NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: tamat
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Harga Diri yang Terluka

#

Zahra nggak tau gimana dia bisa keluar dari rumah itu. Nggak inget dia jalan lewat pintu mana. Nggak inget dia lewatin taman. Nggak inget pagar besi otomatis itu terbuka atau dia yang buka.

Yang dia inget cuma... cuma dia jalan. Jalan terus. Kaki melangkah sendiri. Otomatis. Kayak robot yang rusak.

Jalanan Pondok Indah siang itu sepi. Mobil-mobil mewah sesekali lewat. Orang-orang pake baju bagus jalan di trotoar sambil bawa tas branded. Tapi Zahra... Zahra jalan sambil nunduk. Hijab putihnya basah di bagian depan. Basah karena air mata yang nggak berhenti keluar.

"Lima ratus juta."

Angka itu terus berputar di kepala.

"Lima ratus juta. Buat pergi. Buat... buat ninggalin Mas Arkan."

Tangan Zahra masih gemetar. Gemetar ngebayangin cek itu. Gemetar ngebayangin... ngebayangin gimana gampangnya Mrs. Angelina lempar uang ke muka dia. Kayak lempar tulang ke anjing.

"Kamu pemburu harta."

"Kamu pembohong."

"Kamu yang meracuni pikiran dia."

Kata-kata itu... kata-kata itu kayak pisau. Nusuk berkali-kali di dada yang sama. Dan yang paling sakit bukan kata-katanya. Yang paling sakit itu... itu tatapan Mrs. Angelina. Tatapan yang bilang tanpa suara: "Kamu nggak layak buat anak ku."

Zahra berhenti di halte bus. Duduk di bangku plastik yang panas kena matahari. Ada ibu-ibu sebelahnya pegang kantong belanjaan. Liat Zahra sekilas terus ngeliat ke arah lain.

Mungkin... mungkin dia ngeliat Zahra nangis. Mungkin dia risih. Mungkin dia mikir "ih kenapa sih cewek ini nangis di tempat umum."

Tapi Zahra nggak peduli. Nggak bisa peduli. Karena dadanya... dadanya sakit banget.

Bus dateng. Zahra naik. Berdiri di pojok belakang sambil pegangan tiang besi yang lengket keringet orang lain. Bus goyang-goyang. Bau keringet campur bensin. Panas. Pengap.

Tapi Zahra nggak ngerasa apa-apa. Cuma... cuma kosong.

"Kamu bodoh. Kamu cewek paling bodoh yang pernah aku temui."

Apa Mrs. Angelina bener? Apa... apa Zahra emang bodoh? Tolak uang lima ratus juta. Uang yang bisa bikin Bapak sembuh. Bisa bikin Zahra nggak perlu nyuci baju lagi sampe tangan lecet. Bisa bikin... bisa bikin hidup Zahra lebih gampang.

Tapi gimana Zahra bisa terima uang itu? Gimana Zahra bisa... bisa jual cinta dia?

"Tapi... tapi apa gunanya cinta kalau... kalau semua orang ngelawan?"

Bus berhenti. Zahra turun. Jalan lagi. Masuk gang kampung yang becek. Lewatin tetangga yang pada ngeliatin. Lewatin anak-anak kecil yang lagi main kejar-kejaran.

Sampe kontrakan. Pintu biru kusam. Cat yang ngelupas.

Zahra buka pintu. Masuk. Langsung ke kamar. Jatuh di kasur tipis yang empuk keras.

Dan nangis. Nangis sejadi-jadinya. Nangis sampe nggak ada suara. Cuma isakan. Cuma... cuma sakit yang nggak bisa diungkapin pake kata-kata.

"Kenapa... kenapa hidup harus sesakit ini?"

Bapak nggak ada. Mungkin lagi di masjid. Syukurlah. Zahra nggak mau Bapak liat dia kayak gini.

Telepon genggam nya bunyi. Bergetar di saku gamis. Zahra ambil. Layar retak nunjukin nama: Mas Arkan.

Dia angkat. Tapi nggak ngomong.

"Zahra? Zahra kamu udah pulang? Gimana... gimana ketemu Mama? Dia bilang apa? Zahra... Zahra jawab..."

Suara Arkan... suara yang biasanya bikin tenang. Sekarang cuma bikin sakit makin parah.

"Zahra please... ngomong... aku khawatir..."

"Mas..." Suara Zahra serak. Parau. "Zahra... Zahra udah ketemu Mama Mas."

"Terus? Dia bilang apa? Dia... dia nyakitin kamu?"

Zahra diem. Nggak tau harus jawab gimana.

"Zahra? Kamu nangis? Ya tuhan.. dia bilang apa ke kamu? Zahra... Zahra cerita ke aku..."

"Dia... dia kasih Zahra uang. Lima ratus juta. Buat... buat pergi dari hidup Mas."

Hening di seberang.

"...apa?"

"Lima ratus juta, Mas. Dia lempar cek ke muka Zahra. Bilang... bilang Zahra pemburu harta. Bilang Zahra... Zahra yang ngeracunin pikiran Mas. Bilang Zahra... Zahra nggak layak buat Mas."

"ZAHRA ITU NGGAK BENER!" Arkan teriak. "Kamu... kamu layak! Kamu lebih dari layak! Mama... Mama cuma nggak ngerti... dia—"

"Tapi dia bener, Mas."

Hening lagi.

"...apa?"

"Mama Mas... dia bener. Zahra... Zahra emang nggak layak buat Mas. Zahra cuma... cuma buruh cuci miskin yang nggak punya apa-apa. Sementara Mas... Mas dari keluarga konglomerat. Mas pinter. Mas sukses. Mas... Mas bisa dapet cewek yang lebih baik dari Zahra. Cewek yang... yang setara. Yang nggak bikin Mas kehilangan keluarga. Yang nggak bikin Mas... yang nggak bikin Mas harus ninggalin agama Mas."

"Zahra jangan ngomong kayak gitu... kamu... kamu bukan nggak layak... kamu"

"Mas udah kehilangan banyak hal gara-gara Zahra." Zahra nangis makin keras. "Mas kehilangan keluarga. Kehilangan pekerjaan lama. Kehilangan... kehilangan semuanya. Dan sekarang Mas bahkan... bahkan harus mikirin masuk Islam. Harus... harus ninggalin Yesus yang Mas percaya sejak kecil. Semua itu... semua itu gara-gara Zahra."

"Itu bukan salah kamu! Itu... itu pilihan aku! Aku yang—"

"Tapi Zahra yang bikin Mas harus pilih!" Zahra teriak. "Kalau Zahra nggak ada... Mas nggak perlu kehilangan apa-apa! Mas bisa... bisa hidup tenang sama keluarga Mas! Bisa... bisa jadi direktur yang sukses! Bisa nikah sama cewek Kristen yang Mama Mas suka! Bisa... bisa bahagia!"

"Aku nggak bahagia kalau nggak ada kamu!"

"Tapi Mas juga nggak bahagia kalau kehilangan semuanya gara-gara Zahra!"

Hening. Cuma suara napas berat di seberang.

"Zahra... dengerin aku... aku cinta kamu. Aku... aku nggak peduli aku kehilangan apa. Yang penting... yang penting aku punya kamu. Itu cukup."

"Tapi nggak cukup buat Zahra..." Zahra bisik. "Zahra... Zahra nggak mau jadi alasan Mas kehilangan segalanya. Zahra nggak mau... nggak mau jadi beban."

"Kamu bukan beban!"

"Tapi Zahra ngerasanya kayak gitu!" Zahra nangis. "Tiap kali Zahra liat Mas... Zahra inget kalau Mas kehilangan keluarga gara-gara Zahra. Tiap kali Mas bilang mau belajar Islam... Zahra takut Mas cuma maksa diri. Cuma... cuma pengen nikah sama Zahra tapi hatinya masih di Yesus. Dan nanti... nanti Mas bakal nyesel. Bakal... bakal benci Zahra."

"Aku nggak akan pernah benci kamu!"

"Mas nggak tau itu!" Zahra teriak. "Mas nggak tau gimana perasaan Mas nanti! Mas... Mas masih bingung kan? Masih ragu kan? Masih... masih cinta sama Yesus kan?"

Arkan diem. Lama.

Dan diamnya itu... diamnya itu jawaban.

"Zahra... aku... aku masih belajar... aku masih... masih cari jawaban... tapi aku janji—"

"Zahra nggak mau Mas janji lagi." Zahra nangis pelan. "Zahra... Zahra capek, Mas. Capek nunggu. Capek... capek berharap. Capek ngerasain sakit tiap kali orang bilang Zahra nggak layak buat Mas. Zahra... Zahra nggak kuat lagi."

"Zahra please... jangan kayak gini... kita... kita bisa lewatin ini bareng—"

"Zahra nggak bisa, Mas." Zahra tutup mata. Air mata mengalir deras. "Zahra... Zahra mau lepas Mas. Biar... biar Mas bisa bahagia. Biar Mas bisa... bisa balik sama keluarga Mas. Biar Mas nggak perlu... nggak perlu bingung lagi soal agama."

"ZAHRA JANGAN!" Arkan teriak. Suaranya pecah. "Jangan tinggalin aku... please... aku... aku nggak bisa hidup tanpa kamu..."

"Mas bisa. Mas... Mas kuat. Mas bakal... bakal lupa Zahra. Dan... dan Mas bakal nemuin cewek yang lebih baik. Yang... yang layak buat Mas."

"Aku nggak mau cewek lain! Aku cuma mau kamu!"

"Maaf, Mas." Zahra bisik. "Maaf... maaf Zahra nggak bisa... nggak bisa jadi yang Mas mau. Maaf Zahra... Zahra lemah."

"Kamu nggak lemah! Zahra—"

Zahra tutup telepon.

KLIK.

Dan dia matiin telepon genggam. Langsung. Sebelum Arkan nelpon lagi.

Terus dia nangis. Nangis sambil meluk bantal lusuh yang baunya apek. Nangis sampe dadanya sesak. Sampe napas susah. Sampe... sampe nggak ada air mata lagi keluar.

"Maaf, Mas... maaf... ini... ini demi kebaikan Mas... demi... demi kebaikan kita semua..."

TOK TOK TOK!

Ketukan pintu. Keras. Berulang-ulang.

"Zahra! Zahra buka pintunya! Aku tau kamu di dalem!"

Suara Arkan.

Zahra diem. Nggak gerak. Cuma meluk bantal makin erat.

"Zahra please! Buka pintunya! Kita ngobrol! Jangan... jangan kayak gini!"

Zahra tutup telinga. Nggak mau denger.

"ZAHRA!" Arkan pukul pintu. Keras. "Aku nggak akan pergi! Aku... aku bakal di sini sampe kamu buka pintu! ZAHRA!"

Tapi Zahra nggak buka. Nggak bisa buka. Karena kalau dia buka... kalau dia liat wajah Arkan... dia bakal... dia bakal lemah lagi.

Dan dia nggak boleh lemah. Nggak boleh... nggak boleh egois lagi.

Suara ketukan akhirnya berhenti. Setelah... entah berapa lama. Setengah jam? Sejam?

Zahra ngintip dari jendela kecil. Arkan udah nggak ada. Mobilnya udah pergi.

Dan Zahra... Zahra jatuh duduk di lantai semen yang dingin. Nangis lagi.

"Maaf... maaf..."

Malem itu, Bapak pulang. Liat Zahra masih nangis di kasur.

"Zahra... kamu kenapa? Kamu... kamu ketemu ibu nya Arkan kan? Dia bilang apa?"

Zahra nggak jawab. Cuma nangis.

Bapak duduk di pinggir kasur. Usap kepala Zahra. "Zahra... cerita sama Bapak..."

"Bapak..." Zahra peluk Bapak. Erat. "Zahra... Zahra mau lepas Mas Arkan. Zahra... Zahra nggak kuat lagi. Zahra... Zahra sakit, Pak. Sakit banget."

Bapak diem. Cuma peluk Zahra balik. Diem aja. Nggak bilang apa-apa.

Karena kadang... kadang diem itu lebih baik daripada ngomong sesuatu yang salah.

"Bapak... tolong... tolong doain Zahra kuat... doain Zahra... doain Zahra bisa ikhlas..."

"Bapak doain, nak. Bapak doain."

Dan mereka duduk disitu. Pelukan yang hangat di tengah malam yang dingin. Di tengah... di tengah kehidupan yang nggak pernah adil buat mereka.

Tapi setidaknya... setidaknya mereka punya satu sama lain.

Dan itu... itu harus cukup.

Harus.

Meskipun sakit.

Meskipun... meskipun rasanya kayak ada bagian dari hati Zahra yang hilang selamanya.

"Ya Allah... kuatkan hamba... tolong... tolong jangan biarkan hamba lemah lagi... tolong..."

Tapi doanya... doanya nggak terasa sampai ke langit.

Cuma... cuma bergema di kamar sempit yang gelap.

Sendirian.

Kosong.

Kayak hati Zahra sekarang.

BERSAMBUNG KE BAB 30: Surat Perpisahan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!