Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 5_Paket Bantuan Sosial
Arumi tersenyum kecil, mengira itu hanya bualan manis seorang suami untuk menenangkan istrinya.
"Mas Ian bisa saja, sudah Mas istirahat dulu,biar aku yang tidur di bawah, pakai tikar."
"Tidak," tolak Adrian tegas.
"Aku suamimu dan aku yang akan tidur di bawah, kamu di atas dipan." seru Adrian.
"Tapi Mas kan baru sampai di kota ini, pasti capek..." ucap Arumi.
"Arumi, ini perintah pertama dari suamimu." potong Adrian dengan nada bercanda namun tidak bisa dibantah.
Akhirnya Arumi menyerah, ia berbaring di dipan yang keras, sementara Adrian merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan di lantai semen yang dingin.
Bagi Adrian ini adalah pengalaman ekstrem, biasanya ia tidur di atas kasur dengan lapisan bulu angsa seharga ratusan juta.
Kini, punggungnya langsung bersentuhan dengan semen, namun anehnya ia merasa lebih tenang di sini daripada di penthouse-nya yang sepi.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari balik dinding papan.
"Mas Ian?" panggil Arumi pelan.
"Ya?"
"Terima kasih sudah menyelamatkanku dari Pak Broto, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Mas tidak ada tadi."
Adrian menatap langit-langit gudang yang banyak sarang laba-laba.
"Kau yang menyelamatkanku lebih dulu dengan roti itu Arumi, di dunia ini banyak orang punya uang tapi sedikit yang punya hati. Jangan pernah hilangkan hatimu yang baik itu, apa pun yang terjadi nanti." ucap Adrian.
Arumi tidak menjawab lagi, napasnya mulai teratur menandakan ia sudah tertidur karena kelelahan yang luar biasa.
Adrian bangkit perlahan, iaa memastikan istrinya sudah terlelap, lalu ia mengeluarkan ponsel jadulnya, ia mengetik pesan singkat untuk Hendra.
"Besok, kirimkan seseorang untuk menyamar sebagai pencari tenaga kerja ke rumah ini. Beri aku pekerjaan sebagai kuli panggul atau supir di salah satu anak perusahaan kita yang paling kecil. Aku harus terlihat mulai 'bekerja'. Dan satu lagi... kirimkan paket makanan bergizi secara anonim ke alamat ini besok pagi. Bilang itu hadiah dari program bantuan sosial pemerintah."
Setelah mengirim pesan itu, Adrian kembali berbaring, ia tersenyum menatap punggung Arumi.
'Satu bulan Arumi, dalam satu bulan aku akan mulai membalas air matamu dengan permata. Tapi sebelum itu biarkan aku menghancurkan kesombongan keluargamu dari dalam.' gumamnya dalam hati.
Malam itu di sebuah gudang sempit seorang penguasa ekonomi sedang merencanakan sebuah revolusi kecil untuk seorang gadis sederhana yang telah mencuri perhatiannya dengan sepotong roti.
Adrian tahu, tantangan kakeknya bukan lagi soal warisan, tapi soal membuktikan bahwa ia layak mendapatkan cinta murni Arumi.
Keesokan harinya, drama sesungguhnya akan dimulai, Adrian akan mulai "bekerja" dan Bu Ratna serta Siska akan mulai meningkatkan level penyiksaan mereka, tanpa menyadari bahwa mereka sedang bermain api dengan naga yang sedang menyamar.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah-celah dinding papan gudang yang renggang, menggelitik kelopak mata Arumi.
Ia terbangun dengan perasaan yang aneh yaitu perasaan bahwa hidupnya telah berubah total hanya dalam waktu dua puluh empat jam.
Di bawah, di atas tikar pandan yang tipis ia melihat Adrian sudah tidak ada, tikar itu tergulung rapi di sudut ruangan.
Arumi segera bangkit dengan panik. 'Apakah Mas Ian pergi meninggalkanku karena tidak tahan dengan keadaan ini?' batinnya cemas.
Namun saat ia membuka pintu gudang, ia melihat pemandangan yang tak terduga.
Di sumur belakang, Adrian sedang menimba air dengan bertelanjang dada.
Otot-otot punggungnya yang kokoh dan terlatih adalah hasil dari sesi gym pribadi bertahun-tahun yang tampak berkilau karena keringat dan percikan air.
Arumi sempat terpaku sejenak, pria itu sama sekali tidak terlihat seperti pengangguran yang lemah tapi ia tampak seperti prajurit yang sedang beristirahat.
"Selamat pagi istriku," sapa Adrian dengan suara baritonnya yang khas, ia menyampirkan handuk kecil di bahunya.
"Aku sudah mengisi semua bak mandi dan mencuci piring-piring kotor di dapur, aku tidak ingin kau terlalu lelah hari ini."
Arumi mendekat dengan wajah merona. "Mas, seharusnya itu pekerjaanku. Mas kan tamu... maksudku, Mas harusnya bersiap-siap mencari kerja."
"Aku sudah menemukannya," ucap Adrian sambil tersenyum misterius.
"Tadi subuh aku sempat keluar sebentar ke pangkalan depan, ada seorang pria yang mencari tenaga kuli angkut untuk gudang logistik di dekat sini. Katanya bayarannya harian. Aku akan mulai hari ini."
Arumi merasa iba sekaligus bangga. "Tapi Mas, pekerjaan itu sangat berat. Apa Mas kuat?" tanya Arumi mengkhawatirkan sang suami.
Adrian tertawa kecil, melangkah mendekat dan mengusap kepala Arumi dengan lembut.
"Jangan remehkan suamimu, aku lebih kuat dari yang kau bayangkan."
Saat mereka masuk ke dalam rumah, suasana di meja makan sudah memanas.
Bu Ratna dan Siska sedang berdiri mengelilingi sebuah kotak besar berisi bahan makanan mewah yaitu daging sapi segar, buah-buahan impor, susu, hingga beras kualitas terbaik.
"Ini dari siapa?!" teriak Bu Ratna saat melihat Arumi.
"Tadi ada kurir datang, katanya ini paket bantuan sosial dari pemerintah untuk keluarga ini, tapi kenapa isinya barang-barang mahal semua? Pemerintah biasanya cuma kasih beras kutuan!"
Arumi menggeleng heran. "Aku tidak tahu, Bu. Aku tidak merasa mengajukan bantuan apa pun."
Siska langsung merobek bungkusan apel merah besar dan menggigitnya.
"Mungkin karena kecantikanku, jadi petugas pendatanya naksir dan kasih bantuan spesial. Siapa tahu, kan?"
Adrian yang berdiri di belakang Arumi, hanya terdiam dengan wajah datar.
Padahal dialah yang mengirim pesan pada Hendra tadi malam untuk memastikan Arumi makan makanan bergizi.
Ia merasa muak melihat Siska yang rakus, namun ia harus menahan diri.
"Siapa pun yang mengirimnya, Arumi yang harus masak itu semua hari ini, dan kau Ian!" Bu Ratna menunjuk hidung Adrian.
"Jangan berani-berani menyentuh makanan ini! Ini untuk aku dan Siska. Kau makan saja sisa nasi kemarin di dapur!"
Adrian ingin memprotes namun Arumi menahan lengannya, Arumi menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tapi itu makanan untuk Arumi, bukankah disana sudah ada tulisan untuk siapanya." ucap Adrian.
"Kamu diam ya, ini makanan ku jangan sok ikut campur." seru Siska dengan sombongnya.
"Udah mas aku gak papa kok." jawab Arumi.
Adrian kemudian berpamitan, ia pergi hanya dengan membawa tas ransel bututnya.
Namun begitu ia sampai di luar gerbang perkampungan, sebuah mobil van butut yang tampak seperti mobil pengangkut sayur sudah menunggunya.
Di dalam van itu, Hendra sudah menunggu dengan laptop dan setelan jas yang disembunyikan di balik jaket kumal.
"Tuan Muda," sapa Hendra hormat.
"Ini aneh sekali melihat Anda memakai kaos oblong murahan ini."
"Diamlah, Hendra. Berikan laporannya," ujar Adrian sambil duduk di kursi belakang yang sudah dimodifikasi menjadi kantor mini yang canggih.
"Pasar sedang bergejolak karena ketidakhadiran Anda secara publik.
Vanguard Group mencoba melakukan hostile takeover pada proyek kita di Kalimantan," lapor Hendra cepat.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡