaian di dalam koper besarnya. "Ini bukan cuma buku, Deb. Ini catatan kuliah dan beberapa kenang-kenangan. Kita tidak tahu kapan akan kembali ke sini lagi, kan?"
Debo masuk dan menghempaskan tubuhnya di ranjang Almira yang sudah telanjang tanpa sprei. "Jakarta itu panas, macet, dan berisik. Aku masih tidak percaya Ayah mau pulang sekarang. Padahal masa tugasnya bisa saja diperpanjang kalau dia mau melobi sedikit."
"Kau tahu Ayah, Deb," sahut Almira sambil menutup ritsleting kopernya dengan susah payah. "Baginya, tugas adalah tugas. Dia bilang, rumah kita tetap di Indonesia. Dia ingin aku mulai kuliah hukum di sana, dan kau menyelesaikan SMA-mu di tanah air."
Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Pak Baskoro muncul di pintu dengan kemeja batik yang sudah rapi, meski mereka baru akan berangkat ke bandara tiga jam lagi. Wajahnya yang tenang selalu menjadi jangkar bagi kedua anaknya. Sejak ibu mereka meninggal dunia, pria itu adalah segalanya; dia adalah ayah yang tegas, ibu yang lembut, dan sahabat yang bisa diandalkan.
"Sudah siap semua?" tanya Ayah dengan senyum yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat.
"Sudah, Yah. Tinggal angkut ke mobil," jawab Debo sambil berdiri dan melakukan hormat gerak jalan yang jenaka, membuat suasana menjadi cair.
"Oh ya, Al," Ayah teringat sesuatu. "Tadi paman Hermawan datang saat kalian masih di atas. Dia menitipkan satu koper kecil. Katanya berisi pakaian dan beberapa dokumen untuk keluarganya di Jakarta. Ayah sudah masukkan ke bagasi mobil."
Almira tidak merasa ada yang aneh. Dalam lingkaran diplomat di luar negeri, saling menitip barang adalah hal yang dianggap sebagai bentuk persaudaraan. Ia hanya mengangguk pelan, tanpa tahu bahwa koper kecil itu adalah kotak pandora yang akan menghancurkan hidup mereka dalam hitungan jam.
Perjalanan menuju Bandara Internasional Dulles dipenuhi dengan percakapan ringan. Mereka melewati Lincoln Memorial dan monumen-monumen megah lainnya untuk terakhir kali sebagai penduduk kota itu. Ayah bercerita tentang keinginannya untuk pensiun di sebuah rumah kecil di Bandung, menanam mawar seperti yang dulu dilakukan ibu mereka. Semuanya terasa begitu terencana dan penuh harapan.
Namun, kedamaian itu mulai terkikis saat mereka menginjakkan kaki di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, sehari kemudian.
Jakarta menyambut mereka dengan hawa lembap yang langsung menusuk kulit begitu keluar dari pintu pesawat. Setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan, yang diinginkan Almira hanyalah segera sampai di rumah dan merebahkan diri. Mereka berjalan menuju area pengambilan bagasi dengan santai, mengobrol tentang makanan apa yang ingin mereka santap malam ini.
Koper-koper besar mereka muncul satu per satu di sabuk berjalan. Debo dengan sigap mengangkatnya ke atas troli. Terakhir, Ayah mengambil koper hitam kecil titipan paman Hermawan. Koper itu tampak biasa saja, berbahan kain tebal dengan kunci gembok kecil yang terlihat agak kusam.
Saat mereka berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba empat orang pria berseragam petugas Bea Cukai dan dua orang polisi berpakaian preman memotong jalan mereka.
"Bapak Baskoro?" tanya salah satu petugas dengan nada yang terlalu dingin untuk sebuah sapaan.
"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?" Ayah menjawab dengan wibawa diplomatnya yang masih melekat, meski wajahnya menunjukkan kelelahan.
"Mohon maaf, Pak. Kami mendapatkan laporan terkait isi bagasi Anda. Bisa ikut kami ke ruangan pemeriksaan?"
Almira merasakan firasat buruk mendadak merayap di tengkuknya. "Ini pasti ada kesalahan. Ayah saya bekerja di kementerian, kami baru saja pulang bertugas dari Amerika."
"Al, tenang," sela Ayah, memegang lembut lengan Almira. "Mungkin hanya pemeriksaan acak. Kalian tunggu di sini sebentar, ya?"
"Tidak, kami tidak akan meninggalkan Ayah," tegas Debo.
Mereka akhirnya digiring ke sebuah ruangan tertutup dengan pencahayaan neon yang pucat. Di tengah ruangan, sebuah meja besi berdiri dengan angkuh. Petugas meletakkan koper hitam kecil milik Hermawan di sana.
"Silakan dibuka, Pak," perintah petugas polisi.
Ayah mengeluarkan kunci kecil dari sakunya dengan tangan yang sedikit gemetar karena bingung. Begitu ritsleting koper itu ditarik terbuka, bau tajam bahan kimia langsung menyeruak memenuhi ruangan yang sempit itu. Di bawah beberapa lapis kemeja bekas, terdapat bungkusan-bungkusan plastik bening yang dililit lakban cokelat dengan sangat rapi.
Seorang petugas menyayat salah satu plastik dengan pisau kecil. Serbuk kristal putih mengkilap tumpah ke meja besi itu, menciptakan suara gesekan yang halus namun terdengar seperti ledakan di telinga Almira.
"Sabu, Pak. Beratnya diperkirakan mencapai lima kilogram," ujar polisi itu sambil menatap tajam ke arah Pak Baskoro.
Dunia seolah berhenti berputar. Almira melihat wajah ayahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi pucat pasi, seperti seluruh darah di tubuhnya mendadak surut.
"Ini... ini bukan punya saya," suara Ayah nyaris tidak terdengar, bergetar hebat. "Ini titipan teman saya... saya bersumpah..."
"Semua kurir bilang begitu, Pak," sahut polisi itu tanpa belas kasihan. "Baskoro, Anda kami tahan atas dugaan penyelundupan narkotika golongan satu. Ancaman maksimalnya adalah hukuman mati."
"AYAH!" jerit Debo. Ia mencoba menerjang maju, namun langsung diringkus oleh dua petugas lainnya hingga tersungkur ke lantai.
"Jangan! Ayah saya orang baik! Kalian salah tangkap!" Almira berteriak histeris, air matanya tumpah seketika. Ia mencoba meraih tangan ayahnya, namun seorang petugas mendorongnya menjauh.
Baskoro hanya bisa menatap kedua anaknya dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah tatapan yang hancur sekaligus penuh permintaan maaf. Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, kedua tangannya sudah diborgol di belakang punggung. Suara klik dari logam borgol itu seolah menjadi palu hakim yang menutup masa depan mereka.
Almira jatuh terduduk di lantai bandara yang dingin, menyaksikan ayahnya diseret keluar melalui pintu belakang ruangan itu. Di luar sana, ia bisa mendengar sayup-sayup suara kilatan kamera wartawan yang entah bagaimana sudah mengetahui kejadian ini.
Dalam satu tarikan napas, kebahagiaan mereka telah dirampok. Yang tersisa hanyalah koper hitam di atas meja dan kenyataan pahit bahwa mulai hari ini, mereka harus berjuang sendirian melawan dunia demi sebuah jawaban.
...****************...