Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KEJAMNYA
Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, menerangi kamar utama yang luas dan mewah. Alana terbangun dengan rasa sesak di dadanya, bukan hanya karena beban mental, tetapi karena lengan kekar Dante masih melingkar erat di pinggangnya, seolah mengunci keberadaannya bahkan dalam tidur. Saat ia mencoba bergerak kecil, Dante membuka matanya—bola mata biru es itu langsung tajam, tidak ada jejak kantuk di sana.
***
Pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih tegang. Dante sudah mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna arang yang membuatnya tampak sangat berwibawa namun mematikan. Adam sudah menunggu di dekat pintu dengan tas kerja kulit dan beberapa berkas.
"Aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari untuk urusan bisnis yang mendesak," ucap Dante sambil memotong daging asapnya dengan gerakan presisi.
Alana mendongak, ada kilatan lega yang tak mampu ia sembunyikan di matanya. Kepergian Dante berarti napas segar baginya. Namun, Dante bukan pria bodoh; ia menyadari kilatan itu.
"Jangan senang dulu, little girl," desis Dante dingin. "Aku punya perintah baru untukmu selama aku pergi. Kau tidak perlu lagi menyentuh sapu atau pel untuk seluruh mansion ini."
Alana mengerutkan dahi, berniat memprotes. "Tapi Tuan, aku lebih baik bekerja daripada hanya—"
"Diam," potong Dante, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Tugasmu hanya dua: bersihkan kamar kita dan ruang kerja pribadiku di lantai atas. Selain itu, kau dilarang menyentuh pekerjaan apa pun. Kau akan makan di meja ini, dilayani oleh maid lain, dan beristirahat seperti seorang Nyonya."
Alana menggeleng ragu. "Aku tidak mau menjadi beban..."
Dante mencondongkan tubuh, matanya menatap Alana dengan intensitas yang mengerikan. "Dengarkan aku baik-baik. Jika aku melihatmu memegang alat pel atau melakukan pekerjaan pelayan lain melalui CCTV, aku tidak akan menghukummu. Sebagai gantinya, aku akan memecat pelayan yang bertugas di area itu saat itu juga. Mereka akan kehilangan mata pencahariannya karena keras kepalamu. Kau mengerti?"
Alana tersentak. Itu adalah ancaman yang paling licik. Dante tahu Alana memiliki hati yang terlalu lembut untuk membiarkan orang lain menderita karenanya. Dengan berat hati, Alana mengangguk pelan. "I-iya, aku mengerti, Tuan."
"Bagus," ucap Dante puas. Ia bangkit dari kursinya.
Sebelum melangkah pergi, Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Di depan pintu utama mansion, di mana puluhan pelayan dan pengawal berdiri berbaris rapi untuk melepas kepergian sang tuan besar, Dante melakukan sesuatu yang membuat napas Alana tercekat.
Dante mêñ¢êñgkêråm tengkuk Alana dan menariknya ke dalam ¢ïµmåñ yang dalam, menuntut, dan penuh hå§rå† di depan semua orang. Ia mêlµmå† bibir mungil Alana seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya secara absolut. Alana memerah padam, ia merasa ribuan pasang mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Ia mencoba melepaskan diri, namun Dante justru mempererat pagutannya hingga Alana lemas dalam dekapannya.
Setelah melepaskan ßïßïr Alana yang kini membengkak kemerahan, Dante berbisik tepat di depan wajahnya yang panas. "Jadilah gadis penurut selama aku pergi, little girl."
"Tunggu aku kembali," bisik Dante di telinganya, lalu berbalik pergi bersama Adam.
***
Setelah mansion terasa sepi dari aura dominasi Dante, Alana mencoba menenangkan jantungnya. Ia memutuskan untuk segera menyelesaikan tugasnya. Setelah merapikan kamar utama, ia melangkah menuju ruang kerja pribadi Dante—sebuah ruangan yang selalu terkunci rapat dan hanya boleh dimasuki oleh Arthur atau Dante sendiri.
Ruangan itu beraroma kayu cendana dan tembakau mahal. Rak-rak buku menjulang hingga langit-langit, berisi literatur hukum, strategi perang, dan sejarah kuno. Alana mulai mengelap meja kayu ek besar yang berantakan dengan tumpukan berkas. Saat tangannya bergerak memindahkan beberapa map kulit, sebuah laci yang tidak tertutup rapat menarik perhatiannya.
Rasa ingin tahu mengalahkan logikanya. Alana menarik laci itu perlahan. Di dalamnya, terdapat sebuah map merah tebal tanpa label. Saat ia membukanya, jantung Alana seolah berhenti berdetak.
Foto-foto polaroid terjatuh ke atas meja. Foto-foto pria yang bersimbah Ðåråh, tubuh-tubuh yang kaku dengan luka tembak tepat di dahi, dan daftar nama yang dicoret dengan tinta merah Ðåråh. Di lembar berikutnya, terdapat dokumen berisi instruksi eksekusi, koordinat pembuangan mayat, dan rincian transaksi senjata ilegal yang nilainya tidak masuk akal.
Tangan Alana bergetar hebat. Dokumen itu bukan sekadar catatan bisnis gelap; itu adalah catatan þêmßåñ†åïåñ. Di sana, tertulis nama-nama politikus dan pengusaha yang dikabarkan "hilang" atau "bunuh diri" di berita, namun di sini, terdapat bukti bahwa tangan suaminya lah yang menarik pelatuknya.
"Ya Tuhan..." bisik Alana, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ðåråhñɏå berdesir hebat, rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Ia baru menyadari dengan sepenuhnya siapa pria yang tidur di sampingnya semalam. Dante bukan sekadar mafia sombong yang kaya raya; dia adalah monster yang tak memiliki belas kasihan. Setiap kemewahan yang ia sentuh di mansion ini, setiap butir nasi yang ia makan tadi pagi, semuanya dibayar dengan nyawa manusia.
Alana mundur beberapa langkah, kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja. Ia merasa mual. Ia telah menikahi iblis, dan sekarang ia terperangkap di dalam neraka yang sangat indah ini tanpa jalan keluar.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄