"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Arfan Berubah
Zahra yang menyadari Aura baru saja menutup telepon dengan wajah bimbang, langsung menghampiri dan merangkul bahu sahabatnya itu dengan heboh. Energinya yang meluap-luap seketika memecah suasana tegang di antara mereka.
"Ra! Aura! Lupakan dulu soal Kak Bima atau siapa pun yang lo telepon tadi!" seru Zahra sambil menunjukkan layar ponselnya yang berisi laman web universitas luar negeri. "Lihat deh, pendaftaran beasiswa ke London yang kita incar udah dibuka! Sumpah, gue semangat banget! Bayangin kita berdua jalan-jalan di Oxford Street atau foto di depan Big Ben. Pasti keren banget!"
Aura sedikit tersentak, mencoba mengikuti antusiasme Zahra. "Oh, ya? Wah, lebih cepat dari perkiraan ya, Zah."
"Iyalah! Gue udah nggak sabar pengen keluar dari sini, pengen ngerasain bebas di sana," lanjut Zahra ceplas-ceplos seperti biasa. Ia menoleh ke arah Mawar yang masih setia dengan ketenangannya. "War, lo beneran nggak mau ikut kita ke London? Sayang banget lho otak encer lo nggak dipake buat kuliah di luar negeri. Lo nggak bosen apa di sini terus?"
Mawar menutup buku yang sedang dibacanya dengan pelan. Ia menatap Zahra dan Aura bergantian, lalu memberikan senyum yang sangat tulus dan menyejukkan hati.
"Terima kasih tawaran dan semangatnya, Zahra," ucap Mawar lembut. "Tapi sepertinya cita-citaku tidak di sana. Aku ingin tetap di sini, membantu Ayah mengurus pesantren. Bagi aku, bisa mengabdi di sana dan meneruskan perjuangan Ayah itu sudah lebih dari cukup."
Zahra mendesah kecewa. "Yah... Mawar mah gitu. Padahal kalau ada lo, kita bisa jadi trio kwek-kwek paling hits se-London. Tapi ya sudahlah, emang jiwa lo udah jiwa Ustazah."
Aura menatap Mawar dengan rasa kagum. Di saat dirinya dan Zahra begitu berambisi mengejar dunia sampai ke London, Mawar justru sudah menemukan kedamaian dalam pengabdian yang sederhana namun mulia.
"Hebat kamu, War. Aku dukung apapun pilihan kamu," ujar Aura tulus.
Mawar mengangguk pelan. "Begitu juga aku, Ra. Aku selalu mendoakan agar impian kamu ke London lancar. Tapi..." Mawar menggantung kalimatnya sejenak, menatap Aura dengan tatapan yang dalam. "Tetaplah jaga diri baik-baik, ya. Di mana pun kamu berada, jangan pernah lupa siapa yang benar-benar menjaga kamu dengan tulus."
Aura tertegun mendengar pesan Mawar yang terasa sangat bermakna. Namun, lamunannya kembali buyar saat Zahra menarik tangannya.
"Udah, jangan melow-melow! Yuk, Kita harus susun strategi buat daftar beasiswa itu sekarang juga!" tarik Zahra dengan semangat yang berapi-api.
Aura melangkah mengikuti Zahra, namun hatinya masih tertinggal pada pembicaraan teleponnya dengan Arfan tadi. Ada sesuatu yang janggal, namun ambisi London yang baru saja diledakkan oleh Zahra mencoba menutupi keraguan itu dalam-dalam.
...****************...
Bel sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran yang melelahkan. Sesuai janjinya, Arfan sudah menunggu di depan gerbang dengan motor besarnya. Aura berpamitan pada Zahra dan Mawar, lalu menghampiri Arfan yang menyambutnya dengan senyum teduh seperti biasa.
Namun, sepanjang perjalanan, suasana terasa berbeda. Arfan tidak banyak bicara, tapi genggamannya pada stang motor terasa lebih kencang. Alih-alih langsung mengantar Aura pulang, Arfan membelokkan motornya ke sebuah taman kota yang sepi di bawah pohon besar yang rindang.
"Lho, Kak? Kok berhenti di sini? Kita nggak langsung pulang?" tanya Aura heran saat turun dari motor.
Arfan melepas helmnya, merapikan rambutnya sebentar, lalu menatap Aura dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik ketenangannya.
"Ra... soal pendaftaran beasiswa ke London itu," buka Arfan pelan. "Apa kamu sudah benar-benar yakin?"
Aura mengerjap, ia teringat semangat Zahra tadi siang. "Yakin banget, Kak. Tadi Zahra juga sudah kasih tahu kalau pendaftarannya sudah buka. Aku seneng banget."
Arfan terdiam sejenak. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. "Ra, London itu jauh sekali. Sangat jauh. Kamu di sini sudah terbiasa ada yang menjaga, ada Bunda, ada Kak Bima... dan ada saya. Di sana, lingkungannya sangat berbeda. Pergaulannya bebas, belum lagi urusan ibadah yang mungkin akan lebih sulit."
Aura tertawa kecil, menganggap Arfan hanya terlalu khawatir. "Kan Kakak sendiri yang bilang bakal doain aku terus? Aku juga akan jaga diri kok, Kak. Mawar juga tadi bilang begitu."
"Tapi, Ra..." Arfan memotong cepat, suaranya sedikit lebih berat. "Bagaimana kalau kamu ambil kuliah di sini saja? Ada banyak universitas bagus di Jakarta yang jurusannya sama dengan di London. Saya bisa bantu kamu daftar, saya bisa antar jemput kamu setiap hari, saya bisa pastikan kamu aman setiap saat di depan mata saya."
Aura tertegun. Ia menatap Arfan dengan dahi berkerut. Ini pertama kalinya Arfan terdengar seperti tidak mendukung mimpinya. Padahal kemarin, dialah orang yang paling semangat memberikan catatan persiapan beasiswa.
"Kak Arfan kenapa? Kemarin Kakak yang paling dukung aku. Kok sekarang kayak... mau nahan aku buat nggak pergi?" tanya Aura bingung.
Arfan tersadar kalau suaranya mungkin terdengar terlalu posesif. Ia segera mengatur ekspresinya kembali menjadi lembut. Ia menghela napas, menatap mata Aura dengan dalam, terlalu dalam hingga membuat Aura merasa sedikit risih.
"Saya hanya takut kehilangan kamu, Ra," ucap Arfan lirih, suaranya terdengar sangat tulus tapi menyimpan sesuatu yang protektif. "Saya takut kalau kamu jauh, saya nggak bisa lagi melihat senyum kamu setiap hari. Saya nggak bisa pastikan siapa yang ada di samping kamu saat kamu butuh bantuan. Rasanya... sesak kalau membayangkan kamu ada di belahan dunia lain sementara saya di sini."
Aura terdiam. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi, ia merasa tersanjung karena dipedulikan begitu dalam oleh Arfan. Tapi di sisi lain, ia merasa mimpinya ke London seperti sedang ditarik paksa oleh perhatian itu.
"Tapi Kak, ini mimpi aku dari dulu..."
"Pikirkan lagi ya, Ra? Demi Bunda, demi keamanan kamu. Dan... demi saya," potong Arfan sambil tersenyum tipis, lalu menyodorkan helm ke arah Aura. "Ayo pulang, Bunda pasti sudah nunggu."
Aura menerima helm itu dengan tangan yang terasa dingin. Sepanjang sisa perjalanan, pertanyaan besar berputar di kepalanya, Kenapa Kak Arfan tiba-tiba berubah pikiran?
Sepanjang sisa perjalanan, Aura hanya terdiam di belakang punggung Arfan. Angin sore yang menerpa wajahnya tidak mampu mendinginkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Di hati Aura, Arfan adalah sosok teladan, pengganti sosok kakak yang lebih stabil dibanding Bima. Tidak lebih. Ia tidak pernah melihat Arfan dengan binar cinta seperti yang Zahra bayangkan.
Begitu motor berhenti di depan pagar rumah, Aura segera turun dan melepas helmnya.
"Terima kasih ya, Kak, sudah diantar," ucap Aura dengan nada seformal mungkin, mencoba menjaga jarak yang tadi sempat terasa terkikis di taman.
Arfan masih duduk di atas motornya, menatap Aura dengan lekat. "Ra, soal yang di taman tadi... tolong dipikirkan baik-baik ya? Saya bicara begitu karena saya sangat peduli. Kamu sudah saya anggap seperti... bagian terpenting dalam hidup saya."
Aura tersenyum kaku, tangannya meremas tali tas sekolahnya. "Iya, Kak. Makasih perhatiannya. Tapi London itu impian aku sejak kecil. Aku harap Kakak bisa terus dukung aku sebagai adik, seperti biasanya."
Aura sengaja menekankan kata sebagai adik. Ia ingin Arfan sadar bahwa batasan di antara mereka sangat jelas.
Arfan tertegun sejenak, senyumnya sedikit memudar, namun ia segera mengangguk. "Tentu, Ra. Saya selalu dukung yang terbaik buat kamu. Ya sudah, masuklah. Salam buat Bunda."
Aura berbalik dan melangkah masuk ke halaman rumah dengan perasaan lega sekaligus berat. Begitu ia membuka pintu rumah, ia langsung berpapasan dengan Bima yang sedang berdiri di ruang tamu dengan wajah mendung.
Bima menatap adiknya, lalu beralih menatap motor Arfan yang perlahan menjauh dari balik jendela.
"Baru pulang?" tanya Bima ketus, tapi matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Iya, Kak," jawab Aura singkat. Ia sedang malas berdebat, tapi ia teringat sesuatu. "Kak... tadi beneran Kakak ke sekolah?"
Bima terdiam. Ia tidak menyangka Aura akan tahu secepat itu. "Siapa yang bilang? Si cowok sok alim itu?"
"Bukan. Mawar yang liat," jawab Aura jujur. "Kak Bima ngapain sih nyegat Kak Arfan di jalan? Kenapa nggak ngomong baik-baik di rumah aja?"
Bima mendengus kasar, ia melangkah mendekati Aura. "Ra, dengerin gue. Gue nggak peduli Mawar liat apa, tapi gue lakuin itu buat lo. Gue nggak mau lo dimanfaatin sama dia!"
"Dimanfaatin apa sih, Kak?! Kak Arfan itu baik banget, dia bahkan peduli sama kesehatan Bunda!" Aura mulai terpancing emosi lagi.
"Kebaikan dia itu ada harganya, Aura! Lo nggak ngerasa apa? Dia itu mulai ngatur-ngatur hidup lo!" bentak Bima frustrasi.
Aura tertegun. Ucapan Bima barusan tepat sasaran. Ia teringat kejadian di taman tadi saat Arfan mencoba menahannya ke London. Untuk pertama kalinya, Aura merasa Bima mungkin ada benarnya, meskipun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya di depan kakaknya yang menyebalkan itu.
Aura tidak menjawab, ia langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Bima yang hanya bisa menghela napas panjang di bawah.
Bersambung........
Assalamualaikum semuanyaa, kalau suka alur ceritanya jangan lupa like dan komen yaa🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰