Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Restu Alm. Lily
Matahari sore mulai meredup, Maya berdiri terpaku di sisi mobil sedan putih bermerek Toyota Camry milik alm. Lily yang baru saja berhenti tepat di depan lobi utama.
“Rasa sakit itu harus aku lepaskan. Mereka yang dulu kuharap jadi sandaran, kini sudah menuai karmanya sendiri,” batin Maya getir namun ada sedikit rasa lega.
Pandangannya tertuju pada papan nama besar di depannya, RS. HARAPAN. “Sesuai namanya, di tempat ini aku mendapatkan harapan baru dari seseorang yang tulus membantuku,” lanjutnya dalam hati, merujuk pada sosok Arkan.
Pak Teddy menutup pintu mobil dengan suara mantap, lalu beralih menatap gadis muda di sampingnya. “Dek Maya? May? Kenapa dari tadi melamun? Apa Dek Maya sedang sakit? Kalau sakit, Bapak bawa pulang saja ya?” tanya Pak Teddy cemas melihat wajah Maya yang tampak kosong.
Maya sedikit tersentak, jemarinya semakin erat menggenggam tali tas samping miliknya. “Oh, a… anu, Pak. Aku hanya bingung kenapa Kak Arkan menyuruhku datang ke sini,” sahutnya mencari alasan, meski sebenarnya pikirannya sedang berkecamuk setelah melihat berita viral pagi tadi.
Pak Teddy terkekeh pelan. “Ooh, Bapak kira kenapa. Kalau soal alasan Pak Dokter, Bapak tidak bisa jawab, Dek Maya. Silakan tanya langsung saja ke beliau. Orangnya sudah menunggu di dalam.”
“Terima kasih, Pak Teddy,” ucap Maya sopan.
“Sama-sama. Selamat bersenang-senang, Dek Maya!” seru Pak Teddy sambil melambaikan tangan, lalu masuk kembali ke kabin Camry putih itu dan perlahan meninggalkan area lobi.
Maya menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya. Dengan langkah perlahan, ia melewati pintu otomatis rumah sakit. Aroma antiseptic yang khas langsung menyambut indra penciumannya.
Maya berdiri di sudut lobi yang ramai, jari-jarinya sedikit gemetar saat menekan nomor Arkan di ponsel barunya. Begitu panggilan tersambung, suara Arkan langsung menyapa.
📱“Kamu sudah di bawah, May?”
📱“Sudah, Kak.”
📱“Oke. Tunggu di sana, ya. Aku segera turun.”
Hanya dalam hitungan menit, pintu lift di dekat lobi berdenting terbuka. Arkan muncul dengan jas putih dokternya yang tersampir rapi, memancarkan aura professional yang kuat namun seketika melunak saat melihat Maya.
“May!” teriak Arkan sambil melambaikan tangan. Ia berlari kecil, tak sabar ingin menghampiri gadis itu.
Namun, langkah Arkan mendadak melambat. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. Pandangannya tidak lagi fokus pada Maya, melainkan pada sosok yang berdiri tepat di belakang gadis itu. Seorang wanita berwajah lembut dengan gaun putih yang melambai tertiup angin pendingin ruangan.
Senyum itu, Arkan mengenalnya dengan sangat baik. Itu adalah Lily, mendiang istrinya.
“Lily,” gumam Arkan pelan. Dunianya seakan berhenti berputar.
Sosok Lily di sana tampak sangat nyata. Ia berjalan tenang mengikuti langkah Maya, tangannya melambai kecil ke arah Arkan dengan senyum yang manis, sebuah senyum yang seolah-olah membawa pesan restu, memberikan izin bagi Arkan untuk kembali membuka hatinya.
Namun, tepat saat Maya berdiri di hadapannya, sosok Lily memudar perlahan, pecah menjadi butiran debu cahaya yang hilang ditelan realita.
“Kak… Kak Arkan?” panggil Maya berulang kali, bingung melihat Arkan yang mematung dengan tatapan kosong.
Arkan tersentak. “Eh, i-iya, May,” sahutnya gagap. Dengan gerakan kilat, jari telunjuknya menghapus setetes air mata bahagia yang sempat mengintip di sudut matanya.
“Kakak kenapa? Kakak menangis?” tanya Maya heran, wajahnya menengadah menatap Arkan.
“Ini.. sepertinya tadi mengantuk. Huaaaa!” Arkan pura-pura menguap lebar, mencoba menutupi gejolak batinnya dengan acting yang sedikit berlebihan.
“Kakak pasti capek, ya?”
“Enggak, enggak capek kok. May, sebaiknya kita ke ruanganku dulu. Kamu tunggu di sana, ya. Aku hanya butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan tugasku, habis itu kita pergi,” ucap Arkan mengalihkan pembicaraan.
Maya hanya mengangguk patuh. Arkan berjalan lebih dulu memimpin jalan menuju lift khusus. Di sepanjang koridor, para perawat yang berpapasan dengan mereka saling bertukar senyum dan berbisik pelan. Mereka belum pernah melihat Dokter Arkan membawa seorang gadis muda dengan cara seprotektif ini.
****
Lift yang berlapis cermin mengkilap itu seolah memerangkap mereka dalam keheningan yang menyesakkan sekaligus manis. Arkan berdiri kaku, matanya menatap angka lantai yang terus berganti, namun pikirannya melayang-layang.
“Ayo, Arkan, bicaralah sesuatu! Tanya tentang sekolahnya, atau bakso tadi. Ah, jangan, nanti dia tahu aku tak suka!” batin Arkan gelisah.
Di sampingnya, Maya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Dari pantulan pintu lift yang mengkilap, ia bisa melihat bahu tegap Arkan yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
“Canggung banget. Kak Arkan sangat dekat. Mana pantulannya keren lagi kalau dari samping begini,” gumam Maya dalam hati, meremas pinggiran baju gaunnya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sebelum mereka sempat keluar, beberapa perawat hendak masuk menyapa dengan ramah. “Selamat sore, Pak Dokter!”
“Sore,” jawab Arkan singkat dengan anggukan professional, lalu melangkah keluar diikuti oleh Maya yang mengekor di belakangnya seperti anak kucing.
Begitu pintu lift mulai menutup, bisik-bisik dari dalam lift masih sempat tertangkap telinga mereka.
“Eh, apakah itu gadis yang dibicarakan perawat di lobi tadi?”
“Benar, itu gadis yang menolong putra Pak Dokter. Cantik juga ya.”
“Iya, wajahnya imut sekali, cocok mendampingi Dokter Arkan.”
Pintu lift tertutup sempurna, memutus kalimat terakhir itu. arkan, yang mendengar kata “mendampingi”, tiba-tiba merasa hatinya menghangat. Ia tidak membantah, bahkan sebuah senyum tipis hampir tidak terlihat di bibirnya saat ia terus berjalan menuju ruang kerjanya.
***
Pintu kayu jati itu terbuka, memperlihatkan papan nama perak bertuliskan Dr. Arkan, Sp. OG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi). Sejak kedua orang tuanya merendahkan Maya, Arkan membuang nama keluarga besar “Pradipa” di belakang namanya. Ia ingin berdiri sendiri, membuat suatu branding dengan namanya tanpa bantuan keluarga besarnya.
“Mari, May, masuk duluan,” ucap Arkan lembut.
Maya melangkah perlahan. Matanya menyapu ruangan yang luas itu, lalu tiba-tiba terhenti pada sebuah lemari besi besar tempat penyimpanan dokumen pasien. Napasnya tercekat sejenak. Di balik lemari itulah, ia pernah meringkuk ketakutan, bersembunyi dari Rian. Bayangan masa lalu yang kelam itu seolah ingin menariknya kembali.
Namun, lamunan itu terputus saat sepasang kaki panjang Arkan berdiri di depannya, menghalangi pandangannya dari lemari itu seolah ingin melindunginya dari trauma.
“May, berikan aku waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kamu silakan menunggu sambil menikmati cemilan yang sudah aku sediakan,” ucap Arkan. Tangannya menujuk ke meja tamu yang kini penuh dengan buah-buhan segar, kacang-kacangan, dan minuman sehat.
“Kamu juga bisa menonton TV jika bosan,” lanjut Arkan, mengarahkan telunjuknya ke sebuah layar TV besar yang terpasang di dinding.
Maya mengerjapkan mata. “Sejak kapan ada TV di sini? Perasaan waktu pertama kali aku ke sini tidak ada TV,” batinnya heran. Ia tidak tahu bahwa Arkan sengaja memasang TV itu beberapa hari yang lalu hanya agar Maya tidak bosan jika suatu saat menunggunya di sana.
“May, tunggu ya,” lanjut Arkan.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, tangan besar Arkan mendarat lembut di puncak kepala Maya, mengusapnya sebentar, sebuah gerakan spontan penuh kasih sayang yang biasanya ia lakukan kepada mendiang Lily.
Maya tersentak, jantungnya berdegup kencang hingga ia hanya bisa menatap punggung tegap Arkan yang kemudian menghilang di bali pintu.
...❌ Bersambung ❌...