Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spill The Tea
"Apa kepalamu masih sakit?"
Senyum Sena langsung sirna. Ia menghela napas, memegangi pelipisnya. "Tidak, sih. Sudah jauh lebih baik daripada saat bangun tadi pagi."
"Habis mabuk?" Yushi menyela, dan Sena hanya mengangguk sambil tersenyum getir.
"Andy Kim," Seseorang menyentak dari belakang. Nada suaranya tampak terkejut. "Kenapa tidak bilang kalau ada tamu?"
Andy memutar kepalanya, melongo saat menemukan Eunwoo memasang ekspresi yang begitu dramatis. "Ayolah, jangan mulai," keluhnya. "Ini juga bukan masalah besar."
Sena ikutan menoleh, dan menemukan Eunwoo tersenyum manis padanya.
"Masalah besar, karena dia sangat cantik," celetuk Eunwoo, yang langsung dihadiahi dengusan kasar oleh Andy. "Hai, aku Eunwoo. Senang bertemu denganmu!" serunya, bahkan sampai membungkukkan badan 90 derajat.
"Hai," balas Sena, membungkuk balik dengan sama sopannya. "Aku Sena, senang bertemu denganmu."
Eunwoo tersenyum makin lebar, sang langsung bergabung di meja makan tanpa menunggu diundang. Dia duduk di sebelah Yushi, bertopang dagu, menatap Sena penuh kagum. Sementara yang diperhatikan malah kembali sibuk memakan dumpling. Justru Andy yang sadar betapa Eunwoo tidak mau melepaskan tatapannya dari Sena.
Andy berusaha mengabaikan Eunwoo dan Yushi, memilih kembali fokus pada Sena. "Kau mau menonton sekarang atau--"
"Oho! Kalian bersenang-senang tanpa aku, ya?" Interupsi lain datang lagi. Kali ini Mark menoleh sambil menghela napas jengah. Sungguh, sepertinya membawa Sena ke sini adalah keputusan yang buruk. Dia ingin menghabiskan waktu berdua saja, tapi lupa bahwa para member tidak akan membiarkannya tanpa memberikan gangguan lebih dulu.
"Kau repot-repot turun hanya untuk--"
"Hai, Sena!" sapa Logan, tanpa memedulikan ocehan Andy. Tanpa permisi, ia duduk di sebelah Sena, bertopang kepala.
"Hai, Logan. Aku suka rambutmu," balas Sena, seraya menunjuk rambut Logan yang kali ini berwarna ungu.
Logan tersenyum bangga, menyugar rambutnya dengan gaya sok keren.
"Terima kasih, kau manis sekali. Aku juga suka rambutmu," katanya. Dengan lembut, ia menyentuh beberapa helai rambut Sena yang tampak sehat. Sesuatu yang mustahil dia dapatkan, karena pekerjaannya sebagai idol membuatnya harus sering berganti warna rambut.
Andy terdiam menyaksikan interaksi antara Sena dan Logan yang terlalu dekat. Pikirannya menerka, apakah Logan melakukan ini hanya untuk mengganggunya, atau ia betulan menyukai Sena sampai-sampai harus menyentuh rambutnya segala. Dari tatapannya, Andy tidak yakin kalau kemungkinannya adalah yang pertama.
Sementara Sena, sebagai seseorang yang memang manis, membalas perlakuan mereka sama manisnya seperti yang dia terima. Pertanyaan soal masa kecil, hobi, dan kehidupan mereka sehari-hari setelah menjadi idol... obrolan mereka mengalir dengan mudah, dan Andy malah lebih banyak menjadi penonton. Ia hanya sesekali menyahut, menyumbang beberapa kata di dalam obrolan mereka yang didominasi oleh celetukan asal Eunwoo dan lelucon Logan.
Melalui interaksi itu, Andy meyakini bahwa teman-temannya betulan tertarik pada Sena, alih-alih hanya merasa penasaran karena ia sering menceritakan tentang gadis itu. Semuanya jelas terlihat dari cara mereka menatap Sena, juga padatnya pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepada teman masa kecilnya itu. Tapi sekali lagi, Andy tidak yakin apakah alasan mereka begitu tertarik pada Sena adalah sesimpel karena Sena memang menyenangkan, atau mereka sedang kompak mengerjainya. Kemungkinan yang mana pun, kali ini, tidak ada satu pun yang membuat Andy senang.
Jadi, Andy berdiri dan membersihkan meja makan. Keempat orang yang ada di sana masih tenggelam dalam obrolan, sampai tidak cukup peduli untuk menyadari apa yang Andy lakukan. Tawa Eunwoo sesekali pecah, disusul teriakan Logan, kemudian Yushi yang mencoba menenangkan, sementara Sena tampak menikmati apa pun yang teman-teman Andy coba tunjukkan.
"Mau ke kamarku?" tanyanya, menginterupsi obrolan yang sedang asyik-asyiknya.
Sena berhenti bicara dan mendongakkan kepala. Matanya menatap lekat Andy, sementara tiga temannya malah terkekeh pelan.
"Ya, tentu," jawabnya. Perlahan, ia bangkit dari kursi. Sebelum pergi bersama Andy, dia tersenyum pada tiga pria di meja makan, dan membungkuk sopan. "Senang mengobrol dengan kalian. Kapan-kapan kita mengobrol lagi."
"Ya, Sena." Yushi menyahut pertama kali.
"Sampai ketemu lagi, ya!" seru Logan bersemangat, sebelum akhirnya bangkit dan malah pergi lebih dulu.
Melihat kepergian Logan, Andy cuma bisa menggelengkan kepala tidak habis pikir. Sepertinya Logan memang datang ke sini hanya untuk mengacau.
"Ayo," katanya kemudian. Menuntun Sena menuju kamarnya. Itu bukanlah kamar yang mewah. Hanya sebuah kamar biasa yang tidak terlalu banyak terdapat perabotan di dalamnya. Andy memungut beberapa pakaian yang berserak di lantai, memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor di pojok kamar.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil terkekeh. Dia berbalik, menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya di sana.
"Keren. Aku belum pernah melihat kamar tidur yang sesimpel ini," sahutnya, disertai tawa renyah.
Kemudian, Sena menyusul. Dia merebahkan tubuhnya di samping Andy, matanya menatap langit-langit kamar yang polos. Beberapa saat berlalu dengan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua.
"Teman-temanmu menyenangkan," kata Sena, memecah keheningan.
Andy menoleh, memindai ekspresi di wajah Sena, hanya untuk meyakini bahwa gadis itu berbicara jujur. Bukan sekadar basa-basi semata.
"Begitu?"
Gantian Sena yang menoleh, dan tatapan mereka bertemu. Alisnya naik sebelah. "Hah?"
"Dude," kata Andy, terkekeh sebentar dan kembali menatap langit-langit. "Jelas-jelas mereka sedang berusaha menggodamu."
"Andy," Sena membalas, membuat Andy kembali menatapnya. "Mereka hanya mencoba bersikap baik padaku. Kalaupun ada tindakan mereka yang melenceng atau mencurigakan, itu mereka lakukan hanya karena ingin menggodamu."
"Entahlah," sahut Andy. "Aku merasa mereka sangat menyukaimu. Yah ... biar bagaimanapun, mereka bertiga masih jomblo. If you know what I mean."
"Wah...." Sena terperangah, kemudian terkekeh. "Kalaupun benar begitu, tidak masalah juga. Aku tidak sedang ingin menjalin hubungan dengan siapa pun, jadi ya ... tidak perlu pusing. Lagi pula, aku tidak ingin membuatmu menjadi canggung."
"Ha ... kau benar." Andy menganggukkan kepala, dan tertawa pelan.
"Adakah selain Jeremy yang sudah punya pacar?" tanya Sena, mendadak penasaran. Dia tahu betapa kontroversialnya topik soal dating ini di kalangan para idol K-Pop, jadi dia penasaran kira-kira sebanyak apa hubungan backstreet yang dijalani hanya agar tidak membuat para fans menggila.
Andy bergumam pelan. "Ada beberapa, sih. Dohyun punya. Hankyung punya, bahkan Gunwoo pun punya. Sejauh ini sih, cuma itu yang aku tahu."
"Jadi, hanya sebagian kecil saja member yang punya pacar? Wah..."
"Kenapa reaksimu begitu? Kau berharap semua orang di grupku punya pacar?"
Sena tertawa kecil dan menggelengkan kepala. "Bukan. Aku hanya tidak menyangka, karena kadang-kadang kau bertingkah seperti seseorang yang sudah berpengalaman dalam urusan asmara."
Andy terbahak, tidak menyangka Sena punya pikiran seperti itu terhadap dirinya. "Berpengalaman? Yang benar saja," katanya sambil menepuk paha Sena.
"Sungguh. Terkadang kau--dan yang lain--terlihat seperti sedang berburu para gadis."
Andy tak kuasa menahan tawa atas kejujuran Sena. Tidak seperti dirinya yang lebih banyak berpikir dulu sebelum bicara, Sena memang cenderung ceplas-ceplos kala mengeluarkan isi pikirannya. Sesuatu yang bagus, menurutnya. Karena itu adalah salah satu alasan dia menyukai gadis ini.
"Ya ... Mereka bukannya tidak pernah pacaran, sih," kata Andy. Dia mendekat pada Sena, menangkupkan tangannya untuk membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "Tapi dari mereka semua, cuma Jeremy dan Dohyun yang menjalin hubungan serius."
"Jadi maksudmu, yang lain hanya senang bermain-main?"
Mata Andy melebar, sebelum tawanya kembali pecah. "Pemilihan katamu membuat mereka jadi tampak buruk, Lara. Tapi benar, mereka kadang hanya menjalin hubungan semalam, lalu tidak melanjutkannya lagi. Tidak sering, hanya sesekali."
"Wah..." Sena tampak takjub. "Mantap. Sekarang aku jadi tahu rahasia di balik gemerlap dunia hiburan. Ada untungnya juga berteman dengan seorang idol," lanjutnya seraya tersenyum miring.
Andy menaikkan sebelah alisnya, sudut bibir terangkat sedikit. "Kau mau tahu lebih banyak?"
Sena mengangguk tanpa ragu. "Ya," sahutnya.
"...oke. Apa yang ingin kau ketahui?"
Bersambung....