Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-025
Solat berjemaah telah usai. Hanya tersisa beberapa orang yang berada dalam ruang masjid itu.
“Khafi, panggil Elis ke sini,” ucap abi setelah usai berdzikir.
Khafi mendatangi Elis dan membawanya duduk dihadapan Syekh.
“Elis, sekarang kaku sudah menikah. Jadi sekarang tanggung jawab dunia dan akhirat mu ada ditangan suami mu. Mulai sekarang rajin rajinlah belajar agama. Berlatih terus dalam bacaan surat surat. Awali dengan surat surat pendek terlebih dahulu. Minta Khafi membantu jika kamu kesukilitan.”
“Baik syekh,” sahut Elis.
“Syekh? Sekarang kamu menantuku, seharus nya kamu memanggilku abi bukan syekh lagi,” Umar tersenyum.
“Iya abi,” ralat Elis.
“Jika Khafi nggak bantu kamu, kasi tau abi. Biar abi akan memukulnya,” ucap Umar lagi.
“Dih abi, Khafi ini sangat baik dalam mementori orang. Abi tenang aja,” ucap Khafi sedikit bangga.
“Ckckck, jika kamu hebat kenapa sampai sekarang kamu belum menyerahkan berkasmu kepada Hardian?”
“Baiklah, Nanti siang akan Khafi berikan bi.”
“Ya itu lebih baik. Karena sekarang kamu sudah memiliki tanggung jawab.”
Beberapa belas meter dari keberadaan Umar, Khafi dan Elis. Ariqah tengah duduk sopan menghadap sebuah Al Qur’an.
Ia mulai melantunkan bacaan surah Ghafir dengan merdu dan lancar. Bacaannya pas membuat siapaun yang mendengar pasti akan kagum padanya.
“Masya Allah. Semoga Elis juga bisa segera pintar dan lancar dalam membaca Al Qur’an,” ucap Umar.
“Apa Elis bisa?” tanyanya ragu.
“Kamu pasti bisa, bahkan lebih baik darinya,” ucap Khafi.
“Haha, suami mu ini termasuk handal. Elis bisa minta Khafi mengajarimu malam hari usai sholat isha. Insya Allah Elis pasti bisa.” Umar turut menyemangati Elis.
Elis dan Khafi meninggalkan masjid pukul lima. Ia tahu jika istrinya masih harus bersiap siap menuju ke kantor.
Selang beberapa meter dari halaman masjid.
“Elis,” panggil Ariqah.
Elis berbalik badannya. Ia tau itu adalah suara Ariqah.
“Ariqah kamu sudah selelsai?” tanya Elis ramah.
“Iya sudah, Elis kita bareng ya.” Kata Ariqah.
“Boleh,” sahut Elis.
Khafi hanya diam tak menanggapi kedua wanita disampingnya.
“Oh ya Ariqah. Kamu sangat hebat, aku kagum dengan mu,” ujar Elis. Matanya berbinar bangga pada wanita yang selalu ramah disampingnya.
“Soal apa Elis?” tanya Ariqah.
“Kamu bisa membaca Al Qur’an dengan begitu lancar,” jawab Elis.
“Ahh soal itu. Sampai saat ini Ariqah masih berlatih tiap hari. Gimana apa Elis mau Ariqah bantu belajar tahsin dan tahfidz Al Qur’an. Biar kita sama sama menjadi hebat. Mau nggak?”
Elis berpikir sejenak.
Setiap hari Elis kerja. Waktu Elis belajar hanya diatas jam delapan. Kan nggak mungkin Ariqah ekstra mengajar hingga jam segitu.
“Ariqah tenang aja. Biar Khafi yang ajari istri Khafi sendiri. Terimakasih atas tawarannya,” ucap Khafi tegas.
“Iya Ariqah. Lagian Elis hanya bisa belajar di atas jam delapan. Siang kita sama sama sibuk kerja. Jika kamu masih harus ke rumah kan repot.” timpal Elis.
“Iya sih. Tapi jika butuh sesuatu Elis nggak usah segan dengan Ariqah ya.” Ariqah berdiri di depan halaman asrama putri. “Ya sudah, Ariqah mampir duluan ya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” sahut Elis dan Khafi berbarengan. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
“Jika kami nggak sama sama sibuk, Elis pasti memilih Ariqah yang mengajari Elis mengaji.” ucap Elis.
Khafi menatap wanita yang berjalan disampingnya.
“Aku lebih baik darinya. Dari bacaan dan juga hafalan. Pokoknya aku yang akan. Mengajarimu murotal sekaligus murojaah Alquran,” lanjut Khafi.
Ia terdengar seperti sedang pamer dan juga seperti sedang cemburu. Apa salahnya aku belajar dari Ariqah? Dia kan seorang perempuan. Sambil menyimak wajah Khafi.
“Apa, kenapa wajahmu begitu. Kamu nggak percaya aku lebih baik darinya. Tunggu sampai rumah, aku akan membacakan beberapa ayat untukmu,” lanjut Khafi.
Haha lucu juga. Ada pria sebesar ini yang nggak mau kalah dari orang lain
Elis tertawa dalam hatinya. Sifat Khafi memang kekanakan seperti yang di ucapkan Saodah. ia berusaha menunjukkan segala kelebihannya padaku.
“Baiklah, kamu bacakan untukku. Jika kamu lebih hebat dari Ariqah maka kamu boleh menjadi guru mengajikan.” ucap Elis.
Setiba dirumah Elis langsung mandi kemudian bersiap siap dengan pakaian kantor. Mengingat tidak ada satupun baju dalam lemarinya jadi ia memutuskan turun ke dapur dengan pakaian kantor.
“Bibi bikin apa?” Tanya Elis.
“Ini nak, bibi panasin makanan sisa semalam. Sayang jika basi. Masih bisa dipakai sarapan.”
“Sini Elis bantu,” Elis langsung meraih sendok wajan dari tangan Saodah.
“Kamu ngantor awal pagi ini?”
“Iya bi, tapi masih sempet kok sejam bantu bibi,” sahut Elis sambil mengaduk ngaduk sendok diatas wajan.
“Sejam? Jika masih sejam kenapa sudah rapih begini. Nanti kamu keringetan. Ayo sana kamu siapkan meja. Kemudian kupas buah.”
“Baiklah bi,” Elis menuruti setiap perkataan Saodah.
“Assalamualaikum,” ucap Amel begitu tiba diruangan dapur.
“Waalaikumsalam,” sahut Elis dan Saodah.
“Pengantin baru gimana kabar?” Amel masih langsung membantu Elis mengangkat beberapa peralatan makan ke atas meja.
“Teh, baju Elis masih di kamar asrama ya?” tanya Elis.
“Baju baju kamu kan hanya beberapa potong. Waktu beres beres kemaren teteh lupa letak dimana. Hmmm...” Amel berusaha berpikir dimana ia lupa meletakkan baju Elis.
“Semalam Elis memakai baju Khafi. Bahkan solat subuh tadi Elis masih mengenakan bajunya.” Wajah Elis sedikit cemberut.
“Ya nggak apa toh. Sama aja kan? Kemaren teteh angkut barang banyak jadi nggak tau kemana deh tuh barang.” ucap Amel.
“Teteh bukan sengaja kan?”
Amel tersenyum lebar sambil mengedipkan mata.
“Teteh mu ini emang jahil nak, dia pasti sengaja,” ucap Saodah dari dapur.
“Iya pasti, baju Elis nggak ada tapi lingrie sexy transparan di siapkan.” Wajah Elis makin cemberut.
“Hahaha, dek. Maksud teteh bukan mau kerjain kamu. Teteh mau supaya adek teteh laki laki yang satu itu nggak mati rasa lagi sama kamu. Mana tau hatinya senang dan berbunga bunga begitu melihat istrinya yang sexy terlelap,” ucap Amel panjang lebar.
Gimana bisa dia liat, Elis aja tidur masuk dalam selimut sedangkan dia di sofa. Hadeeehh teteh, jika Khafi tau ia pasti a...
“Ohh jadi itu niat baik teteh buat Khafi?” Tanpa sadar Khafi telah berada di anak tangga paling bawah diruangan itu.
“Ups,” Amel menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Jadi Khafi harus ucapin makasih gitu? Elis hampir nggak solat subuh tadi gara gara baju,” lanjut Khafi.
“Sudah sudah, Khafi panggil abi ke sini sarapan. Oh ya tadi bibi juga sudah mengajak Ariqah. Amel coba kamu telpon dia.”
...
Ruangan makan telah terhidang berbagai menu berat. Seperti sedang melangsungkan pesta kedua. Padahal semua yang terhidang disitu adalah makanan sisa acara semalam yang sayang jika dibuang.
Pukul 06:15 Abi telah duduk rapih di meja. Khafi dan juga Elis duduk berdampingan. Saodah dan Hardian telah rapih dengan posisi masing masing.
“Kita menunggu siapa?” tanya Hardian karena setiap orang masih menunggu.
“Ariqah. Amel sedang memanggilnya. Ponselnya mati. Sebentar lagi pasti tiba,” ucap Saodah.
Assalamualikum,” ucap Ariqah.
“Wa’alaikumsalam,” sahut mereka.
“Ariqah ayo duduk makan.”
Umar kemudian mulai membaca beberapa doa kemudian mulai mengambil menu ke atas piringnya.
Saat berada di meja makan mereka tak banyak bicara. Fokus pada makanan, saat selesai makan mereka bisa mulai ngobrol hal apapun itu.
Elis mengambil sesendok nasi dan sayur ke atas piringnya.
“Makan yang banyak,” Khafi meletakkan sepotong ayam gireng ke atas piring Elis. Ia tak bisa menolak.
“Mau lagi?” Ucap Khafi pelan.
“No. Ini hanya sarapan. Nggak harus makan makanan yang bikin perut begah,” sahut Elis tak kalah pelan.
Perhatian Khafi tentu saja diperhatikan setiap orang di meja itu. Terlebih Ariqah, ia terus menatap ke arah Khafi. Cemburu dan iri muncul dalam dirinya.
“Sudah jangan ditambah lagi, aku kenyang.” ucap Elis saat Khafi hendak menaruh sepotong ikan ke atas piringnya.
“Ya sudah nggak jadi.”
Umar hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
Khafi yang biasanya cuek dan tidak peduli dengan sekeliling berubah 360 derajat terhadap Elis.
Entah itu hanya sebuah perhatian biasa atau mungkin ia mulai mencintai wanita itu.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁