NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Ambisi yang Menyatu

​Gema interogasi yang menyesakkan di meja Ella hari itu perlahan mereda, namun meninggalkan bekas yang dalam bagi siapa pun yang mendengarnya. Di tengah himpitan dua pria yang menuntut penjelasan dengan ego yang membumbung tinggi, Ella memberikan jawaban yang begitu polos sekaligus telak, seperti siraman air es di tengah kobaran api yang sedang memuncak.

​"Dicium? Kenapa kalian bereaksi seheboh itu?" Ella bertanya dengan dahi berkerut, menatap Wawan dan Rizki secara bergantian dengan tatapan heran. "Aji itu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Waktu kita masih di kelas sepuluh, saat hampir semua orang sibuk menjadikanku bahan olokan dan memandang rendah aku, cuma Aji yang mau duduk di sampingku dan mengajariku tanpa sedikit pun menghina fisik atau latar belakang keluargaku. Aku mengagumi kepintarannya, aku menghormati kebaikannya, tapi tidak lebih dari itu. Dia adalah mentorku."

​Mendengar pengakuan jujur itu, Rizki dan Wawan seketika terdiam. Ada rasa malu yang menjalar di wajah mereka yang tadinya penuh emosi. Mereka merasa bodoh karena telah membiarkan cemburu buta menguasai akal sehat terhadap sosok yang bagi Ella hanyalah sebuah mercusuar ilmu. Namun, meski rasa cemburu itu sedikit mereda, kalimat provokatif Aji sebelum pergi tetap terngiang-ngiang di kepala mereka seperti alarm bahaya yang tak kunjung mati: 'Apa kalian sanggup menyusulnya? Atau kalian hanya akan jadi beban yang menahan sayapnya untuk terbang tinggi?'

​Kalimat itu menjadi titik balik yang tak terduga. Sejak hari itu, dinamika di kelas XII IPA 1 berubah total secara drastis dalam waktu singkat.

​Bulan-bulan menuju Ujian Nasional yang biasanya diisi dengan drama perebutan perhatian atau sindiran pedas, kini berganti menjadi suasana kompetisi intelektual yang sehat namun sangat intens. Rizki, sang ketua kelas populer yang biasanya lebih sering terlihat mendominasi lapangan basket dengan sorak-sorai para penggemar fanatiknya, kini mulai jarang terlihat memegang bola. Ia lebih sering menghabiskan waktu di sudut perpustakaan yang paling sunyi, berkutat dengan tumpukan buku latihan soal setebal bantal. Gengsi dan harga dirinya kini ia pertaruhkan bukan lagi untuk popularitas semu, melainkan untuk sebuah nilai yang layak agar ia tetap bisa bersanding dengan Ella di jenjang berikutnya.

​Perubahan yang paling mengejutkan datang dari Wawan. Si pelucu yang biasanya hanya membawa satu lembar kertas yang dilipat sembarangan di saku belakang celananya itu, kini mulai menunjukkan sisi yang tidak pernah dibayangkan siapa pun. Ia tidak lagi mengganggu Ella dengan gombalan-gombalan receh di tengah jam pelajaran biologi yang krusial. Wawan memberikan Ella ruang yang luas untuk bernapas dan fokus pada ambisinya.

​Sementara itu, di bangku paling belakang, Wawan berjuang dengan dunianya sendiri. Seringkali teman-temannya melihat Wawan memijat keningnya dengan frustrasi, berhadapan dengan soal-soal kalkulus dan hukum fisika yang selama ini ia abaikan begitu saja. Wawan membuktikan bahwa cinta bukan hanya soal kata-kata manis atau aksi sok jagoan, tapi soal kemauan untuk mengubah kemalasan menjadi perjuangan yang berdarah-darah demi masa depan yang lebih jelas.

​Dukungan yang mereka berikan kepada Ella tidak lagi berupa tarikan tangan yang kasar atau klaim kepemilikan di kantin. Mereka mendukung Ella dalam bentuk ketenangan. Sesekali, tanpa sepatah kata pun, Wawan akan menaruh sebatang cokelat hitam atau botol vitamin di meja Ella saat gadis itu sedang fokus belajar, lalu ia akan kembali ke bangkunya tanpa menunggu ucapan terima kasih. Rizki pun hanya akan memberikan senyum tipis penuh semangat dari kejauhan, sebuah isyarat kedewasaan bahwa ia menghargai perjuangan Ella.

​Hari yang mendebarkan itu pun tiba: Pengumuman Nilai Kelulusan.

​Suasana aula SMA Garuda sangat riuh, dipenuhi oleh ratusan siswa yang berdebar menanti nasib mereka. Ella berdiri di barisan depan dengan ketenangan yang anggun. Saat namanya dipanggil sebagai peraih nilai tertinggi se-kabupaten, ia tidak lagi berjalan menunduk atau merasa malu dengan kulit cokelatnya. Ella melangkah maju dengan kepala tegak, wajahnya bersinar tanpa kacamata hitam yang dulu menjadi perisai rasa mindernya. Ia menerima lembar kertas nilai dengan senyum bangga, menyadari bahwa dirinya berharga karena apa yang ada di dalam kepalanya.

​Namun, kejutan yang sebenarnya baru saja dimulai saat Kepala Sekolah mengumumkan daftar sepuluh besar nilai terbaik di sekolah.

​"Peringkat ketiga... Rizki Pratama dari XII IPA 1."

​Aula bergemuruh oleh tepuk tangan. Rizki menarik napas lega, sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Namun, pengumuman selanjutnya membuat seisi aula terdiam sejenak sebelum meledak dalam sorakan yang lebih keras.

​"Peringkat kedelapan... Wawan Kurniawan dari XII IPA 1."

​Ella menoleh ke arah belakang dengan mata yang berbinar-binar, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Wawan langsung melompat girang, melakukan selebrasi konyol sambil memeluk teman-temannya, sementara Rizki hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang sarat akan kelelahan setelah berbulan-bulan kurang tidur, namun penuh dengan rasa puas yang luar biasa.

​Setelah acara selesai, mereka bertiga bertemu di koridor sekolah yang mulai sepi, tempat di mana dulu begitu banyak konflik dan ketegangan terjadi. Namun kali ini, tidak ada lagi tarikan tangan yang kasar, tidak ada lagi tatapan penuh dendam.

​"Selamat, La. Kamu memang tidak terkalahkan. Kamu berada di level yang berbeda dari kami semua," ucap Rizki tulus. Ia terlihat jauh lebih dewasa dengan kemeja seragam yang rapi dan aura yang lebih tenang. "Tapi setidaknya, nilaiku sekarang cukup untuk menembus universitas negeri yang sama denganmu. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian di kampus nanti."

​Wawan ikut mendekat, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Nilaiku memang tidak setinggi Rizki yang ambisius ini, tapi untungnya masih cukup kuat untuk masuk di universitas yang sama, meski aku di fakultas hukum dan kamu di kedokteran atau sains. Kamu harus bersiap-siap, La. Karena di kampus nanti, aku akan tetap jadi 'satpam' pribadimu yang paling berisik dan paling setia menjaga dari cowok-cowok seperti Rizki."

​Mendengar namanya disebut sebagai ancaman, Rizki mendelik tajam ke arah Wawan. Tatapan "ketua kelas" miliknya kembali muncul dengan sorot mata yang seolah ingin memprotes namun tertahan oleh suasana bahagia hari itu.

​Ella tertawa—sebuah suara tawa yang sangat lepas, cantik, dan penuh kebahagiaan. Ia menatap dua pria di hadapannya dengan tatapan penuh penghargaan. Yang satu telah membuang gengsi dan popularitasnya demi menjadi lebih baik, dan yang satu lagi telah membuktikan bahwa cinta sejati bisa mengubah seorang berandalan menjadi pejuang masa depan yang berambisi.

​"Terima kasih ya, kalian berdua," ujar Ella lembut, suaranya sedikit bergetar karena haru. "Karena kalian, aku jadi tahu bahwa aku tidak perlu terbang jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk merasa berharga. Kalian telah menjadikanku 'cahaya' bahkan sebelum aku menyadarinya."

​Di bawah langit kelulusan yang cerah dan berwarna biru tanpa awan, Ella merasa dunianya benar-benar baru saja dimulai. Musim sekolah memang telah berakhir, namun sebuah babak baru di universitas sudah menanti mereka. Dan kali ini, Ella tidak keberatan sama sekali jika harus berbagi masa depan dengan dua orang yang telah mengubah hidupnya dari seorang kutu buku yang tersembunyi menjadi wanita yang penuh percaya diri.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!