NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. The Unspoken Covenant

Lampu blitz menyambar-nyambar seperti badai petir di halaman vila yang biasanya tenang itu. Samuel Vane berdiri tegap di samping Julian, tangannya yang hangat menepuk bahu Julian sekali, memberikan kekuatan tanpa kata-kata.

​Julian menarik napas panjang. Ia melangkah satu anak tangga lebih maju ke arah kerumunan paparazzi yang saling sikut demi mendapatkan sudut pandang terbaik. Wajah Julian tenang, tidak ada lagi kemarahan yang meluap-luap. Ia menatap mereka bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai pria yang memiliki otoritas atas hidupnya sendiri.

​"Cukup!" suara Julian menggelegar, tenang namun sanggup membungkam kegaduhan itu dalam sekejap.

​Seorang wartawan dari tabloid terkemuka berteriak, "Julian! Kenapa kau bersembunyi di sini bersama keluarga model itu? Apa kau sedang melarikan diri dari tanggung jawabmu atas kondisi Ellena yang memburuk?"

​Julian menatap wartawan itu tepat di matanya. "Aku tidak sedang bersembunyi. Aku sedang berada di rumah. Dan tempat ini..." Julian menunjuk ke arah pintu vila, "...adalah tempat suci. Di balik pintu itu ada orang-orang yang kuinginkan untuk menjadi keluargaku. Ada seorang ibu yang baru saja membuatkanku sarapan, dan seorang ayah yang mengajariku cara menjadi pria yang benar."

​"Apakah itu berarti Alice Vane adalah kekasih barumu?" cecar wartawan lain.

​Julian tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak sangat tulus dan bebas. "Kalian selalu mencari label. Kekasih, selingkuhan, pelarian. Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku sudah selesai dengan semua gaya hidup yang kalian tulis di majalah kalian. Aku sudah selesai dengan alkohol, obat-obatan, dan hubungan yang hanya didasari kepalsuan."

​Julian melirik Samuel di sampingnya, lalu kembali ke kamera. "Aku sedang menjalani proses penyembuhan. Aku memilih untuk hidup bersih. Aku memilih untuk berjalan di jalan Tuhan. Dan keluarga Vane... Tuan Samuel dan Nyonya Elizabeth, adalah orang-orang yang membantuku berdiri saat aku hampir menyerah pada hidup."

​"Tapi bagaimana dengan Alice?" tanya seorang fotografer.

​"Alice adalah cahaya yang Tuhan kirimkan untuk membimbingku kembali ke rumah," jawab Julian tegas. "Aku tidak akan memberikan kalian detail tentang status hubungan kami untuk kalian jadikan bahan gosip murahan. Karena hubungan ini terlalu suci untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang hanya ingin melihat kehancuran."

​Kerumunan itu tertegun. Ketegasan Julian bukan berasal dari kesombongan, tapi dari ketenangan batin yang baru.

​"Julian!" teriak seorang wartawan wanita. "Banyak fans Jelena yang merasa dikhianati! Mereka bilang kau meninggalkan Ellena di saat dia sakit demi 'kesucian' yang kau bicarakan ini!"

​Julian terdiam sejenak. Ia teringat pesan dari asisten Sean yang mencoba memprovokasinya. "Cinta tidak bisa dipaksakan oleh kontrak atau harapan jutaan orang. Aku mendoakan kesembuhan bagi semua orang yang sedang sakit, termasuk Ellena. Tapi aku tidak bisa terus membohongi diriku sendiri dan membohongi kalian semua. Hidupku bukan milik agensi lagi. Hidupku milik Tuhan, dan aku akan menjaganya."

​Samuel Vane melangkah maju, berdiri sejajar dengan Julian. "Tuan-tuan, kalian sudah mendapatkan jawaban kalian. Anak ini sedang mencari kedamaian. Jika kalian memiliki rasa kemanusiaan, berikan dia ruang. Jika kalian tetap bersikeras mengganggu kedamaian rumah ini, saya secara pribadi yang akan memastikan firma hukum saya mengambil tindakan tegas."

​Melihat wibawa Samuel dan ketegasan Julian, beberapa wartawan mulai menurunkan kamera mereka. Ada rasa malu yang merayap di wajah mereka.

​"Sekarang, silakan pergi," tutup Julian. "Aku punya sarapan yang harus kuhabiskan bersama keluargaku."

​Julian berbalik, tidak lagi mempedulikan teriakan-teriakan kecil yang masih tersisa. Ia masuk ke dalam vila, menutup pintu besar itu, dan langsung mendapati Alice yang berdiri di balik pintu dengan air mata mengalir.

​"Kau sangat hebat," bisik Alice, menghambur ke pelukan Julian.

​"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Al," Julian mendekapnya erat. "Aku tidak menyebut kita bertunangan, tapi aku sudah memposisikanmu sebagai orang yang paling berharga. Biarkan mereka menebak-nebak, yang penting mereka tahu bahwa kau adalah orang yang membawaku kembali ke jalan yang benar."

​Elizabeth menghampiri mereka, memegang pipi Julian. "Kau sudah menjadi pria yang sangat dewasa, Julian. Samuel dan aku bangga padamu."

​Namun, di sela kebahagiaan itu, Samuel menatap ponselnya yang berdering. Wajahnya berubah serius. "Julian, sepertinya pernyataanmu barusan memicu reaksi keras dari agensi. Mereka baru saja merilis pernyataan bahwa kau sedang mengalami gangguan mental dan membutuhkan rehabilitasi segera. Mereka mencoba mencabut hak asuh atas kariermu."

​Julian tersenyum dingin. "Biarkan saja, Pa Samuel. Selama aku memiliki kalian, aku tidak butuh panggung mereka lagi."

​Di sebuah hotel mewah di Paris, Sean Miller melempar ponselnya ke dinding setelah melihat siaran langsung pernyataan Julian. "Hidup bersih? Hidup suci? Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan di atas awan itu, Julian Reed, sebelum aku menarikmu kembali ke neraka."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!