NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29: Penghormatan Terakhir

Kabut ilusi yang melindungi Lembah Abu bergetar hebat, seolah-olah langit sedang runtuh menimpanya.

Dari balik halimun abu-abu, suara langkah kaki yang berat dan terseret-seret terdengar semakin dekat. Bukan langkah kaki pasukan yang tegap, melainkan langkah kaki dari sesuatu yang diseret paksa dari kubur.

Di atas benteng tanah yang dibangun Tie Shan semalam, Li Wei berdiri dengan wajah kaku. Di sampingnya, Tie Shan sedang memeluk Meriam Auman Naga, tangannya gemetar di atas mekanisme pemicu. Xiao Lan dan para tabib berdiri di belakang, siap dengan pasukan panah beracun.

"Mereka datang," bisik Li Wei.

Kabut di depan gerbang lembah perlahan menipis, dihalau oleh aura darah yang pekat.

Pasukan Sekte Darah muncul. Jumlahnya ribuan. Tapi bukan itu yang membuat darah para pembela Lembah Abu membeku.

Barisan depan pasukan musuh tidak memegang senjata. Mereka berjalan dengan tangan kosong, mata mereka putih kosong melompong, kulit mereka pucat kebiruan dengan urat-urat hitam menonjol.

Mereka mengenakan jubah biru yang robek dan berlumuran darah kering.

"Itu..." mata Xiao Lan membelalak ngeri, tangannya menutup mulut menahan jeritan. "Itu... Kakak Senior Mei? Dan Paman Luo?"

Barisan depan musuh adalah Mayat Hidup (Undead).

Mayat murid-murid Sekte Langit Biru yang gugur dalam pertempuran sebelumnya telah dibangkitkan kembali menggunakan teknik terlarang Boneka Darah. Mereka berjalan tertatih-tatih sebagai tameng hidup.

Di belakang barisan mayat itu, berdiri seorang pria berjubah merah dengan tongkat tengkorak. Pelindung Tulang Darah. Ia tertawa melengking.

"Lihatlah!" teriak Pelindung itu. "Saudara-saudara kalian datang berkunjung! Apakah kalian tega menyakiti mereka?"

"Tembak!" perintah Pelindung itu.

Mayat-mayat hidup itu mulai berlari. Gerakan mereka kaku tapi cepat. Mulut mereka terbuka, mengeluarkan suara erangan yang memilukan. Di tangan mereka, Sekte Darah telah memasang Jimat Peledak Jiwa. Jika mereka mendekat ke benteng, mereka akan meledak dan meruntuhkan pertahanan.

"Tie Shan! Tembak!" teriak Li Wei.

Tapi Tie Shan membeku.

Melalui bidikan meriam, ia melihat wajah mayat yang memimpin serangan. Itu adalah Zhang Si, teman masa kecilnya dari Puncak Besi. Wajah Zhang Si kosong, tapi tubuhnya yang kekar masih memakai apron penempa yang sama dengan Tie Shan.

"Aku... aku tidak bisa..." suara Tie Shan pecah. "Itu Saudara Zhang... Dia pernah menyelamatkanku saat menempa..."

"Dia sudah mati!" bentak Li Wei. "Itu hanya cangkang kosong!"

"Tapi tubuhnya! Jika aku menembak, dia akan hancur berkeping-keping! Rohnya tidak akan tenang!" Tie Shan menangis, tangannya menjauh dari kristal pemicu.

Keraguan melanda seluruh garis pertahanan. Para pemanah Puncak Pengobatan menurunkan busur mereka. Bagaimana mereka bisa memanah tubuh guru dan teman mereka sendiri?

Kelemahan ini dimanfaatkan musuh.

Barisan mayat hidup itu semakin dekat. 100 meter. 50 meter.

"Maju terus, budak-budakku!" tawa Pelindung Tulang Darah semakin keras. "Hancurkan moral mereka sebelum menghancurkan tubuh mereka!"

Li Wei melihat keraguan di mata teman-temannya. Ia melihat keputusasaan.

Jika ini berlanjut, mereka akan mati tanpa perlawanan. Lembah Abu akan jatuh, dan semua orang di belakangnya akan bernasib sama: menjadi mayat hidup.

Li Wei memejamkan mata sesaat. Mengambil napas dalam.

Saat ia membuka mata lagi, tidak ada emosi di sana. Hanya ketenangan yang dingin dan mengerikan.

Ia melangkah maju, mendorong Tie Shan minggir.

"Saudara Li?" Tie Shan terkejut.

Li Wei meletakkan tangannya di atas Meriam Auman Naga.

"Kalian tidak sanggup melakukannya?" tanya Li Wei datar. "Kalau begitu, biar aku yang menanggung dosanya."

Li Wei menatap lurus ke arah mayat-mayat berjalan itu. Ia tidak melihat monster. Ia melihat penderitaan. Tubuh yang seharusnya istirahat, dipaksa menjadi alat perang.

"Menghancurkan tubuh mereka bukanlah penghinaan," kata Li Wei lantang, suaranya bergema mengatasi erangan mayat. "Membiarkan mereka menjadi budak iblis... itulah penghinaan sesungguhnya!"

"Hormati mereka dengan kematian kedua! Bebaskan mereka!"

Li Wei mengalirkan Qi Lima Elemen-nya ke dalam meriam.

WUUUUUUUNG!

Kristal Api Guntur di pangkal meriam menyala terang benderang. Ukiran sisik naga di sepanjang laras meriam mulai bersinar ungu kemerahan. Udara di sekitar moncong meriam terdistorsi karena panas yang ekstrem.

Pelindung Tulang Darah di seberang sana merasakan lonjakan energi itu. Senyumnya hilang.

"Hentikan dia! Serang!"

Terlambat.

Li Wei menekan pemicu.

"AUMAN NAGA!"

KABOOOOOOOM!

Suara ledakan itu membungkam seluruh medan perang. Tanah berguncang hebat hingga banyak orang terjatuh.

Dari mulut meriam, seberkas sinar energi ungu-merah setebal tong raksasa menyembur keluar. Sinar itu berputar, diiringi suara raungan naga yang memekakkan telinga.

Sinar itu menghantam barisan depan mayat hidup.

Tidak ada darah. Tidak ada potongan tubuh.

Panas dari Api Guntur begitu tinggi hingga mayat-mayat itu langsung menguap menjadi abu seketika.

Sinar itu tidak berhenti. Ia menembus barisan mayat, menembus barisan pelindung Sekte Darah, dan terus melaju lurus ke arah pasukan utama musuh.

"TIDAK MUNGKIN!" teriak Pelindung Tulang Darah. Ia mencoba mengangkat perisai tulang.

Sinar itu menelan perisainya, lalu menelan tubuhnya.

Jalur kehancuran sepanjang lima ratus meter tercipta. Tanah di jalur tembakan itu meleleh menjadi kaca cair yang membara.

Ratusan mayat hidup dan puluhan kultivator Sekte Darah musnah dalam satu kedipan mata.

Asap mengepul dari laras meriam yang kini merah membara. Retak. Sebuah retakan kecil muncul di laras meriam pertanda bahwa senjata ini belum sempurna dan tidak bisa ditembakkan lagi dalam waktu dekat.

Hening.

Pasukan Sekte Darah yang tersisa berdiri mematung. Pemimpin mereka tewas. Barisan tameng mereka lenyap. Di tanah, hanya tersisa abu putih yang beterbangan ditiup angin.

Li Wei berdiri di atas benteng, tangannya masih berasap. Ia menatap abu yang beterbangan itu.

"Selamat jalan, Saudara Seperguruan," bisik Li Wei pelan. "Kalian bebas sekarang."

Tie Shan jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu. Tapi kali ini bukan tangis keraguan, melainkan tangis pelepasan. Ia tahu Li Wei benar.

Xiao Lan menghapus air matanya, lalu mengangkat busurnya kembali. Matanya kini tajam. Keraguannya telah dibakar habis oleh tembakan meriam itu.

"Serang!" teriak Xiao Lan. "Jangan biarkan pengorbanan Saudara Li sia-sia!"

Para pembela Lembah Abu, yang moralnya baru saja dibangkitkan secara brutal, bersorak liar. Mereka menghujani sisa pasukan musuh yang panik dengan anak panah dan batu. Tanpa pemimpin dan tameng, pasukan Sekte Darah menjadi kacau balau dan mundur.

Li Wei tidak ikut bersorak. Ia membelai laras meriam yang panas itu, merasakan retakan di permukaannya.

"Satu kali tembakan," batin Li Wei. "Ini kartu as yang mahal."

Serangan pertama berhasil dipatahkan. Tapi Li Wei tahu, ini baru permulaan. Suara Auman Naga ini pasti terdengar sampai ke Puncak Utama.

Jenderal Iblis di sana tidak akan mengirim pasukan kecil lagi. Dia akan datang sendiri.

Li Wei berbalik, menatap wajah-wajah lelah namun bertekad di belakangnya.

"Siapkan barang-barang," perintah Li Wei. "Kita tidak bisa bertahan di sini selamanya. Meriam ini sudah memberitahu posisi kita pada seluruh dunia."

"Kita akan evakuasi malam ini."

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!