"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam belas
Meira berusaha fokus pada Bu Erni yang sedang menerangkan anatomi di papan tulis. Sesekali ia menengokkan kepalanya ke bangku Ayara yang terlihat kosong. Cewek itu belum juga kembali ke kelasnya sejak pengakuan bahwa Meira lah yang mencuri gelang milik Anita. Ada rasa khawatir dalam diri Meira. Ayara pasti sangat marah padanya tentang hal ini, sampai-sampai cewek itu harus bolos sekolah.
Perhatian Meira beralih pada jam yang terletak di dinding atas papan tulis. Masih ada dua puluh menit lagi mata pelajaran Biologi berakhir. Dalam harap-harap cemasnya, sesuatu terlintas dalam pikirannya.
"Apa alasan kamu melakukan itu, Meira? Kamu tahu kan perbuatan itu sangat tercela?" ucap Kepala sekolah, ada kekecewaan dalam nada bicaranya.
Meira menundukkan kepalanya dalam, ia tidak bisa lagi menahan air matanya. "Maafkan saya, Pak." ia berkata lirih.
Bu Resma yang berada di sebelahnya mengelus punggung Meira dengan gerakan pelan. Wanita itu sama sekali tak percaya kalau Meira pelaku dibalik pencurian gelang itu. Sedangkan Anita, yang juga ada disana hanya terdiam menatap Meira dengan pandangan sulit diartikan.
Pak Iyan, selaku kepala sekolah menghembuskan napas kasar, lalu mengambil alih sebuah amplop cokelat dari tangan Bu Hera. Lelaki berusia kepala empat itupun memberikan isi dari amplop itu kepada Meira dengan menyimpannya di atas meja yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Meira.
"Dikarenakan kamu adalah murid baru di sekolah ini, bapak tidak akan langsung mengeluarkanmu. Kamu hanya akan mendapatkan skors selama dua hari." telunjuk Pak Iyan mengarah pada sebuah kertas dihadapan Meira. "Silahkan tanda tangani surat peringatan ini dan berjanjilah kalau kamu tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi." perintahnya.
Meira melirik Pak Iyan dan kertas itu bergantian. Tangannya mulai bergerak pelan untuk menggapai pulpen, lalu akhirnya menandatangani surat itu. Kali ini Meira harus melawan kata hatinya yang menolaknya melakukan ini.
"Bapak juga terpaksa harus memanggil orangtua kamu untuk datang kesini besok. Ini surat undang—"
"Kedua orangtua saya sudah tidak ada, Pak." potong Meira, membuat Pak Iyan menghentikan tangannya yang hendak memberikan surat undangan.
"Maaf, Meira. Kalau begitu kamu tinggal dengan siapa?"
Meira bergeming sejenak. "Saya tinggal bersama Bibi di Bogor. Saya seorang perantau disini." ujarnya.
"Anak rantau, tapi berani mencari masalah." sindir Bu Hera sambil berbisik, tetapi masih bisa di dengar jelas oleh Meira.
"Bagaimana kalau Bapak kasih dia hukuman tambahan berupa pengurangan nilai misalnya. Karena saya pikir tidak adil kalau dia hanya mendapat surat peringatan dan skors. Setidaknya dia bakal bisa lebih mematuhi aturan setelah diberi hukuman, Pak." saran Bu Hera, seperti ada sesuatu lain dibalik masukan yang ia ajukan.
Pak Iyan tampak berpikir sejenak mendengar penuturan dari Bu Hera, sebelum akhirnya pria itu mengangguk setuju. "Terimakasih atas masukannya, Bu Hera. Baiklah, Saya akan batasi nilai kamu selama setengah semester kedepan, Meira. Kamu tenang saja nilai kamu tidak akan kosong, hanya mungkin nilai keterampilanmu sebatas KKM. Semoga kamu tidak keberatan dengan keputusan ini." jelasnya.
Meira hanya mengangguk pasrah. "Baik, Pak." ia menghapus sisa air matanya di pipi lalu memaksakan untuk tersenyum.
"Meira Adisty! Kamu dengar ibu tidak?!"
Meira mengerjapkan matanya beberapa kali ketika mendapat gebrakan meja dari Bu Erni. "Eh? Iya, Bu?" katanya gelagapan.
Bu Erni berdecak keras sambil memutarkan bola matanya kesal. "Kamu ini murid baru yang pintar, Meira. Tapi kenapa selalu saja mencari masalah." geramnya gemas.
Meira menggigit bibir bawahnya merasa bersalah, tanpa menyadari bahwa sekarang dirinya menjadi pusat perhatian semua orang. "Maafkan saya, Bu."
"Minta maaf saja terus." cecar Bu Erni sedikit kesal.
Meira termenung. Dia tak segera menjawab Bu Erni. "Bu, minta maaf nggak akan membuat seseorang menjadi tinggi atau rendah, kok. Orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain berarti dia berhati mulia." entah keberanian dari mana, Meira tiba-tiba saja membalas ucapan Bu Erni dengan dipadukan sedikit kritikan.
Bukannya mengubah suasana menjadi lebih baik, hal itu malah membuat Guru Biologi itu berkacak pinggang. "Beraninya kamu ceramahin saya!" katanya garang.
Meira nyengir ketika Bu Erni memakinya. Cewek itu memperhatikan keadaan sekitar, semua pasang mata menatapnya datar. "Maafkan saya."
"Ibu maafin kamu, tapi kamu harus keluar dari kelas saya. Mengerti?" perintahnya tanpa penolakan.
Meira langsung mengangguk cepat, kemudian bangkit dari duduknya. "Baik, Bu. Permisi." pamitnya.
...\~\~\~...
Meira tersenyum kecil setelah keluar dari kelas. Rencananya untuk meninggalkan kelas dengan cepat akhirnya berhasil. Tidak sia-sia Meira membaca buku berisi kumpulan quotes milik Ayara kemarin malam, ternyata salah satunya terpakai juga.
Langkah Meira terayun menuju lapangan sekolah, tujuannya kali ini ialah mencari Ayara. Meira yakin bahwa Ayara masih berada di sekitar. Mengingat ada satpam yang berjaga di pintu gerbang, cewek itu tidak mungkin bisa melarikan diri dari sekolah begitu saja. Dua puluh menit berlalu, tapi Meira belum juga menemukan Ayara. Tidak ada tanda-tanda kalau Ayara berada di sekolah, padahal Meira sudah mengelilingi hampir seluruh koridor di gedung tempat menimba ilmu ini.
Karena tidak menemukan hasil, Meira memutuskan untuk berhenti berjalan dan menepi di salah satu bangku panjang yang tersedia di pinggir lapangan volly, yang di sampingnya terdapat sebuah kolam ikan berukuran sedang.
"Kamu kemana sih, Ra..." gumamnya lesu.
Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi bertepatan dengan Meira yang sudah mendaratkan bokongnya di kursi. Meira mengambil sebungkus tissue di dalam saku roknya guna mengelap keringat yang muncul di keningnya.
Ia merogoh saku roknya kembali untuk mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar pertanda ada pesan masuk.
Pesan baru dari No Name :
Jauhi orang-orang itu! Ibu mu masih hidup.
Meira membaca pesan itu dalam diam, keningnya perlahan berkerut bingung. Dari mana sebenarnya orang ini bisa mendapatkan nomornya? Dan siapa yang dimaksud dengan 'orang-orang' dalam pesannya kali ini? Sebenarnya ada apa? Rentetan pertanyaan bersarang di kepala Meira.
You :
Siapa kamu sebenarnya?
Beberapa detik setelah Meira mengirimkan balasan, orang itu pun langsung membalas pesannya.
No Name :
Kamu akan tahu nanti. Temui ibu mu di tempat ini lusa, siang hari.
No Name mengirim lokasi.
"Itu kan cewek dari IPA 1 yang katanya nyuri gelang ya?"
Meira mengangkat kepalanya hingga matanya bisa menangkap tiga orang siswa perempuan yang tidak ia kenal sedang menatap ke arahnya. Salah satu dari ketiganya terlihat mendelikan mata.
"Cantik sih, tapi panjang tangan." ucap cewek di tengah, rambutnya dikucir kuda. Namanya Fira.
"Pantes aja pindah di pertengahan semester, kayaknya di sekolah lamanya juga dia kepergok maling kali." timpal cewek sebelah kiri Fira.
"Kalau gue jadi dia, mungkin gue udah diusir sama orangtua gue."
"Jelaslah, Ayah sama Ibunya pasti malu banget sama kelakuan anaknya." Fira tertawa, diikuti oleh kedua temannya.
"Kalau gitu, izinin gue laporin kelakuan kalian juga ke orangtua kalian." suara bariton milik laki-laki terdengar dari arah belakang ketiga cewek itu.
Dengan santainya ia mengambil video ketiganya ketika mereka mengatai Meira. "Kena! Duh, Ayah dan Ibu kalian pasti kecewa liat anaknya viral gara-gara bully orang dan sibuk gosip dari pada belajar." kata orang itu dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Apaan sih, lo. Hapus gak!" Fira melangkah maju untuk merebut ponsel dari cowok yang sedikit lebih tinggi darinya. "Sini deh, lo gak usah nyebelin!"
Disaat cewek itu berusaha keras mendapatkan ponsel, Ilham malah tersenyum tengil lalu sengaja mengarahkan Fira pada kolam ikan di sampingnya.
"Ilham, gue bilang hapus— Eh.. eh." Fira tidak sadar kalau jarak antara kolam dan dirinya sudah semakin tipis. Bahkan sekarang ia mulai hilang keseimbangan karena sepatunya tak sengaja menginjak undakan batu di pinggir kolam yang memang licin. "Kyaaa.."
"FIRA!" kedua temannya berteriak kompak melihat Fira yang jatuh terduduk ke dalam kolam.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰