NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Poligami / POV Pelakor / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Vey Vii

WARNING ***
HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!

Menjadi istri kedua bukanlah cita-cita seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun bernama Anastasia.

Ia rela menggadaikan harga diri dan rahimnya pada seorang wanita mandul demi membiayai pengobatan ayahnya.

Paras tampan menawan penuh pesona seorang Benedict Albert membuat Ana sering kali tergoda. Akankah Anastasia bertahan dalam tekanan dan sikap egois istri pertama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tiba-Tiba

Ben merasa dirinya sudah melakukan kesalahan, jadi wajar saja jika Ana kini menolaknya. Laki-laki itu tidak memaksa, meski ada perasaan tidak nyaman setelah tubuhnya benar-benar menginginkan namun terhenti ditengah jalan. Ia berusaha tetap memahami Ana.

Ben hanya bisa duduk diam di tepi tempat tidur, ia melihat Ana berganti pakaian di hadapannya.

"Kakak pasti akan mencarimu, cepat mandi dan temui dia," ujar Ana.

"Hmm, baiklah." Ben mengangguk, ia menyeret kakinya yang terasa berat menuju kamar mandi.

Sementara Ana, gadis itu diam dan berusaha sebaik mungkin mengontrol perasaannya. Ia tidak bermaksud membuat Ben kecewa atau menyakiti hatinya, namun Ana hanya sedang tidak ingin, ia butuh waktu agar kembali sadar dari sesuatu yang berusaha mengendalikan dirinya.

Setelah Ben selesai mandi, laki-laki itu keluar. Ana sudah menyiapkan baju ganti berupa pakaian dalam serta setelan jas dan kemeja. Gadis itu juga sudah memilih warna dasi yang cocok dengan jas yang akan Ben kenakan.

Di atas meja juga tersedia secangkir teh chamomile hangat buatan Ana. Laki-laki itu senang dan menyesap perlahan apa yang sudah istrinya sediakan.

"Terima kasih," ucap Ben sambil tersenyum.

"Hmm."

"Mau kutemani sarapan?" tanya Ben.

"Tidak, Kakak lebih membutuhkanmu. Aku akan turun setelah membereskan kamar," jawab Ana.

"Baiklah."

Ben hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Menemani Ana sarapan pagi memang hal yang mustahil selagi Rosalie ada. Namun ia tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali meluluhkan hati Ana.

Setelah Ben selesai berpakaian dan menghabiskan secangkir teh hingga tak tersisa. Laki-laki itu mendekati Ana, ia memeluk istri keduanya selama beberapa menit sambil terus meminta maaf dengan lirih.

"Pergilah," ujar Ana. Ia sedikit menarik diri dan meminta Ben segera pergi. Jika sampai laki-laki itu terlalu lama bersamanya, pasti ada saja drama yang akan Rosalie mainkan untuk menyakiti perasaan Ana.

"Anastasia," ucap Ben dengan lirih. Ia memegang kedua pundak gadis itu dan menatap matanya.

"Pergilah."

"Maafkan aku."

"Jangan terus meminta maaf, ini bukan kesalahanmu," jawab Ana.

Ben merasa serba salah, ia benar-benar menjadi bimbang terhadap perasaannya. Laki-laki itu bergegas pergi sebelum Rosalie datang dan menyusulnya.

Setelah kepergian Ben, Ana membereskan kamar, mencari kesibukan agar bisa melupakan peristiwa apapun yang menggagunya.

Setelah semua kamar bersih, gadis itu keluar dari kamar menuju ruang makan. Ia harus makan teratur dan menjaga kesehatan. Gadis itu duduk sendirian dan menikmati makanannya, ia bisa bernapas lega meski merasa kesepian.

Saat selesai makan, Ana menaiki anak tangga dan berniat kembali ke kamarnya. Secara tidak sengaja, gadis itu bisa melihat Ben dan Rosalie dari pintu kamar yang sedikit terbuka.

Ana melihatnya, saat Ben dan Rosalie saling berpelukan dan berciuman. Mereka melakukannya di dekat pintu, membuat Ana melihat dengan jelas meski hanya sekilas.

Bersikap seolah-olah tidak peduli, Ana berjalan ke kamarnya dan menutup rapat pintu. Ia berganti pakaian, memakai dress selutut dan membawa tas selempang favoritnya.

Gadis itu merias wajah dengan sedikit sentuhan make up dan menata rambutnya. Ana merasa perlu pergi ke luar dari rumah dan menghirup udara segar, ia tidak boleh terus meratapi ketidakberuntungan dalam hidupnya.

Saat ia hampir siap, lagi-lagi terdengar suara ketukan pintu.

"Anastasia," ucap Ben. Laki-laki itu menyerobot masuk dan memeluk Ana.

"Kau sudah makan? Ke mana kau akan pergi?" tanya Ben.

"Aku berencana pergi ke suatu tempat, mungkin mall atau perpustakaan kota," jawab Ana.

"Baiklah, sopir akan mengantarmu."

"Hmm."

"Hati-hati di jalan, jaga diri baik-baik dan terus kabari aku. Kau bisa pakai ATM atau kartu kredit pemberianku untuk membeli apapun yang kau mau. Passwordnya adalah tanggal dan bulan lahirmu," ungkap Ben.

"Baik, aku mengerti." Ana mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Ben. Laki-laki itu pergi setelah mencium keningnya.

Ana tidak langsung pergi setelah Ben. Gadis itu masih duduk di sofa dan menjelajahi internet, mencari tempat yang bisa ia kunjungi hari ini. Jika ia pergi dengan jarak waktu berdekatan dengan suaminya, ia khawatir Rosalie akan curiga dan semakin terbakar amarah.

Pukul delapan lebih, Ana menuju kamar Rosalie dan berpamitan pada wanita itu. Namun benar seperti yang ia pikirkan, Rosalie akan mencurigainya.

"Kau tidak pergi untuk bertemu Ben di luar pengawasanku, kan?" selidik Rosalie.

"Aku akan pergi bersama sopirmu, Kak. Kau bisa menyuruhnya mengawalku dan melaporkan semua yang aku lakukan padamu, jangan khawatir," ucap Ana.

"Baik, pergilah."

Ana menghembuskan napas kasar. Ia segera keluar dari kamar wanita itu dan pergi.

"Ke mana kita akan pergi, Nyonya?" tanya sopir laki-laki berusia awal tiga puluhan. Ana duduk di kursi belakang sambil memainkan ponselnya.

"Apakah kau tidak keberatan menemaniku ke beberapa tempat hari ini? Aku ingin ke taman kota, setelah itu ke mall lalu ke perpustakaan nasional. Tapi sebelum itu antarkan aku ke ATM," jawab Ana.

"Baik."

Pertama-tama, sopir mengemudikan mobilnya ke arah taman kota. Namun mereka berhenti di depan sebuah bank untuk mengantar Ana ke ATM.

Gadis itu masuk ke dalam bilik mesin ATM untuk melihat uang yang Ben berikan padanya. Ana tercengang, ia melihat nominal besar yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Ana keluar dari bilik ATM tanpa membawa selembar pun, ia masih belum yakin bahwa semua itu adalah uangnya.

"Anastasia," sapa Ben dengan senyum yang mempesona. Laki-laki itu berdiri menunggu Ana sambil bersandar pada body mobilnya.

"Kau? Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Ana kebingungan.

🖤🖤🖤

1
Sandisalbiah
hah.. harusnya dr awal Ana tdk berasa di antara mereka.. mungkin akan lebih baik jika Ana pergi krn sepertinya Rose tdk yakin dgn apa yg dia inginkan.. ingin ank tp dia tak bisa melahirkan, memperoleh ank dr wanita lain tp dia tak ingin berbagi suami...
Sandisalbiah
nyatanya Ben sendiri telah membelah hatinya utk Ana, Rose.. itu fakta menyakitkan yg tak bisa kau hindari... Ben terlalu lama merasakan dahaga dan kau memberinya obat utk dahaganya itu.. jd ini salah siapa ?
Sandisalbiah
hah.. berasa jalan di antara semak berduri hidup Ana dan Rose sekarang.. semoga tdk saling menyakiti walau tetap akan ada yg tersakiti
Sandisalbiah
Ana sibuk memikirkan perasaan Rose tp sebaliknya Rose sibuk dgn egonya mengingatkan Ana kan segala batasan dan larangan dr nya... belum lewat sehari tp hatimu sudah penuh dgn rasa curiga.. sakit kau rasa padahal duri itu kamu sendiri yg membawa meletakan dgn posisi yg kamu atur sedemikian rupa tp tetap kau yg tersakiti krn ulah mu sendiri Rose, jgn jd kan Ana sebagai kambing hitam di kemudian hari..
Sandisalbiah
memanfaatkan kelemahan Ana utk menutupi kelemahanmu Rose.. kau egois hanya memikirkan keinginanmu tanpa memikirkan perasaan org lain, bukan hanya hidup Ana tp perasaanya pun kau jajah dgn sengaja dan secara sadar.. jgn harap kau akan menemukan kebahagiaan dlm ego mu itu
Sandisalbiah
semoga nantinya tdk ada drama dr Roseline.. yg merasa tersakiti dan menuduh Ana sebagai pihak ke tiga merusak rumah tangganya krn hadirnya Ana di antara mereka justru krn keinginan Rose itu sendiri
Sandisalbiah
harusnya mereka tdk tinggal serumah.. utk menjaga perasaan masing³.. ada dua hati wanita yg nantinya akan tersakiti.. bukan perkara gampang berbagi suami apa lagi kalau sudah melibatkan hati
Sandisalbiah
lalu bagaimana dgn Ana, masa depannya setelah melahirkan dan pernikahan kontrak nya berakhir..? bagaimana dia melanjutkan hidupnya... ?
Habibah Habibah
bagus karyanya ,ceritanya mudah dipahami
Martha Bani Pertiwi
cinta tumbuh karena saling membutuhkan.
Siti Sofiah
suka ceritnyà..happy ending
Rismawati Damhoeri
mau sehat, mau sakit umur itu tak bisa di perpanjang, kalau udah ajal ya mati aja. walaupun sehat
wkwkwkwkw jalu
suka ceritanya
wkwkwkwkw jalu
ceritanya bagus...sayang gk ada bonchap nya...
wkwkwkwkw jalu
sebenarnya kasihan rosalie...dia sakit..tapi dengan cara memasukkan perempuan lain ke rumahnya...sama saja dengan menggali sakitnya lebih parah
wkwkwkwkw jalu
baru baca...sukkaa
Healer
dlm novel tiada yg salah baik rose/Ben/ana...cuma rose nmpk jahat sikit tapi cuba la fahami watak rose itu sendiri......intinya jujur dgn pasangan dan keluarga itu penting dan sbg peringatan utk diri sendiri dan kaum wanita jgn membawa wanita lain ke rumah tangga mu jika tidak mau stress dan mkn hati berulam jantung kerana hati manusia bole berbagi terutamanya lelaki
Healer
kasihan jg ya si rose terlalu berat ujian nya
Nani Krisnawati
mungkin ana hamil
Rika
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!