Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emilie yang kasihan
Annette menabur bubuk mawar liar miliknya keatas ranjang Emilie. Mulutnya komat-kamit sibuk menyumpahi ibu dan anak yang begitu menjengkelkan.
Sebenarnya ia ingin menabur di kamar Nyonya Vivian juga. Tapi ia masih punya hati untuk tidak melukai ayahnya walaupun sebenarnya ingin.
Jika di kamar Emilie, maka Emilie akan berteriak dan Nyonya Vivian pasti akan datang. Dan jika ada orang lain yang ikut menyentuh nya tanpa sengaja ya anggap saja hari apes mereka. Karena itu diluar rencana Annette.
Ranjang yang berantakan tidak Annette rapikan kembali. Ia keluar dari kamar Emilie dan berjalan ke dapur. Rasanya tangannya sudah gatal ingin memasak sendiri.
Di dapur ia menyuruh semua pelayan meninggalkannya. Biarlah ia akan memasak apa yang bisa ia masak walaupun ia tidak tau harus memasak apa.
"Dimana ayahku ?" tanya Annette saat seorang pelayan meletakkan piring kotor bekas makan malam keluarganya tadi.
"Tuan Wiles ada di depan. Ia akan pergi ke rumah Tuan Pieter, Nona," jawab pelayan itu.
Senyum Annette mengembang saat mendengar jika ayahnya akan pergi. Itu artinya ayahnya akan melewatkan pertunjukan yang seru. Tapi tidak masalah, itu bukan hal penting. Yang penting adalah rencananya berhasil.
"Kalau begitu tolong masakkan sesuatu untukku," kata Annette. Tiba-tiba saja semangat memasaknya redup. Ia hanya ingin cepat makan lalu melihat penderitaan Emilie.
"Apa Nona tidak mau makan makanan ini ?" tanya pelayan itu dengan heran. Pasalnya makanan yang ia ambil dari meja makan masih sangat banyak dan belum tersentuh.
"Tidak mau. Dan kalian jangan ada yang memakannya karena Vivian meletakkan racun disana. Aku tidak tau ia meletakan nya di makanan yang mana. Tapi salah satu dari makanan itu mengandung racun," kata Annette serius hingga membuat pelayan itu menatap takut.
"Be.. Benarkah begitu Nona ?"
"Iya. Sudah buang saja tidak apa-apa," perintah Annette.
Lalu Annette duduk di kursi dan melihat pelayan membuatkan makanan untuknya. Annette hanya minta kentang yang direbus lalu dihancurkan kemudian diberi minyak zaitun dan lada hitam.
Saat ia tengah makan, dua orang pelayan datang tergopoh-gopoh. Mereka diperintahkan oleh Nyonya Vivian untuk merebus air dan mengambil minyak untuk Emilie.
"Memangnya Emilie kenapa ?" tanya Annette sok tidak tau.
"Nona Emilie mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Sepertinya itu alergi makanan karena Nona Emilie menghabiskan satu kepiting besar yang Tuan bawa tadi pagi," kata seorang pelayan.
Annette tertawa dan hampir mengeluarkan makanan yang dikunyah nya. Ia terkejut karena rupanya Emilie sudah merasa gatal-gatal sebelum terkena serbuk mawar liarnya.
Annette menghabiskan makanan nya dengan cepat. Ia sudah tidak sabar melihat penderitaan Emilie.
Ia mengekor di belakang pelayan yang membawa air hangat untuk mengompres tubuh Emilie.
"Cepatlah. Dasar lambat. Apa saja kerjamu mengambil air hangat lama sekali !" teriak Nyonya Vivian memarahi dua pelayan tadi.
"Maaf, Nyonya. Kami harus merebus nya dulu.." bela pelayan itu.
"Halah sudahlah. Aku tidak mau mendengar pembelaan mu. Kemari dan basuh tubuh Emilie yang memerah !" lagi-lagi perintah itu keluar dengan nada tinggi. Sama sekali tidak mencerminkan sikap seseorang yang berkasta tinggi.
Dua pelayan berjongkok membasuh kaki Emilie yang sudah bentol-bentol sampai ke pahanya.
Sedangkan Nyonya Vivian mengoleskan minyak pada dada dan wajah Emilie yang terlihat lucu di mata Annette. Pipinya bengkak hingga matanya mengecil.
"Kasihan sekali adikku ini. Karena tidak mau membagi kepiting denganku akhirnya dia jadi gatal-gatal," kata Annette sembari melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya datar tidak mencerminkan kemarahan atau penghinaan.
"Pergi saja kau. Pergilah yang jauh ke neraka. Jangan ada di depan mataku. Rasanya aku mual melihat mu," teriak Nyonya Vivian yang merasa sangat marah pada Annette.
Tanpa Annette ketahui, sepeninggal nya ia di ruang makan tadi, Tuan Wiles memarahinya habis-habisan. Ia memaksa Nyonya Vivian menjelaskan apa maksud dari perkataan Annette tadi.
Nyonya Vivian tetap pada pendiriannya. Tidak tau apa-apa dan mengatakan Annette hanya mengarang saja. Hal itu menyulut amarah Tuan Wiles hingga ia tanpa sadar menampar Nyonya Vivian tepat di depan Emilie.
Ia ingin percaya pada apa yang dikatakan Nyonya Vivian, namun hati kecilnya menolak untuk percaya. Entah mengapa ia lebih percaya pada Annette.
Sudah beberapa hari Tuan Wiles bermimpi melihat Annette di kegelapan. Ia menangis sesenggukan dan bergumam sakit. Saat Tuan Wiles bertanya kenapa, Annette selalu menjawab Nyonya Vivian menyakiti nya. Dan mimpi itu terus berulang sampai sekarang.
Itulah mengapa Tuan Wiles kehilangan kesabaran dan memukul Nyonya Vivian karena ia terusik dengan mimpinya.
"Kalau kau mau aku mengantar mu ke neraka, ya ayo," tantang Annette.
"Kurang ajar kau. Pergilah sialan aku tidak mau melihat wajahmu. Pelayan, seret dia pergi" teriak Nyonya Vivian bertambah murka. Namun untuk menyakiti fisik Annette secara langsung ia tidak berani.
Seorang pelayan mendekati Annette dan meminta dengan sangat agar ia mau pergi. Pelayan itu yang tadi memasakkan makanan untuk Annette.
Annette menurut dan mengikuti pelayan itu menuju ke taman di halaman belakang.
"Maaf, Nona. Jangan marah. Aku hanya ingin agar Nyonya Vivian tidak menyakiti mu karena saat ini dia sedang marah besar," kata pelayan itu sedikit takut.
"Memangnya kenapa dia marah ?" tanya Annette penasaran. Bukannya setiap hari hidup wanita itu diliputi oleh kemarahan.
"Maaf. Tapi tadi kami melihat Tuan Wiles menampar Nyonya Vivian. Mungkin itu yang membuat Nyonya marah. Setelah Tuan pergi ia juga melemparkan piring pada pelayan," jelas pelayan itu.
Annette hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tapi pelayan ini tidak mungkin berbohong. Sebuah kabar baik jika ayahnya mulai berpihak padanya.
"Siapa namamu ?" tanya Annette.
"Namaku Sisilia, Nona"
"Mulai sekarang kau harus mau menjadi pelayan pribadi ku. Kau yang bertanggung jawab menyiapkan seluruh kebutuhan ku. Kau tenang saja aku akan membayar mu sendiri," kata Annette merasa cocok dengan wanita yang usianya diatasnya itu.
"Baiklah, Nona. Aku akan melayani mu dengan baik," jawab Sisilia menunduk hormat.
"Apa Nona akan tinggal disini selamanya ?" tanya Sisilia.
"Tidak. Mungkin hanya lima hari aku disini. Setelah itu suamiku akan menjemput ku," jawab Annette dan Sisilia hanya mengangguk.
"Sisilia, apa aku memiliki ruang pribadi untuk melukis ?" tanya Annette.
"Anda sempat meminta itu dulu, tapi bukannya Tuan dan Nyonya menolak membuatkan nya ? Nona dulu biasanya melukis dan membuat kerajinan keramik di ruangan kecil dekat gudang penyimpanan," kata Sisilia.
"Dimana itu ? Ayo tunjukkan padaku," kata Annette berjalan lebih dulu.
Sisilia merasa aneh dengan Annette. Annette hanya meninggalkan rumah ini selama dua bulan tapi sudah melupakan namanya. Padahal ia yang biasanya menyiapkan kebutuhan Annette. Dan Sisilia juga kerap melindungi Annette jika Annette bertengkar dengan Nyonya Vivian.
Dan lagi, Annette juga melupakan tempat yang menjadi favoritnya. Sebuah ruangan kecil yang bisa ia gunakan untuk menuangkan imajinasi nya.
..
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪