NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:43.7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelayan Khianat

Wu Zetian berdiri sendirian di depan pintu itu. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangkat tangannya dan mendorong pintu perlahan.

Kriiit.

Suara engsel yang tua memecah kesunyian. Begitu masuk, udara di dalam kamar langsung terasa berbeda. Lebih dingin, lebih lembap, dan dipenuhi aroma pahit obat-obatan yang bercampur dengan bau logam samar. Cahaya matahari pagi hanya masuk sedikit melalui jendela kecil di sisi ruangan, membuat kamar itu tampak redup meski hari di luar begitu cerah.

Wu Zetian menutup pintu dengan pelan dan membuka jendela supaya cahaya pagi bisa masuk dan mengenai tubuh Selir Zhen Zu. Pandangan matanya langsung tertuju pada ranjang di tengah ruangan.

Di sanalah Selir Zhen Zu terbaring.Tubuh wanita itu tampak jauh lebih kurus dibandingkan ingatan Wu Zetian. Pipi yang dulu berisi kini cekung, tulang pipinya menonjol jelas. Kulitnya pucat hampir transparan, dan bibirnya yang seharusnya berwarna merah muda, kini membiru.

Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke dada, namun bahkan dari sana pun terlihat jelas bahwa dadanya naik-turun dengan sangat lemah. Wu Zetian melangkah mendekat, Ia berhenti di sisi ranjang.

Untuk sesaat, ia hanya berdiri, menatap wajah wanita itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tangannya perlahan terulur, berhenti beberapa sentimeter di atas punggung tangan Selir Zhen Zu. Ia ragu untuk menyentuhnya, takut sentuhan sekecil apa pun akan memperparah kondisi rapuh itu. Dan akhirnya, ia menyentuhnya juga.

Dingin.

Kulit Selir Zhen Zu terasa dingin, jauh lebih dingin dari yang seharusnya. Wu Zetian mengernyit, lalu menyentuh pergelangan tangan wanita itu, merasakan denyut nadi yang lemah dan tak beraturan.

“Racun. Aku rasa, ini bukanlah racun biasa.” Bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Matanya menyapu seisi kamar. Rak obat di sudut ruangan dipenuhi botol-botol kecil, beberapa sudah berdebu, beberapa lainnya tampak tak pernah disentuh. Ada mangkuk obat di atas meja kecil, isinya sudah mengering, menandakan bahwa obat itu mungkin tak diminum tepat waktu, atau sengaja dibiarkan.

Wu Zetian mencium udara sekali lagi. Ada bau samar yang ia kenal. Bukan bau obat penyembuh, melainkan residu racun kronis. Racun itu bekerja perlahan dan menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit sehingga dapat membuat korban tampak sakit-sakitan tanpa pernah benar-benar mati.

“Licik, benar-benar licik.” gumamnya dingin.

Selir Zhen Zu tiba-tiba bergerak kecil, alisnya berkerut, seolah ia sedang berjuang untuk sadar. Bibir birunya bergetar, mengeluarkan suara napas yang tersendat. Wu Zetian segera duduk di tepi ranjang.

“Tenang, Aku di sini.” ucapnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari sikap dingin yang ia tunjukkan pada orang lain.

Mata Selir Zhen Zu perlahan terbuka. Namun tatapannya kosong dan kabur, seolah sulit mengenali siapa yang ada di hadapannya. Bibirnya bergerak, mencoba membentuk kata, tetapi tak ada suara yang keluar. Wu Zetian menunduk lebih dekat.

“ Aku Wu Zetian, Bibi. Aku kemari untuk menjengukmu. Dan juga sekaligus mengobatimu.” katanya pelan yang dibalas oleh tatapan haru dari sorot wajah Selir Zhen Zu.

Wu Zetian. Akhirnya aku melihat wajahmu kembali, Anakku. Batin Selir Zhen Zu.

Ada kilatan emosi di mata Wu Zetian. Amarah yang ditekan, bercampur tekad yang mengeras. Di dalam hatinya, satu keputusan telah diambil.

“Bertahanlah. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Baik kali ini, maupun seterusnya.” bisiknya, nyaris seperti janji.

Wu Zetian menghela napas perlahan, lalu merogoh tas kain yang ia bawa sejak dari kediamannya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna giok pucat. Tutupnya dibuka dengan hati-hati, memperlihatkan sebuah pil bulat berwarna keabu-abuan dengan guratan tipis kehijauan di permukaannya.

Pil itu tampak sederhana, namun siapa pun yang paham dunia pengobatan akan tahu. Itu adalah pil pengurai racun tingkat tinggi.

“Pertama-tama, aku akan memberimu obat ini untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam tubuhmu.” ucap Wu Zetian dengan suara lembut namun tegas.

Ia mendekatkan pil itu ke bibir Selir Zhen Zu.

Namun sebelum memberikannya, Wu Zetian menyadari kondisi wanita di hadapannya terlalu lemah untuk menelan obat dalam posisi berbaring. Tanpa ragu, ia menyelipkan satu tangannya ke punggung Selir Zhen Zu dan tangan lainnya menyangga bahu rapuh itu.

“Maaf,” bisiknya pelan.

Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, Wu Zetian membantu Selir Zhen Zu bangkit setengah duduk, lalu memapahnya hingga tubuhnya bersandar ke dinding ranjang yang dilapisi bantalan tipis.

Selir Zhen Zu meringis kecil, napasnya terengah, keringat dingin segera muncul di pelipisnya. Wu Zetian mengernyit tipis. Racun itu jelas sudah lama menggerogoti tubuhnya.

Ia kemudian menuangkan sedikit air hangat dari cangkir yang ada di meja kecil di samping ranjang. Setelah memastikan suhu airnya aman, ia kembali menatap Selir Zhen Zu.

“Bibi,” panggilnya pelan, nada suaranya lebih rendah dan penuh kehormatan. “Apakah kau memiliki pelayan yang benar-benar bisa kau percayai di sisimu?”

Selir Zhen Zu tidak menjawab dengan kata-kata.

Namun matanya bergerak. Pandangan lelah itu perlahan beralih ke sudut ruangan, ke arah seorang pelayan perempuan yang sejak tadi berdiri dengan sikap patuh. Tatapan Selir Zhen Zu mengeras. Lalu dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menggelengkan kepalanya pelan namun tegas. Gerakan kecil itu cukup membuat Wu Zetian langsung mengerti.

Ia tahu betul bagaimana keadaan Selir Zhen Zu selama dua tahun terakhir. Dahulu, wanita ini memiliki seorang pelayan pribadi. Namun ia tidak tahu dibelakangnya bahwa pelayan yang ditempatkan bersamanya adalah mata-mata dari kedua selir perdana menteri Wu Zheng. Sejak ia jatuh sakit dan tak bisa berbuat apa-apa, pelayan itu bahkan memperlakukannya dengan semena-mena. Sejak saat itu, Selir Zhen Zu tak lagi mempercayai siapa pun.

Wu Zetian perlahan mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah pelayan yang berdiri di dalam kamar. Tatapan itu dingin dan tenang. Namun mematikan.

“Kau, keluarlah. Aku tidak membutuhkanmu di sini.” ucap Wu Zetian singkat, suaranya rendah namun jelas.

Pelayan itu terkejut.

“Ta, tapi, Nona, aku diperintahkan oleh Tuan Wu Zheng untuk menjaga Selir Zhen Zu di sini." katanya gugup sambil menunduk setengah badan,

Wu Zetian tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan aura sihirnya lalu berdiri perlahan, dan melangkah mendekat satu langkah.

Hanya satu langkah. Namun udara di dalam kamar seketika berubah. Seakan tekanan tak kasatmata menyelimuti ruangan, membuat napas terasa lebih berat. Lampu minyak di sudut ruangan bergetar halus, apinya menciut kecil. Bahkan tirai jendela bergerak pelan meski tak ada angin.

Wu Zetian menatap pelayan itu tanpa berkedip.

“Apa kau tidak mengerti ucapanku?. Atau kau ingin aku mengulanginya dengan cara lain?” katanya perlahan, setiap kata diucapkan dengan penekanan yang dingin.

_________________

Yuhuuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖

Terima kasih yang sudah gift karya-karya Author🫰 Semoga diberi rezeki yang lancar Aamiin.

Author mau dong hadiah dari para reader semuanya supaya author tambah semangat updatenya. Hehe🤭

See you orang baik~💓

1
Osie
double up dunk thoorr🙏🙏🙏🙏🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤Aisyah³
jangn lama up nya thor...
Amriati Plg
Wu zaitan kok ngk bisa merasakan kehadiran orang asing di sekitar nya padahal dia punya elemen
Amriati Plg
Seharusnya dua jam waktu di dimensi berati dua puluh menit di dunia nyata
Amriati Plg
Bisanya di novel" masuk dimensi langsung dengan tubuh utuh ini hanya roh aja
@Mita🥰
perasaan ku klu ada laki " Tampan kok selalu jadi idamanku 🤭🤭🤭
Osie
semakin seruuuu...moga msh ada up lanjutannya🙏🙏
@Mita🥰
bagus
Osie
aku mampir dan udah baca sp bab ini..rada" dgn perbedaan waktu dunia dimens8 lilac n dgn dunia nyata.. biasanya dunia dimensi lbh cpt waktunya ..disini malah lbh lama dr dunia luar
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤Aisyah³
pasti makannya dpt sambutan yang bagus💪💪
Mommy Ayu
lanjut up lagi Thor.... semangat
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Mommy Ayu
lanjut up lagi Thor....
Mommy Ayu
lanjut up lagi Thor..... semangat
Murni Dewita
💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤Aisyah³
permulaan yang baik.. 💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤Aisyah³
jan lama up nya thor🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤Aisyah³
bukannya bnyk org² yang dbeli kemarin kok cumn itu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!