Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Episode 1

Kiara Valeska Pratama tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir atau justru dimulai dengan cara sekejam ini.

Di saat gaun putih seharusnya melekat di tubuhnya, Kiara justru tertawa lepas di atas pasir putih Bali. Kacamata hitam bertengger manja di wajah cantiknya, minuman dingin di tangan kanan, dan suara musik pantai berdentum tanpa peduli pada satu fakta penting, hari ini ia seharusnya menikah.

“Cheers! Liburan terakhir sebelum jadi istri pria kampung,” ucap Kiara sambil mengangkat gelas, disambut tawa sahabat-sahabatnya.

Tak satu pun dari mereka tahu atau peduli bahwa di sebuah desa pelosok, jauh dari gemerlap Jakarta dan Bali, seorang pria tengah duduk kaku di depan penghulu, menahan rasa terhina yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Alvar Pramesa menggenggam kedua tangannya erat di pangkuan. Wajahnya keras, tatapannya kosong menembus lantai rumah sederhana yang hari itu dipenuhi tamu. Dia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan berlangsung tanpa mempelai wanita.

“Var…” suara Pak Yono, ayahnya, terdengar pelan namun penuh tekanan. Pria tua itu duduk di kursi roda, tubuhnya belum sepenuhnya pulih sejak kecelakaan mobil saat rapat antar-kades beberapa bulan lalu.

Alvar menoleh. “Aku tidak mau, Pak,” ucapnya tegas.

“Pernikahan itu sakral. Kalau dia tidak datang, berarti dia tidak menghargai ini semua.”

Di hadapannya, Tuan Rahmat Pratama dan Nyonya Melati Valeska duduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Mereka datang dari Jakarta, berpakaian rapi dan elegan, bahkan terlalu mencolok di tengah rumah desa yang sederhana.

Melati menunduk. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Alvar,” ucapnya lirih. “Kiara … sudah membuat janji liburan jauh hari dengan sahabatnya. Dia manja sejak kecil. Kami yang salah mendidiknya.”

Alvar mendengus pelan, dalam hati ia menilai gadis itu bahkan belum ia temui, namun sudah berani meremehkan sebuah ikatan suci.

“Kalau begitu,” ucap Alvar dingin, “kenapa harus dipaksakan?”

Pak Yono mengetukkan tongkatnya ke lantai. “Karena Ayah percaya pada sahabat Ayah,” katanya tegas.

“Dan Ayah percaya pada kamu, Var. Kamu pria yang bertanggung jawab.”

Sulastri, ibu Alvar, menggenggam tangan anaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu tahu ini berat. Tapi pernikahan bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan.”

Alvar menutup mata, dalam hidupnya, ia telah menolak banyak hal dan karier gemilang sebagai dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri, tawaran rumah sakit besar, kehidupan mewah kota dan itu semua demi kembali ke desa, mengurus sawah dan ternak orang tuanya. Namun, kali ini harga yang harus ia bayar terasa terlalu mahal.

Akhirnya, ia mengangguk. Ijab kabul pun berlangsung dengan wali nikah adalah ayah Kiara sendiri. Satu tarikan napas, satu kalimat sakral, dan satu ketukan palu penghulu Alvar Pramesa resmi menjadi suami Kiara Valeska Pratama.

Seorang istri yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya.

Selesai acara, Tuan Rahmat menyerahkan selembar kertas kecil berisi nomor ponsel.

“Ini nomor Kiara,” katanya. “Besok siang dia akan berangkat ke desa.”

Pak Yono tersenyum lega. “Ayah titipkan Kiara padamu, Var. Ayah yakin dia akan betah di sini.”

Alvar menatap nomor itu lama. Jika gadis kota itu menganggap pernikahan ini main-main, maka hidup di desa akan mengajarinya arti tanggung jawab yang sebenarnya.

Malam turun perlahan di Pantai Bali, membawa angin asin dan cahaya rembulan yang menggantung pucat di langit. Kiara duduk di atas pasir, lututnya didekap, gaun tipisnya berkibar pelan diterpa angin laut.

Di sampingnya, Yoga menatap Kiara tanpa berkedip, tatapan yang sudah terlalu ia kenal. Tatapan seorang pria yang merasa memiliki.

“Aku tetap akan menikah, mungkin sekarang memang udah sah jadi istrinya.” ucap Kiara akhirnya, suaranya datar seolah membicarakan hal yang sama sekali tak penting.

“Dengan pria desa itu.”

Yoga terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap milikku,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan debur ombak.

Kiara menoleh. “Aku mencintaimu, Yoga. Pernikahan itu bukan pilihanku. Itu urusan orang tuaku.”

Nada suaranya yakin bahkan keras kepala. Seolah perasaan bisa berdiri sendiri tanpa konsekuensi.

Yoga mendekat, jarak di antara mereka menghilang perlahan. Pria itu mengangkat tangan, mengecup kening Kiara dengan lembut, lalu pipinya. Kiara tak menepis dan matanya terpejam, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan yang familiar.

Bibir mereka bertemu dan awal yang manis, singkat, dan penuh rasa rindu. Namun, ketika Yoga mencoba melangkah lebih jauh, tubuh Kiara menegang dan dia mendorong dada Yoga pelan tapi tegas.

“Jangan,” katanya.

 “Aku belum siap.”

Yoga mundur, jelas terkejut. “Aku minta maaf,” ucapnya, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan dan kekecewaan, mungkin juga ego yang terluka.

Gerimis turun tiba-tiba, tipis dan dingin.

“Kiara! Masuk! Hujan!” teriak Delia dari arah hotel.

Lala ikut melambai. “Ayo, nanti kamu sakit!”

Kiara berdiri. “Aku masuk dulu,” katanya pada Yoga. Mereka berpisah di bawah cahaya rembulan yang kini tertutup awan. Delia merangkul bahu Kiara, menyeretnya masuk ke arah kamar.

“Kamu dingin,” gumamnya.

Namun, di tengah jalan, Lala berhenti. “Aku ke lobi sebentar ya, pesan makanan.”

“Titip cokelat panas,” kata Delia tanpa curiga. Kiara pun tak menoleh lagi.

Pantai kembali sepi, hanya sisa-sisa hujan dan bayangan pohon kelapa yang bergoyang.

Yoga masih di sana.

“Kasihan ya,” suara Lala terdengar manja saat ia mendekat.

“Besok lusa dia istri orang.”

Yoga menoleh. “Apa maksudmu?”

Lala tersenyum miring, mendekat tanpa ragu. “Kiara nggak akan pernah bisa jadi apa yang kamu mau. Tapi aku…” ia berhenti tepat di hadapan Yoga, “aku bisa.”

Senyum Yoga mengembang pelan dan ia tak mundur. Di bawah pohon kelapa, dua bayangan menyatu. Ciuman mereka berbeda, hangat, tajam, dan tanpa ragu.

Dan di saat itulah Kiara kembali, dia turun tergesa, menyadari ponselnya tertinggal di meja pantai. Tangannya meraih benda itu lalu tubuhnya membeku.

Di kejauhan, di bawah cahaya lampu taman yang redup, Kiara melihatnya. Dada Kiara terasa sesak. Napasnya tertahan, dunia seakan runtuh dalam satu detik.

“Yoga!” teriaknya, suaranya pecah.

Pria itu menoleh, mata mereka bertemu sekilas saja. Namun, Kiara tak menunggu penjelasan. Ia berbalik dan berlari, meninggalkan pantai, meninggalkan malam, dan meninggalkan cinta yang ia pikir masih ia genggam.

Di belakangnya, ombak terus bergulung seolah menertawakan kebohongan yang baru saja terungkap.

“Kiara, jangan sekarang,” Delia memegangi lengan Kiara yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. “Tolong … pulang besok pagi saja. Kamu masih emosi.”

“Lepasin, Del,” sahut Kiara dingin. Tangannya tak berhenti. Setiap helai pakaian yang dilemparkan ke dalam koper seolah membawa serta sisa perasaannya yang hancur.

“Kita bisa bicara baik-baik. Yoga pasti—”

“Cukup.” Kiara menutup koper dengan keras. “Aku nggak mau dengar nama itu lagi. Pesan tiket sekarang!”

Dia menyeret koper keluar kamar, tak peduli Delia yang terus memohon di belakangnya. Langkah Kiara mantap, wajahnya dingin, namun matanya memerah menahan luka yang belum sempat kering.

Begitu sampai di lobi hotel, langkah Kiara terhenti, Yoga berdiri di sana.

Yoga langsung mendekat. “Kiara, dengar dulu penjelasanku—”

“Penjelasan apa?” potong Kiara tajam. “Aku melihatnya sendiri.”

Lala berdiri kaku, namun Kiara menatapnya dengan pandangan yang membuat dada Lala sesak dan dingin, terluka, dan penuh kekecewaan.

“Untuk kamu,” ucap Kiara pada Yoga, “hubungan kita selesai.”

Ia mengalihkan tatapan pada Lala. “Dan untuk kamu … persahabatan kita juga berakhir.”

Lala membuka mulut, namun tak satu kata pun keluar. Yoga meraih tangan Kiara, tapi Kiara langsung menepis.

“Jangan sentuh aku.”

Delia maju ke depan, menahan napas. “Kiara, Aku nyusul besok setelah urus penginapan.”

Kiara tak menjawab. Dia masuk ke dalam taksi, menutup pintu tanpa menoleh lagi. Mobil melaju menuju bandara, meninggalkan Bali bersama luka, pengkhianatan, dan sisa-sisa cinta yang runtuh dalam satu malam.

Dua jam kemudian, Jakarta menyambut Kiara dengan sunyi yang menusuk. Dia turun dari taksi yang berbeda, menyeret kopernya masuk ke rumah besar yang selama ini selalu terasa dingin meski megah. Baru beberapa langkah, lampu ruang tamu menyala.

Orang tuanya ada di sana.

“Papa?” suara Kiara tercekat.

Tuan Rahmat berdiri. Wajahnya keras, matanya menyala oleh amarah yang ditahan terlalu lama.

Plak!

Tamparan itu mendarat telak di pipi Kiara.

“Kamu sudah mempermalukan Papa!” bentak Rahmat.

“Kabur ke Bali saat hari pernikahanmu sendiri!”

Kiara terhuyung, namun tetap berdiri. “Pa—”

“Untung suamimu mau melanjutkan pernikahan itu!” lanjut Rahmat. “Kalau tidak, nama keluarga kita sudah hancur!”

Kiara menoleh ke arah ibunya. “Mama … aku—”

Melati memalingkan wajah. Suaranya dingin, datar.

“Sudah cukup, Kiara. Kamu anak gadis. Jangan terus buat malu Papa dan Mama. Masalah yang kamu buat sudah terlalu banyak.”

Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.

“Besok pagi,” Rahmat melanjutkan, “sopir akan mengantarmu ke desa, ke tempat suamimu tinggal.”

Kiara tertawa kecil dan getir. “Jadi … aku benar-benar dinikahkan?”

Akhirnya, Kiara mengangguk pelan. “Baik,” katanya lirih. “Aku berangkat besok.”

Kiara duduk di tepi ranjang, lampu kamar redup, menyisakan bayangan panjang di dinding. Di jemarinya, secarik kertas kecil terlipat rapi nomor ponsel yang diberikan papanya tadi malam.

Alvar Pramesa, nama itu tertera singkat, tanpa hiasan. Kiara menatap angka-angka itu lama, lalu terkekeh pelan.

“Kita lihat saja,” gumamnya lirih, suara bercampur lelah dan luka, “sampai kapan kamu bisa bertahan jadi suami dari seorang Kiara Valeska.”

Senyum smirk terukir di bibirnya, tipis, dingin, dan penuh tantangan.

Terpopuler

Comments

Ariany Sudjana

Ariany Sudjana

sepertinya menarik untuk di ikuti kelanjutannya 😄

2026-01-17

3

Tri Handayani

Tri Handayani

q mampir thorrr'mudah"n terus berlanjut dan sukses karyanya

2026-01-17

0

iqha_24

iqha_24

ganti yaa ceritanya, yg kemarin ga dilanjut yaa

2026-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!