Genre : Fantasi, Fantasi-Isekai, Action, Harem, Romance, Adventure, Reinkarnasi, Isekai, Magic, Demon, Royal.
[On Going]
- Bagian 1 — Isekai Slime - 27 Chapter
- Bagian 2 — Princess and Princess - ?
- Sinopsis -
Setelah bertahun-tahun dibully oleh orang-orang kaya, Sion akhirnya mencapai batas kesabarannya. Dengan amarah yang telah lama dipendam, ia meluapkan segala emosinya tanpa peduli pada konsekuensinya.
Namun, kepuasan itu hanya sesaat. Pada akhirnya, Sion memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri—tanpa penyesalan sedikit pun.
Tapi tak seperti kebanyakan orang, kematiannya bukanlah akhir. Ia terlahir kembali di dunia lain.
Akankah Sion berjuang untuk mencapai puncak? Tetap menjadi korban? Atau justru berbalik menjadi sosok yang menindas?
- Untuk jumlah kata ga full 1k yah gaes, kadang cuma 800 atau bisa aja lebih sampai 1,5k kalau benar-benar niat. Kalau agak sibuk yahh, antara 1k atau 800+ doang.
- Up-nya yah suka-suka aku wkwk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Aku Mengambil Milikku
[Sion PoV]
Kami akhirnya telah kembali ke kerajaan kami, dan sekarang kami akan langsung diberikan hadiah. Keinginan kami, apapun itu akan dikabulkan. Untuk Trisstan dia tidak akan mendapatkan apa-apa karena ia sudah kalah. Tapi sepertinya aku harus berterimakasih padanya, kalau ia tidak kalah kemungkinan aku tidak akan mendapatkan kesempatan bertarung di arena.
Raja sudah duduk di tahtanya, disebelahnya ada istrinya, lalu Lise dan adiknya. Raja membuka acara ini dengan menyampaikan beberapa patah kata.
"Pertama-tama terimakasih kepada para perwakilan kerajaan, yang telah berpartisipasi dan memenangkan turnamen kerajaan ini." Ia kemudian berdiri dari tahtanya.
"Sebagai hadiah untuk kalian berdua, aku akan mengingat jasa kalian. Dan juga kalian akan mendapatkan satu keinginan, akan kukabulkan selama itu tidak melewati batas."
Ini adalah kesempatan emas untuk merebut Lise, akan kugunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Baiklah, dimulai dari Leon Valencia. Apa yang kau inginkan? Kehormatan? Kekayaannya?"
Aku kemudian mengangkat kepalaku dan menatap Raja itu. "Terimakasih atas tawaran Yang Mulia, tapi saya tidak tertarik dengan dua hal itu."
Raut wajahnya mulai berubah, kali ini menjadi sedikit waspada. "Lalu apa yang kau inginkan?" ucap Raja, tatapannya menuju kearahku tajam.
"Saya menginginkan, putri anda—Devolica."
Hening seketika. Raja hanya diam, namun pahlawan seketika terlihat kesal. "Leon Valencia! Sadarilah tempatmu!"
"Ahh, aku tau itu. Karena aku pemenangnya disini, apa salahnya aku meminta yang ku mau?"
Raja kemudian menghentakkan tongkatnya itu. "Leon Valencia. Apa kau sadar tentang apa yang kau minta itu?" Tatapannya semakin tajam. "Apa yang kau andalkan sampai meminta putriku?!"
"Andalah yang bilang, apapun keinginanku akan dikabulkan selama tidak melewati batas, kan? Lagi pula putrimu juga tidak keberatan."
"B*jing*n kau, Leon Valencia!" teriakan itu terdengar dari Pahlawan.
Raja kemudian melirik ke putrinya itu—Devolica. Ekspresinya sedikit memerah, menampilkan kecantikan yang luar biasa. Bibir indahnya itu mulai bergerak. "Aku tidak keberatan, ayah." Ia kemudian turun mendekatiku. "Lagi pula, Leon bukanlah pria yang jahat. Aku tau jelas soal itu."
Meski ia bilang begitu adiknya—Thivaani seakan tidak terima soal itu. "Tidak bisa, kak! Darimana kau tau soal itu, kalian saja tidak sering berbicara bersama!"
"Soal itu..." Lise agak ragu-ragu menyebutkan.
"Nona Devolica! Jangan percaya dengan orang ini! Bisa saja dia punya niat jahat, kan!" sekali lagi Pahlawan itu menentang.
Suasana menjadi semakin ricuh, membuat Lise dan aku kesulitan mengatasi ini, namun saat kami sedang kesulitan tiba-tiba.
"DIAM!"
Hening seketika tercipta karena Ratu—yang sedari tadi diam—tiba-tiba bersuara. "Devolica," panggilnya.
"Iya, ibunda?"
"Kau yakin tentang ini?"
"Ya, sangat yakin."
"Tapi, Zena! Ini sudah keterlaluan, kan!" potong Raja.
"Kaulah yang keterlaluan! Kau seharusnya membuka matamu!" nada Ratu tinggi, suaranya menggema di ruangan yang hening ini.
Raja kemudian kembali melirik Lise, setelah beberapa saat akhinya ia menghembuskan nafas pasrah.
"Jadi begitulah, tidak ada yang keberatan, kan?" meski Ratu bertanya tapi tatapannya benar-benar seakan memperingatkan 'jangan bertanya'.
Karena itulah, semuanya diam.
Waktu mulai berlalu, beberapa hari setelahnya akhirnya aku dan Lise resmi bertunangan. Meski beberapa orang terlihat membenciku tapi selama Lise berada disampingku aku tidak terlalu perduli dengan itu.
Hal-hal itu mulai berlalu sampai akhirnya malam tiba, kami tidur di kamar yang sama. Namun, bukan hanya aku dan Lise, tapi Liana juga mengikuti kami kesini.
Melihatnya aku hanya bisa tersenyum masam.
Akan gawat kalau ketahuan.
...---...
Aku mendapati diriku terbangun di tempat yang asing bagiku. Dan sekali lagi aku tidak bisa bergerak, dua gadis cantik itu sedang memelukku dari sisi kanan dan kiri. Setidaknya kali ini mereka tidak diatasku.
Karena aku terlalu sering mencoba melepaskan diri membuat ranjang terguncang dan akhirnya membangunkan Lise dan Liana.
"Ohayou~" sapa mereka bersamaan.
"Ah... Pagi."
Lise mengendus-endus, wajahnya terlihat penasaran. "Ini... Bau pandan?"
"Benar yah, darimana asalnya?"
Bau pandan? Mungkin ada yang sedang memasak, kan? Eh—
"Sepertinya asalnya dari sini..." Liana mulai bergerak mendekati bagian bawahku.
Tunggu!
Aku reflek menghindar dan menjauh dari ranjang. Membuat Lise dan Liana menatapku, yang satu penasaran yang satu tersenyum mencurigakan.
"Sion... Jangan-jangan kau..."
"JANGAN KATAKAN!" potongku.
Sangat memalukan, padahal sejauh ini hal itu tidak pernah terjadi. Tiba-tiba sekali.
Aku langsung melarikan diri ke kamar mandi meninggal mereka berdua. Lalu membersihkan diri dengan air yang mengalir, terasa hangat menyentuh kulitku.
Usai mandi aku langsung kembali ke kamar, terlihat Lise dan Liana yang sedang bermain-main. "Apa yang kalian lakukan?" tanyaku.
"Gunting, batu, kertas!"
Lise menggunakan gunting, sedangkan Liana kertas. Karena Liana kalah Lise pun memukul kepalanya.
"Aduhh! Kau memukulnya terlalu kerasa, Nona Lise!"
Aku hanya bisa menggaruk kepalaku menyaksikan pemandangan yang tidak biasa ini. Siapa sangka mereka malah jadi seakrab ini
Medetashi Medetashi~
...---...
Yeah, Arc Pertama untuk novel ini sudah selesai. Sampai bertemu di Arc selanjutnya.