NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Penasaran Salena

Daisy duduk bersandar di sofa beludru milik Salena sambil mengunyah keripik apel, mulutnya tidak berhenti berceloteh tentang drama China kolosal yang baru saja ia tonton. "Sal, serius, kamu harus lihat wajah aktor ini. Dia seperti pahatan dewa, beda jauh sama buku-buku hukummu yang membosankan itu!"

Salena hanya menanggapi dengan gumaman kecil, matanya menatap layar TV tapi pikirannya melayang ke dapur marmer milik Zane tadi pagi. Bayangan tato di punggung Zane dan hangat pelukannya masih terasa nyata di kulitnya.

Tiba-tiba, sebuah dorongan rasa ingin tahu yang tak terbendung muncul. Salena berdehem, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar terlalu antusias.

"Daisy," panggil Salena memutus analisis Daisy tentang aktor Beijing.

"Ya, Kak?"

"Kalau... New York? Kamu kan punya katalog bisnis dan sosialita seluruh dunia di kepalamu. Kamu tahu sesuatu tentang... model pria atau mungkin putra pengusaha di sana?"

Daisy langsung menegakkan duduknya, matanya berbinar nakal. Ini pertama kalinya sepupunya yang kutu buku itu menanyakan hal di luar kurikulum universitas.

"New York? Wah, itu wilayah kekuasaanku. Manhattan itu panggung drama terbesar di dunia. Kakak mau tahu tentang siapa? Keluarga Vanderbilt? Astors? Atau jangan-jangan..."

Daisy menyipitkan mata, menatap Salena dengan penuh selidik. "Jangan bilang Kakak naksir salah satu dari The New York Kings?"

"Siapa mereka?" tanya Salena, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

Daisy meletakkan camilannya, ia segera mengambil iPad-nya dan dengan lincah jemarinya menari di atas layar. "Oke, dengar ya. Di New York, ada lingkaran elit yang disebut media sebagai The Kings of Upper East Side. Dan yang paling panas selama dua tahun terakhir adalah duo yang hancur: Phoenix Valois dan Zane Sebastian Vance."

Salena hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar nama itu disebut.

"Zane Vance?" pancing Salena.

"Oh, dia itu legenda, Kak!" seru Daisy heboh. "Dia itu pewaris tunggal dinasti Vance. Wajahnya ada di mana-mana, dari papan iklan fashion kelas atas sampai majalah bisnis. Tapi dia itu bad boy sejati. Tatoan, suka balap liar, dan dinginnya minta ampun. Dia disebut Dewa karena pesonanya yang bisa bikin orang bertekuk lutut, tapi juga karena dia nggak tersentuh."

Daisy menggeser layarnya, memperlihatkan foto Zane yang sedang berjalan di runway dengan tatapan yang sangat tajam. "Tapi setahun lalu dia menghilang dari radar. Gosipnya sih, dia kabur karena cinta segitiga yang sangat berdarah-darah."

"Cinta segitiga?" Salena memajukan duduknya.

"Iya! Antara dia, Phoenix Valois...sahabatnya sejak kecil yang juga pewaris bank investasi dan seorang gadis bernama Kharel Renaud. Kharel itu model, cantik banget tapi katanya psycho. Yang ku tau, Dia tunangannya Phoenix, tapi dia malah terobsesi mengejar Zane. Akhirnya hubungan Zane dan Phoenix hancur total. Phoenix kabarnya sampai depresi, dan Zane... dia pergi entah ke mana."

Daisy menatap Salena dengan curiga. "Kenapa Kakak tiba-tiba tanya soal New York? Jangan-jangan Kakak ketemu orang yang mirip Zane Vance di kampus?"

Salena terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa pria yang tadi pagi memasakkan nya pancake adalah pusat dari badai besar di Manhattan.

"Cuma penasaran, Daisy. Aku baru dengar namanya di berita," bohong Salena.

"Saran aku sih ya, Kak," Daisy menutup iPad-nya. "Kalau Kakak ketemu cowok model begitu, lari! Mereka itu cantik tapi beracun. Apalagi Kharel Renaud, dia punya koneksi di mana-mana. Siapa pun wanita yang berani mendekati Zane, biasanya hidupnya bakal dibikin seperti neraka oleh Kharel."

Salena menelan ludah. Ia teringat ucapannya di telepon semalam pada Kharel:

"Aku kekasihnya sekarang."

Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak hanya berurusan dengan seorang pria patah hati, tapi ia baru saja menantang Ratu obsesif dari New York yang punya kekuatan untuk menghancurkannya.

Malam semakin larut di Reykjavik. Daisy sudah pulang sejak satu jam yang lalu, meninggalkan Salena dalam kesunyian apartemennya yang mendadak terasa terlalu luas. Namun, informasi dari Daisy masih berdengung di telinganya, tentang dinasti Vance, tentang pengkhianatan Phoenix, dan tentang kegilaan Kharel.

Salena merebahkan tubuhnya di balik selimut sutra. Kamarnya gelap, hanya diterangi oleh lampu kota yang masuk melalui celah gorden. Secara refleks, tangannya meraba nakas, mencari benda yang selalu menjadi penutup harinya selama sebulan terakhir. Ponselnya.

Ibu jarinya bergerak lincah membuka aplikasi Instagram. Ia menarik napas panjang sebelum mengetik nama yang kini memenuhi seluruh pikirannya: Zane S. Vance.

Biasanya, akun itu sunyi seperti kuburan. Tidak ada unggahan baru, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun malam ini, ada lingkaran merah yang menyala di sekeliling foto profil Zane. Jantung Salena berdegup kencang. Ia menyentuh lingkaran itu.

Sebuah foto muncul.

Itu adalah foto siluet seorang wanita yang sedang duduk di depan meja rias, membelakangi kamera. Cahaya matahari pagi yang pucat masuk dari jendela, membingkai lekuk bahu dan rambut yang sedikit berantakan dengan sangat artistik. Wanita itu tampak anggun namun rapuh dalam waktu yang bersamaan.

Salena membeku. Itu adalah dirinya.

Zane pasti mengambil foto itu secara diam-diam tadi pagi, saat Salena sedang sibuk merapikan diri setelah mereka memasak bersama. Di bawah foto itu, tidak ada kata-kata panjang. Hanya ada satu baris kalimat singkat dengan jenis huruf yang tegas:

"The only thing in this island that doesn't feel like ice." (Satu-satunya hal di pulau ini yang tidak terasa seperti es.)

Salena menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan pekikan kecil. Zane, si pria urakan yang kasar, si Dewa New York yang dingin, baru saja memamerkan keberadaan Salena di hadapan jutaan pengikutnya, dan yang terpenting, di hadapan orang-orang dari masa lalunya.

Ini bukan sekadar unggahan foto biasa. Ini adalah sebuah pernyataan. Dengan mengunggah siluet Salena, Zane seolah mengonfirmasi kebohongan Salena di telepon semalam. Dia tidak marah karena Salena mengaku sebagai kekasihnya; dia justru meresmikan status itu di depan dunia.

"Zane... kau benar-benar gila," bisik Salena dengan air mata yang nyaris menetes karena haru sekaligus takut.

Cara Zane mengambil foto itu, sudutnya, cahayanya, menunjukkan betapa ia memperhatikan Salena saat gadis itu tidak menyadarinya. Di balik sikapnya yang jahil dan seringai nakalnya, Zane memiliki sisi romantis yang sangat dalam dan berbahaya. Romantis karena dia bersedia menjadikan Salena sebagai tameng sekaligus pusat dunianya yang baru.

Salena memeluk ponselnya di atas dada. Rasa takut akan ancaman Kharel dan Phoenix masih ada, namun melihat foto itu, ia merasa siap menghadapi apa pun. Karena sekarang ia tahu, dia bukan hanya sekadar "Ratu Es" yang sedang jatuh cinta pada berandal, tapi dia adalah rumah bagi seorang pria yang sudah terlalu lama tersesat.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
falea sezi
phoenik goblok
falea sezi
Karel ini jalang bgt ya g bersukur dpet phoenik dan phoenik nya goblok kayak g ada cwek. lain aja
Epha Yusra
ceritanya bagus... berbeda...
Vina Vina
Sedihnyaaaa...../Sob/
falea sezi
Zane sebenarnya suka Karel. gk sih Thor
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!