NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: PANGGILAN YANG DINANTI

​Suasana meja makan di kediaman keluarga Bryan Santoso malam itu terasa sedikit mencekam. Atika Sari, sang nyonya besar keluarga Santoso, menatap suami dan putra sulungnya dengan campuran kekhawatiran dan kejengkelan.

Di matanya, Amir Santoso dan Bryan Santoso duduk terlalu tegak, wajah mereka datar seolah terbuat dari kayu tanpa emosi.

Pemandangan itu membuat dada Atika sesak. Ia tidak tahan melihat dinginnya interaksi di antara mereka, terlebih ketika menyangkut cucu kesayangannya.

"Bryan, apa kau benar-benar mendengar apa yang baru saja Mama katakan? Kau ini terlalu sibuk bekerja!" keluhnya dengan suara meninggi. "Dan lihat Kael itu. Dari tadi dia belum makan sedikit pun. Cucu Mama hanya diam sambil menatap ponsel terus!"

Di sisi lain meja, Arion masih sibuk mengunyah iga asam manis. Saat mencoba bicara dengan mulut penuh, ucapannya terdengar kacau.

"Tunggu dulu, Ma… Kael lagi nunggu sesuatu yang penting. Dia lagi nunggu telepon dari tante cantik."

Atika mengerutkan kening. "Tante cantik? Tante yang mana?"

Arion melambaikan tangan santai. "Mama nggak usah khawatir. Abang Bryan sebenarnya sudah menemukan seseorang yang dia sukai."

Atika tertegun. Namun keraguan masih tampak jelas di wajahnya. Ia tahu betul betapa dinginnya sifat putra sulungnya itu.

"Kau serius, Arion?"

"Jangan coba-coba bohong pada Mama dan Papa," lanjutnya, kali ini dengan nada mengancam meski matanya mulai berbinar.

Pak Amir perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam meneliti Arion, mencari tanda kebohongan.

"Kenapa aku harus bohong soal ini? Ini benar-benar terjadi. Kalau Mama dan Papa nggak percaya, tanya saja langsung pada Abang."

Pak Amir berdeham. "Bryan. Apa benar yang dikatakan adikmu?"

Atika ikut mendesak, "Bryan, kenapa kamu diam saja?"

Setelah jeda cukup lama, Bryan akhirnya menjawab singkat, "Ya."

Kesabaran Atika langsung menipis. Rasanya seperti menunggu setengah hari hanya untuk mendengar satu kata.

"Dasar anak menyebalkan. Apa susahnya bicara lebih dari satu kata? Ngobrol denganmu itu buang tenaga!" omelnya kesal.

Bryan menatap ibunya datar. "Begitu?"

'Bagus. Minimal sekarang dia bisa dua kata,' batin Arion sambil menahan tawa.

Namun Atika belum sepenuhnya tenang. Sebuah pikiran mencurigakan melintas di benaknya.

"Bryan… orang yang kau sukai itu… jujur pada Mama. Dia laki-laki atau perempuan?"

Wajah Bryan langsung menggelap. Rahangnya menegang menahan kesal.

"Perempuan."

Arion langsung meledak tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.

"Tentu saja perempuan, Ma! Dan dia cantik sekali. Kael bahkan suka banget sama dia sampai rela nunggu teleponnya terus!"

Mendengar itu, Atika menangkupkan tangan di depan dada dengan mata berbinar.

"Ya Tuhan, akhirnya doaku dikabulkan!"

Ia langsung membombardir Bryan.

"Dia dari keluarga mana? Umurnya berapa? Asalnya dari mana? Kerja apa? Pengaruh keluarganya bagaimana? Kenapa kamu tidak cerita dari dulu—"

"Ma, tenang dulu," potong Arion cepat sebelum Bryan kembali membeku. "Belum ada apa-apa di antara mereka. Kami nggak bilang dari awal karena takut Mama ikut campur dan malah merusak semuanya."

Arion tahu risikonya. Jika orang tuanya mengetahui bahwa gadis itu adalah Kirana Yudhoyono—dengan reputasi masa lalunya dan statusnya sebagai artis—rencana pendekatan Bryan bisa gagal sebelum dimulai.

Saat suasana mulai mereda, Pak Amir akhirnya angkat bicara.

"Karena Bryan sendiri yang memilih menyukainya, Papa yakin dia gadis baik. Mama tidak perlu terlalu khawatir."

"Apa? Kau bilang tidak khawatir?" sergah Atika. "Siapa yang beberapa malam lalu gelisah sampai bolak-balik ke beranda cuma buat merokok sendirian?"

Pak Amir berdeham canggung, wajahnya sedikit memerah.

Namun setelah mendengar semua penjelasan tadi, Atika memang jauh lebih tenang.

"Standar Bryan tinggi. Gadis yang berhasil dia sukai pasti luar biasa. Bahkan Kael saja menyukainya. Itu bukti paling jelas."

Suasana makan malam akhirnya kembali normal.

Tiba-tiba ponsel di tangan Kael berdering nyaring.

Itu ponsel pribadi Bryan—nomor yang hanya diketahui orang sangat dekat atau mitra bisnis penting.

Arion langsung melirik layar. Matanya berbinar.

"Itu dia. Kirana."

"Dia menelepon sekarang?" Atika langsung berdiri antusias, seolah hendak bertemu calon menantu lewat layar.

Arion mengangguk lalu membantu Kael menekan tombol jawab.

Kael sebenarnya tidak mengerti cara memakai ponsel. Bryan pernah membelikannya ponsel khusus anak-anak, tetapi ia tidak suka berkomunikasi dan entah ke mana benda itu sekarang.

Seluruh meja makan langsung hening. Semua orang—termasuk Pak Amir—menatap ponsel di tangan Kael.

Arion bahkan tanpa malu mendekatkan wajahnya ke layar agar bisa menguping lebih jelas.

Di tempat lain, Kirana sudah lama bimbang sebelum akhirnya menelepon.

Janji tetaplah janji.

Sejak kejadian kelam lima tahun lalu, ia menyimpan trauma terhadap anak kecil. Ia selalu berusaha menjaga jarak karena keberadaan mereka mengingatkannya pada kenangan yang ingin ia kubur.

Seorang anak yang pernah menjadi satu-satunya cahaya hangat dalam hidupnya… sekaligus luka terdalam yang tak pernah sembuh.

Namun anehnya, Kael tidak memicu rasa itu.

Semakin sering ia melihat wajah bocah itu, semakin besar keinginan dalam hatinya untuk mendekat dan melindunginya.

Perasaan yang asing. Dan berbahaya.

"Halo… Kael? Kamu di sana?"

Telepon sudah tersambung, tetapi tak ada suara balasan.

Kirana tersenyum lembut. Ia tahu pasti di ujung sana adalah Kael.

"Maaf ya, Sayang. Tante baru selesai kerja dan baru ingat janji mau telepon kamu."

Tentu saja Kael tidak menjawab. Kirana akhirnya terus berbicara sendiri, mencari topik agar keheningan tidak terasa canggung.

"Kamu sudah makan malam? Kamu kelihatan kurus sekali waktu itu. Harus makan yang banyak dan sehat, ya."

Ia tertawa pelan.

"Anak kecil nggak boleh pilih-pilih makanan. Kalau kamu jadi sedikit gemuk malah makin lucu di mata Tante. Walaupun sekarang pun kamu sudah tampan banget."

Ia berhenti sebentar, lalu teringat sesuatu.

"Oh iya, Tante tadi lihat berita. Ayahmu baru saja menutup kerja sama bisnis besar, kan? Ayahmu hebat sekali. Tolong bantu Tante ucapkan selamat untuknya, ya."

​…

​Sepuluh menit kemudian, setelah panggilan hangat itu berakhir, Kael Santoso perlahan menurunkan ponsel ayahnya.

Ia lalu mengambil tablet papan tulis digital yang sudah lama tidak disentuhnya.

Dengan gerakan lincah, ia menulis satu kata di layar:

Selamat.

Kael memang tidak bisa berbicara, tetapi kecerdasannya luar biasa. Ia fasih menulis dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Hanya saja, selama ini ia merasa menulis adalah hal merepotkan dan tidak penting. Ia sudah lama menolak berkomunikasi dengan siapa pun, lebih memilih isyarat sederhana untuk mengekspresikan keinginannya.

Melihat Kael menulis lagi, mata Amir dan Atika langsung membelalak.

Arion sebenarnya pernah melihat keajaiban ini di rumah sakit, jadi ia masih bisa menjaga ekspresi tenang.

Bryan, yang diam-diam mendengar seluruh percakapan telepon tadi dengan pendengaran tajamnya, menatap tulisan itu. Senyum tipis—sangat langka—muncul di wajahnya yang biasanya dingin.

Ia mengusap kepala putranya.

"Terima kasih, Kael."

Setelah menulis pesannya, Kael langsung kembali makan dengan serius.

Semua orang di meja terdiam.

Bocah itu bahkan memakan wortel—sayuran yang selama ini selalu ia tolak mentah-mentah.

Amir dan Atika benar-benar kehilangan kata-kata.

Malam ini terlalu banyak keajaiban terjadi sekaligus.

Putra mereka yang dingin tersenyum.

Cucu mereka yang tertutup menulis.

Cucu mereka makan dengan lahap.

Dan—yang paling mustahil—ia makan wortel.

Atika akhirnya sadar dari keterpanaannya.

"Arion, sebenarnya apa yang dikatakan gadis itu pada Kael tadi?"

Pak Amir tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan rasa ingin tahu yang sama.

Arion menjawab santai, "Nggak banyak. Dia cuma bilang Kael harus makan banyak supaya cepat besar. Sama titip ucapan selamat untuk kesepakatan bisnis Kakak."

"Hanya itu?" Atika mengerutkan kening.

"Ya, cuma itu."

Amir menarik napas panjang penuh syukur.

"Satu panggilan telepon saja sudah memberi perubahan sebesar ini. Bahkan lebih efektif daripada terapi setahun."

"Betul!" Atika langsung setuju. "Wanita ini luar biasa. Bryan, kamu harus berjuang mendapatkannya."

"Ya," jawab Bryan mantap.

Atika langsung beralih ke Arion.

"Abangmu itu kaku seperti papan. Dia pasti tidak tahu cara merayu perempuan. Kamu harus bantu dia."

Arion tertawa puas. "Akhirnya Mama sadar juga betapa berharganya anak tampan ini. Tenang saja. Aku akan memakai seluruh pengalaman lapanganku."

Ia mengangkat jari.

"Tapi ada syarat. Mama dan Papa tidak boleh ikut campur. Campur tangan orang tua adalah cara tercepat menghancurkan hubungan."

"Kami mengerti," jawab keduanya serempak.

Setelah makan malam selesai dan orang tua mereka pergi meninggalkan kediaman itu untuk kembali ke kediaman utama keluarga Santoso, rumah mereka berdua.

Sementara itu, Arion langsung menuju ruang kerja Bryan.

Ia berdiri di depan kakaknya dengan ekspresi penuh harap, seperti anjing menunggu hadiah.

"Saudaraku, bukankah aku hebat hari ini?"

Bryan tidak menoleh. Ia hanya melempar sesuatu.

Arion menangkapnya.

"Apa ini—"

Ia terdiam.

Itu kunci mobil.

Lebih tepatnya, kunci Lamborghini edisi terbatas yang sudah lama ia incar—model langka yang hampir mustahil didapat di Indonesia.

"Sayangku… akhirnya kau jadi milikku!"

Arion memeluk kunci itu dan menciumnya berkali-kali.

"Aku cinta kamu!"

Bryan biasanya tidak pernah menuruti permintaan adiknya, sekeras apa pun Arion merayu. Fakta bahwa ia memberikan hadiah semahal itu hanya karena bantuan kecil tadi membuat Arion langsung paham satu hal:

Posisi Kirana di hati Bryan jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan.

Namun semakin dipikirkan, Arion justru mulai khawatir.

"Bang… kau serius soal Kirana? Kau nggak sedang main-main, kan? Kau benar-benar berniat menikahinya?"

"Menikah."

Satu kata. Tegas. Final.

Arion menghela napas panjang.

"Kalau begitu dengar baik-baik. Mengejar wanita seperti dia itu seperti main game tingkat neraka."

Ia mengangkat jari satu per satu.

"Level mudah. Normal. Sulit. Neraka. Dan Kirana jelas di level terakhir."

Ia melanjutkan dengan serius.

"Kebanyakan wanita punya kelemahan. Tapi Kirana? Uang nggak mempan. Dengan wajah seperti itu saja dia masih setengah terhambat di industri karena menolak main kotor. Artinya dia bukan tipe yang bisa dibeli."

"Lalu cinta?" Arion mendengus. "Daftar mantannya saja sudah seperti daftar pemain all-star industri hiburan. Bahkan aku terkesan."

"Kalau kau berpikir menjebaknya dengan anak—lupakan. Dia fokus karier dan jelas tidak ingin punya anak sekarang."

Arion menatap kakaknya.

"Bahkan kalau aku yang maju, peluangku mungkin cuma dua puluh persen. Jadi pemula sepertimu cuma bakal jadi pengalaman tambahan buat dia."

Bryan menatap dingin.

"Seratus persen."

Arion menyeringai. "Baiklah. Aku menyerah debat."

Ia lalu berkata lebih serius.

"Kirana itu tipe yang tidak mau terikat. Orang seperti dia dan aku menghargai kebebasan di atas segalanya. Kalau cuma main-main, mudah. Tapi kalau tujuanmu menikahinya… itu misi mustahil."

"Itu karena kamu belum pernah bertemu orang yang benar-benar ingin kamu nikahi," balas Bryan tenang.

Cahaya bulan dari jendela membuat ekspresinya tampak lebih lembut dari biasanya.

Arion menatapnya tak percaya.

"Wow. Orang jatuh cinta memang beda. Bahkan kau sekarang berani menguliahi aku."

Ia menyilangkan tangan.

"Jadi rencanamu apa? Butuh bantuan ahlinya?"

"Tidak perlu."

Arion langsung tegang.

"Serius? Merayu perempuan itu beda dengan menjalankan perusahaan, Bang."

Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Kau yakin tidak butuh pelatih profesional tampan, jenius, dan karismatik tingkat dewa seperti aku—"

Krek.

Pintu ruang kerja terbuka.

Kedua bersaudara itu menoleh bersamaan.

Kael berdiri di ambang pintu.

Mata Bryan langsung berubah.

Terkejut.

"Ah, Kael…" Arion Santoso ikut terkejut.

'Apakah Kael benar-benar baru saja keluar dari kamarnya sendiri selarut ini?' batinnya heran.

Semua orang di rumah itu tahu betul bahwa Kael sangat menyukai ketenangan mutlak. Biasanya, begitu makan malam selesai, ia langsung mengurung diri di kamar.

Para pelayan pun sudah hafal aturan tak tertulis: setelah tugas selesai, mereka wajib kembali ke kamar masing-masing dan tidak boleh menimbulkan suara sekecil apa pun. Sedikit gangguan saja bisa membuat Kael gelisah, bahkan kehilangan kendali emosi.

Nyonya besar Atika pernah mencoba masuk ke kamar cucunya hanya untuk mengantarkan camilan atau menyapa.

Hasilnya justru sebaliknya.

Kael merasa terancam dan mengunci diri berjam-jam.

Itulah sebabnya ia selalu menolak tinggal bersama kakek-neneknya, meskipun ia tahu mereka sangat menyayanginya.

Namun sekarang—

Kael benar-benar keluar atas kemauannya sendiri.

Tidak hanya itu, ia berlari langsung ke arah Bryan dan memeluk kaki ayahnya erat.

Arion tertawa keras melihat pemandangan langka itu.

"Apa yang sebenarnya dilakukan bocah ini? Dia menginginkan sesuatu darimu, Kak?"

Bryan yang sangat paham tabiat putranya langsung menolak bahkan sebelum permintaan itu disampaikan.

"Tidak, Kael. Kau baru pergi ke sana kemarin malam. Aturannya tetap sama."

Tatapan Kael bergeser ke ponsel Bryan di atas meja.

"Kau sudah menerima satu panggilan darinya saat makan malam tadi. Itu cukup untuk hari ini," lanjut Bryan tegas.

Arion yang menonton dari samping akhirnya mengerti.

Jadi bocah itu sedang merindukan Kirana.

Menyadari ayahnya tak bisa dilunakkan, Kael langsung melepaskan pelukan dan berlari ke Arion, lalu memeluk kaki pamannya sama eratnya.

Arion seketika tersentuh.

"Tidak, tidak, tidak… Kael sayangku, jangan pakai taktik licik begini. Pamanmu ini lemah terhadap jurus imutmu."

Biasanya Kael hampir tanpa ekspresi. Namun saat menginginkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, wajah dan sikapnya berubah total—sangat menggemaskan hingga siapa pun bisa luluh.

Tatapan mata besarnya berkilau seperti permata. Orang yang melihatnya bisa merasa rela memetik bintang hanya untuk diberikan padanya.

Satu-satunya orang di rumah ini yang terbukti kebal terhadap pesona itu hanyalah Bryan.

Arion mengangkat tangan menyerah.

"Kael, bersikap manis padaku tidak akan berhasil. Aku tetap tidak bisa melawan otoritas ayahmu yang kejam itu."

Begitu mendengar itu, Kael langsung melepas pelukan tanpa ragu.

Cepat. Tegas. Tanpa ampun.

Ekspresinya kini seperti pecinta kecil yang baru dipisahkan paksa dari kekasihnya.

Arion tertawa sampai harus bersandar ke dinding.

"Kael, tidak perlu terburu-buru. Ada pepatah kuno—cinta justru bertahan lebih lama saat dipisahkan. Jarak membuat rindu tumbuh."

Ia menambahkan santai,

"Tunggu sampai ayahmu menikahi Tante Kirana. Setelah itu kau bisa bertemu dia setiap hari."

Namun kata-kata itu tidak memberi efek apa pun.

Kael berbalik dan berlari keluar ruangan dengan wajah mendung.

Arion mengangkat bahu bingung. "Lalu sekarang bagaimana menenangkannya?"

"Dia sudah makan banyak malam ini," jawab Bryan tenang.

Maksudnya jelas.

Taktik mogok makan—senjata andalan Kael—tidak bisa dipakai malam ini karena perutnya sudah kenyang.

Arion sedikit lega mendengar analisis logis itu.

Sayangnya, mereka meremehkan tekad seorang anak jenius.

Kael tidak butuh rencana rumit.

Baginya, satu kata sudah cukup:

Kekacauan.

Tiba-tiba—

Brak!

Suara dentuman keras mengguncang rumah dari arah ruang tamu bawah.

Bryan dan Arion saling pandang, lalu berlari menuruni tangga.

Pemandangan yang menyambut mereka langsung membuat napas tertahan.

Ruang tamu utama sudah berubah menjadi medan bencana.

Sebuah vas porselen antik setinggi orang dewasa kini hancur berkeping-keping di lantai marmer. Dekorasi lain yang bisa didorong atau dilempar mengalami nasib serupa.

"Kael Santoso!" suara Bryan menggelegar.

Ia hanya memakai nama lengkap saat benar-benar marah.

Jika Arion saja kadang kewalahan menghadapi tekanan aura kakaknya saat emosi, apalagi Kael yang masih kecil.

Tubuh Kael langsung gemetar melihat wajah ayahnya.

Namun rasa takut itu justru memicu ledakan emosinya.

Ia menjerit keras dan berlari ke sana kemari, menjatuhkan apa pun yang bisa dijangkau.

Arion segera mengejar, melangkah hati-hati di antara pecahan tajam. Ia tahu satu saja langkah salah bisa membuat Kael terluka.

Ketegangan di ruangan itu meningkat setiap detik.

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!