NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Kilauan Palsu dan Jebakan Sempurna

Malam itu, Jakarta tampak mengenakan jubah kemewahan yang paling berkilau. Di pusat kota, gedung hotel bintang lima yang menjadi lokasi perayaan tiga puluh tahun Adhitama Group berdiri megah dengan sorotan lampu yang menembus langit malam. Karpet merah panjang membentang dari lobi hingga pintu masuk aula utama, menciptakan jalan setapak yang sangat formal bagi para tamu kelas atas. Di sepanjang karpet tersebut, puluhan jurnalis dan fotografer sudah bersiap dengan peralatan mereka, menciptakan suasana riuh yang penuh dengan kilatan lampu kamera yang menyilaukan mata.

Di dalam mobil mewah yang bergerak perlahan menuju lobi, Nala duduk dengan posisi sangat tegak. Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra tebal berwarna hijau zamrud yang menangkap setiap bias cahaya di dalam kabin mobil. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan permata kecil yang memberikan kesan sangat anggun. Di lehernya, kalung batu zamrud pemberian Raga terasa sangat dingin, seolah-olah perhiasan itu sedang mencoba menyerap semua kegelisahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.

Raga duduk di sampingnya, berada di atas kursi roda yang telah dirancang khusus agar serasi dengan pakaian formalnya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan potongan sempurna yang mempertegas bahunya yang lebar. Topeng perak yang menutupi separuh wajahnya berkilau tajam, memberikan kesan misterius sekaligus sangat berwibawa. Tangannya menggenggam tangan Nala dengan sangat kuat, namun telapak tangannya terasa sangat kering dan stabil.

"Tatap mata mereka dengan keberanian yang nyata, Nala. Malam ini, kau adalah representasi kekuasaan Adhitama. Jangan biarkan mereka melihat setitik pun keraguan di wajahmu. Semua yang kita lakukan malam ini adalah demi mengakhiri gangguan Burhan selamanya," ucap Raga dengan suara rendah namun sangat tegas.

Nala menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya dengan oksigen yang terasa tipis. "Saya akan melakukan yang terbaik, Mas Raga. Saya tidak akan mempermalukan Anda di depan kolega bisnis Anda."

Mobil berhenti tepat di depan karpet merah. Pintu dibuka oleh pengawal berjas hitam yang berdiri tegap. Begitu Nala melangkah turun, suara jepretan kamera terdengar seperti rentetan senjata yang tidak ada habisnya. Nala segera berbalik untuk membantu Raga turun dengan bantuan pengawal lainnya. Momen tersebut terekam dengan sangat dramatis, seorang istri yang tampak sangat setia mendampingi suaminya yang dianggap tidak berdaya secara fisik namun memiliki pengaruh yang sangat besar.

Mereka mulai berjalan menyusuri karpet merah. Nala mendorong kursi roda Raga dengan langkah kaki yang tenang dan terukur, persis seperti yang telah ia latih bersama Sera. Ia mengabaikan semua pertanyaan provokatif dari para wartawan yang mencoba menanyakan keberadaan ayahnya dan kakaknya yang dirumorkan hilang. Nala hanya memberikan senyum tipis yang penuh wibawa, sebuah ekspresi yang membuat para jurnalis segan untuk berteriak lebih keras.

Saat memasuki aula utama, suasana kemewahan semakin terasa nyata. Langit-langit ruangan dipenuhi dengan rangkaian bunga segar yang menjuntai, memberikan aroma harum yang menenangkan. Musik orkestra yang sangat elegan mengalun lembut, mengisi ruangan yang dipenuhi oleh tokoh-tokoh penting di negeri ini. Raga melayani setiap sapaan dengan kedinginan yang sangat sopan. Ia tidak banyak bicara, namun kehadirannya di tengah ruangan tersebut seolah menjadi magnet yang menarik perhatian semua orang.

Melalui alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik rambutnya, Nala mendengar suara Sera yang melaporkan situasi secara berkala. "Tim Alpha sudah berada di posisi terakhir di gudang Marunda. Kami melihat target melalui celah jendela. Mereka tampak masih terikat namun dalam keadaan sadar. Kami akan melakukan penyerbuan dalam tiga menit tepat setelah Tuan Muda memulai pidato sambutan."

Nala meremas pegangan kursi roda Raga sebagai kode bahwa ia telah mendengar laporan tersebut. Raga membalasnya dengan ketukan jari yang tenang di atas lututnya. Strategi ini sudah dirancang dengan sangat matang. Raga akan naik ke podium untuk memberikan pidato pengunduran diri palsu guna memancing Burhan menampakkan diri, sementara tim keamanan akan menyelamatkan sandera di saat yang bersamaan.

Acara inti pun dimulai. Pembawa acara mengundang Raga Adhitama untuk naik ke panggung utama. Raga mendorong kursi rodanya sendiri menuju tengah panggung di bawah sorotan lampu yang sangat terang. Nala berdiri di sisi panggung, di dekat tangga, didampingi oleh dua pengawal yang menyamar sebagai asisten pribadi.

"Hadirin sekalian, tiga puluh tahun perjalanan Adhitama Group adalah bukti dari ketahanan dan kepercayaan. Namun, ada kalanya sebuah kepemimpinan harus mengambil langkah mundur demi kebaikan yang lebih besar," suara Raga menggema melalui pengeras suara, terdengar sangat berwibawa dan penuh kuasa.

Tepat saat Raga mengucapkan kalimat tersebut, layar raksasa di belakang panggung mendadak mati. Keheningan yang sangat janggal menyelimuti aula. Beberapa detik kemudian, layar itu menyala kembali, menampilkan rekaman video yang sangat jernih. Terlihat Bramantyo dan Bella yang terikat di sebuah ruangan yang penuh dengan tumpukan kotak kayu yang dilabeli bahan kimia mudah terbakar.

Burhan Prasetya tiba-tiba muncul di layar tersebut. Ia tersenyum sangat lebar ke arah kamera, memperlihatkan tatapan mata yang sangat licik. "Raga, aku tahu kau sedang memerintahkan anjing-anjing pelacakmu untuk menyerbu gudang di Marunda. Namun kau harus tahu satu hal, aku tidak seceroboh itu. Video yang kalian lihat sekarang adalah rekaman langsung dari tempat yang sangat dekat dengan keberadaanmu saat ini."

Seluruh tamu di aula mulai berbisik panik. Nala merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat ke arah Raga, namun suaminya tetap diam dengan posisi yang sangat tenang.

"Sera, lakukan eksekusi sekarang juga," perintah Raga melalui mikrofon kecilnya.

Seketika, layar tersebut terbagi menjadi dua bagian. Sisi kanan menampilkan tim keamanan Raga yang merangsek masuk ke dalam sebuah gudang, melumpuhkan penjaga dengan sangat efisien, dan melepaskan ikatan sandera. Terlihat Sera membantu seorang pria dan wanita yang wajahnya tertutup kain hitam untuk keluar dari gedung tersebut.

"Target berhasil diamankan, Tuan Muda. Area kini sudah dalam kendali kami sepenuhnya," lapor Sera melalui pengeras suara aula yang sepertinya telah diambil alih oleh tim teknologi Raga.

Para tamu memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Mereka menganggap kejadian tersebut adalah bagian dari drama pengamanan yang sangat hebat yang telah disiapkan perusahaan. Raga menghembuskan napas panjang, ia tampak sangat yakin bahwa kemenangannya sudah di depan mata.

Namun, di tengah keriuhan tepuk tangan tersebut, Nala merasa ada sesuatu yang tidak wajar. Ia melihat ke arah pintu keluar aula dan menyadari bahwa dua pengawal yang seharusnya berjaga di sana telah menghilang. Melalui alat komunikasi di telinganya, suara Sera tiba-tiba berubah menjadi suara statis yang sangat bising dan memekakkan telinga.

"Tuan Muda, ini jebakan!" suara Sera terdengar sangat samar dan terputus-putus. "Video yang kami serbu adalah rekaman yang sudah disinkronkan dengan waktu asli! Sandera yang kami selamatkan hanyalah boneka yang dipakaikan pakaian serupa! Burhan berada di dalam hotel! Saya ulangi, Burhan berada di dalam gedung pesta!"

Wajah Raga berubah menjadi sangat pucat. Ia mencoba memutar kursi rodanya ke arah Nala, namun pada saat yang sama, sistem pemadam kebakaran otomatis di aula melepaskan asap putih yang sangat tebal. Ini bukan air, melainkan bom asap yang sengaja diletakkan di dalam ventilasi udara.

Aula seketika berubah menjadi kekacauan massal. Para tamu berteriak histeris, berlarian ke segala arah untuk mencari jalan keluar di tengah asap yang menghalangi pandangan. Nala mencoba berlari menuju panggung untuk mendekati Raga, namun kerumunan orang yang panik mendorong tubuhnya dengan sangat keras.

"Mas Raga!" teriak Nala dengan segenap kekuatannya.

Nala merasakan seseorang dengan tenaga yang sangat besar menarik lengannya dari belakang. Sebuah kain yang telah dibasahi dengan cairan kimia berbau sangat menyengat langsung membekap mulut dan hidungnya. Nala mencoba meronta, ia mencoba menggunakan teknik pertahanan diri yang diajarkan Sera, namun pengaruh obat bius tersebut bekerja dengan sangat cepat ke dalam pembuluh darahnya.

Pandangan Nala mulai kabur. Hal terakhir yang ia lihat adalah bayangan Raga yang berusaha bangkit dari kursi rodanya dengan ekspresi wajah yang sangat hancur dan penuh amarah, namun asap tebal kembali menelan sosok suaminya tersebut hingga semuanya menjadi gelap gulita.

Raga berteriak memanggil nama istrinya berulang kali, suaranya terdengar sangat parau dan dipenuhi keputusasaan. Namun, tawa Burhan yang sangat serak tiba-tiba menggema melalui sistem audio hotel.

"Catur yang sangat indah, Raga. Kau memang cerdas, namun kau terlalu sombong dengan teknologi yang kau miliki. Kau baru saja kehilangan aset yang paling berharga di dalam hidupmu. Sampai jumpa di babak terakhir yang sesungguhnya."

Beberapa menit kemudian, saat asap mulai menipis karena kipas ventilasi darurat menyala, aula tersebut tampak sangat berantakan. Kursi-kursi terguling, gelas-gelas pecah berserakan di lantai, dan para tamu telah dievakuasi keluar. Raga terduduk di tengah aula yang kosong, kepalanya tertunduk sangat dalam. Tangannya gemetar hebat saat ia melihat sesuatu yang tergeletak di lantai marmer, tepat di tempat Nala berdiri tadi.

Itu adalah kalung zamrud pemberiannya. Kalung itu putus, batu permata hijaunya terlepas dan pecah akibat terinjak oleh kerumunan orang yang panik.

Sera berlari mendekat dengan wajah yang penuh luka dan darah, ia berlutut di depan Raga dengan perasaan bersalah yang sangat mendalam. "Tuan Muda, mereka menggunakan lift barang rahasia yang tidak terdaftar di denah hotel. Kami kehilangan jejak Nyonya Muda di area parkir bawah tanah. Saya benar-benar minta maaf."

Raga tidak menjawab. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang tadi dingin kini telah berubah menjadi tatapan predator yang sangat mengerikan. Keheningan di ruangan itu terasa sangat mematikan, lebih menakutkan daripada suara ledakan mana pun.

"Cari setiap jengkal tanah yang mungkin diinjak oleh Burhan," ucap Raga. Suaranya tidak lagi keras, namun setiap katanya terdengar seperti vonis kematian yang sangat nyata. "Siapkan seluruh sumber daya yang kita punya. Malam ini, aku tidak akan membiarkan satu pun orang yang terlibat dalam penculikan ini untuk tetap bernapas di pagi hari."

Di sebuah bangunan terbengkalai yang sangat tinggi di pinggiran Jakarta, Nala perlahan-lahan mulai membuka matanya. Ia merasakan kepalanya sangat pening dan berat. Ia menyadari bahwa dirinya kini terikat kuat di sebuah kursi di lantai yang sangat tinggi, tepat di tepian bangunan yang tidak memiliki dinding pembatas. Di bawahnya, lampu-lampu kota tampak sangat kecil, menandakan ia berada di ketinggian puluhan meter.

Burhan Prasetya berdiri tidak jauh darinya, membelakangi Nala sambil menatap cakrawala malam dengan perasaan puas yang sangat nyata. Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai beton yang kasar.

"Jangan merasa cemas, Nala. Suamimu yang sangat hebat itu pasti akan datang ke sini. Dan aku ingin melihat sebuah keajaiban yang nyata. Aku ingin tahu, apakah dia akan tetap duduk diam di kursi rodanya yang mewah itu saat ia melihat istrinya sendiri dijatuhkan dari tempat setinggi ini," ucap Burhan tanpa menoleh sedikit pun.

Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya adalah nyawa yang tidak memiliki harga. Kesalahan terbesar Raga adalah meremehkan seorang pria tua yang tidak memiliki beban apa pun untuk kalah. Kini, sang Young Master harus memilih antara rahasianya atau nyawa wanita yang telah mengisi kekosongan di dalam hatinya.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!