Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sepulang sekolah, aku langsung menuju kedai kopi yang dulu sering kukunjungi bersama Sari. Tempatnya tersembunyi di kawasan perumahan, sebuah spot rahasia yang kutemukan secara tidak sengaja.
Kedai ini penuh kenangan pahit-manis bersama Sari. Meski aku benci kopi, dulu aku memaksakan diri memesannya hanya demi menemaninya. Rasanya mengerikan, tapi berada di samping Sari saat itu terasa menyenangkan. Bodoh sekali rasanya mengingat aku sampai rela membayar mahal untuk sesuatu yang tak kusukai... dan "bodoh" yang kumaksud itu baru terjadi beberapa hari yang lalu.
Begitu masuk, aku melihat Andi sudah duduk menunggu. Ia memberi isyarat agar aku duduk di seberangnya. Sial, itu kursi favoritku dulu saat bersama Sari. Sekarang? Aku benci duduk di sana. Rasanya menyesakkan.
“Silakan duduk,” kata Andi datar. Aku duduk tanpa banyak bicara. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang.
“Sudah memutuskan mau pesan apa?” tanya pelayan itu ramah.
“Es teh dan hidangan penutup seperti biasa,” jawabku otomatis.
Pelayan itu tertawa kecil. “Waduh, ini hari pertama saya kerja, Kak. Jadi saya belum tahu maksud ‘seperti biasa’ itu apa.”
Wajahku langsung panas. “Eh... begitu ya? Kalau begitu, saya pesan kue keju saja,” sahutku cepat karena malu. Setelah pelayan pergi, rasanya aku ingin menghilang saja. Niat hati ingin pamer kalau aku pelanggan setia, malah berakhir mempermalukan diri sendiri di depan Andi.
“...Hmmmh,” gumamku kesal. Aku yakin Andi sedang menertawakanku dalam hati.
“Puas ketawa di dalam hati, hah?!” tembakku sambil menatapnya tajam.
“Yah, sebenarnya aku tertawa terbahak-bahak. Tapi selera humormu mengejutkan juga, Rian,” jawab Andi dengan senyum tipis.
Setelah itu
Kami terdiam menunggu pesanan. Duduk berdua dengan orang yang tidak terlalu akrab memang canggung luar biasa.
“Ngomong-ngomong, kata Sari kamu suka kopi di sini. Kenapa hari ini pesan es teh?” tanya Andi penasaran.
“Dia tidak tahu apa-apa tentangku, jadi jangan dipikirkan,” jawabku datar.
Andi tampak terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan bicara sekasar itu tentang teman masa kecilku sendiri.
“Apa kalian sedang bertengkar?” tanyanya pelan. Mungkin dia pikir ini cuma drama sesaat yang akan membaik besok.
“Bukan. Ini bukan sekadar pertengkaran. Aku cuma mau bilang kalau aku sudah tidak suka lagi pada Sari. Jadi, apa pun yang kamu khawatirkan tentang hubunganku dengannya, itu tidak akan terjadi,” kataku tegas.
Andi berkedip, kehilangan kata-kata. Kejujuranku sepertinya meruntuhkan semua asumsi yang ia bangun dari cerita-cerita Sari. Ia hanya bisa terdiam dan menyesap es kopinya, mencoba mencerna situasi ini.
Dan Kemudian
Tepat saat itu, dua pria dengan gelagat mencurigakan masuk. Mata mereka langsung tertuju pada Andi dan mereka berjalan mendekat dengan langkah berat. Wajah Andi mendadak keruh.
“Wah, lihat siapa ini? Sang superstar lagi minum kopi dengan elegan?” ejek salah satu dari mereka.
“Ck... merepotkan,” gumam Andi.
Rupanya mereka adalah teman SMP Andi. Meski Andi sudah pindah sekolah, reputasinya sebagai atlet tampan yang populer di kalangan perempuan masih membekas—begitu juga rasa iri dari pria-pria seperti mereka.
“Masih sibuk menipu cewek? Oh, sekarang sama cowok? Kamu akhirnya punya teman juga?” ejek yang lain sambil tertawa menghina.
“Bukan urusan kalian,” jawab Andi dingin.
Tiba-tiba, salah satu dari mereka meletakkan tangan di bahuku dan menekannya kuat. “Hei, mending berhenti berteman sama orang ini kalau nggak mau terluka. Nggak ada untungnya, tahu?”
Aku menepis tangannya dengan kasar. “Kami sedang bicara. Bisa kalian pergi?”
Andi tersentak, “Rian...?”
Aku menatap mereka langsung. Aku sama sekali tidak takut. Setiap hari aku berurusan dengan Rina, gadis yang merupakan puncak dunia berandal. Menghadapi preman kelas teri seperti ini rasanya bukan apa-apa. Lagipula, aku sudah cukup kesal karena harus berada di kedai ini; aku tidak butuh gangguan tambahan.
“Hah? Berani sekali kau!” Salah satu dari mereka mencoba mencengkeram kerah bajuku.
“Kalian cuma iri, kan? Masalah Andi populer itu hasil kerja kerasnya, tidak ada hubungannya dengan kalian,” tantangku dingin.
“Dasar bocah kurang ajar...!” Pria itu sudah bersiap melayangkan pukulan. Andi menatapku dengan mata berkaca-kaca, mungkin antara takut dan tidak percaya aku membelanya. Dalam hati aku membatin, kalau sampai dipukul, aku tinggal lapor ke Rina saja.
Dan tiba tiba Saja
“Hei Nak, mau cari masalah sama siapa?” Sebuah suara berat menginterupsi.
“Jangan ikut campur dari belak... Aaaaah!?” Teriak pria itu saat tangannya dipiting.
“Eh... Mas Yono?!” seru temannya sambil mundur ketakutan.
Mas Yono, salah satu bawahan Rina, muncul di waktu yang tepat.
“Rian, maaf aku terlambat. Nanti aku lapor ke Rina supaya kamu lebih dijaga. Kalian berdua, ikut aku!” bentak Mas Yono sambil menyeret kedua preman itu keluar.
Suasana kedai mendadak hening. Andi masih gemetar. “Rian... siapa pria (Mas Yono) tadi?”
“Entahlah, tapi dia memang menakutkan,” jawabku berbohong sedikit. Padahal aku tahu persis dia siapa.
Aku berdiri, sudah tidak mood untuk lanjut mengobrol. “Andi, sepertinya hari ini cukup sampai di sini.”
“Maaf... karena aku, kamu jadi terlibat masalah,” ucap Andi tulus.
“Bukan salahmu,” kataku sambil menepuk bahunya. Wajah Andi mendadak memerah.
Karena belum selesai bicara dan aku tidak punya kontaknya, aku merobek selembar kertas dan menuliskan nomor teleponku.
“Ini nomor teleponku. Kabari kalau sudah sampai rumah, kita lanjut ngobrol lewat telepon saja.”
Andi terbelalak. Ia menerima kertas itu seolah-olah itu adalah harta karun.
“Kamu... benar-benar memberikan nomor kontakmu padaku?” tanyanya dengan suara bergetar gembira.
“Iya, kenapa? Memangnya tidak boleh?” jawabku bingung.
“Aku... aku bisa punya teman cowok buat diajak chatting? Sungguh keajaiban!” serunya dengan mata berbinar-binar.
Tingkahnya jadi sangat aneh dan antusias, membuatku merasa agak risih. Aku segera mengambil bungkusan kue keju dan es tehku di konter, lalu melambaikan tangan untuk pamit. Saat aku keluar, aku menoleh sekilas dan melihat Andi masih menggenggam kertas itu dengan ekspresi sangat bahagia.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰