Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Menteri
Kereta kuda kekaisaran yang membawa Wan Long dan Bai Hua bergerak membelah jalanan ibu kota menuju kediaman Menteri Bai. Di dalam kereta yang sempit itu, ketegangan terasa lebih menyesakkan daripada udara di luar. Sesuai kutukan Lian-Xin, mereka duduk berdampingan dengan jarak yang sangat intim, namun wajah masing-masing dipalingkan ke arah jendela yang berlawanan.
"Berhenti bergerak-gerak. Kau membuat kursi rodamu menabrak kakiku," desis Wan Long tanpa menoleh.
"Kalau kau tidak mengambil separuh ruang untuk kakimu yang panjang itu, aku tidak akan menabrakmu," balas Bai Hua ketus. Ia meremas sandaran kursi rodanya, mencoba mengalihkan fokus dari rasa nyeri tumpul di dadanya yang mulai muncul kembali jika Wan Long bergeser terlalu jauh di sudut kursi kereta.
Begitu gerbang kediaman Menteri Bai terbuka, pemandangan kacau menyambut mereka. Para pelayan berlarian dengan wajah panik, dan kepulan asap hitam membumbung dari arah taman belakang---tempat di mana perpustakaan pribadi Menteri Bai berada.
"Dia mencoba membakarnya," gumam Wan Long. Matanya seketika berubah menjadi tajam. Tanpa menunggu kereta berhenti sempurna, ia melompat turun dan langsung berlari menuju arah asap.
"Hei! Jaraknya!" teriak Bai Hua panik. Ia merasakan jantungnya seperti diremas saat Wan Long menjauh melewati batas sepuluh meter.
Bai Hua dengan cekatan memutar roda kursinya, meluncur turun dari papan kayu kereta dengan kecepatan yang nyaris membuatnya terjungkal. Ia memacu kursinya sekuat tenaga mengikuti Wan Long. Beruntung, Wan Long menyadari tarikan di dadanya dan melambat di ambang pintu perpustakaan, menanti Bai Hua dengan wajah kesal.
"Kau lambat sekali!" bentak Wan Long sambil menarik kursi roda Bai Hua masuk ke dalam ruangan yang mulai dipenuhi asap.
"Salahkan kakiku, bukan aku!" sahut Bai Hua sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan.
Di dalam ruangan, Menteri Bai tampak pucat pasi, berdiri di depan sebuah tungku perapian besar dengan tumpukan gulungan kertas di tangannya. Nyonya Bai Yun ada di sampingnya, sedang melemparkan tumpukan dokumen ke dalam api yang berkobar.
"Hentikan!" suara Wan Long menggelegar, mengguncang ruangan itu.
Menteri Bai terjingkat, gulungan kertas di tangannya jatuh berserakan. "P-pangeran... ini hanya... hanya pembersihan dokumen tua yang sudah tidak terpakai!"
Bai Hua meluncur maju, menatap sisa-sisa kertas yang terbakar dengan tatapan menghina. "Dokumen tua? Lalu kenapa aku melihat segel perbatasan utara di atas kertas yang mulai menghitam itu, Ayah?"
Nyonya Bai Yun mencoba menghalangi, namun Wan Long dengan kasar menepis tangannya dan menyiram api di tungku dengan air dari vas bunga besar di dekatnya. Asap mengepul hebat, menyisakan tumpukan kertas yang setengah hangus.
"Kau pikir dengan membakar kertas ini, dosa-dosamu akan hilang?" Wan Long memungut salah satu gulungan yang masih utuh. Ia membukanya dan menyeringai. "Sayangnya bagi kalian, istriku yang 'lumpuh' ini lebih pintar dari yang kalian duga."
Bai Hua menjentikkan jarinya. Dari luar, dua orang pengawal tua yang ia pilih masuk membawa sebuah kotak kayu.
"Kau mencari ini, Ayah?" Bai Hua membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen asli yang masih bersih dan utuh. "Dokumen yang kau bakar tadi hanyalah salinan palsu yang sudah ditukar oleh pengawalku semalam saat kau sedang sibuk menenangkan Ibu Tiri yang ketakutan."
Menteri Bai terduduk lemas di lantai. Ia menatap Bai Hua dengan pandangan tidak percaya. "Kau... sejak kapan kau menjadi sekejam ini?"
"Sejak kau membiarkan ibuku mati demi kekuasaan," jawab Bai Hua dingin.
Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan itu mendadak turun bagi Wan Long dan Bai Hua. Efek samping dari Lian-Xin mulai menyerang lagi. Reaksi kimia dalam darah mereka yang terikat memaksa suhu tubuh mereka untuk sinkron, namun karena mereka baru saja melakukan aktivitas fisik yang intens (mengejar asap), tubuh mereka mulai bergetar hebat.
Wan Long merasakan tangannya mulai membeku. Ia harus segera menyentuh Bai Hua untuk menyeimbangkan suhu. Tanpa mempedulikan Menteri Bai yang sedang meratap, Wan Long melangkah mendekat dan mencengkeram bahu Bai Hua.
"A-apa yang kau lakukan?" bisik Bai Hua, namun ia sendiri merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Wan Long meredakan rasa sakit di jantungnya.
"Diamlah. Jantungku... rasanya mau berhenti," gumam Wan Long. Ia terpaksa berdiri sangat dekat di belakang kursi roda Bai Hua, tangannya tetap bertengger di bahu gadis itu. Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan yang sedang memberikan dukungan emosional, padahal di dalam hati mereka saling mengutuk keadaan ini.
"Bawa mereka!" perintah Wan Long kepada prajurit pengawal istana yang baru tiba. "Menteri Bai dan Nyonya Bai Yun akan ditahan di kediaman mereka sendiri di bawah pengawasan ketat sampai audit selesai."
"Bai Hua! Aku ayahmu!" teriak Menteri Bai saat diseret keluar.
Bai Hua tidak menoleh. Ia hanya menatap tangannya yang masih gemetar di atas kursi roda. "Wang Yu... lepaskan tanganmu. Aku sudah merasa lebih baik."
Wan Long melepaskan cengkeramannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Ia mundur selangkah, menjaga jarak aman namun tetap di bawah sepuluh meter. "Jangan harap aku akan melakukan itu jika tidak terpaksa."
"Aku juga tidak mengharapkannya," balas Bai Hua ketus.
Mereka berdiri di tengah reruntuhan perpustakaan yang hangus. Di kejauhan, lonceng istana berbunyi, menandakan bahwa Permaisuri telah mengetahui kegagalan Menteri Bai dan wanita itu kini merencanakan hal berikutnya yang lebih gila.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
beautiful story
menjadi penjahat ataupun pahlawan semua tergantung sudut pandang bukan?
terkadang kita terbentuk dan menjadi sesuatu karena lingkungan yg menempa kita
tidak selalu akan tampak baik dan buruk atas penilaian orang lain
selama kita tau batas nya,kita adalah orang baik menurut versi kita.
dan seenggaknya takdir sangat baik sama mereka. walaupun tidak berjodoh di waktu ini,maka waktu aka n menggeser supaya mereka akhirnya berjodoh 😍😍
terimakasih atas cerita indah nya Thor
tapi yg penting dia orang ini akhirnya bahagia
aku udah happy
tega amet si ah🥹🥹
lucunya liat villain jatuh cinta 😜
lucunya liat villain jatuh cinta 😜