NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Luka dibalik tawa

Keesokan harinya, suasana di sekolah terasa seperti panggung sandiwara bagi Bara. Ia datang dengan topeng paling sempurna yang bisa ia buat: sebuah senyuman. Namun, di balik senyum itu, ada luka yang menganga lebar, berdenyut setiap kali ia melihat Aluna dan Brian.

Saat jam istirahat, Brian memaksa Bara untuk ikut bergabung di kantin. Bara tidak punya alasan untuk menolak tanpa terlihat mencurigakan. Di meja panjang itu, mereka duduk bertiga. Brian di samping Aluna, dan Bara di depan mereka. Posisi yang paling strategis untuk menyaksikan kehancurannya sendiri secara langsung.

"Eh, Bar! Lo harus denger, semalam Luna lucu banget," Brian membuka obrolan sambil tertawa lepas, tangannya merangkul bahu Aluna dengan santai. "Dia ketiduran pas lagi telponan sama gue. Suara dengkur halusnya kedengeran sampai gue ikutan tidur nyenyak."

Bara tertawa. Sebuah tawa yang renyah di luar, namun hambar di dalam. "Hahaha, beneran, Lun? Lo ternyata bisa pelor juga ya?".

Aluna hanya tersenyum tipis, matanya melirik Bara sekilas sebelum kembali menatap minumannya. "Namanya juga capek, Bri," sahut Aluna singkat.

"Tapi gapapa, itu tandanya dia nyaman sama gue, ya kan?" Brian menyenggol lengan Aluna, lalu beralih menatap Bara. "Gila ya, Bar. Gue bener-bener ngerasa jadi cowok paling beruntung sekarang. Makasih banget ya, lo udah jadi mak comblang paling oke buat kita."

"Santai aja, Bri. Namanya juga sahabat," jawab Bara. Kalimat itu terasa seperti menelan kerikil tajam. Ia harus tertawa, ia harus terlihat ikut bahagia, padahal setiap sel di tubuhnya ingin menjerit.

Sesaat kemudian, Brian beranjak dari kursi. "Eh, gue pesen bakso dulu ya. Kalian mau apa? Biar gue yang traktir sebagai perayaan kita jadian hari kedua!"

"Gue mie ayam aja, Bri," sahut Bara.

"Aku samain kayak kamu aja, Bri," tambah Aluna.

Begitu Brian menjauh menuju stan makanan, keheningan yang mencekam langsung menyergap meja itu. Tawa Bara menghilang seketika, digantikan oleh raut wajah yang kuyu. Ia menatap meja, tidak berani menatap Aluna.

"Berhenti, Bar," ucap Aluna tiba-tiba. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi terdengar sangat tajam di telinga Bara.

Bara mendongak, bingung. "Berhenti apa, Lun?"

"Berhenti ketawa palsu kayak gitu. Aku tahu kamu sakit, aku tahu kamu tertekan," Aluna menatap mata Bara dengan tatapan yang sulit diartikan, ada amarah, tapi ada juga sedikit rasa iba yang ia coba sembunyikan. "Kamu yang mau semua ini terjadi, Bar. Kamu yang kasih aku ke Brian. Jadi tolong, jangan buat aku merasa bersalah dengan muka kamu yang kayak gitu."

Bara tertegun. Tawanya benar-benar mati sekarang. "Aku cuma berusaha jadi sahabat yang baik buat kalian, Lun."

"Sahabat nggak akan punya mata sesedih itu saat liat temannya bahagia, Bar," balas Aluna dingin. "Kalau kamu nggak sanggup, mending kamu menjauh. Jangan pura-pura kuat tapi akhirnya malah nyiksa diri sendiri dan buat aku nggak nyaman."

Tepat saat itu, Brian kembali dengan nampan penuh makanan. "Yo! Makanan datang!" serunya penuh semangat.

Bara langsung mengubah ekspresinya lagi. Ia kembali tertawa mendengar lelucon konyol Brian. Ia melahap mie ayamnya dengan lahap, seolah-olah ia sedang sangat menikmati hari itu. Namun, di bawah meja, tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan.

Setiap suapan terasa hambar. Setiap tawa yang keluar dari mulutnya terasa seperti racun.

Suasana kantin yang bising terasa sangat sunyi di telinga Bara. Ia terus menunduk, mengaduk-aduk mie ayam di mangkuknya meski seleranya sudah hilang entah ke mana.

"Bar, enak kan mie ayamnya?" tanya Brian memecah keheningan. Ia menatap sahabatnya itu dengan binar kebahagiaan yang tulus, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di depan matanya.

Bara mendongak, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di bibirnya. "Iya, Bri. Enak banget. Makasih ya," jawabnya singkat. Suaranya terdengar serak, namun ia berusaha menutupinya dengan segera meminum es tehnya.

"Oke, santai aja... eh, Lun, sini geh aku suapin kamu," ucap Brian tiba-tiba. Ia mengambil sesendok bakso dari mangkuknya sendiri dan mengarahkannya ke depan bibir Aluna.

Aluna tampak tersentak kecil. Wajahnya sedikit memerah, ia melirik ke sekeliling kantin yang penuh dengan mata siswa lain. "Em... nggak usah, Brian. Aku malu dilihat banyak orang," tolaknya halus sambil mencoba menjauhkan wajahnya sedikit.

"Nggak apa-apa, Aluna... masa sama pacar sendiri malu? Sini, aaa..." Brian tidak menyerah. Ia tetap menyodorkan sendok itu dengan tatapan memohon yang manja.

Aluna sempat terdiam sejenak. Matanya sempat bertemu dengan mata Bara yang kini terlihat kosong. Namun, sedetik kemudian, Aluna seolah ingin menegaskan posisinya. Ia membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan dari Brian.

"Aaa..."

Bara seketika memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia berpura-pura melihat ke arah lapangan basket di luar kantin, namun tangannya yang memegang sumpit bergetar hebat. Ia tak sanggup lagi melihat keromantisan mereka berdua. Pemandangan itu seperti belati yang diputar-putar di dalam lukanya. Rasa cemburu, sesak, dan penyesalan beradu menjadi satu, menciptakan rasa mual yang hebat di perutnya.

"Enak kan, sayang?" ucap Brian dengan nada bicara yang begitu lembut, nada yang dulu sangat ingin Bara gunakan kepada Aluna namun selalu terhalang oleh gengsinya yang setinggi langit.

"Iya, enak," sahut Aluna pelan.

Bara menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang mulai menjalar ke matanya.

"Brian, gue duluan ya," ucap Bara tiba-tiba sambil bangkit dari kursinya. Ia bahkan tidak berani menoleh ke arah Aluna.

Brian yang sedang asyik menatap Aluna sontak mendongak dengan wajah bingung. "Kok buru-buru sih, Bar? Kita bareng lah, bentar lagi juga bel masuk."

Bara memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya tetap terlihat kuyu. "Ah, sorry... gue tadi ada tugas yang belum selesai di kelas. Gue harus buru-buru kerjain. Gue duluan ya," jawabnya dengan suara yang diusahakan tetap tenang. "Oh ya, makasih ya buat traktirannya."

"Eh, ya udah kalau gitu. Santai aja, Bar!" seru Brian sambil melambaikan tangan.

Bara segera membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan kantin. Ia melangkah dengan langkah lebar, tidak memedulikan sekitarnya. Begitu punggung Bara menjauh, Brian mengerutkan kening dan menatap Aluna yang sejak tadi hanya terdiam membisu.

"Ih, aneh banget sih Bara itu, Lun? Kayak orang dikejar setan aja," gumam Brian heran. "Biasanya kan dia yang paling betah nongkrong kalau ditraktir."

Aluna tidak menjawab. Ia hanya menatap mangkuk mie ayamnya yang masih tersisa banyak. Ia tahu persis kenapa Bara pergi. Ia bisa merasakan, namun ia memilih untuk tetap diam. Baginya, kenyataan ini adalah obat pahit yang harus ditelan Bara sebagai hukuman atas pilihannya sendiri.

Bersambung.......

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!