NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perjudian di Garis Pantai

"Berhenti, Seeula!" teriakku sembari mencekal lengannya tepat sebelum pintu lift tertutup.

Seeula meronta dengan tenaga yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Wajahnya yang biasa lembut kini memerah karena amarah yang meluap. Dia menatapku dengan sorot mata yang menuntut keadilan bagi ibunya, meskipun wanita itu telah berulang kali mengkhianatinya.

"Lepaskan aku, Yansya! Itu ibuku! Aku tidak bisa membiarkan dia mati hanya karena ambisi bisnismu!" sembur Seeula dengan nada suara yang melengking tinggi.

Aku tidak melepaskan genggamanku. Aku menariknya masuk kembali ke dalam ruang kantor dan mengunci pintu secara otomatis melalui perintah suara. Aku harus mengendalikan situasi ini sebelum Seeula benar-benar masuk ke dalam lubang maut yang sudah digali oleh Darius.

"Kau pergi ke sana sama saja dengan menyerahkan lehermu pada mereka, Seeula. Konstelasi tidak menginginkan ibumu. Mereka menginginkanmu untuk menghancurkanku!" tukasku sembari menatap matanya dengan intensitas yang sangat tinggi.

"Lalu aku harus diam saja? Menonton ibuku dieksekusi di pelabuhan itu?" cecar Seeula sembari mencoba memukul dadaku dengan kepalan tangannya yang lemah.

Aku memegang kedua tangannya, memaksanya untuk diam dan mendengarkan rencana yang sudah tersusun di kepalaku. "Kita akan ke sana. Tapi dengan caraku. Pakai rompi antipeluru ini dan tetaplah di belakang tim pengawalku. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi umpan tanpa persiapan yang matang."

Aku segera menghubungi Rian melalui jalur komunikasi khusus yang terpasang di meja kerjaku. Aku memerintahkannya untuk mengerahkan seluruh unit tempur bayangan yang kita miliki dan memblokade seluruh akses keluar masuk pelabuhan utara dalam waktu sepuluh menit.

"Siapkan helikopter di atap gedung sekarang juga, Rian. Pastikan sistem pemindai termal sudah aktif untuk melacak posisi sniper mereka," perintahku dengan nada yang sangat otoritatif.

Kami terbang menembus langit kota yang mulai tertutup awan gelap. Dari ketinggian, aku bisa melihat gudang pelabuhan utara yang dikelilingi oleh kontainer-kontainer raksasa. Lokasi itu adalah labirin beton yang sangat ideal untuk penyergapan. Seeula duduk di sampingku dengan wajah yang sangat pucat, tangannya terus meremas koin emas pemberian Darius seolah itu adalah jimat keberuntungannya.

Helikopter mendarat di atas gudang nomor dua belas. Aku melompat turun terlebih dahulu, diikuti oleh Seeula yang berada di tengah kepungan pengawal bersenjata lengkap. Kami menggunakan lift barang untuk turun ke lantai utama gudang yang luas. Di tengah ruangan, sebuah lampu sorot tunggal menyala, menyinari sosok Madam Widowati yang terikat di sebuah kursi kayu.

"Ibu!" teriak Seeula sembari hendak berlari maju, namun aku menahan bahunya dengan sangat kuat.

Mataku menangkap kilatan laser merah yang bergerak di sekitar dada Madam Widowati. Itu adalah tanda bahwa ada penembak runduk yang sedang mengincar setiap gerakan kami dari kegelapan di atas tumpukan peti. Aku segera memberikan isyarat pada Rian melalui jam tanganku untuk mengaktifkan pengacak laser.

"Selamat datang di panggung terakhirmu, Yansya," suara Darius bergema melalui sistem pengeras suara gudang.

Darius muncul dari balik bayangan kontainer, mengenakan setelan jas yang tetap rapi meskipun situasi di sekitarnya sangat kacau. Dia memegang sebuah pemicu peledak kecil di tangan kanannya. Di belakangnya, beberapa pria berbadan tegap berdiri dengan senapan serbu yang siap ditembakkan.

"Lepaskan Madam Widowati dan biarkan Seeula membawanya pulang. Urusanmu adalah denganku, Darius," gertakku sembari melangkah maju secara perlahan, memastikan posisi tubuhku menutupi Seeula.

Darius tertawa kecil yang terdengar sangat menjengkelkan. Dia mendekati Madam Widowati dan menodongkan senjata ke pelipis wanita tua itu. Madam Widowati hanya bisa mengerang karena mulutnya ditutup rapat oleh plester hitam.

"Urusanku memang denganku, tapi Seeula adalah tiket masukku untuk mendapatkan seluruh aset Widowati Group secara cuma-cuma melalui surat kuasa yang akan dia tanda tangani sekarang," sahut Darius dengan nada bicara yang sarat akan keserakahan.

Aku memberikan kode rahasia pada Rian. Dalam sekejap, seluruh sistem kelistrikan gudang itu dimatikan secara paksa oleh sistem Rian, dan ledakan granat kejut menerangi ruangan sesaat. Kegelapan total menyelimuti ruangan setelahnya. Aku segera menarik Seeula ke balik tumpukan peti kayu yang kokoh.

"Gunakan kacamata penglihatan malam! Habisi mereka!" perintahku pada tim keamanan melalui interkom.

Suara tembakan mulai meletus di tengah kegelapan. Aku melihat melalui sensor panasku bahwa anak buah Darius mulai panik karena mereka tidak memiliki perlengkapan taktis yang memadai. Aku bergerak maju dengan gerakan yang sangat efisien, melumpuhkan dua orang penjaga yang mencoba menembak ke arah posisi Seeula.

"Yansya! Darius mencoba lari ke arah dermaga!" teriak Rian melalui alat komunikasi.

Aku melihat siluet Darius yang sedang mencoba merangkak menuju panel kontrol pintu air di ujung ruangan. Aku tidak memberikan celah sedikit pun. Aku melepaskan tembakan yang menghantam kakinya, membuat pria itu tersungkur di lantai semen yang dingin.

Darius menjerit kesakitan sembari memegangi kakinya yang bersimbah darah. Aku melangkah mendekatinya, menginjak dadanya dengan sepatu pantofelku yang mengilap hingga dia tidak bisa bergerak lagi.

"Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh pria yang selalu memiliki rencana cadangan untuk setiap pengkhianatanmu, Darius," desisku tepat di depan wajahnya yang kini penuh dengan ketakutan.

"Kau tidak akan menang, Yansya! Konstelasi jauh lebih besar daripada yang kau bayangkan! Mereka memiliki data rahasia orang tuamu!" raung Darius dengan sisa tenaganya.

"Konstelasi hanyalah tumpukan kertas bagi orang yang tahu cara membakar akarnya," balasku sembari memberikan hantaman keras ke wajahnya hingga dia jatuh pingsan.

Seeula segera berlari menuju ibunya dan melepaskan ikatan talinya. Madam Widowati menangis histeris sembari memeluk putrinya. Aku menatap mereka dengan tatapan datar. Kehadiran wanita tua ini di sini memang bukan skenario aslinya, tapi Darius memanfaatkannya dengan sempurna sebagai umpan emosional.

"Bawa mereka berdua ke mobil lapis baja. Pastikan Madam Widowati tidak memiliki akses ke alat komunikasi mana pun selama perjalanan. Aku tidak ingin dia menghubungi agen Konstelasi lainnya," instruksiku pada pengawal dengan nada yang sangat dingin.

Aku berdiri sendirian di tengah gudang yang kini sudah kembali sunyi, menanti laporan Rian.

"Bos, ada data masuk dari ponsel Darius. Sepertinya dia baru saja mengirimkan titik koordinat rumah kita ke unit tempur ketiga Konstelasi tepat sebelum kau melumpuhkannya," lapor Rian dengan wajah yang sangat tegang.

Aku mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih sempurna. Darius rupanya masih memiliki kartu mati yang dia simpan untuk menghancurkan tempat tinggalku. Namun, dia tidak tahu bahwa rumah itu sudah kosong dan dipenuhi jebakan gas saraf.

"Aktifkan protokol pembersihan area rumah sekarang juga. Jangan sisakan satu pun dari mereka yang masih bernapas di sana," perintahku dengan otoritas yang mutlak.

Aku keluar dari gudang itu dengan langkah yang sangat mantap. Namun, saat aku baru saja akan masuk ke dalam helikopter, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan landasan pacu. Seorang wanita muda dengan gaun hitam ketat keluar dari mobil itu, memegang sebuah map berlogo perak yang sangat kukenali.

Dia adalah perwakilan pusat dari Konstelasi yang jauh lebih tinggi jabatannya daripada Darius.

"Tuan Yansya, selamat atas keberhasilan Anda menyingkirkan Darius yang tidak berguna itu. Kami datang untuk menawarkan posisi yang jauh lebih menarik daripada sekadar menjadi musuh kami," ucap wanita itu dengan senyum yang sangat misterius.

Aku menatapnya dengan pandangan yang paling tajam, menyadari bahwa kemenangan malam ini hanyalah gerbang menuju perang yang jauh lebih luas.

"Aku tidak tertarik menjadi bagian dari organisasi yang bahkan tidak bisa menjaga anjing-anjingnya tetap berada di dalam kandang," jawabku dengan nada yang merendahkan.

Wanita itu melangkah mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh aliran darahku mendadak berhenti sejenak karena kejutan yang tidak terduga.

"Apakah kau yakin tidak tertarik, meskipun itu menyangkut detail kematian orang tuamu yang tidak tercatat di arsip mana pun di dunia ini? Informasi yang seharusnya mustahil diketahui oleh pemuda seusiamu, kecuali dia memiliki akses ke catatan waktu yang berbeda?" bisiknya dengan nada yang sangat rendah namun terdengar seperti ledakan di telingaku.

Aku tersentak hebat, tanganku secara refleks mencengkeram leher wanita itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Dari mana kau tahu soal informasi itu?!" tuntutku dengan suara yang menggelegar penuh amarah.

Wanita itu hanya tersenyum meski napasnya mulai tersengal, menunjukkan bahwa dia memiliki informasi yang bisa mengguncang posisiku.

"Mari kita bicara di tempat yang lebih tenang, atau semua 'intuisi ajaib' yang kau miliki akan kami bongkar sebagai hasil spionase ilegal di seluruh media massa besok pagi, Yansya."

1
ZasNov
Tidak mungkin Yansya datang tanpa persiapan.. 😄
ZasNov
Bagus Yansya, jangan sampai kecolongan lagi. Mereka bisa menggunakan Seeula untuk mengalahkanmu..
ZasNov
Semoga Yansya bisa menepati janjinya..
ZasNov
Seeula pasti lega banget Yansya datang..
ZasNov
Seeula bisa menjadi kelemahan sekaligus kekuatan Yansya. Tapi karena semua lawannya sudah tau kelemahan Yansya adalah Seeula, maka Yansya harus berusaha lebih keras lagi melindungi Seeula..
ZasNov
Yansya ga ada rasa takut sama sekali.. 😄👍
ZasNov
Seeula pasti semakin yakin dan percaya, kalau Yansya memang sedang melindunginya dengan berbagai cara..
ZasNov
Wah berarti kekuasaan Tuan Gautama layak diperhitungkan.. Jangan lengah Yansya, lawanmu kali ini tidak bisa dianggap remeh..
ZasNov
Menghadapi manusia yang jauh lebih berkuasa pun, Yansya sama sekali tidak gentar.. Kereeeenn... 👍
ZasNov
Yansya beneran ga ada takut2nya.. 😖
ZasNov
Seeula pasti merasa sangat dilindungi & di-Ratu-kan sama Yansya.. 😊
ZasNov
Pak Hermawan tidak ada pilihan lain, selain memenuhi permintaan Yansya..
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!