NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:109.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berita Itu Menyebar

Semalam, ketika Sekte Bukit Bintang mulai tenggelam dalam kesunyian malam, sebuah kabar justru menyebar seperti api yang menjilat jerami kering. Awalnya hanya bisikan pelan di antara murid jaga malam, lalu merambat hingga mencapai telinga para tetua dan murid-murid lainnya.

Kabar itu sederhana, namun mengguncang. Usia asli Gao Rui sudah dipastikan.

Banyak yang selama ini berspekulasi. Beberapa menduga ia menyembunyikan umur aslinya dengan teknik tertentu. Ada pula yang berbisik seseorang yang menggunakan metode rahasia untuk memalsukan penampilannya. Bagaimanapun juga, apa yang ia tunjukkan di arena kompetisi terlalu tidak masuk akal bagi bocah tiga belas tahun.

Namun malam itu, semua spekulasi dipatahkan. Patriak Sekte Bukit Bintang sendiri turun tangan. Bersama Tetua Agung, ia memeriksa usia tulang Gao Rui. Tidak ada kesalahan. Tidak ada rekayasa. Gao Rui benar-benar berusia tiga belas tahun.

Keputusan itu diumumkan secara resmi, disahkan oleh otoritas tertinggi sekte. Tidak ada ruang untuk bantahan. Gao Rui adalah juara kompetisi beladiri murid sekte yang sah.

Di situlah, kehebohan benar-benar meledak. Di aula makan murid, di lorong-lorong batu, di halaman latihan, bahkan di depan kediaman para tetua, orang-orang membicarakan satu nama yang sama. Nada suara mereka beragam, kagum, takut, iri, tidak percaya namun isinya satu.

“Bocah itu… benar-benar tiga belas tahun.”

“Jadi dia benar-benar bukan pendekar aliran hitam yang menyamar.”

“Tidak mungkin. Di usia itu, aku bahkan belum bisa mengendalikan energi dengan stabil.”

“Pendekar Raja… usia tiga belas… Ini gila...”

Sebagian murid duduk termenung, memandangi tangan mereka sendiri, seolah baru menyadari betapa kecilnya pencapaian mereka selama ini. Beberapa murid yang sebelumnya merasa berada di puncak, kini wajahnya muram. Ada yang tertawa kering, ada yang menggertakkan gigi.

Ranah Pendekar Raja di usia semuda ini. Itu bukan ranah yang bisa dicapai dengan kerja keras semata. Di Kekaisaran Zhou, ranah itu adalah simbol. Simbol kekuatan, simbol fondasi yang sempurna, simbol seseorang yang ditakdirkan untuk berdiri di atas. Kini, simbol itu dimiliki oleh seorang bocah.

Lebih gila lagi, para tetua tidak bisa menyangkal satu fakta yang lebih mengerikan. Gao Rui bukan hanya Pendekar Raja biasa. Ia adalah seseorang yang mampu bertahan dari serangan seorang Pendekar Suci. Pembicaraan tentang hal itu menyebar dengan cepat, berubah menjadi cerita yang dibesar-besarkan seiring berpindah dari mulut ke mulut.

“Aku benar-benar melihat dia tidak hanya bertahan, tapi berhasil melawan.”

“Ada yang bilang ia bahkan tidak runtuh sepenuhnya.”

“Pendekar Suci, kau tahu itu apa artinya? Itu berarti Gao Rui bisa menahan perbedaan kekuatan satu ranah di atasnya.”

Beberapa orang menyebutnya mustahil. Beberapa menyebutnya mukjizat. Beberapa yang lebih berpengalaman… justru merasa dingin di punggung mereka.

Di seluruh sejarah Kekaisaran Zhou, tidak pernah ada satu pun catatan tentang seorang bocah belasan tahun yang berhasil menembus ranah Pendekar Raja. Bahkan mereka yang dikenal sebagai monster bakat di masa lalu, setidaknya baru mencapai ranah itu di usia dua puluh atau tiga puluh tahun.

Gao Rui adalah yang pertama. Sebuah anomali. Sebuah keberadaan yang berbahaya. Di Paviliun Tetua, suasana jauh lebih berat. Para tetua senior duduk dengan wajah serius. Tidak ada lagi perdebatan tentang keabsahan usia. Itu sudah dipastikan. Yang menjadi pembahasan kini adalah implikasinya.

“Jika kabar ini menyebar keluar sekte…” salah satu tetua membuka suara dengan nada rendah, “…Sekte Bukit Bintang akan berada dalam sorotan.”

“Bukan hanya sorotan,” Tetua Agung menyahut pelan. “Akan ada pihak yang ingin merebutnya. Atau… menghilangkannya.”

Patriak sekte mengusap janggutnya perlahan. Tatapannya tajam, namun dalam. “Itulah mengapa kita harus bersikap tegas. Gao Rui adalah murid sekte ini. Selama ia berada di bawah bendera Bukit Bintang, siapa pun yang menyentuhnya, berarti menantang kita.”

Tidak semua tetua terlihat lega. Beberapa justru semakin gelisah. Bakat seperti itu… adalah anugerah sekaligus bencana.

Sementara itu, pagi ini, di luar semua kehebohan itu, Gao Rui justru tidak mau tahu. Ia sedang sibuk berlatih.

Di sudut sunyi sekte, napasnya teratur, pedangnya bergerak dengan ritme yang tenang. Setiap tebasan sederhana, tanpa teknik mencolok, namun penuh ketepatan. Energi dalamnya mengalir stabil, padat, terkendali.

Ia tidak mendengar bisikan-bisikan itu. Atau mungkin… ia mendengarnya, namun tidak peduli. Baginya, dunia selalu seperti ini. Hari ini orang memujanya. Besok, mungkin mereka menginginkan kepalanya.

Ia sudah belajar satu hal dari hidupnya yang singkat namun keras, penilaian dunia tidak pernah tetap. Yang tetap hanyalah jalannya sendiri.

Di tengah aliran napas yang teratur itu, sebuah sensasi samar menyentuh kesadaran Gao Rui. Bukan niat membunuh. Bukan pula tekanan yang menekan jiwanya. Melainkan… tatapan. Tenang, dalam, dan sangat terkontrol.

Gerakan pedangnya sedikit melambat. Bukan karena terkejut, melainkan karena ia sudah mengenali jenis kehadiran seperti itu. Tatapan yang tidak berusaha disembunyikan, namun juga tidak berniat mengganggu. Tatapan seseorang yang berada jauh di atasnya.

Gao Rui menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak menoleh. Tidak gegabah. Ia hanya mempercepat rangkaian terakhir latihannya, menyempurnakan satu set gerakan dasar, lalu menghentikan pedangnya dengan rapi.

Pedang itu kembali ke sarungnya tanpa suara. Baru setelah itu, ia berbalik.

Di balik batang pohon pinus tua, seorang pria tua berdiri dengan tangan disilangkan di belakang punggungnya. Jubahnya sederhana, namun garis emas di tepinya memperlihatkan status yang tidak mungkin salah. Rambutnya memutih, wajahnya berkerut, namun matanya jernih seperti danau di pegunungan. Itu adalah Tetua Agung Sekte Bukit Bintang, Xu Qung.

Begitu melihat sosok itu dengan jelas, Gao Rui segera melangkah maju dua langkah, menangkupkan kedua tangan, lalu membungkuk dalam.

“Hormat murid kepada Tetua Agung.”

Xu Qung mengangguk pelan. Tidak ada senyum, namun juga tidak ada jarak dingin. Tatapannya menyapu tubuh Gao Rui, dari postur berdirinya, pernapasannya, hingga ketenangan di balik matanya.

“Kau menyadarinya cukup cepat,” ujar Xu Qung dengan suara datar. “Bahkan sebelum aku sepenuhnya melepaskan auraku.”

Gao Rui menunduk sedikit lebih dalam.

“Murid hanya beruntung.”

Xu Qung tidak menanggapi kalimat itu. Ia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di depan Gao Rui.

“Bagaimana keadaanmu,” tanyanya kemudian, “setelah gurumu pergi?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun Gao Rui tahu, di balik kalimat pendek itu, ada perhatian yang tulus. Ia terdiam sejenak, seolah memilih kata.

“Awalnya… terasa kosong,” jawabnya jujur. “Namun aku mengerti. Guru memiliki jalannya sendiri. Aku hanya perlu memastikan tidak menyimpang dari jalur yang telah ia tunjukkan.”

Xu Qung memandangnya lebih lama kali ini. Ada kilatan tipis di matanya, sulit dibaca apakah itu kepuasan atau keprihatinan.

“Kau masih terlalu muda untuk memikul hal-hal seperti ini sendirian,” katanya perlahan. “Namun aku tahu, kau bukan bocah biasa.”

Ia menghela napas pendek, lalu melanjutkan,

“Rui’er, kau tidak sendirian di Sekte Bukit Bintang. Selama kau berada di sini, ada aku. Ada patriak sekte. Ada para tetua lainnya. Jangan pernah berpikir bahwa kau harus menanggung semuanya sendiri.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada menghibur berlebihan. Tidak ada janji manis. Namun justru karena itulah, bobotnya terasa berat dan nyata.

Gao Rui mengangguk pelan. Tidak ada air mata. Tidak ada emosi meledak. Hanya penerimaan.

“Terima kasih, Tetua Agung,” ujarnya singkat.

Xu Qung mengamati reaksi itu, lalu mengalihkan pandangannya ke halaman latihan yang sunyi.

“Aku ke sini bukan hanya untuk melihatmu berlatih.”

Ia kembali menatap Gao Rui.

“Aku datang atas perintah Patriak Sekte.”

Alis Gao Rui sedikit terangkat, namun ia tetap diam.

“Patriak Li Xuang memintaku menjemputmu,” lanjut Xu Qung. “Sebagai juara kompetisi beladiri murid sekte, ia berniat memberikan hadiah secara langsung.”

Ucapan itu jatuh dengan tenang, namun dampaknya tidak kecil. Hadiah kompetisi.

Bagi murid biasa, itu mungkin sekadar pil, senjata, atau sumber daya. Namun jika diberikan langsung oleh Patriak Sekte… artinya berbeda.

Gao Rui menangkupkan tangan sekali lagi.

“Murid akan mengikuti perintah Tetua Agung.”

Xu Qung mengangguk puas.

“Baik. Bersiaplah. Kita tidak akan membuat Patriak menunggu lama.”

Ia berbalik lebih dulu, langkahnya mantap namun tanpa suara, seolah tanah di bawah kakinya tidak pernah benar-benar tersentuh. Gao Rui menatap punggung Tetua Agung itu sejenak, lalu memandang kembali ke halaman latihan yang baru saja ia tinggalkan.

Di tempat sunyi itu, di mana ia mengayunkan pedang tanpa sorakan, tanpa tatapan iri, hidupnya mulai bergerak ke arah yang lebih terang… dan lebih berbahaya. Ia menghela napas perlahan, lalu melangkah menyusul.

Awalnya, Gao Rui berjalan setengah langkah di belakang Tetua Agung. Itu adalah posisi yang wajar. Posisi seorang murid ketika berjalan bersama sosok tertinggi kedua di sekte. Punggung Xu Qung lurus, langkahnya tenang dan konsisten, seolah setiap pijakan telah diperhitungkan. Aura yang ia bawa tidak ditekan sepenuhnya, namun juga tidak dilepaskan. Cukup untuk membuat siapa pun yang berada di jalur yang sama tanpa sadar menyingkir ke samping.

Gao Rui memahami etika itu dengan baik. Ia menundukkan pandangan sedikit, tidak terlalu rendah, tidak pula menantang. Fokusnya tenang, napasnya stabil. Seandainya orang lain melihatnya, mereka akan mengira ini hanyalah seorang murid berbakat yang sedang dipanggil untuk menerima penghargaan.

Namun keadaan berubah tidak lama kemudian.

“Langkah kakimu terlalu ringan,” ujar Xu Qung tiba-tiba, tanpa menoleh. “Kau menahan terlalu banyak tenaga.”

Gao Rui sedikit terkejut, bukan karena teguran itu, melainkan karena nada bicaranya. Itu bukan suara seorang tetua yang menegur murid. Lebih seperti seorang senior yang sedang berbincang.

“Aku hanya tidak ingin mengganggu,” jawab Gao Rui jujur.

Xu Qung mendengus pelan.

“Jika kau berjalan bersamaku, tidak ada yang akan merasa terganggu. Angkat kepalamu sedikit.”

Ia melambatkan langkahnya. Secara alami, posisi Gao Rui pun bergeser, dari setengah langkah di belakang… menjadi sejajar di sampingnya.

Perubahan itu tampak sepele. Namun bagi mereka yang melihat, maknanya sangat berbeda.

Xu Qung mulai mengajaknya bicara, tentang hal-hal ringan yang nyaris tidak ada hubungannya dengan kompetisi atau kekuatan. Tentang jalur batu yang baru diperbaiki di sisi timur sekte. Tentang pohon pinus tua yang sudah ada sejak generasi patriak sebelumnya. Tentang perubahan cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu.

Gao Rui menjawab seperlunya. Tidak terlalu singkat, tidak pula berlebihan. Ia menyesuaikan ritme langkah dan percakapan dengan Xu Qung, seolah itu adalah hal yang biasa di sekte ini.

Namun bagi orang-orang di sekitar mereka… pemandangan itu jauh dari biasa. Di jalur utama sekte, beberapa murid yang tengah membawa air segera berhenti melangkah. Mata mereka melebar, tatapan mereka bergantian antara Gao Rui dan Tetua Agung. Beberapa menunduk cepat, pura-pura sibuk. Yang lain tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.

“Dia berjalan… di samping Tetua Agung?”

“Bukan di belakang?”

“Tetua Agung sendiri yang mengajaknya bicara…”

Bisikan-bisikan itu menyebar mengikuti langkah mereka.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak mata yang tertuju pada mereka. Murid-murid inti yang biasanya bersikap angkuh kini berdiri kaku. Murid luar yang biasanya berisik mendadak diam. Bahkan beberapa tetua yang kebetulan melintas menghentikan langkah mereka sejenak, mengamati dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Persepsi pun terbentuk, hampir seketika.

“Gao Rui… sekarang berada di bawah naungan Tetua Agung.”

“Dengan Tetua Agung berjalan seperti itu, siapa yang berani menyentuhnya?”

“Tidak heran. Bakat seperti itu… sekte pasti melindunginya.”

Beberapa orang merasakan lega. Beberapa lainnya merasa iri. Dan tidak sedikit yang mulai merasa cemas.

Perlindungan Tetua Agung bukan sekadar simbol. Itu adalah pernyataan tak tertulis. Selama Gao Rui berada dalam lingkup pengaruh Xu Qung, setiap gerakan terhadap bocah itu, baik terang-terangan maupun tersembunyi akan dianggap sebagai tantangan langsung terhadap sekte.

Gao Rui mendengar bisikan-bisikan itu. Ia tidak tuli. Namun wajahnya tetap tenang. Langkahnya tidak berubah. Ia tidak membusungkan dada, tidak pula mengecilkan diri. Ia hanya berjalan.

Xu Qung meliriknya dari sudut mata.

“Kau tampak tidak terpengaruh,” ujarnya ringan.

“Jika aku terlalu peduli,” jawab Gao Rui, “langkahku akan menjadi berat.”

Xu Qung tertawa kecil. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar.

“Hahaha....Jawaban yang bagus.”

Bangunan-bangunan mulai berubah. Jalur batu kasar berganti dengan lantai yang lebih halus. Pilar-pilar kayu berukir muncul di kiri dan kanan. Udara di sekitar pun terasa lebih hening, lebih terjaga.

Mereka telah memasuki kawasan kediaman patriak sekte. Di depan sana, berdiri sebuah kediaman besar dengan atap berlapis-lapis dan ukiran simbol rasi bintang di gerbangnya. Aura pelindung samar berdenyut perlahan, menyatu dengan formasi yang tertanam jauh di dalam tanah. Kediaman Patriak Sekte Bukit Bintang.

Para penjaga di depan gerbang langsung menegakkan tubuh. Begitu melihat Xu Qung, mereka menangkupkan tangan dengan penuh hormat.

“Hormat kepada Tetua Agung.”

Xu Qung mengangguk singkat. Tatapannya lurus ke depan.

Langkah mereka terhenti tepat di depan gerbang.

Xu Qung berhenti, lalu menoleh ke arah Gao Rui. Untuk sesaat, tatapannya kembali menjadi dalam dan serius, seperti pertama kali mereka bertemu di bawah pohon pinus.

“Ingat satu hal,” ujarnya pelan. “Apa pun yang kau terima hari ini bukanlah akhir. Ini adalah awal.”

Gao Rui menunduk sedikit.

“Murid mengerti.”

Xu Qung mengangguk. Ia lalu mengangkat tangan, memberi isyarat.

Gerbang kediaman patriak terbuka perlahan.

Di baliknya, sebuah pertemuan yang akan mengubah posisi Gao Rui di Sekte Bukit Bintang… telah menunggu.

1
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
Mamat Stone
/Joyful//Smirk/
Mamat Stone
bocah tua nakal 😈
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
Mahayabank
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!