Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARAGRAF TERAKHIR DI JALAN ASIA AFRIKA
Senja menatap lurus ke arah ujung jalan, di mana bayangan gedung-gedung tua memanjang di atas aspal. Ia menyadari bahwa pencarian ini bukan lagi tentang siapa yang paling menderita, melainkan tentang bagaimana dua orang yang sama-sama "patah" mencoba untuk saling menyembuhkan.
"Atau mungkin semesta nunjuk kamu buat jadi penuntun karena masalah kita sama," ucap Senja perlahan. Ia tidak lagi menuntut pengakuan dari Arunika tentang masa lalu. Ia mulai menerima bahwa mungkin kehadiran gadis itu bukan sebagai jawaban dari ingatannya, melainkan sebagai kawan dalam ketidaktahuan yang sama. "Kita sama-sama punya janji yang menggantung, dan sama-sama kehilangan wajah orang yang seharusnya kita temui."
Arunika menghentikan langkahnya tepat di bawah rimbun pohon yang menaungi trotoar. Ia menoleh, menatap Senja yang tampak begitu tenang meski eksistensinya sedang dipertaruhkan oleh waktu.
"Mungkin," jawab Arunika singkat.
Kata itu sederhana, namun mengandung penerimaan yang dalam. Arunika tidak lagi berusaha menyangkal atau mencari logika yang rumit. Ia menyadari bahwa di dunia ini, tidak semua hal butuh penjelasan ilmiah. Kadang, dua frekuensi yang sama hanya butuh saling menemukan untuk bisa terdengar lebih nyaring.
"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," bisik Arunika lagi, seolah kalimat itu adalah doa yang harus ia ucapkan setiap kali keraguan datang. "Mungkin semesta memang nggak mau kita ingat wajah masing-masing dulu. Mungkin semesta mau kita fokus sama janji itu dulu, bukan sama siapa kita di masa lalu."
Senja tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih tulus, tanpa beban kegagalan yang tadi menghimpitnya. "Kalau begitu, sebagai penuntun, ke mana kita harus pergi sekarang? Ke mana kaki kamu mau melangkah buat cari jawaban itu?"
Arunika menatap buku sketsa di tangannya, lalu menatap keramaian di depan Gedung Merdeka. "Kita ke tempat terakhir di mana rasa sesak kamu paling kuat. Kita selesaikan urusan kamu di sini, lalu kita cari tahu pria yang aku lupakan itu. Siapa tahu, di akhir jalan ini, kita bakal sadar kalau penuntun yang sebenarnya bukan aku, tapi rasa peduli kita satu sama lain."
Mereka kembali melangkah, bersisian di tengah hiruk-pikuk Asia Afrika. Bagi orang-orang yang lewat, mereka hanyalah seorang gadis yang berjalan sendirian dengan pikiran yang menerawang. Namun bagi mereka berdua, setiap jengkal trotoar yang mereka lalui adalah upaya untuk menunaikan janji yang sudah terlalu lama tertunda oleh sunyi.
Arunika menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah bangku kayu kosong di dekat ujung jalan Asia Afrika. Ia memutar tubuh, berdiri menghadap Senja yang masih menatap ke depan dengan pandangan yang sulit ditebak. Sinar matahari pagi memantul di kacamata Arunika, menyembunyikan kilatan emosi di matanya untuk sesaat.
"Kamu memangnya nggak ingat sama sekali?" tanya Arunika, suaranya sedikit mendesak. Ia mencari-cari celah di wajah Senja, berharap ada satu kerutan di dahi atau getaran di bibir pria itu yang menandakan ada memori yang sedang berusaha mendobrak keluar. "Bahkan setelah kita jalan sejauh ini? Setelah kita lewati halte itu, Gedung Merdeka, dan semua pilar-pilar putih tadi?"
Senja berhenti, namun ia tidak langsung menoleh. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit bercahaya di bawah terik matahari, seolah-olah ia terbuat dari debu-debu halus yang bisa terbang kapan saja jika angin bertiup terlalu kencang.
"Gak ada. Kosong," jawab Senja singkat.
Suaranya datar, namun di dalamnya tersimpan keputusasaan yang dalam. Ia memejamkan mata, mencoba memeras setiap sudut pikirannya, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang sunyi. "Rasanya seperti aku sedang menatap ke dalam lubang yang sangat dalam. Aku tahu ada sesuatu di bawah sana, tapi cahaya nggak bisa mencapainya. Hanya ada rasa sesak, rasa bersalah, dan nama kamu yang terus berputar-putar."
Arunika mengembuskan napas panjang, bahunya sedikit merosot. Ia merasa seolah sedang mencoba menyusun puzzle yang sebagian besar kepingannya telah dibuang ke laut. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi kalau kamu sendiri yang nggak ingat hidupmu, itu yang paling menyakitkan, Senja."
"Mungkin itu hukumannya," gumam Senja, kini akhirnya menatap Arunika. "Hukuman karena aku tidak menepati janji itu. Semesta menghapus namaku dan wajahku dari pikiranku sendiri karena aku dianggap gagal."
Arunika menggeleng tegas, ia melangkah maju hingga mereka hanya berjarak satu langkah. "Nggak, Senja. Semesta nggak sejahat itu. Kalau semesta memang mau kamu hilang, dia nggak akan biarkan aku bisa melihatmu. Dia nggak akan biarkan kita ketemu di kafe itu."
Arunika kembali mendekap buku sketsa cokelat itu. "Kalau kamu kosong, biar aku yang bantu mengisinya pelan-pelan. Kita nggak usah paksa memori itu muncul sekarang. Kita ikuti saja rasa sesakmu itu, karena biasanya rasa sakit adalah satu-satunya hal yang nggak bisa dilupakan oleh jiwa, bahkan saat otaknya sudah lupa."
Senja menatap Arunika dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ia sedang mencoba merekam wajah gadis itu sebagai satu-satunya memori yang tersisa jika semua hal benar-benar lenyap nanti. "Terima kasih, Arunika. Untuk tetap berjalan di samping orang yang bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri."
Mereka kembali melangkah, menyusuri trotoar yang semakin ramai oleh wisatawan. Di antara riuhnya Bandung, di antara mereka yang hidup dan mereka yang terlupakan, dua jiwa ini terus berjalan mencari kepingan-kepingan janji yang tertinggal di celah-celah bangunan tua Asia Afrika.
Mereka berhenti di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di trotoar Jalan Asia Afrika. Di sekeliling mereka, para wisatawan sibuk berfoto dengan latar belakang bangunan art deco, sementara para cosplayer hantu dan pahlawan sedang bersiap-siap untuk menghibur kerumunan. Ironisnya, di tengah keramaian itu, Senja duduk dengan tubuh yang seolah-olah menyerap cahaya, namun tak seorang pun menoleh ke arahnya kecuali Arunika.
Senja menyandarkan punggungnya, menatap ke arah lalu lintas yang mulai padat. Wajahnya tampak lebih pucat dari semalam, hampir menyerupai warna awan yang menggantung di langit Bandung.
"Arunika, menurutmu aku ini manusia? Hantu? Atau apa?" tanya Senja tiba-tiba. Suaranya rendah, sarat dengan beban eksistensial yang sudah lama ia simpan sendiri. Ia menatap tangannya yang tampak solid namun tidak meninggalkan bekas saat menyentuh permukaan kayu bangku itu. "Aku bahkan nggak tahu tubuhku di mana kalau aku hantu. Tapi kalau aku manusia, orang-orang nggak ada yang sadar kalau aku ada."
Arunika duduk di sampingnya, meletakkan tas dan buku sketsa cokelat itu di antara mereka. Ia terdiam sejenak, memandang orang-orang yang lewat hanya beberapa senti dari kaki Senja tanpa pernah bersinggungan. Ia bisa merasakan kegelisahan pria itu—sebuah krisis identitas yang paling mengerikan; merasa ada, namun tidak diakui oleh semesta.
"Kalau ditanya aku, aku akan bilang kamu itu 'ada'," jawab Arunika pelan namun mantap. Ia menoleh, menatap mata Senja yang tampak seperti telaga yang kehilangan dasarnya. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi buat aku, kamu bukan sekadar udara. Kamu punya suara, kamu punya rasa sedih, dan kamu punya janji. Hantu nggak punya janji yang seberat itu, Senja."
Senja tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Tapi aku nggak punya bukti fisik, Arunika. Aku nggak punya detak jantung yang bisa kamu dengar. Aku cuma punya rasa sesak ini. Apakah rasa sesak cukup untuk membuktikan kalau seseorang itu masih hidup?"
Arunika meraih buku sketsa itu, membukanya pada halaman yang bertuliskan tentang 'isi hati'. "Mungkin kamu bukan hantu, dan mungkin kamu bukan manusia seperti mereka. Mungkin kamu adalah 'sisa'. Sisa dari sebuah perasaan yang begitu besar sampai dia nggak bisa ikut pergi saat tubuhmu menghilang. Kalau kamu nggak tahu tubuhmu di mana, mungkin itu karena tubuhmu memang nggak lagi di sini, tapi jiwamu menolak untuk percaya."
Senja menatap pilar-pilar putih di seberang jalan. "Lalu kenapa kamu bisa lihat aku? Kenapa kamu bisa dengar aku kalau semesta sudah menghapusku?"
"Mungkin karena aku juga punya 'sisa' yang sama," bisik Arunika. "Sisa janji yang aku lupa, sisa pria yang aku nggak ingat wajahnya. Kita kayak dua frekuensi yang nggak masuk di saluran radio mana pun, tapi kita bisa saling dengar karena kita ada di gelombang yang sama."
Arunika menggeser duduknya sedikit lebih dekat, hingga ia bisa merasakan dingin yang memancar dari keberadaan Senja. "Apapun kamu sekarang, itu nggak lebih penting dari apa yang sedang kita lakukan. Kamu bilang kamu kosong, kan? Kalau gitu, anggap saja sekarang kamu sedang mulai menulis lembar baru. Jangan cari tubuhmu dulu, cari saja alasan kenapa kamu masih berdiri di sini."
Senja menghela napas panjang, menatap langit yang mulai beranjak siang. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak merasa begitu terasing. Meski ia tidak tahu apakah ia terbuat dari daging atau sekadar memori yang memadat, kehadiran Arunika di sampingnya memberikan sebuah jangkar yang kuat.
"Kalau aku memang cuma sisa perasaan," kata Senja pelan, "berarti perasaanku pada 'dia' atau pada janji itu sangat luar biasa ya, sampai bisa menciptakan sosok seperti aku sekarang."
Arunika tersenyum tipis. "Atau mungkin, perasaannya padamu yang menahanmu di sini. Kita nggak akan tahu sampai kita sampai di ujung jalan ini."
Senja menyunggingkan senyum getir, sebuah ekspresi yang tampak begitu artistik sekaligus menyedihkan di bawah cahaya matahari Bandung yang mulai menyengat. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka—para wisatawan yang tertawa, pedagang asongan, dan anak-anak sekolah yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Tak satu pun dari mereka yang menoleh ke arah bangku itu, seolah-olah bangku tersebut memang sedang kosong.
"Atau jangan-jangan, aku ini tokoh novel yang jadi bias seperti manusia," ucap Senja tiba-tiba, suaranya terdengar seperti gumaman seorang penyair yang sedang mempertanyakan takdirnya sendiri. Ia menatap tangannya yang tampak jernih di bawah sinar matahari. "Mungkin ada seseorang di suatu tempat yang sedang menuliskan kesedihanku, dan aku adalah kata-kata yang saking kuatnya hingga bisa menjelma menjadi sosok yang bisa kamu ajak bicara."
Arunika tertegun. Ia memandangi Senja, mencoba mencerna imajinasi pria itu yang terasa sangat masuk akal dalam segala ketidakmungkinan ini. "Tokoh novel?" ulang Arunika pelan.
"Iya," lanjut Senja, matanya menerawang jauh ke arah atap-atap bangunan tua di Asia Afrika. "Mungkin penulisnya lupa menyelesaikan bab terakhirku. Mungkin itulah alasannya aku merasa punya janji yang belum selesai. Aku terjebak di antara halaman-halaman yang belum sempat dibalik. Aku punya latar belakang, aku punya karakter, tapi aku nggak punya akhir cerita."
Arunika terdiam cukup lama, membiarkan kebisingan kota menjadi latar belakang bagi pemikiran liar itu. Ia mengusap sampul buku cokelat yang dingin di pangkuannya. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," bisiknya, mencoba mengembalikan keberanian Senja.
"Kalau memang kamu adalah tokoh novel, Senja, berarti setiap langkah yang kita ambil sekarang adalah tinta yang sedang kita goreskan sendiri," ucap Arunika dengan nada yang lebih hangat. "Mungkin penulisnya nggak lupa. Mungkin dia sengaja berhenti supaya kamu punya kesempatan untuk menulis akhir ceritamu sendiri. Dan mungkin... aku di sini adalah tokoh tambahan yang dikirim untuk membantumu memegang penanya."
Senja menoleh ke arah Arunika, tatapannya sedikit melunak. "Tapi bagaimana kalau bab terakhirnya memang harus sedih? Bagaimana kalau aku diciptakan hanya untuk menjadi sebuah tragedi yang dilupakan di rak buku?"
Arunika menggeleng tegas. Ia merapatkan posisi duduknya, meski ia tahu ia tidak akan benar-benar bisa bersentuhan secara fisik dengan substansi Senja yang membingungkan. "Tokoh novel yang hebat selalu menemukan caranya sendiri untuk hidup di kepala pembacanya. Kalau kamu merasa bias, berarti kamu sudah melampaui kertas itu. Kamu sudah jadi nyata, setidaknya buat aku."
Arunika menatap pilar-pilar Gedung Merdeka di seberang mereka. "Ayo kita buktikan kalau bab selanjutnya nggak sesedih yang kamu takutkan. Kalau kamu merasa kosong, anggap saja ini halaman baru yang masih putih. Kita nggak perlu nunggu penulis itu gerakin tangan kita. Kita jalan sekarang, dan kita cari tahu kenapa 'si penulis' menempatkanmu di sini, di Braga, di Asia Afrika, dan kenapa dia mempertemukanmu denganku."
Senja menghela napas, kali ini suaranya terdengar lebih ringan. "Kamu benar-benar penuntun yang keras kepala, Arunika."
"Itu karena aku nggak mau ceritaku berakhir cuma jadi penonton di pinggir jalan," jawab Arunika sambil berdiri dan menyampirkan tasnya kembali. "Ayo, Tokoh Novel. Kita cari tahu apa rahasia di balik janji yang belum sempat tertulis itu."
Mereka berdua mulai melangkah lagi, meninggalkan bangku kayu itu. Di tengah kerumunan yang tak menyadari kehadiran sang pria, mereka berjalan beriringan—sebuah anomali di tengah realitas, sebuah paragraf yang menolak untuk dihapus oleh waktu.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍