Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi selalu datang dengan cara yang sama bagi Kirana. Sunyi, sederhana, dan penuh rutinitas yang tidak pernah ia pertanyakan.
Begitu mata Kirana terbuka, hal pertama yang ia pikirkan bukan dirinya sendiri, melainkan apa yang harus ia kerjakan hari ini. Menyiapkan sarapan, membereskan rumah, mencuci sisa piring semalam, menyapu, mengepel, lalu menjemput Gita sebelum jam sekolah usai. Hidupnya berputar di lingkaran itu dan Kirana menjalaninya tanpa keluh.
Pagi itu, setelah menyiapkan bekal sederhana untuk Rafka, Kirana masuk ke kamar. Udara masih dingin, sprei belum sempat dirapikan. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai, bergerak pelan agar debu tidak beterbangan.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu di sudut lantai, dekat kaki meja rias. Selembar kertas kecil. Terlipat-lipat. Seperti sengaja disembunyikan, tetapi tidak cukup rapi untuk benar-benar hilang.
Kirana berhenti menyapu.
Entah kenapa, Kirana merasa jantung berdetak lebih cepat. Ada rasa ganjil yang tidak bisa ia jelaskan. Ia memungut kertas itu, menimbang-nimbang sejenak, lalu membukanya perlahan.
Satu detik.
Dua detik.
Mata Kirana membelalak. Deretan angka itu seperti menghantam kepalanya tanpa ampun. Angka yang tidak pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Angka yang terasa mustahil untuk sesuatu yang disebut tas.
Tangan Kirana gemetar.
“Ini, siapa yang membeli tas branded?” gumam wanita berambut panjang bergelombang itu pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Ia membaca ulang. Lagi. Dan lagi. Nama toko, alamat mal, dan tanggal pembelian. Semua tercetak rapi, dingin, dan nyata.
Tas wanita yang harganya bahkan tidak sanggup Kirana bayangkan. Untuk Kirana, angka itu setara dengan bertahun-tahun hidup hemat, tanpa jajan, tanpa baju baru, tanpa mimpi.
“Punya siapa?” bisik istrinya Rafka dengan lirih.
Pikiran Kirana langsung berlari ke satu nama, Rafka, suaminya. Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan dari dalam. Napasnya pendek-pendek.
“Apa ini punya Mas Rafka?” Suara kirana bergetar.
Logikanya menolak. Hatinya menolak lebih keras.
Rafka tidak pernah membelikan barang semahal itu. Bahkan untuk dirinya sendiri. Apalagi untuk Kirana yang sehari-hari hanya butuh tas kain untuk belanja ke pasar. Dan tas itu, jelas tas perempuan.
“Tidak mungkin,” gumam Kirana cepat, seperti mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Mas Rafka tidak mungkin berselingkuh.”
Kirana menggeleng berulang kali. Menepis bayangan-bayangan buruk yang mulai merayap. Ia memilih percaya, karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia pegang agar tidak runtuh.
Dengan tangan masih gemetar, Kirana melipat kembali struk itu. Ia menyimpannya ke dalam laci meja rias, paling bawah, di balik tumpukan kain lama.
Seolah jika disembunyikan, pertanyaan itu juga akan ikut hilang. Namun hatinya tahu ia hanya menundanya saja.
Di tempat lain, Kinanti melangkah dengan penuh percaya diri memasuki ruang kerjanya. Tas hitam itu tergantung anggun di lengannya. Kilauannya langsung mencuri perhatian. Beberapa pasang mata menoleh, ada yang kagum, ada pula yang menyipit penuh tanya.
“Kinanti!” seru Vita, teman satu divisinya. “Wah, tas baru, ya?”
Kinanti tersenyum lebar. Senyum yang sengaja ia rawat sejak pagi. Senyum perempuan yang merasa menang.
Vita menghampiri, tangannya langsung membolak-balik tas itu. “Gila, ini branded, kan? Asli?”
“Iya, dong!” jawab Kinanti ringan, seolah itu hal biasa. “Kado ulang tahun.”
“Dari siapa?” Vita mengedipkan mata penuh arti.
Kinanti tertawa kecil. “Kekasih.”
“Wah,” Vita terkekeh. “Kaya banget, ya, pacarmu itu. Sampai segitu bucinnya kasih kado mahal.”
Kinanti mengangkat dagunya sedikit. “Makanya, cari laki-laki itu harus yang bisa nyenengin kita.”
Vita mengangguk setuju. “Bener sih. Kita sebagai perempuan harus realistis. Jangan mau dibutakan cinta doang.”
Kinanti tersenyum puas. Kata-kata itu terasa seperti pembenaran yang manis.
Sebagai pegawai bank swasta, Kinanti tahu betul bagaimana harus tampil. Rapi, wangi, menarik. Ia punya semuanya, baik itu wajah, tubuh, dan kepercayaan diri. Satu hal yang kurang hanya uang. Dan kini, kekurangan itu terasa tertutup.
Namun, tidak semua mata memandang dengan kagum. Di sudut ruangan, tiga perempuan berkumpul sambil pura-pura sibuk.
“Dia dapat tas itu pasti enggak cuma-cuma,” bisik wanita berambut sebahu.
“Belakangan ini Kinanti beda banget,” sahut yang lain. “Gaya makin berani. Senyumnya aneh.”
Wanita berambut panjang mencondongkan tubuh. “Kalian tahu enggak? Di balik bajunya itu banyak bekas merah. Aku pernah lihat bebepara kali waktu dia betulin kerah bajunya.”
Dua lainnya tercengang.
“Paham, kan?” lanjutnya dengan nada penuh makna.
“Jangan-jangan dia ngerayu nasabah prioritas,” bisik yang pertama. “Biar kecipratan harta.”
“Bisa-bisa jadi Tiwi kedua,” celetuk yang lain.
Nama itu membuat mereka semua terdiam sejenak.
Dulu, ada karyawan perempuan yang melakukan hal serupa. Menjadi simpanan lelaki kaya. Sampai akhirnya ketahuan dan berakhir tragis.
“Makanya cari uang itu dengan cara yang bener,” celetuk seorang office boy yang lewat sambil mengangkat galon. “Duit haram itu enggak pernah bawa berkah.”
Kinanti mendengar desas-desus itu. Ia tahu. Namun alih-alih tersinggung, bibirnya justru melengkung tipis. Mereka boleh bergosip. Ia yang menikmati hasilnya.
Siang itu, Kirana menjemput Gita dan Ara seperti biasa. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya masih melayang pada selembar kertas kecil yang kini tersembunyi di laci. Ia mencoba tersenyum ketika Gita berlari menghampirinya.
“Ma!” seru Gita dengan ceria.
Kirana memeluk putrinya erat. Terlalu erat.
“Kenapa, Ma?” tanya Gita heran.
“Enggak apa-apa,” jawab Kirana cepat. “Mama kangen.”
Namun di balik senyumnya, ada sesuatu yang mulai retak.
Malamnya, Kirana menyiapkan makan malam seperti biasa. Rafka pulang, menyapa, duduk, bercerita ringan tentang pekerjaannya.
Kirana mendengarkan. Mengangguk. Menjawab seperlunya.
Ia memperhatikan suaminya dengan cara yang berbeda malam itu. Setiap gerak. Setiap ekspresi.
“Mas,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kamu capek?” tanya Kirana, mencoba terdengar biasa.
“Lumayan,” jawab Rafka. “Kenapa?”
“Enggak,” Kirana tersenyum kecil. “Ada yang mau aku tanyakan sama kamu, Mas.”
“Apa itu?” Rafka membantu membereskan bekas mereka makan malam.
“Nantilah setelah di kamar.” Kirana tersenyum.
Rafka tidak tahu senyum itu lahir dari hati yang sedang menahan badai.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏