NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16) PERMOHONAN MAAF

Setelah beberapa saat diam, Sea akhirnya berbicara. "Kamu tahu kan betapa sakitnya hatiku selama ini, Rayyan? Aku merasa seperti orang yang tidak berharga, seperti seseorang yang bisa kamu tinggalkan begitu saja ketika ada pilihan yang lebih baik."

"Aku tahu, dan aku tidak akan pernah bisa meminta maaf yang cukup untuk itu," ucap Rayyan dengan penuh rasa bersalah. "Aku membuat kesalahan besar dengan tidak mempercayaimu dan tidak memberitahumu tentang masalah yang aku hadapi. Aku seharusnya tahu bahwa kita bisa menghadapinya bersama-sama. Dannn satu lagi, maafkan aku Sea, aku benar-benar terpaksa saat itu dan aku tidak main-main. " Terlihat sangat bersalah.

Sea menghela napas panjang dan duduk di sofa, masih memegang amplop di tangannya. "Aku mencintaimu, Rayyan. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan selalu berharap kita bisa bersama. Tapi aku tidak bisa kembali ke masa lalu begitu saja. Aku perlu waktu untuk mempercayaimu lagi." kecewa dong.

Rayyan duduk di sisi Sea dengan hati-hati, tidak berani menyentuhnya namun tetap dekat. "Aku akan memberikan waktu sebanyak yang kamu butuhkan, Sea. Aku tidak akan pernah memaksakanmu untuk melakukan sesuatu yang kamu tidak inginkan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku siap menunggu dan melakukan apa saja untuk mendapatkan kembali kepercayaanmu."

Mereka berdiam dalam keheningan selama beberapa saat, hanya terdengar suara hujan yang mulai deras menyiram atap kontrakan. Sea melihat ke arah jendela, memikirkan semua yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Ketika mereka pertama kali bertemu di acara orientasi mahasiswa, Rayyan adalah sosok yang tampan, cerdas, dan penuh semangat. Ia langsung terpesona dengan kepemimpinannya sebagai ketua BEM dan cara dia memperhatikan setiap orang di sekitarnya. Mereka mulai berpacaran dan merencanakan masa depan bersama—rumah kecil dengan taman yang luas, karier yang sukses, dan keluarga yang bahagia.

Namun setelah ayah Rayyan sakit dan perusahaan keluarga mereka menghadapi kesulitan keuangan, semuanya berubah. Rayyan mulai sering keluar tanpa jelas tujuan, datang larut malam dengan wajah pucat dan lesu. Ketika ditanya, dia hanya mengatakan ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Sampai suatu hari, dia memberitahu Sea tentang perjanjiannya dengan keluarga Amara dan bahwa dia tidak punya pilihan lain selain menikahi wanita itu.

"Aku tidak pernah ingin menyakiti kamu, Sea," ucap Rayyan yang menyadari bahwa Sea sedang memikirkan masa lalu mereka. "Aku hanya merasa tidak punya pilihan lain. Aku takut kehilangan segalanya—perusahaan keluarga, ayahku, dan akhirnya kamu juga."

Sea menoleh menghadap Rayyan dengan mata yang sudah lebih tenang. "Aku mengerti bahwa kamu sedang dalam kesulitan, Rayyan. Tapi kamu harus mengerti bahwa hubungan itu dibangun di atas kepercayaan dan komunikasi. Kamu seharusnya tidak menyembunyikan segalanya dariku."

"Kamu benar," jawab Rayyan dengan sungguh-sungguh. "Aku belajar banyak dari kesalahan ini. Aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih penting daripada kamu dan hubungan kita. Aku siap melakukan apa saja untuk memperbaiki semuanya."

Sea terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku bisa memberimu kesempatan kedua, Rayyan. Tapi kita harus mulai dari awal lagi. Tidak ada yang instan, dan kamu harus membuktikan bahwa kamu benar-benar berubah."

Rayyan merasa hatiinya terbang tinggi mendengar kata-kata itu. Ia mengangguk dengan penuh semangat. "Aku siap, Sea. Aku akan membuktikan padamu bahwa cinta kita layak untuk diperjuangkan."

MULAI DARI AWAL

Hari berikutnya, Rayyan tidak langsung pulang ke Malang seperti yang direncanakan. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Yogyakarta untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar serius tentang usahanya untuk mendapatkan kembali kepercayaan Sea. Ia menyewa kamar di hotel dekat kampus Sea dan mulai merencanakan cara untuk memperbaiki hubungan mereka.

Pada pagi harinya, ia datang ke kontrakan Sea dengan membawa makanan sarapan khas Yogyakarta—gado-gado dan tempe bacem yang dibelinya dari warung terkenal di daerah Malioboro. Sea sedikit terkejut melihatnya datang lagi, namun tidak menunjukkan rasa marah seperti sebelumnya.

" Aku tidak bisa tidur malam ini karena terlalu berpikir tentang apa yang kamu katakan," ucap Rayyan dengan senyum lembut saat memberikan bungkusan makanan pada Sea. "Aku pikir kamu mungkin perlu sarapan sebelum pergi ke kampus."

Sea menerima bungkusan dengan hati-hati dan memberikan senyum tipis. "Terima kasih, Rayyan. Kamu tidak perlu melakukan ini, tapi aku menghargainya."

"Mungkin kita bisa makan bersama di taman dekat kampusmu nanti?" ajak Rayyan dengan penuh harapan. "Hanya sebagai teman yang ingin bertukar pikiran."

Sea berpikir sebentar kemudian mengangguk. "Baiklah. Kita bisa bertemu di taman Universitas Gadjah Mada pukul sebelas siang. Tapi hanya sebentar saja ya, aku punya jadwal kuliah yang padat."

Jam 10 pagi, Rayyan sudah berada di taman yang telah mereka sepakati. Ia mengenakan kemeja putih yang rapi dan celana panjang hitam, membuatnya terlihat lebih tampan dan menarik. Banyak mahasiswi yang melihatnya dengan tatapan kagum, namun dia hanya fokus pada pintu masuk kampus yang menjadi arah tujuannya.

Pada pukul sebelas siang tepat waktu, Sea datang mengenakan baju kuliahnya yang sederhana namun tetap cantik. Rambutnya diikat rapi menjadi sanggul, membuat wajahnya yang cantik semakin menonjol. Rayyan merasa hatinya berdebar kencang seperti ketika mereka pertama kali bertemu.

Mereka duduk di bangku taman yang rindang, menikmati makanan yang dibawa Rayyan sambil berbincang tentang hal-hal yang sederhana. Rayyan menceritakan tentang perkembangan perusahaan keluarga yang mulai membaik, sementara Sea menceritakan tentang pekerjaannya sebagai asisten dosen dan rencananya untuk melanjutkan studi magister.

"Ternyata kamu masih punya impian yang sama seperti dulu ya, Sea," ucap Rayyan dengan senyum hangat setelah mendengar cerita Sea. "Kamu selalu ingin menjadi dosen dan mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang hukum pidana."

Sea tersenyum perlahan. "Ya, itu adalah impianku yang paling besar. Aku tidak pernah berhenti bermimpi meskipun harus menghadapi banyak rintangan."

"Aku akan selalu mendukungmu dalam mengejar impianmu itu, Sea," ucap Rayyan dengan penuh keyakinan. "Kamu pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidup."

Mereka terus berbincang hingga hampir waktu kuliah Sea tiba. Sebelum pergi, Sea berbalik dan melihat Rayyan dengan tatapan yang penuh makna.

"Terima kasih untuk hari ini, Rayyan," ucapnya dengan suara lembut. "Ini terasa seperti ketika kita pertama kali bertemu—tenang dan menyenangkan."

Rayyan berdiri dan memberikan senyum hangat. "Aku akan selalu ada untukmu, Sea. Tidak peduli apa yang terjadi."

Setelah Sea pergi ke kampus, Rayyan tetap duduk di taman itu untuk beberapa saat lagi. Ia merasa ada harapan baru yang tumbuh di hatinya—harapan bahwa mereka bisa benar-benar memulai dari awal dan membangun hubungan yang lebih kuat daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!