NovelToon NovelToon
Ibu Susu Berdarah Dingin

Ibu Susu Berdarah Dingin

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Cintamanis / Ibu susu / Balas Dendam / Transmigrasi / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:611.1k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.

Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.

______________________________________________

"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.

"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEMAM

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Jayden merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ada seseorang yang berani masuk ke dalam kegelapannya tanpa rasa takut.

"Tidur lah, Jayden, aku akan duduk di sini, di kursi itu," tunjuk Calista ke arah kursi kayu di sudut kamar.

"Aku tidak akan menyentuhmu, aku tidak akan meracuni mu, aku hanya akan ada di sana sampai matahari terbit," lanjut Calista, seolah tahu ketakutan pria itu.

Jayden menatap kursi itu, lalu kembali menatap Calista.

Kamu akan tetap di sini?" tanya Jayden, pelan.

"Iya. Sampai kau merasa aman, dan jika kamu bangun dan mencoba menyakiti dirimu lagi, aku tidak akan ragu untuk membanting mu ke lantai lagi," ancam Calista dengan nada setengah bercanda yang membuat Jayden akhirnya mengembuskan napas panjang.

Seperti anak kecil yang baru saja di marahi ibunya, Jayden perlahan naik kembali ke tempat tidurnya, menyelimuti tubuhnya sendiri.

Jayden merasa sangat lelah secara emosional, saat dua berbaring, dia melihat bayangan Calista yang berjalan menuju kursi dan duduk di sana, benar-benar berjaga seperti seorang ksatria bayangan.

"Calista..." panggil Jayden sebelum ia terlelap.

"Ya?"

"Terima kasih, dan maaf..." ucap Jayden, lirih, menggenggam erat selimut nya.

Calista tidak menjawab, dia hanya memberikan anggukan kecil di dalam kamar yang temaram itu.

Calista memperhatikan Jayden sampai napas pria itu menjadi teratur dan jatuh ke dalam tidur yang lelap tanpa mimpi buruk.

"Pria ini benar-benar hancur," batin Calista sambil menghela napas nya panjang.

"Tapi tenang saja, Jayden, selama aku di sini, tidak akan ada satu pun wanita, aik itu hantu ibumu, masa lalu mu, atau musuhmu, yang akan menyentuhmu," Janji Calista, di malam sunyi itu.

Malam semakin larut, namun suhu tubuh Jayden justru merangkak naik dengan cepat.

Calista, yang tadinya duduk di kursi sudut, segera bangkit saat mendengar suara geraman tertahan dan deru napas yang semakin tidak teratur dari atas ranjang.

Wajah Jayden memerah padam, keringat dingin membanjiri dahinya, bahkan dia mulai meronta dalam tidurnya, tangannya mencengkeram sprei hingga urat-urat di lengannya menonjol.

"Tidak... Kak... jangan..." gumam Jayden, suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang ketakutan.

Calista mendekat, tangannya hendak menyentuh dahi Jayden untuk mengecek suhu nya, namun dia ragu mengingat kebencian pria itu pada sentuhan perempuan. Namun, saat Jayden mulai terbatuk dan menggigil hebat, Calista membuang semua keraguannya.

"Panas sekali! Ini bukan sekadar demam biasa, ini reaksi syok," bisik Calista, menyentuh kening Jayden.

Tiba-tiba, Jayden berteriak kecil, tangannya menangkis udara seolah-olah ada cambuk yang sedang mengarah padanya.

"Ibu... ampun... jangan suruh aku..." racau Jayden dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya yang terpejam.

"Kakak baik padaku... dia bukan musuh... biarkan aku... biarkan aku menyayanginya..."

Deg

Calista tertegun, di balik tirai sejarah yang dia tahu, fia baru menyadari betapa kejamnya masa kecil Jayden.

Sebagai anak dari seorang selir ambisius seperti Isabella, Jayden dipaksa menjadi senjata untuk menghancurkan putra mahkota yang sah, kakak laki-lakinya sendiri.

Jayden kecil disiksa hanya karena dia memiliki hati yang tulus dan menolak untuk membenci kakaknya.

"Jangan pukul lagi... aku akan belajar... aku akan jadi kuat... tapi jangan suruh aku menyakiti Kakak..." rintih Jayden, tubuhnya meringkuk seperti posisi janin, mencoba melindungi dirinya dari trauma masa lalu yang kembali hadir di alam bawah sadar.

Hati Calista berdenyut perih, sebagai Yura yang dulu dibesarkan di panti asuhan militer yang keras, dia tahu rasanya dipaksa menjadi mesin pembunuh.

Calista merasakan ikatan batin yang kuat dengan pria yang sedang hancur ini.

"Jayden, dengar aku," ucap Calista duduk di tepi ranjang, dia mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air dingin dan menekannya lembut ke dahi Jayden.

Jayden sempat tersentak, lalu dia membuka matanya, namun pandangannya kosong dan berkabut karena demam.

Jayden tidak melihat Calista, melainkan yang dia lihat adalah bayangan Isabella yang mengerikan.

"K-kau datang lagi untuk memukulku?" bisik Jayden dengan suara gemetar, mencoba menjauh, namun tubuhnya terlalu lemas.

"Ambil saja semuanya... ambil takhtanya, ambil nyawaku... tapi tolong berhenti menyakitiku..."

Racau Jayden, dengan tubuh bergetar hebat.

Calista tidak bisa menahan diri lagi, dia menarik tubuh Jayden ke dalam pelukannya, mendekap kepala pria itu di dadanya, mengabaikan segala protokol atau risiko bahwa dia akan diserang.

"Jangan...ku mohon jangan..."

"Sstt... ini bukan dia, Jayden, ini aku, Calista," bisik Calista tepat di telinganya, tangannya mengusap punggung Jayden dengan gerakan konstan yang menenangkan.

"Wanita itu sudah tidak ada, dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi, aku sudah mengirimnya ke neraka, ingat?" bisik Calista, lembut.

Jayden awalnya membeku, tubuhnya kaku seperti batu saat merasakan kehangatan tubuh seorang wanita memeluknya. Namun, wangi Calista, aroma teh herbal dan sedikit bau mesiu yang samar, berbeda dengan wangi parfum mawar Isabella yang menyesakkan.

Perlahan, ketegangan di tubuh Jayden mengendur, dia menyandarkan wajahnya di bahu Calista, tangannya yang terbalut kain robek tanpa sadar mencengkeram jubah Calista dengan erat, seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.

"D-dia bilang aku anak haram yang tidak berguna jika tidak bisa merebut takhta..." gumam Jayden, suaranya mulai melemah.

"Dia berbohong," jawab Calista tegas.

"Kamu adalah alasan kenapa kerajaan ini masih berdiri, kamu adalah pelindung Lorenzo, dan kamu lebih berharga dari takhta mana pun di dunia ini."

Calista terus membisikkan kata-kata penguat sambil tetap mendekap Jayden.

Lama kelamaan, Calista merasa suhu tubuh Jayden mulai perlahan turun seiring dengan napasnya yang mulai tenang.

Perlawanan batin Jayden terhadap kehadiran perempuan perlahan runtuh malam itu, kalah oleh rasa haus akan kasih sayang yang telah dia tekan selama puluhan tahun.

Jayden mulai tertidur kembali, kali ini tanpa mimpi buruk masa lalu yang menghantuinya, dia masih memeluk pinggang Calista dengan erat, seolah takut jika dia melepaskannya, dia akan kembali ke ruang gelap tempat Isabella menyiksanya.

Calista menghela napas panjang, dia membiarkan dirinya tetap dalam posisi itu, walaupun punggungnya mulai terasa pegal, dan luka bakar di punggungnya sendiri sebenarnya masih berdenyut, tapi Calista tidak peduli.

"Tidur lah, Pangeran Kecil yang terluka," bisik Calista sambil mencium dahi Jayden yang kini sudah mulai mendingin.

"Besok, saat kamu bangun, dunia akan berbeda, aku akan memastikannya," lanjut Calista, ikut memejamkan mata nya.

Di balik pintu yang sedikit terbuka, Owen berdiri terpaku, dia sudah membawa obat penurun panas, namun dia menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan di dalam, dia melihat tuannya yang selama ini membenci sentuhan, kini terlelap dengan tenang di pelukan seorang wanita.

Owen tersenyum tipis dan menutup pintu itu rapat-rapat, memutuskan untuk berjaga di luar dan memastikan tidak ada seorang pun yang mengganggu mereka hingga matahari terbit.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hama datang lagi minta di semprot obat pestisida rupanya.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
guliran sudah sadar malah kumat arogannya...🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Emosimu belum bisa terkontrol Jay
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Emosionalku di buat naik turun bacanya, bentar² biasa, bentar lagi ngakak terus di bikin mewek sama Authornya... untung ga sampe meraung² Nangisku.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau Jayden tetap meminta mu untuk mengakhiri nyawanya, coba pancing emosionalnya Owen... bilang kalau seandainyapun Jayden meninggal dan Calista selamat, pasti Calista bakal lanjutin hidupnya dan bakal jadi milik laki² lain dan hidup bahagia tanpa Jayden biar dia mikir² lagi buat ga nyakitin dirinya sendiri.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Bangkit Jay, lawan trauma mu... Ingat Keponakanmu ga punya siapa² lagi kalau kamu pergi terus Calista lagi berjuang buat bertahan hidup, harusnya kamu bisa lawan paranoidmu dengan melihat perjuangan Calista.

karna kalau kamu beneran pergi tar Calista bangun otomatis bakal kepincut lagi sama Owen dan artinya kamu kalah.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Jayden di hajar mentalnya bertubi² sedari kecil, di racuni otak dan pikirannya dengan hal negatif, di jadikan umpan hanya untuk kekuasaan yang di inginkan Ibunya dan sekarang dibsaat sudah mulai bisa bahagia dengan adanya Calista dan mulai tenang malah ujian datang lagi jadi berat banget jadi kamu Jay... Ayo Calista bangun dan cepatlah sadar kasian Jayden dan Lorenzo membutuhkanmu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Itu yang jatuh kepala manusia apa kepala Ayam Jay, enteng banget tebasnya.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Perasaan Jantung itu posisinya di dada sebelah Kiri deh Thor, bukan sebelah Kanan.🤔🤔🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hahh.. akhirnya Jayden ga terbawa esmosi juga karna Calista sudah menyembunyikan rahasia penyebab Ayahnya meninggal karna racun yang di berikannya...

tikus berjubah sudah mau met0ng saja terus berulah...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Bahagia selalu buat kalian bertiga.👏👏👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Itu para tikus berjubah gimana ga kaget lihat Calista mayat tiba² hidup lagi, orang normal sajanpasti kaget dan syok apalagi mereka penjahatnta... 🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
GOoo... beraksi basmi tikus berjubah.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Masih banyak tikus kecil di Istana ternyata.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Uhuuuyyyy Jay.👍🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hamanya sudah terbawa Angin... Wuuusss jauh² sana jangan datang lagi.🤣🤣🤣

capek banget ya Cal jadi harus di rebutin dua bayi.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hadeuuhh Calista bayi besarmu perlu di tenangkan dulu.🤭🤭🤭

baru hadapin tuh si Hama.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Tenang Jay, pelan² kuasai dirimu agar ga terus²an memupuk trauma mu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hama datang sendiri minta di basmi, Calista (Yura)🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Aduuhh jadi deg degan gara² surat rahasia, bikin takut ga karuan... masih mending kalau deg degan karna jatuh Cintrong mah bisa lebih asyik lagi.🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!