Setelah ibunya meninggal sejak usianya tujuh tahun, kini Naira terpaksa tinggal dengan ibu serta kakak tirinya, pilihan ayahnya kali ini cukup membuat kehidupan Naira serasa di neraka.
Penyiksaan yang selalu Naira dapatkan selama ini, pada akhirnya telah membuat nya mulai berani melakukan perlawanan, dirinya sudah sangat lelah karena selalu mengalah dan terus-terusan ditindas oleh ibu serta kakak tirinya.
Suatu ketika, telah terjadi peristiwa memalukan dalam hidupnya, hingga membuat dirinya terpaksa di nikahkan dengan seorang pria misterius oleh warga satu kampung,nah loh! Kira-kira apa yang membuat mereka sampai di paksa harus menikah? Serta telah membuat warga satu kampung menjadi murka ? Mengapa pria misterius tersebut bisa datang secara tiba-tiba dalam kehidupan Naira dan malah menjadi suami dadakannya.
Lantas siapakah pria misterius tersebut?
Jangan lupa ikuti kisahnya hanya di Noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Ayah dan Ibu mertua
Siang ini, setelah jam makan siang, Nathan berencana untuk pergi ke rumah Luna, dimana Naira saat ini tinggal. Nathan sengaja tidak ingin memberi tahu Naira terlebih dahulu tentang kedatangannya kali ini, sepertinya iya ingin membuat kejutan untuk Naira.
Sedangkan Naira saat ini sedang berada di ruang tamu, seperti bisanya setelah selesai makan siang, iya selalu menginginkan rujak mangga muda, Luna pun ikut menemani.
Ketika keduanya sedang asik menikmati rujak mangga, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Luna buru-buru membukanya. Saat pintu ruang tamu di buka, betapa terkejutnya ia saat mendapati Nathan sudah berada di hadapannya sambil melemparkan senyum.
"T tuan N nathan!" ucap Luna terbata.
"Boleh saya masuk?" tanya Nathan sembari menaikan kedua alisnya, sedangkan Tony tersenyum merekah ketika melhat Luna yang hanya mengenakan celana hot pants dan atasan tanpa lengan, terlihat jelas kulitnya yang seputih susu terekspos begitu nyata, namun sayangnya Nathan tidak tertarik sama sekali, iya lebih penasaran dengan Naira yang selalu menutup auratnya, dan hanya dialah yang bisa melihat semuanya.
Naira sendiri merasa ada tamu spesial yang datang, iya pun bergegas menghampirinya, dan benar saja, ternyata yang datang adalah suami tercintanya, seketika ia berlari ke arah Nathan lalu memeluknya, tiba-tiba saja Naira menjadi merajuk.
Nathan tersenyum senang saat Naira bersikap manja padanya.
Sedangkan Naira sendiri semenjak dirinya hamil, iya selalu teringat akan sosok suaminya, rasanya ia tidak ingin berjauhan dengannya.
Nathan pun langsung membalas pelukan dari Naira.
Luna dan Tony yang turut menyaksikan dua sejoli di hadapan mereka, hanya bisa menggaruk-garuk kepala mereka masing-masing.
"Hey..hey...mau sampai kapan kalian pelukan seperti itu, buat aku iri saja, aish...!" protes Luna dengan bibir kerucut nya.
Baik Naira dan juga Nathan, keduanya malah tersipu malu, lalu Nathan menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Nai?" tanya Nathan dengan pandangannya yang tidak pernah putus terhadap Naira.
'Kenapa kau begitu mempesona Nai, aku baru sadar rupanya melihatmu dengan jarak sedekat ini, kecantikanmu kian terpancar, semoga aku bisa segera mengingatmu kembali!' batinnya dengan perasaan yang menggebu.
Kemudian Nathan dan juga Toni di persilahkan untuk segera masuk ke dalam, dan tanpa berbasa-basi Nathan menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sini, Naira yang mendengar penjelasan dari suaminya cukup terkejut.
"Menemui kedua orang tuanya Tuan?"
"Jangan kau panggil aku Tuan, Nai! Aku ini adalah suamimu, bukan Tuanmu!" protes Nathan tidak suka.
"Naira buru-buru meminta maaf, kalau begitu bolehkah aku tetap memanggilmu dengan sebutan Mas Sehun?" mendengar hal itu, Nathan malah menghela Nafasnya.
"Yasudah, jika itu bisa membuatmu merasa nyaman, buatku tidak jadi masalah." tegas Nathan.
Nathan pun tidak mau berlama-lama di rumah nya Luna, awalnya Luna merasa cemas dan juga khawatir dengan Naira, iya takut Naira kenapa-kenapa, apalagi Naira hanyalah wanita biasa, apakah keluarga Nathan bisa memperlakukan dirinya dengan baik? Maklum lah orang kaya kebanyakan suka bersikap sesuka hati dan merendahkan harga diri orang lain, sebagian besar mereka selalu menilai seseorang dari status sosialnya. Dan Luna tidak ingin sampai Naira sakit hati akibat perlakuan keluarga Nathan terhadapnya, namun apa mau di kata, Luna tidak bisa ikut campur terlalu jauh urusan rumah tangga Naira dan juga Nathan, tentunya iya ingin mendoakan yang terbaik untuk Naira yang sudah iya anggap seperti adik kandungnya sendiri yang sudah tiada.
Saat dalam perjalanan menuju Mansion Rahadian, Naira terlihat begitu gugup, Nathan yang saat ini sedang duduk di samping Naira, bisa merasakan ketegangan yang sedang Naira alami, lagi-lagi Nathan mencoba menetralisir rasa gugup istri nya dengan kembali menggenggam kuat kedua tangannya.
"Jangan gugup, Nai! Papah dan Mamahku adalah orang baik, anggap saja mereka seperti orang tuamu sendiri!" tegas Nathan
Nathan sendiri semenjak tahu Naira sedang mengandung benih darinya, iya berusaha bersikap baik pada nya, meskipun rasa cinta di hati nya belum seratus persen untuk nya. Tapi Nathan berusaha sebisa mungkin agar Naira merasa nyaman saat bersamanya.
Setibanya di Mansion Rahadian, Naira sangat terkejut melihat rumah suaminya yang bagaikan istana, sangat luas dan juga megah, mungkin berpuluh kali lipat dengan rumahnya saat di kampung.
"Ayo Nai, Papah dan Mamah ku sudah menunggu kita di dalam." ajak Nathan sembari bergandengan tangan.
Rasa gugup yang sedari tadi terus menyeruak dalam diri Naira, kini lambat laun berangsur menghilang. Naira mencoba menghela nafasnya sejenak untuk mengusir semua ketegangan pada dirinya.
Setibanya di ruang utama, Naira kembali merasa gugup, saat sepasang pria dan wanita paruh baya, turun menelusuri beberapa anak tangga, Naira sendiri malah menundukkan kepalanya karena merasa sungkan dan juga malu
Sedangkan Tuan Iskandar dari kejauhan sudah menunjukan wajah senangnya, berbeda sekali dengan Nyonya Maria yang selalu memasang wajah masamnya, seolah iya tidak suka putranya bersama dengan seorang wanita yang bukan pilihannya.
Tuan Iskandar sendiri malah tidak menyangka jika wanita pilihan putranya mengenakan hijab dan pakaiannya tertutup.
kemudian keduanya mendekat ke arah Nathan dan Naira yang masih berdiri mematung.
"Jadi ini Istri mu, Nathan?" tanya Tuan Iskandar sembari memandangi Naira yang masih tertunduk malu, Naira sendiri buru-buru meraih tangan kanan kedua orangtua suaminya, ia mencium punggung tangan mereka secara takzim, namun sayangnya sikap Nyonya Maria seolah enggan tangannya berlama-lama di sentuh oleh Naira, apalagi sampai di cium, rasanya iya tidak sudi. Naira sendiri bisa merasakan sikap ibu mertuanya sedari awal yang kurang baik padanya, akan tetapi Naira berusaha menepis pikiran nya yang macam-macam, baginya butuh proses untuk ibu mertuanya bisa mengenal dirinya, dan Naira pun memaklumi hal itu.
Sedangkan Tuan Iskandar malah justru sebaliknya, iya bersikap baik terhadap Naira, dimatanya, Naira terlihat sopan dan juga baik.
Kemudian mereka akhirnya duduk di ruang utama, lalu Tuan Iskandar mulai bertanya tentang asal muasal Naira, dengan perasaan gugupnya, Naira mulai menceritakan sepenggal tentang kisahnya. Saat Tuan Iskandar mengetahui jika Naira adalah seorang yatim piatu, hatinya langsung terenyuh dan timbul rasa iba pada nya.
" jadi kau dan putraku benar-benar telah di nikahkan secara paksa oleh warga satu kampung?" tanya Tuan Iskandar tidak menyangka jika putranya telah di nikahkan dengan cara yang memalukan, sedangkan Nyonya Maria malah tidak percaya dengan cerita dari Naira, baginya semua yang Naira katakan itu adalah kebohongan besar, dan iya terus beranggapan jika Naira adalah seorang penipu yang telah memanfaatkan kondisi putranya di saat mengalami hilang ingatan.
'Aku yakin sedari awal wanita penipu ini sudah tahu jika putraku adalah pria kaya raya, dasar wanita licik!' batinnya sembari menyunggingkan bibirnya ke arah Naira.
Kemudian giliran Nyonya Maria yang bertanya kepada Naira.
"Kalau boleh tahu kau lulusan apa?" tanya Nyonya Maria sangat ketus.
Lalu Naira menoleh ke arah Nathan yang saat ini berada di sampingnya
"S saya h hanya lulusan SMU saja, Nyonya!" jawab Naira terbata.
Mendengar hal itu, Nyonya Maria malah semakin kesal di buatnya.
"Nathan, Papah dan Mamah mu ini sengaja menyekolahkan kamu jauh-jauh keluar negeri demi masa depanmu yang lebih baik, tapi apa, kamu malah lebih memilih seorang istri yang pendidikan nya rendahan seperti itu, Mamah lebih suka kau menikah bersama Monic, bukanya wanita rendahan dan kampungan seperti itu!" perkataan dari Nyonya Maria begitu menyakitkan.
"Maria, hentikan ucapanmu yang tidak berperasaan itu, kau adalah wanita berpendidikan, tapi perkataanmu sudah seperti manusia yang tidak pernah di didik, mulutmu sudah seperti sampah, sedari tadi aku diam atas sikapmu yang seperti itu, terhadap menantu kita!" bentak Tuan Iskandar sangat geram.
"Nathan tidak suka, jika Mamah merendahkan Naira seperti itu!" sambung Nathan yang ikut membela Naira.
Karena kesal tidak ada yang membela dan memihak dirinya, Nyonya Maria akhirnya memutuskan untuk segera pergi.
Saat dirinya menoleh, ia kembali mengatakan sesuatu yang cukup pedas terhadap Naira, Nathan dan juga suaminya.
"Menantuku cuma Monic seorang, faham kalian!" lalu Nyonya Maria pergi meninggalkan ruang utama.
Naira sendiri yang mendengarkan perkataan serta sikap dari ibu mertuanya, ia merasa sakit, rasanya seperti di hujan ni oleh ratusan pisau yang tertancap tepat di dadanya.
'Apakah wanita kampung dan miskin seperti ku tidak pantas bersanding denganmu Tuan Nathan? 'Batinnya sangat lirih.
Naira berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh, namun Ia tidak bisa menyembunyikan apa yang telah iya rasakan terhadap Nathan, kedua bola matanya kini mulai berkaca-kaca, lalu bibirnya sampai gemetar
'Tolong maaf kan sikap Mamahku, Nai! Aku bersumpah akan tetap mempertahankan kamu apapun yang terjadi, semakin Mamah menentang ku, maka aku pun akan semakin menentang keinginannya." batinnya bersungguh-sungguh.
Bersambung...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
tentang naira
abang tiri serakah