"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Bawa aku ke apartemenmu, Jim. Kumohon... jangan ke mansion," rintih Lea dengan suara yang nyaris hilang, jemarinya mencengkeram kemeja Jimmy hingga buku-bukunya memutih.
Jimmy melirik melalui spion tengah, napasnya memburu saat melihat Lea terus gelisah di kursi belakang.
"Lea, kau dalam bahaya. Kau butuh dokter, bukan apartemen pribadiku. Ayahmu harus tahu apa yang dilakukan bajingan itu padamu!"
"Tidak! Papa tidak boleh melihatku seperti ini!" Lea berteriak dengan suara parau karena menahan gejolak yang membakar tubuhnya. "Aku malu, Jim. Aku tidak mau mama melihatku hancur begini. Kumohon, bawa aku ke tempatmu. Hanya kau yang bisa aku percaya."
Jimmy memukul kemudi dengan frustrasi. Ia tahu ini salah. Membawa putri Diego Frederick ke sarang pribadinya dalam kondisi terpengaruh obat perang-sang adalah tindakan bunuh diri.
Namun, melihat air mata Leana dan bagaimana gadis itu mulai merobek sedikit bagian gaunnya karena merasa kepanasan, pertahanan Jimmy runtuh.
"Bertahanlah. Sepuluh menit lagi," ucap Jimmy sambil menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya membelah malam menuju gedung apartemen rahasianya yang terletak jauh dari jangkauan keluarga Frederick.
Begitu sampai di apartemen, Jimmy langsung masuk tanpa sempat menyalakan lampu utama. Sementara gadis itu sudah tidak bisa menunggu lagi.
Saat Jimmy baru saja meletakkan kunci mobil ke atas meja, Lea menerjangnya dari belakang.
"Jim... panas sekali... kumohon bantu aku..." Leana memutar tubuh Jimmy, mendorong pria itu hingga punggungnya terpojok ke dinding.
Tangan mungil Leana yang biasanya manja kini bergerak liar, meraba dada bidang Jimmy, mencoba membuka kancing kemeja pria itu dengan tergesa-gesa.
"Lea, sadarlah! Ini pengaruh obat itu, ini bukan keinginanmu!" Jimmy mencoba menahan kedua pergelangan tangan Lea, namun gadis itu meronta kuat.
"Aku sadar siapa yang ada di depanku! Aku menginginkanmu, Jim! Bukan karena pengaruh obat ini!" Leana berjinjit, menyerang leher Jimmy dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut.
Napas Lea yang memburu terasa seperti api yang membakar kulit Jimmy.
Jimmy memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol.
Sebagai pria berusia tiga puluh delapan tahun yang sudah lama menahan obsesinya terhadap gadis ini, perlakuan Leana adalah siksaan paling indah sekaligus paling mengerikan.
"Kau bisa membenciku besok pagi, Lea," geram Jimmy dengan suara berat tertahan.
"Aku tidak akan membencimu. Aku mencintaimu, Jim. Please bantu aku..." Leana menarik kerah kemeja Jimmy, memaksa pria itu untuk menunduk dan membungkam bibirnya.
Ciuman itu pun meledak. Segala bentuk profesionalisme, batasan usia, dan rasa hormat pada Diego Frederick menguap begitu saja. Jimmy membalas ciuman Leana dengan rakus, seolah-olah ia sudah menunggu saat ini selama puluhan tahun.
Ia mengangkat tubuh Leana, membiarkan kaki gadis itu melingkari pinggangnya, lalu membawanya menuju kamar utama dalam kegelapan.
Di atas ranjang, kegilaan itu berlanjut. Obat yang diberikan Aaron memang bekerja dengan sangat jahat, namun cinta dan obsesi yang selama ini terpendam di antara mereka jauh lebih kuat.
Lea bergerak dengan sangat manja dan mendominasi, jemarinya menjambak rambut Jimmy saat pria itu memberikan tanda di sepanjang bahunya.
"Jim... lebih lagi..." rintih Lea, matanya yang sayu menatap Jimmy dengan penuh damba.
Jimmy berhenti sejenak, menatap wajah Leana yang bersimbah peluh dan rona merah. Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya, tatapannya kini bukan lagi tatapan seorang pengawal, melainkan seorang pria yang baru saja menyerahkan seluruh hidupnya.
"Jika aku melakukan ini, tidak akan ada jalan kembali, Lea. Kau mengerti? Kau akan terikat denganku selamanya. Bukan sebagai pengawal, tapi sebagai pria yang akan membunuh siapa pun yang menyentuhmu," bisik Jimmy seraya menahan gairah yang meluap-luap.
Leana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik wajah Jimmy kembali, menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang lebih dalam dan panas.
Itu adalah jawaban yang cukup bagi Jimmy.
Dan entah sejak kapan mereka sudah polos tanpa sehelai benang menutupi.
"Jim... sakit... rasanya aneh..." bisik Lea, air mata kecil mengintip di sudut matanya. Ia mencengkeram bahu Jimmy hingga kukunya meninggalkan bekas kemerahan.
Jimmy segera berhenti. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua lengan, menatap Lea dengan tatapan yang sangat tersiksa.
"Lea, lihat aku. Kita bisa berhenti sekarang. Aku bisa membawamu ke kamar mandi, menggunakan air dingin untuk meredam pengaruh obat itu. Aku tidak mau menyakitimu."
"Jangan... jangan pergi...lanjutkan saja." Lea menggeleng lemah, matanya yang sayu menatap Jimmy dengan penuh permohonan. "Memang rasanya sakit, tapi aku ingin kau. Jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini, Jim. Aku mohon, miliki aku seutuhnya."
"Kau masih terlalu suci untuk pria penuh dosa sepertiku, Lea! Jika aku melanjutkan ini, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri kalau kau menangis," ucap Jimmy.
"Aku menangis karena aku bahagia. Kau yang ada disini, bukan Aaron," sela Lea sambil menarik wajah Jimmy, menyatukan kening mereka. "Lakukan, Jim. Jadikan aku milikmu seutuhnya agar tidak ada lagi alasan bagi Kakek untuk menjodohkan aku."
Jimmy memejamkan mata sembari menghembuskan napas berat yang terasa panas di kulit Lea.
"Ini akan sakit sebentar, Sayang. Tapi setelah ini, aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Jimmy bergerak perlahan, sangat hati-hati, mencoba memberikan kenyamanan di tengah rasa sakit yang mulai dirasakan Lea.
Lea memejamkan mata erat, menggigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi yang merobek pertahanannya.
"Argh... Jim..." rintih Lea.
"Lihat aku, Lea. Buka matamu," perintah Jimmy dengan lembut. Ia ingin Lea tahu bahwa dialah pria yang ada di sana, bukan orang lain.
Saat akhirnya mereka menyatu Jimmy berhenti sejenak, membiarkan Lea menyesuaikan diri. Ia menciumi seluruh wajah Lea, menghapus air mata gadis itu dengan bibirnya.
"Maafkan aku, Lea, maaf," bisik Jimmy dengan penuh rasa bersalah.
"Jangan berhenti... Jim... aku mencintaimu," balas Lea manja, rasa sakitnya mulai tergantikan oleh gelombang hangat yang jauh lebih menggairahkan.
Jimmy tidak lagi menahan diri. Ia membawa Lea menuju puncak yang belum pernah gadis itu bayangkan sebelumnya.
Malam itu, Jimmy melayani setiap rengekan manja Lea, memenuhi setiap permintaan gadis itu dengan kelembutan yang mematikan. Pertahanan sang serigala dingin itu benar-benar runtuh, hancur berkeping-keping oleh hangatnya pelukan sang singa betina kecil yang selama ini ia jaga.
Jimmy tahu, esok pagi Diego mungkin akan mengarahkan moncong pistol ke kepalanya, dan Elise mungkin akan menuntut penjelasan atas kekacauan ini.
"Kau milikku, Lea. Milikku seutuhnya," gumam Jimmy di telinga Leana yang sudah mulai terlelap karena kelelahan setelah efek obatnya mereda.
Jimmy memeluk tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Untuk pertama kali selama tiga puluh delapan tahun hidupnya, Jimmy merasa memiliki rumah untuk pulang.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁