Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*6
"Tidak. Semua itu tidak benar. Aina pasti masih baik-baik saja. Dia sehat, dia baik, dia masih hidup." Rain bergumam sambil melangkah.
"Mau ke mana kamu?" Suara berat milik papa Rain langsung terdengar.
Seketika, langkah Rain langsung terhenti. Perlahan tapi pasti, Rain langsung memutar tubuhnya untuk melihat sang papa. Matanya tajam meskipun terlihat sangat terluka.
"Mau ke mana kami, ha?"
"Tuan besar." Dion menyapa dengan hormat.
"Dion. Jangan biarkan dia keluar. Sekarang, hujan sangat lebat. Dia baru saja bangun dari demam tadi pagi. Sekarang-- "
"Jangan coba-coba menghalangi aku!" Suara khas milik Rain langsung terdengar memotong ucapan papanya. "Semua karena kamu! Jika terjadi sesuatu dengannya, aku akan membuat perhitungan dengan kamu."
Pada akhirnya, Rain tetap meninggalkan rumah meski dilarang sang ayah. Dia tetap pergi ditemani oleh Dion.
Butuh waktu lama untuk Rain tiba ke tempat kejadian. Maklum, kondisi cuaca yang tidak baik-baik saja menjadi penghalang untuk mobil melaju dengan kencang. Jalanan yang licin membuat sedikit kemacetan. Di tambah pula karena kecelakaan, jalur di ubah menjadi satu arah. Tentu saja jalan tidak semulus yang di harapkan.
Untuk sampai ke lokasi kecelakaan dengan cepat, saat mobil terjebak macet, Rain memilih untuk meninggalkan mobil yang dia tumpangi. Pria itu memilih pergi dengan cara berlari. Kondisi fisiknya yang masih kurang baik tidak menjadi penghalang untuknya terus melangkah. Teriakan Dion yang menyusul dari belakang juga tidak dia hiraukan.
Saat sampai ke tempat yang ingin ia tuju, langkah kaki Rain seketika terhenti. Air matanya mengalir dengan sangat deras berbaur dengan aur hujan yang turun dengan tak kalah deras pula.
Ya. Ini adalah musim penghujan. Musin yang biasanya paling Aina suka. Tapi sekarang, musim ini sudah sangat berbeda dari sebelumnya. Mereka bertemu untuk yang pertama kali di saat hujan turun. Lalu, pertemuan kedua juga sama. Saat Rain mengakhiri hubungan kemarin juga turun hujan. Lalu, sekarang pemandangan buruk itu terlihat dengan sangat jelas walau di tengah hujan yang sangat deras.
Mata Rain menatap dengan lekat ke arah dua kendaraan besar yang sudah terbakar. Kedua kendaraan itu gosong. Titik hujan tak mampu menghapus bekas hitam yang telah menempel. Para korban memang tidak lagi terlihat di sana. Tapi, sisa kejadian itu terlihat dengan sangat jelas, seberapa dahsyatnya kecelakaan itu terjadi.
"Ini ... tidak mungkin. Ini ... Aina tidak ada di dalam sama. Aina pasti baik-baik saja."
Rain melangkahkan kakinya secara perlahan. Melewati garis pembatas yang telah di pasang oleh pihak yang berwajib. Langkah itu semakin lambat. Rasa takut mencekam.
Semakin Rain melangkah mendekati bus tersebut, semakin kuat pula rasa takut akan kenyataan. Entahlah. Entah apa yang dia cari di sana. Padahal, semua korban telah di pindahkan. Tapi, kakinya masih ingin tetap maju.
Seorang petugas datang mendekat. "Apakah keluarga anda adalah salah satu dari korban kecelakaan bus ini, pak? Semua korban sudah di bawa ke rumah sakit. Begitu juga dengan sisa-sisa barang bawaan mereka. Semuanya telah di serahkan ke pihak yang berwajib. Jadi, jika anda-- "
"Tidak. Keluarga saya, tidak-- " Ucapan Rain tertahan saat matanya tiba-tiba melihat sesuatu yang rasanya sangat tidak asing dalam ingatan.
Rain pun langsung berjongkok. Tangannya meraih kalung yang ada di depannya. Semakin kuat pula detak jantung Raib ketika tangannya telah berhasil menyentuh benda tersebut.
"In-- ini .... "
Rain membuka liontin berbentuk hati dari kalung yang baru saja berhasil dia ambil. Seketika, saat liontin itu berhasil dia buka. Mata Rain langsung membulat sempurna.
Bagaimana tidak? Liontin yang tidak asing itu saat ia buka, benar-benar terdapat foto dirinya bersama Aina. Liontin itu tidak terbakar, foto yang ada di dalamnya pun masih terlihat dengan sangat jelas.
Sontak, Rain langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya sesaat setelah melihat gambar yang ada di dalam liontin tersebut. Sungguh, hatinya langsung hancur. Kesadarannya pun menghilang secara perlahan setelah dia terbatuk, lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Pak!"
"Tuan muda!"
Dion yang sedari tadi hanya diam menjadi pengamat dari balik garis pembatas yang terpasang, kini langsung berlari dengan cepat.
"Tuan muda."
Rain benar-benar sudah tidak sadarkan diri lagi sekarang. Dion dengan di bantu oleh petugas tersebut, segera melarikan Rain ke rumah sakit terdekat.
...
Seharian di rawat di rumah sakit, Rain barulah sadarkan diri ketika malam tiba. Sungguh, kondisinya benar-benar memprihatinkan.
Namun, ketika sadar, orang pertama yang ia panggil adalah Ain. "Raina."
"Ain."
"Tuan muda. Anda sudah bangun?"
"Dion. Di mana kita sekarang?"
"Di-- "
Belum sempat Dion menyelesaikan jawaban atas apa yang Rain tanyakan, pria itu malah melontarkan pertanyaan lagi. "Dion. Ain. Aku bermimpi .... Aina."
"Tuan muda."
"Aina. Di mana Ain?" Rain malah kembali bertanya ketika dia sadar akan kalung yang masih ada di tangannya.
Ya. Kalung yang dia temukan di lokasi kecelakaan, tetap tergenggam di tangan. Walau dia di larikan ke rumah sakit akibat drop pada tubuhnya, tapi kalung itu, tidak terlepas sama sekali.
"Ain."
"Tuan muda. Anda harus kuat."
Mata Rain langsung berkaca-kaca. Dia geleng kan kepalanya secara perlahan. "Tidak. Itu tidak nyata, Dion. Itu cuma mimpi. Tidak nyata, Dion. Tidak."
Dion semakin menundukkan wajahnya. "Tuan muda. Anda harus kuat."
"Tidak!"
Rain langsung menyentuh dadanya yang terasa semakin sesak. Sontak, Dion yang melihat hal tersebut langsung bergegas mencari dokter.
*
"Kondisi pasien masih sangat tidak stabil. Saya harap, emosinya bisa dijaga dengan baik."
"Dokter, apa yang harus saya lakukan untuk menjaga emosi tuan muda saya?"
"Sebaiknya, hindari pembicaraan yang bisa membuatnya merasa sedih. Buatlah dia sedikit lupa dengan masalah yang sedang dia alami."
Pesan dokter tidak bisa Dion jawab dengan kata iya. Dia hanya bisa terdiam. Namun, saat ini, hatinya langsung berkata. 'Bagaimana caranya? Bagaimana cara agar aku bisa membuat tuan muda sedikit lupa dengan apa yang sedang dia alami? Nona Aina adalah hidupnya. Dia melepaskan nona Ain agar wanita itu tetap hidup. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Setelah dia lepaskan, nona malah pergi untuk selama-lamanya.'
'Ya Tuhan, apa yang sebenarnya telah engkau siapkan untuk tuan muda? Hidupnya sudah sangat sulit sejak pertama kali aku mengenal dia. Lalu sekarang, apakah harus di tambah sulit lagi dengan mengambil orang yang dia cintai?'
'Tuhan, apakah tidak cukup mengambil satu orang saja? Apakah harus semua yang dia cintai engkau ambil darinya? Kasihanilah dia. Hidupnya sudah sangat menderita sejak ia masih sangat kecil.'