Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. SISI GELAP HOTEL DIN'S
Suasana di ruang VIP Hotel Din’s terasa seperti neraka yang dipoles kemewahan. Musik dengan bass yang memekakkan telinga berdentum, mengiringi uap alkohol dan asap rokok yang memenuhi ruangan.
Di atas meja marmer di depan Dina dan gengnya, pemandangan menjijikkan tersaji. Botol-botol minuman kelas atas berjejer di antara alat suntik yang masih menyisakan cairan bening dan bungkusan plastik kecil berisi bubuk putih.
Di sekeliling mereka, moralitas seolah lenyap, para model, artis muda, dan anak-anak orang kaya kehilangan kendali, bahkan beberapa di antaranya melakukan tindakan asusila secara terbuka tanpa rasa malu.
“Ketua, bagaimana jika Fadli marah karena kita tidak berhasil membawa Maya malam ini?” tanya Fransiska dengan suara parau, mencoba mengalahkan suara musik.
Dina menyesap minumannya, matanya yang mulai sayu menatap dingin ke arah kerumunan. “Besok malam kita harus berhasil. Gadis itu harus hancur seancur-ancurnya agar dia keluar dengan sendirinya dari sekolah itu. Aku tidak mau melihat wajah melasnya lagi di dekat Agung.”
“Bos memang benar-benar licik,” puji Heina sambil terkikik, tubuhnya sudah terhuyung setengah sadar akibat pengaruh barang haram. Ia kemudian bangkit dan bergabung dengan kumpulan pria di lantai dansa, bergerak liar mengikuti irama.
Tak lama kemudian, seorang model pria berwajah tampan masuk ke ruang VIP tersebut. Tanpa ragu, ia duduk di sebelah Dina. Dina yang sudah dipenuhi rasa kesal dan pengaruh alkohol langsung menyodorkan gelasnya, lalu tanpa aba-aba, ia menarik kerah baju pria itu dan menciumnya kasar.
Dengan nafsu yang gelap, Dina menarik pria itu menuju kamar mandi di sudut ruangan. Di balik pintu yang tertutup, mereka melakukan perbuatan dewasa yang menjijikkan, jauh dari citra siswi.
*****
Malam yang sunyi di sudut kota yang dingin itu berubah menjadi mencekam. Zavier, dengan aura suram menunjukkan sisi aslinya yang tidak pernah dilihat Maya di sekolah. Bukan sebagai ‘Fadli’ di pria sang fotographer sekolah, melainkan sebagai predator yang sedang membersihkan ‘sampah’ di sekitar targetnya.
Zavier menatap tajam ke arah plang warnet yang berkedip-kedip di depannya. Di dalam sana, Rian mantan suami Maya yang menjadi benalu di masa lalu gadis itu sedang asyik dengan dunianya sendiri, tidak tahu bahwa ajalnya sedang mendekat.
Zavier keluar dari mobil, membetulkan letak kacamata hitamnya. Langkah tegapnya membelah keramaian warnet yang pengap oleh asap rokok.
“Mau main berapa jam, Bang?” tanya penjaga warnet tanpa mendongak.
“Aku hanya ingin menemui Rian,” sahut Zavier dingin.
“Oh, Rian sudah pulang,” bohong si penjaga warnet sambil melirik ke sudut ruangan.
Zavier hanya tersenyum miring. Ia sudah menghafal setiap inchi wajah targetnya. Matanya tertuju pada seorang pria dengan wajah kusam di sudut ruangan yang juga sedang meliriknya ketakutan.
BRAAAK!!
Tanpa aba-aba, tangan kuat Zavier mencengkeram kerah baju Rian dan menyentaknya hingga pria itu terpental ke meja komputer lain. Suara hantaman keras membuat para pemain warnet berhamburan lari ketakutan.
Si penjaga warnet ternyata bukan orang biasa, ia mencabut sebilah belati dari balik meja dan menyerang Zavier. Namun, gerakan Zavier jauh lebih cepat. Ia menghindari sabetan itu dengan gerakan lincah, lalu dengan berani menangkap ujung tajam benda itu dengan telapak tangannya.
Da*rah segar menetes dari telapak tangan Zavier, namun ekspresi wajahnya tetap datar, seolah ia tidak merasakan sakit. “Kau telah bersekongkol dengannya,” desis Zavier. “Aku sudah cukup muak bertemu orang seperti kalian.”
Zavier menarik belati itu dengan tenaga yang luar biasa, menyeret tubuh si penjaga warnet hingga terpental menghantam jejeran CPU yang tergantung di dinding. Pria itu langsung pingsan dengan suara berdentang keras.
Rian, yang melihat celah, mencoba bangkit dan lari menuju pintu keluar. Namun, Zavier bukanlah lawan yang bisa ditinggalkan begitu saja. Dengan beberapa langkah lebar, tangan panjangnya mencengkeram baju lusuh Rian dari belakang.
“Siapa kau?!” teriak Rian histeris saat tubuhnya didekap paksa di belakang.
“Aku adalah malaikat pencabut nyawamu,” bisik Zavier tepat di telinga Rian.
JLEB!
Jari Zavier menekan titik saraf leher Rian dengan tekni mematikan. Dalam hitungan detik, tubuh Rian lunglai dan pingsan. Zavier menyeret tubuh pria itu seperti menyeret karung sampah, melemparkannya ke dalam bagasi mobil sedan hitam legam, lalu melesat pergi meninggalkan lokasi yang kini porak-poranda.
Lampu jalanan pusat kota berkelebat seperti garis-garis cahaya yang membelah kegelapan, namun pikiran Zavier jauh lebih berantakan daripada di depannya. Ingatannya terseret paksa ke sebuah malam di mana ia dan Arkan terlibat konfrontasi hebat. Suara Arkan, yang biasanya tenang dan berwibawa, terdengar bergetar menahan amarah yang pedih saat menceritakan penderitaan Maya.
**
“Kau tahu apa yang dia lalui, Zavier?” suara Arkan menggema di kepala Zavier. “Demi obat dan biaya rumah sakit bapaknya, ibu tirinya meju*alnya kepada lelaki hidung belang. Tak terhitung berapa kali dia dipaksa melayani ba*jingan di luar sana.”
Zavier mencengkeram kemudi mobilnya lebih erat. Bayangan Maya yang tersenyum tipis di sekolah seolah menertawakan kenyatan pahit yang ia simpan.
Arkan melanjutkan ceritanya malam itu dengan nada yang semakin rendah. “Tak lama setelah bapaknya meninggal, dia bertemu Rian. Pria bermulut manis yang dia pikir adalah dermaga terakhir tempatnya bersandar. Tapi ternyata, Rian hanyalah ba*jingan lain yang mengisap sisa masa depannya. Dengan alasan tanggung jawab lewat nikah siri, Maya yang hamil tua harus membanting tulang untuk keluarga suaminya, mencari biaya persalinan sendirian.”
Zavier teringat bagaimana ia melemparkan gelas kristalnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping saat Arkan sampai pada bagian paling miris.
“Maya kehilangan bayinya, Zavier. Bayi yang seharusnya lahir dua minggu lagi. Di rumah Rian, Maya diperlakukan lebih rendah dari peliharaan. Ibu mertuanya, Aminah, ringan tangan jika Maya sedikit saja melakukan kesalahan. Sementara Rian? Uang hasil keringat Maya habis di meja warnet.”
“Dan kau juga melakukan hal yang sama! Mencari keuntungan di tengah penderitaannya!” Zavier sempat membentak Arkan malam itu, dengan gebrakan meja yang keras. “Aku memang ba*jingan, tapi aku tidak pernah sanggup menyentuh gadis se-rapuh itu!”
“Tidak! Aku hanya ingin menolongnya agar telepas dari neraka itu!” Arkan membalas dengan nada meninggi.
***
Kembali ke masa sekarang.
Mobil Zavier berhenti dengan derit halus di parkiran Hotel Din’s. Ia melirik Rian yang masih pingsan di bagasi melalui kaca spion. Pria ini adalah salah satu pelaku yang pernah menyakiti Maya di masa lalu.
Zavier mengambil ponselnya. Suaranya dingin, seolah tak ada lagi emosi manusia yang tersisa.
📱“Apakah umpan sudah masuk?”
📱“Sudah, dia sudah melakukan tugasnya dengan baik, Bos,” jawab suara di seberang sana.
📱“Turun sekarang. Bawa ikan busuk ini ke kamar yang sudah kita desain. Sebelum beraksi, pastikan semua CCTV mati.”
📱“Siap, Bos!”
Beberapa detik kemudian, seluruh Hotel Din’s padam. Dalam kegelapan itu, tiga pria bertubuh tegap muncul dari balik bayangan dan mendekati mobil Zavier. Zavier keluar, bersandar di pintu mobil sambil menyulut sebatang rokok.
Asap mengepul dari bibirnya saat ia melihat anak buahnya menyeret Rian yang lunglai masuk ke dalam hotel lewat pintu belakang.
“Bersenang-senanglah,” gumam Zavier pelan.
****
Suasana di kamar itu cukup gelap, hanya diterangi oleh pantulan cahaya redup dari luar jendela. Dina, yang kesadarannya sudah hancur dikoyak barang haram, tidak lagi bisa membedakan kenyataan dan ilusi. Keringat membasahi pelipisnya saat ia mengerang tak sabar di tepi ranjang.
“Cepat, lakukan sekali lagi, aku belum merasakan kepuasan,” gumamnya dengan suara parau, menutut pemuas nafsu yang ia pikir adalah model pria tadi.
Pintu kamar terbuka perlahan. Tiga anak buah Zavier masuk dengan gerakan cepat, menyeret tubuh Rian yang masih setengah pingsan karena totokan saraf. Mereka melempar Rian ke atas ranjang tepat di sebalah Dina, seperti melempar seonggok daging tak berharga.
Dina mengerjapkan matanya yang sayu, menatap bayangan gelap pria-pria besar di depannya. “Oh, apakah pemuda ini pela*cur baru?” tanyanya dengan tawa kecil yang terdengar menjijikkan.
“Baru,” sahut salah satu anak buah Zavier dengan suara berat dan datar.
“Kalau begitu, kalian pergi. Aku ingin bersenang-senang malam ini,” usir Dina, tangannya mulai meraba dada Rian yang terbaring lemas.
Anak buah Zavier segera keluar dan mengunci pintu dari luar, menjalankan skenario yang sudah di susun rapi.
Dina, yang dikuasi nafsu gila akibat efek obat, mulai menanggalkan pakaian Rian dengan gerakan serampangan. “Hem, ternyata kamu cukup tangguh juga,” bisiknya di telinga Rian yang mulai mengerang sadar namun tak berdaya untuk melawan.
Di sudut ruangan, tersembunyi di sela-sela kelopak bunga pajangan yang cantik, sebuah lensa kecil berkedip merah. Cahaya kecil itu merekam setiap detik perbuatan nista yang dilakukan Dina terhadap mantan suami Maya itu.
***
Di parkiran bawah, Zavier duduk tenang di dalam mobilnya. Layar ponselnya menampilkan sudut pandang dari kamera tersebut dengan sangat jernih. Sebuah seringai kejam muncul di wajahnya.
“Hidupkan,” perintah Zavier melalui alat komunikasinya.
KLIK!
Seketika, seluruh lampu hotel yang tadi padam kembali menyala terang benderang. Cahaya itu menerangi setiap sudut kamar, memperjelas pemadangan senonoh Dina yang kini membeku sesaat karena terkejut dengan cahaya yang mendadak. Namun, pengaruh obat membuatnya kembali melanjutkan aksinya, tanpa sadar bahwa seluruh masa depannya baru saja berakhir dalam sebuah file rekaman.
Zavier menyesap sisa rokoknya, menatap layar ponselnya dengan tatapan puas sekaligus muak.
“Berapa harga yang harus aku dapatkan dengan video ini?” gumamnya dingin. “Seorang anak pemilik Hotel SNOW WHITE, melakukan hal menjijikkan. Ini akan menjadi tontonan yang sangat mahal, Dina.”
...❌ Bersambung ❌...