Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kopi asin untuk asisten polos tuan galang
Fiora melihat OB kantor sedang sibuk di pantry. Dengan gerakan anggun namun penuh maksud, ia menghampiri meja pantry tersebut.
"Buat kopi buat siapa, Mas?" tanya Fiora sambil bersandar di pintu.
"Buat Pak Bos, Ce," jawab si OB sopan.
"Ohhh... sama siapa? Sama asistennya juga ya?" tanya Fiora lagi dengan nada menyelidik.
"Iya, Ce. Pak Galang minta dua."
Fiora langsung mengambil alih sendok dari tangan si OB. "Sini, biar saya saja yang buat. Kamu kok mau saja disuruh buat kopi, mending kamu bersihin ruangan sebelah saja terus istirahat. Biar urusan Pak Bos, saya yang tangani."
"Baik, Ce. Terima kasih," jawab OB itu yang merasa terbantu, lalu segera pergi.
Fiora tersenyum sinis sambil menatap dua cangkir di depannya. Di tangannya sudah ada dua jenis kopi: satu kopi hitam tanpa gula yang sangat pahit untuk Galang (sesuai kesukaannya yang kaku), dan satu lagi kopi yang sudah ia beri "bumbu" khusus untuk Mira.
Gue kasih garam dikit biar makin gurih hidup lo, Mira, batin Fiora sambil tertawa kecil.
Fiora kemudian membawa nampan itu masuk ke ruangan Galang dengan wajah paling manis yang bisa ia buat.
"Pagi Pak Bos, pagi Mbak Mira... Ini kopinya, spesial saya sendiri yang buat sebagai bentuk dedikasi sekretaris dan tunangan yang baik," ucap Fiora sambil meletakkan cangkir itu dengan sangat sopan.
Galang mendongak, sedikit terkejut. "Tumben kamu yang buat?"
"Iya dong, biar Mas OB bisa fokus kerja yang lain. Silakan diminum, Mbak Mira. Harus habis ya, jangan sampai tumpah lagi kayak kemarin," ujar Fiora sambil menatap Mira dengan tatapan menantang.
Mira yang merasa tidak enak hati langsung memegang cangkir itu. "Terima kasih, Cece Fiora..."
Fiora berdiri di sana, melipat tangan di dada, menunggu saat yang tepat ketika Mira menyesap kopi asin buatannya di depan Galang.
"Byurrr!" Mira langsung memuntahkan kopi itu kembali ke cangkirnya dengan wajah berkerut drastis. "Emhh... asinnn!"
Fiora langsung menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut padahal di dalam hati ia sedang tertawa puas. "Lho, kok dimuntahin sih Mbak Mira? Nggak enak ya? Padahal itu kopi mahal lho, impor dari luar negeri."
"Kok asin, Ce?" tanya Mira sambil terbatuk kecil, matanya mulai berkaca-kaca menatap Galang, mencari simpati seperti biasa.
Fiora mengerutkan dahi dengan ekspresi paling polos sedunia. "Lah, kok bisa ya? Mana mungkin! Saya ini sudah biasa bikin kopi buat Papa saya di rumah. Masa Mbak Mira bilang asin?"
Galang yang sejak tadi memperhatikan dengan dahi berkerut, mulai merasa ada yang tidak beres. Ia menatap cangkir Mira, lalu menatap Fiora dengan curiga.
"Coba Pak Bos, diminum punya Mbak Mira. Takutnya lidah Mbak Mira aja yang lagi nggak enak atau sakit," tantang Fiora dengan nada tenang, sangat yakin Galang tidak akan sudi mencicipi bekas orang lain.
"Fiora, kamu jangan macam-macam," tegur Galang dingin.
"Ih, kok nuduh gitu sih Pak Bos? Kalau nggak percaya, coba aja sendiri. Sini, biar saya yang coba kalau Pak Bos nggak mau," Fiora berpura-pura hendak mengambil cangkir Mira, namun ia tahu Galang tipe orang yang perfeksionis dan sangat higienis.
Fiora tersenyum manis dalam hati, ia tahu "bumbu" garam yang ia masukkan tadi cukup banyak untuk membuat pagi Mira berantakan. Ini baru permulaan dari rencana-rencana kecil Fiora untuk menunjukkan bahwa asisten baru Galang ini hanyalah benalu yang merepotkan.
Galang menghela napas panjang, lalu menarik lengan Fiora dengan tegas untuk keluar dari ruangan agar tidak terdengar oleh Mira. Ia membawa Fiora ke sudut koridor yang sepi.
"Fiora, kamu sebenarnya mau apa dari saya?" tanya Galang dengan nada suara yang tertahan, matanya menatap tajam mencari kejujuran di mata tunangannya itu.
Fiora justru tersenyum manis, mendekatkan wajahnya ke arah Galang tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya mau Bapak," jawab Fiora tanpa dosa, suaranya terdengar sangat santai tapi penuh tekad.
Galang membuang muka sejenak sambil memijat pangkal hidungnya. "Dasar gadis ini... benar-benar tidak bisa ditebak."
"Dengar ya, Fiora. Kamu jangan suka berbuat jahil pada Mira. Dia di sini sendirian, tidak punya keluarga, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Jangan menambah bebannya dengan tingkah konyolmu," tegas Galang, berusaha membela asisten barunya itu.
Fiora melipat tangannya di depan dada, tawanya pecah seketika namun terdengar sangat elegan. "Ohhh... ya jelas saya jahil, Pak Bos. Karena dia berani dekat-dekat dengan tunangan saya! Jadi, selama dia masih ada di sekitar kamu dengan akting 'gadis malang' itu, jangan harap saya akan diam saja."
Fiora melangkah pergi dengan gaya catwalk yang memukau, meninggalkan Galang yang terdiam kaku. Di kejauhan, The Circle (Jojo dan Vanya) sudah mengamati dari balik pilar dengan kamera ponsel siap merekam .
"Gais, target mulai masuk perangkap. Galang udah mulai kepancing emosinya," bisik Jojo ke arah Vanya sambil terus memantau situasi di kantor Dirgantara Group