NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Mereka tiba di kediaman Pratama, rumah besar milik Tuan Rahmat yang selama ini hanya Kiara yang mondar-mandir di dalamnya. Ini pertama kalinya Alvar menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Padahal niat awalnya, ia ingin menyewa tempat tinggal sendiri selama di Jakarta. Namun, Rahmat menolak keras.

“Kamu tinggal di sini saja,” kata Rahmat waktu itu.

 “Kamu suami Kiara, rumah ini juga rumahmu.”

“Pelan-pelan, Pa,” ujar Alvar kini, menuntun Rahmat masuk dengan hati-hati. Tangannya sigap, penuh perhatian.

Kiara dan Melati menyusul di belakang. Melati memperhatikan pemandangan itu lama, cara Alvar menyesuaikan langkahnya dengan Rahmat, cara ia tak melepas pegangan meski hanya selangkah. Ada sesuatu yang tak bisa ia pungkiri di dadanya.

Di ambang pintu ruang tamu, Melati akhirnya bersuara, nadanya lebih pelan dari biasanya.

“Kamu serius tidak mau mempertahankan pernikahan ini?”

Kiara terdiam, dia tidak langsung menjawab. Melati menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Kiara, Mama tahu kamu menikah karena dipaksa. Mama juga tahu kamu masih terluka. Tapi coba … coba belajar ikhlas menerima Alvar.”

Kiara menunduk.

“Kalau Mama lihat-lihat,” lanjut Melati, “Alvar itu anaknya baik. Mama bahkan malu sendiri tadi pagi sudah marah-marah sama dia. Mama yakin, kalau kamu pisah dari dia, belum tentu kamu akan dapat laki-laki setulus Alvar.”

Melati menatap putrinya serius.

“Kamu tahu kan dia dokter? Lulusan terbaik di luar negeri. Dokter obgyn. Harusnya kamu bangga, Kiara. Bangga bisa menikah dengan pria seperti itu.”

Nada Melati kemudian berubah kesal.

“Bukan seperti mantan kamu. Kerja saja dulu masih ngandelin kamu, dan sekarang masih punya muka buat kerja di perusahaan Papa kamu.”

“Ma,” potong Kiara lirih tapi tegas, “aku lagi nggak mau bahas mantan. Dia juga sudah bahagia sama selingkuhannya.”

“Itulah bodohnya kamu,” gerutu Melati.

“Kamu pelihara dua parasit itu. Apa sih yang nggak kita kasih ke Lala? Bisa-bisanya dia nikung milik sahabatnya sendiri.”

Melati lalu menatap Kiara dengan sorot menyelidik.

“Eh, Kiara … kamu serius kerja sama Darius?”

Kiara mengangguk pelan.

“Iya, Ma. Tapi bukan karyawan tetap.”

“Hm,” Melati menyipitkan mata. “Mama perhatikan … sepertinya Darius suka sama kamu.”

Kiara langsung menggeleng.

“Mama kebanyakan mikir. Aku sama Mas Darius cuma teman. Rekan kerja, aku cuma bantu desain proyek barunya.”

Saat itu mereka sudah tiba di ruang tamu. Alvar membantu Rahmat duduk di sofa, lalu mengambilkan bantal kecil untuk menopang punggungnya tanpa diminta, Rahmat tersenyum puas.

Melati menyaksikan semuanya dalam diam.

“Bi, siapkan kamar tamu ya,” pinta Melati pada bibi rumah tangga dengan nada otomatis. Belum sempat bibi menjawab, Tuan Rahmat langsung menyela, suaranya tenang tapi tegas.

“Untuk apa kamar tamu? Alvar itu suami Kiara. Dia bisa tinggal di kamar Kiara.”

“Papa!” Kiara spontan berseru. Semua pasang mata langsung tertuju padanya, Melati, Alvar, bahkan Rahmat sendiri. Kiara tersadar ia terlalu keras bereaksi. Bibirnya mengatup, dadanya naik turun.

“Itu … anu,” ucapnya gugup, lalu mencari alasan cepat.

“Kamarnya masih berantakan. Belum sempat Kiara beresin.”

Padahal bukan itu masalahnya, Rahmat tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa. Rumah ini tidak perlu sempurna.”

“Tidak masalah,” sahut Alvar ringan, tanpa ragu.

“Kita bisa bereskan sama-sama.”

Kiara menoleh padanya, tersenyum canggung. Senyum yang hanya formal, karena ia tahu, yang berantakan bukan sekadar kamar.

Isi kamar itu masih penuh kenangan. Rahmat lalu menepuk sandaran sofa pelan.

“Kiara, bawa Alvar ke kamar. Biar dia mandi dulu. Nanti kita makan malam bersama.” Nada suaranya bukan permintaan, lebih seperti keputusan.

Kiara mengangguk pelan.

“Iya, Pa.”

Ia berdiri, lalu menoleh ke Alvar.

“Mas … ayo ikut aku.”

Alvar bangkit tanpa banyak bicara. Saat mereka berjalan berdampingan menuju tangga, jarak di antara mereka terasa aneh, tidak terlalu dekat, tapi juga bukan asing.

Di depan pintu kamar Kiara, langkahnya terhenti sejenak. Tangannya terangkat, ragu sebelum memutar kenop. Alvar memperhatikan dari samping, menangkap kegugupan kecil itu.

“Kalau kamu belum siap—”

Kiara menggeleng cepat.

“Enggak, bukan begitu ... Mas masuk saja.”

Pintu terbuka, kamar itu bersih, rapi tapi terlalu personal.

Begitu Alvar masuk, pandangannya langsung menyapu kamar Kiara yang tertata rapi. Namun, kerapian itu tak mampu menutupi jejak masa lalu. Langkahnya terhenti di depan meja belajar, tepat saat matanya menangkap beberapa bingkai foto, Kiara dan Yoga, tersenyum mesra, begitu nyata seolah waktu belum pernah bergerak.

Dada Alvar mengeras, rasa cemburu menyesak tanpa aba-aba.

Kiara panik.

“Itu … itu belum sempat aku bereskan,” ucapnya cepat.

“Hari aku berangkat ke desa, itu baru hari aku pulang dari Bali.”

Alvar menoleh perlahan, tatapannya tajam.

“Jadi di hari pernikahan kita, kamu masih berduaan dengan pria ini?” Langkah Alvar maju satu kali, Kiara refleks mundur.

“Kamu menghabiskan waktu bersamanya, sementara aku menanggung malu di pernikahan kita,” lanjut Alvar dengan suara tertahan.

 “Apa itu adil, Kiara?”

Kiara gugup, kata-kata menumpuk di tenggorokannya.

“Itu masa lalu—”

Kalimatnya terpotong saat punggungnya menyentuh dinding. Alvar sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangan pria itu bertumpu di sisi kepala Kiara, mengurungnya tanpa menyentuh tubuhnya, namun justru itulah yang membuat jantung Kiara berdegup liar.

“Malam itu kamu masih di Bali,” ujar Alvar rendah.

“Aku yakin kalian lebih dari sekadar liburan.”

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Kiara. Napas Kiara memburu, ibu jari Alvar bergeser pelan, menyentuh bibir ranum istrinya sekadar sentuhan, tapi cukup membuat tubuh Kiara membeku.

Dia tak pernah melihat Alvar sedekat ini. Tak pernah merasakan tatapan sedingin dan setajam itu, bercampur sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan rasa memiliki.

Pria yang biasanya cuek dan dingin itu kini berdiri di hadapannya, protektif, posesif, dan penuh gejolak.

“Jawab aku, Kiara,” suaranya rendah, sedikit serak.

“Di hari aku berdiri sendirian di pelaminan, kamu masih bersama dia?”

Kiara menelan ludah, dadanya naik turun, bukan karena sentuhan Alvar, melainkan karena rasa bersalah yang lama ia pendam.

“Aku … tidak selingkuh,” ucapnya lirih namun tegas.

“Hari itu aku memang baru pulang dari Bali. Tapi itu bukan karena aku ingin menyakitimu.”

“Lalu apa?” tanya Alvar cepat. Matanya tajam, tapi ada retak di sana.

“Apa kamu tahu rasanya berdiri di depan semua orang, menanggung bisik-bisik, sementara istriku masih menyimpan wajah pria lain di kamarnya?”

“Itu masa laluku,” jawab Kiara dengan suara bergetar.

“Dan aku tidak pernah membawanya ke desa. Aku datang ke sana mencoba … mencoba menjadi istrimu.”

Perlahan, Alvar menarik diri, satu langkah mundur.

“Aku cemburu,” akunya akhirnya, jujur.

“Dan aku benci perasaan ini. Tapi lebih dari itu, aku benci membayangkan kamu pernah menangis karena pria lain.”

Kiara menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang.

“Aku tidak ingin menangis lagi, Mas. Aku lelah.”

Keheningan jatuh di antara mereka, bukan lagi penuh amarah, melainkan ketegangan yang belum selesai.

Alvar menarik Kiara ke dalam pelukannya. Pelukan itu hangat, menenangkan, seolah ingin meredam semua kecemburuan dan amarah yang tadi sempat membara di dadanya. Kiara terpaku sesaat, jantungnya berdetak cepat, belum sempat membalas saat Alvar justru melepas pelukan itu.

Namun, jarak di antara mereka tak benar-benar tercipta. Alvar menunduk, bibirnya menyentuh bibir Kiara. Ciuman itu lembut, penuh kehati-hatian, seolah ia memberi waktu bagi Kiara untuk menolak jika memang tak menginginkannya.

Getaran merambat di dada Kiara. Semua rasa sakit, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Tanpa sadar, tangannya terangkat, jemarinya mencengkeram pelan jaket Alvar. Ia membalas ciuman itu, pelan, ragu, tapi jujur.

Alvar menarik napas di sela ciuman, dahinya menempel di dahi Kiara.

“Aku cemburu,” bisiknya lirih. “Karena aku peduli. Karena aku ingin kamu … bersamaku, Kiara.”

Kiara memejamkan mata sejenak, sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Tok! Tok!

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!