SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRASANGKA
"Kamu dari mana? Di kantor gak ada, chat gak dibalas, panggilan telepon ataupun video juga gak kamu angkat?" omel Sasa saat Sakti baru saja sampai rumah, pria itu hanya menanggapi dengan decakan sebal lalu masuk ke dapur mengambil air minum, hampir tengah malam ia baru pulang. Pikirannya kacau sejak tadi pagi.
Sebenarnya Sakti tadi pagi mau mengantar Queena dan Athar ke sekolah, ternyata saat ia menjemput kedua ponakannya itu terdengar teriakan Iswa yang memanggil bibik, tentu saja Sakti ingin tahu apa yang terjadi. Ternyata Queena badannya panas sejak tadi malam dan pagi ini muntah hampir lima kali, saat Sakti datang Iswa menggendong belakang Queena sembari meminta tolong ART untuk jaga Athar, dan memberi pesan tak usah masuk sekolah saja, dan dia akan ke rumah sakit.
Sebagai orang yang sudah berjanji akan menjaga dan memberikan perhatian agar kedua ponakannya tidak kehilangan sosok ayah, Sakti langsung mengambil Queena dan mengantar Iswa ke rumah sakit. Kalut pagi itu, apalagi saat masuk IGD Queena kesakitan saat diinfus dan pengambilan darah, Sakti mana tega meninggalkan Iswa sendiri. Ia tak memberi kabar pada Sasa ataupun orang kantor, fokus pada Queena saja.
Iswa sudah menyuruh Sakti pulang, apalagi sudah ada mama dan papa yang ikut menjaga Queena, tapi tetap saja dia tak mau pulang, hingga panggilan dari Mbak ART menjelang maghrib memaksanya untuk pulang ke rumah Iswa. Athar menangis mencari mama dan kakaknya, dibujuk apapun tak mau. Hingga mama pun mengalah akan menjaga Athar, beliau bersama papa pulang. Mau tak mau, Sakti pun ikut dengan kedua orang tuanya, karena sang mama tahu kalau Iswa tak nyaman berduaan dengan Sakti. Bahkan janda dua anak itu tegas meyakinkan Sakti bahwa ia sanggup menjaga Queena sendiri.
Selama di rumah Iswa, Sakti diberi nasehat oleh sang papa banyak sekali. Terutama berkaitan dengan Iswa, Athar diurus mama, soal makan camilan dan dipokpok sembari minum susu botol. Mereka berkumpul di ruang tengah dengan layar menampilkan film Tayo.
Mama dan papa kan sudah mengingatkan kamu, jangan terlalu dekat dengan Iswa. Dia gak nyaman, Sakti. Begitu papa memgingatkan untuk kesekian kalinya.
Kamu juga punya istri, bagaimana perasaan Sasa kalau kamu terlalu fokus dengan keluarga Iswa sedangkan sejak tadi kamu gak kasih kabar ke dia, mama malah memojokkan Sakti dengan menyinggung Sasa. Hubungan dengan menantunya itu masih belum baik meski pernikahan mereka sudah 5 tahun. Sasa sendiri tak mau dekat dengan keluarga Sakti, begitu juga dengan orang tua Sakti tak mau juga menerima Sasa dengan legowo.
Sakti cuma mau tahu keadaan Queena, Ma. Mama dan papa tahu kan, sejak kecil Queena dekat sama aku. Aku paham Iswa gak nyaman, tapi kedekatan dengan ponakanku juga gak bisa diabaikan begitu saja. Sakti masih kekeh membela sikapnya. Ia sendiri paham bahwa Iswa benar-benar tak mau dekat dengan Sakti, bahkan dia terkesan menjauhi Sakti, nomor Sakti pun tak sengaja tak disimpan juga. Berkali-kali Sakti diperingatkan oleh Iswa kalau ke rumah atau mau ajak jalan kedua anaknya harus bawa Sasa. Namun Sakti tak pernah menghiraukannya, sampai akhirnya Sakti dilarang masuk ke rumah Iswa, kalau mau jenguk Queena dan Athar cukup sampai halaman rumah saja. Setegas itu Iswa menjaga marwahnya sebagai istri mendiang Kaisar.
Iswa bersikap seperti itu hanya untuk menghindari fitnah, Sasa perempuan yang keras kepala dan tak mau mendengar nasehat orang lain. Bisa saja ia berpikir Iswa sebagai pelakor dalam rumah tangganya.
"Jawab Mas!" tuntut Sasa dengan nada kesal, karena Sakti tak kunjung menjelaskan.
"Queena sakit, aku ikut menjaga dia," ucap Sakti singkat. Sasa tertawa sinis.
"Susah kuduga, pasti berkaitan dengan Iswa."
"Bukan Iswa, Queena!"
"Sama saja, Mas. Di mana ada Queena pasti ada Iswa juga kan. Aku tuh sudah capek jadi nomor dua setelah Iswa, Mas. Dia hanya mantan adik ipar kamu, tapi kamu lebih perhatian ke dia daripada ke aku!"
"Gak usah mulai!"
"Kenapa? Benar kan? Kamu begitu melindungi dan menjaga hati Iswa, sedangkan Aku selalu kamu abaikan. Seolah aku tak punya hati, dan bisa memaklumi semua sikap dan perhatian kamu kepada Iswa."
"Aku perhatian pada kedua ponakan aku, bukan Iswa!"
"Alasan. Kamu sejak dulu suka dengan Iswa, tapi dia yang menolak kamu, karena dia masih menghormati Kaisar. Aku tahu, Mas. Aku paham sikap seorang laki-laki seperti kamu itu bagaimana pada Iswa. Kamu sejak dulu hanya mau tubuhku saja."
"Sa, sekali saja kamu gak bahas yang aneh-aneh bisa gak sih!"
"Mas yang aneh. Di mana-mana suami tuh lebih peduli pada istri bukan pada adik ipar. Emang benar ya, ipar itu maut!"
"Terserah kamu. Terserah pikiran kamu gimana menilai aku dan Iswa, yang jelas aku dan dia hanya sebatas ipar. Aku tak berniat dekat dengan dia, aku hanya dekat dengan kedua ponakanku saja. Aku hadir untuk mereka agar tak kehilangan sosok ayah. Terserah kamu, aku sudah capek mendengar segala tuduhan dan prasangka kamu."
"Sejak awal aku minta cerai, kamu gak pernah mengabulkan. Sudah sejauh ini, malah makin sakit, dan rasanya aku tak pernah bahagia menikah sama kamu. Entah perkara orang tua kamu, atau dengan Iswa!"
"Dengar sekali lagi. Gak usah menyalahkan orang lain, berkacalah dengan sikap kamu sendiri. Selama hampir 5 tahun ini kamu aku ajak dekat dengan orang tuaku tak pernah mau. Bahkan idul fitri juga kamu tak pernah mau ikut aku sungkem ke rumah utama. Sedangkan saat aku izin menjemput kedua ponakanku kamu ajak juga selalu kamu tolak, dan kamu masih menyalahkan mereka. Kamu yang sakit, Sa. Iswa dan mamaku orang waras!" ucap Sakti telak, sudah saatnya bersikap tegas pada Sasa yang masih memaksa orang lain menuruti dan memahami karakternya, daripada dia beradaptasi dengan orang lain.
Sasa menangis, karena Sakti kembali keluar setelah membersihkan diri. Tak pamit atau memberi tahu ke mana ia pergi, yang jelas feeling Sasa mengatakan, "Ia pasti ke Iswa. Kamu perempuan kan, Wa. Harusnya kamu punya hati untuk tidak welcome pada suami orang."
Sakti memang ke rumah sakit, menuju ke kamar inap Queena hanya saja, dia tak berani masuk karena Iswa pasti mengusirnya. Sakti sangat paham karakter Iswa, dia lebih baik kerepotan sendiri menjaga kedua anaknya daripada berurusan dengan suami orang.
Kai. Kamu pasti bangga melihat istrimu masih memegang janji pernikahan meski kamu sudah tenang di sana. Dia perempuan baik, terhormat, tak salah bila kamu begitu getol ingin rujuk sama Iswa dulu.
eh kok g enak y manggil nya