NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dominasi yang Tak Terbantahkan

Begitu pintu aula rapat terbuka, suara riuh langsung menghantam indra pendengaran. Koridor utama gedung rektorat sudah terbelah menjadi dua kubu yang dipisahkan oleh barikade tipis tim keamanan.

Di sisi kiri, kelompok Pro-Emmerson yang didominasi mahasiswa jalur prestasi elit dan penerima beasiswa penuh—mengenakan almamater rapi dengan wajah angkuh—mulai meneriakkan protes.

"Jaga marwah Emmerson! Jangan rendahkan standar beasiswa kami!" teriak salah satu orator dari kubu Pro-Emmerson. "Every, lo mau bikin ijazah kita nggak laku ya?!"

Axel melangkah keluar di samping Every, menyunggingkan senyum kemenangan melihat dukungan untuknya. "Lihat, Every? Suara mayoritas nggak bisa lo beli pake nama besar keluarga Riana. Mereka tahu apa yang terbaik buat masa depan mereka."

Every tidak gentar. Ia berdiri di undakan tangga teratas, menatap massa di bawahnya dengan tatapan meremehkan yang sudah menjadi ciri khasnya. "Mayoritas? Atau cuma sekumpulan orang yang takut bersaing kalau lapangannya dibuat rata?"

Tiba-tiba, dari arah gerbang samping, seruan yang lebih keras dan kasar membungkam kubu elit.

Itu adalah kelompok Anti-BEM, mahasiswa yang biasanya tidak peduli organisasi, anak-anak teknik yang baju almamaternya penuh noda oli, dan mereka yang sering terlihat bekerja paruh waktu di kantin atau menjadi kurir.

"MAJU TERUS, PREZ!" teriak salah satu mahasiswa dari kubu Anti-BEM. "KITA BUKAN ROBOT! KITA MANUSIA!"

Suasana memanas. Dua kubu ini hampir bersinggungan fisik kalau saja River tidak segera maju dan berdiri tepat di depan Every, menghalangi massa yang mulai merangsek naik.

"Every Riana! Lo pikir lo siapa bisa ngubah aturan yang udah ada sejak universitas ini berdiri?!" teriak seorang mahasiswa Pro-Emmerson, mencoba melempar selebaran ke arah Every.

Every maju satu langkah, melewati River, dan merebut megafon dari tangan Recha.

"Siapa gue?" suara Every menggelegar melalui pengeras suara, tenang namun mematikan. "Gue adalah orang yang bakal pastiin kalau universitas ini nggak cuma jadi tempat pamer kekayaan orang tua kalian! Kalian yang teriak soal 'standar', apa kalian pernah belajar di bawah lampu jalan karena listrik kosan lo diputus? Apa kalian pernah ujian sambil nahan laper karena uang kiriman belum datang?!"

Kubu Pro-Emmerson terdiam sejenak.

"ENGGAK PERNAH, KAN?!" Every melanjutkan, suaranya makin tajam. "Kalian cuma takut kalau 'perjuangan hidup' masuk dalam penilaian, kalian yang cuma bisa belajar di perpus ber-AC bakal kalah telak sama mereka yang punya mental baja di jalanan!"

"BOHONG! Lo cuma cari muka buat pencitraan politik keluarga Riana!" balas orator Pro-Emmerson.

"Pencitraan?" Every tertawa sinis, menunjuk ke arah kubu Anti-BEM yang kini bersorak mendukungnya. "Tanya mereka! Apa mereka peduli sama politik keluarga gue? Enggak! Mereka cuma peduli sama hak mereka buat tetep kuliah tanpa harus ngerasa rendah diri cuma karena IPK mereka selisih nol koma sekian!"

Axel mencoba meraih tangan Every untuk menariknya kembali ke dalam. "Every, stop! Lo bikin kerusuhan!"

Namun sebelum tangan Axel menyentuh Every, River sudah mencengkeram pergelangan tangan Axel dengan kuat. "Jangan sentuh dia kalau lo masih sayang sama tangan lo, Emmerson."

River berdiri dengan gagah, menatap massa dari kedua kubu dengan tatapan predator. "Dengerin semua! Siapa pun yang berani maju satu langkah lagi ke tangga ini, bakal berurusan sama divisi keamanan. Gue nggak peduli lo anak menteri atau anak tukang cuci, di aspal ini... aturan gue yang berlaku!"

Kehadiran River yang mengancam membuat massa Pro-Emmerson sedikit ciut. Sementara itu, Every menoleh pada Axel yang masih diringkus oleh River.

"Lihat, Axel. Ini realitanya," bisik Every, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Axel yang pucat karena amarah dan rasa sakit di pergelangan tangannya. "Lo punya yayasan, tapi gue punya massa yang sadar kalau mereka sedang ditindas. Dan River? Dia punya kekuatan buat pastiin lo nggak bisa ngapa-ngapain sekarang."

Every berbalik kembali ke arah massa, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "PROPOSAL 'RESILIENCE' TETAP JALAN! SIAPA PUN YANG MAU PROTES, TEMUI GUE DI RUANG SIDANG YAYASAN BESOK PAGI! SEKARANG, BUBAR!"

Every berjalan menembus kerumunan mahasiswa Anti-BEM yang membuka jalan untuknya dengan rasa hormat yang baru. River mengikuti di belakangnya, memastikan tidak ada satu pun mahasiswa Pro-Emmerson yang berani mendekat.

"Lo bener-bener gila, Eve," gumam River saat mereka sudah agak menjauh dari kerumunan, nada bicaranya antara kesal dan kagum.

"Gue nggak gila, River. Gue cuma sedang melakukan apa yang harus dilakukan seorang Riana," balas Every, gengsinya tetap setinggi langit meski jantungnya berdebar kencang akibat adrenalin. "Dan lo... jangan pikir bantuan lo barusan bakal bikin gue luluh."

"Gue nggak butuh lo luluh," River menyeringai, menarik Every masuk ke dalam jip hitamnya yang terparkir di dekat lobi. "Gue cuma butuh lo tetep seberingas ini pas kita berhadapan sama ayah Axel besok."

......................

River membanting pintu jip hitamnya, mengunci Every dalam ruang kabin yang berbau kulit dan maskulin.

Napas Every masih memburu, amarahnya dari podium rapat tadi belum benar-benar surut, dan kini ditambah rasa kesal karena ia baru saja harus "memanjat" kursi penumpang yang tingginya tidak masuk akal bagi seorang wanita yang memakai rok kerja.

"Demi Tuhan, River! Lo punya dendam apa sih sama tinggi manusia normal?!" bentak Every sambil berusaha merapikan rok flare-nya yang tersingkap. "Naik motor kayak manjat tebing, naik jip kayak naik truk kontainer. Kenapa lo nggak bisa punya satu pun kendaraan yang manusiawi?!"

River hanya mendengus, ia masuk ke kursi kemudi dengan gerakan yang jauh lebih luwes. "Bukan kendaraan gue yang nggak manusiawi, Every. Gengsi lo yang ketinggian buat minta tolong. Kalau lo nggak sanggup naik, ya bilang. Jangan malah nyalahin suspensi jip gue."

"Gue sanggup! Gue cuma nggak suka dipaksa akrobat setiap kali harus pergi sama lo!" Every membuang muka ke arah jendela, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.

River tidak segera menyalakan mesin. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke arah Every. Ruang kabin yang sempit itu mendadak terasa sesak.

"Apa lagi?" ketus Every, namun suaranya mengecil saat wajah River hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

"Pakai seatbelt lo, Madam President," bisik River.

Bukannya membiarkan Every melakukannya sendiri, River justru menarik sabuk pengaman dari balik bahu Every. Tangannya bergerak melewati depan tubuh Every, sangat dekat hingga Every bisa merasakan panas tubuh pria itu.

Every terdiam. Matanya tanpa sengaja jatuh pada lengan bawah River yang kini berada tepat di depannya.

Di bawah lampu jalan yang remang, urat-urat di tangan River terlihat menonjol dengan jelas saat ia menarik sabuk yang kaku itu.

Kulitnya yang kecokelatan berpadu dengan tato hitam pekat yang melilit dari pergelangan hingga ke siku. Ada kesan liar dan kuat yang tak bisa dibantah.

Sial, kenapa tangan itu harus terlihat sebagus itu? Every membatin, ia menelan ludah, berusaha keras agar matanya tidak tertangkap sedang mengagumi detil fisik pria yang baru saja ia maki.

Klik.

"Udah," ujar River, suaranya berat dan rendah. Ia tidak langsung menjauh, melainkan tetap dalam posisi itu, menatap mata Every yang terlihat goyah. "Lo kenapa? Tiba-tiba diem. Biasanya mulut lo kayak senapan mesin."

"Gue... gue cuma capek. Rapat tadi itu menguras energi," Every berdalih, mengalihkan pandangannya dari lengan River kembali ke arah jendela. "Dan jangan deket-deket, River. Oksigen di sini jadi tipis."

River menyeringai, ia menyadari arah pandangan Every tadi. Ia sengaja meletakkan tangannya di atas kemudi, membiarkan urat tangannya tetap menonjol dengan jelas. "Oksigennya tipis atau lo yang nggak bisa napas karena deket sama gue?"

"Jangan kepedean!" Every menyentak bahu River agar menjauh. "Jalanin jipnya sekarang. Gue mau pulang."

"Gue bakal jalan kalau lo berhenti liatin tangan gue seolah lo mau gigit tangan itu," goda River sambil menginjak pedal gas, membuat jip itu melesat membelah malam.

"Gue nggak liatin tangan lo! Gue liat tato lo... tatonya jelek," bohong Every, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi debaran jantungnya yang kian liar.

"Jelek ya?" River tertawa, tawa yang terdengar sangat puas. "Nanti gue kasih lihat versi lebih 'bagusnya' kalau kita sudah sampai. Untuk sekarang, duduk manis dan nikmati 'ketinggian' kendaraan gue ini, Every Riana."

Every melipat tangan di dada, membuang muka, mencoba mengabaikan gemuruh di dadanya yang lebih berisik daripada mesin jip River yang menderu di bawah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!