Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Dua Puluh Tahun Kemudian.....
Adara berlari menuruni tangga dan berjalan cepat menghampiri ayah, bunda dan adiknya Kenan Handoko.
"Selamat pagi semuanya." Ucap Adara yang sudah duduk di samping Kenan.
"Pagi juga sayang." Balas Kanaya dan Alex.
"Hari ini ayah dan bunda akan hadir di acara Grand Opening butikku kan?"
"Ayah tidak bisa janji, tapi akan ayah usahakan." Jawab Alex lalu meneguk kopi hitam yang ada di meja.
"Kakak tidak mengundangku?"
"Kapan kamu tertarik menghadiri acara, acara bisnis ayah saja kamu lebih memilih liburan dengan teman-temanmu." Ucap Adara lalu menggigit roti yang telah di isi selai oleh Kanaya.
"Belum saatnya aku tampil di depan public, ketampananku bisa mengalahkan ketampanan ayah." Ucap Kenan membuat mereka tertawa.
Kehadiran Kenan membuat mereka melupakan sedikit kesedihan karena kehilangan Kavin, sampai sekarang Alex masih tetap mencari putranya.
****
Sebuah mobil mewah berhenti di depan butik Adara, seorang pria keluar dari mobil dan menuju ke butik Adara yang sedang Grand Opening.
"Adara bukannya itu Tuan Devano Henandra." Ucap Kira.
Adara menoleh kearah pintu masuk dan melihat pria yang sedang berjalan menghampirinya. "Maaf kalau saya terlambat datang."
"Ah, tidak apa-apa tuan Devano. Silahkan dinikmati pestanya." Adara merasa tidak asing dengan pria didepannya yang sudah menjadi salah satu investor di butiknya.
Tidak lama Kanaya dan Kenan datang, Adara dan Kira menghampirinya dan Kanaya memberikan ucapan selamat pada putrinya yang sudah berhasil mendirikan butiknya dengan usaha kerasnya sendiri.
Mata Kanaya menangkap sosok pria yang sedang duduk di salah satu kursi tamu, jantung Kanaya langsung berdetak dengan cepat tanpa dia sadari menghampiri Devano.
"Kavin putraku?" Panggil Kanaya, Adara, Kira dan Kenan terkejut mendengar Kanaya memanggil Devano dengan nama Kavin.
Devano menoleh ke asal suara, dia mengerutkan dahi bingung dengan nama panggilan yang Kanaya sebutkan. "Maaf anda siapa?" Devano langsung berdiri saat Kanaya sudah berada di depannya.
"Kamu Kavin putraku." Kanaya langsung memeluk Devano.
"Maaf saya Devano Henandra bukan Kavin putran anda." Devano melepaskan pelukan Kanaya yang menurutnya kurang sopan.
Adara langsung menghampiri mereka dan meminta maaf karena bunda kurang sopan menganggap Devano adalah kakaknya yang di culik dua puluh tahun lalu.
"Bunda dia Tuan Devano Henandra, salah satu investor di butik Adara. Dia bukan kak Kavin." Adara mencoba menjelaskan kepada bundanya.
Kanaya asih menatap sendu kearah Devano, hatinya masih yakin dia adalah putranya yang telah dia kandung selama sembilan bulan tidak mungkin salah, tapi kenapa dia tidak mengenali Kanaya yang sangat Kavin sayang.
"Kenan bawa bunda istirahat di ruangan kakak." Kenan pun langsung membawa Kanaya menjauh dari Devano.
"Kenan dia kakakmu nak." Kanaya masih tetap mengira Devano adalah Kavin.
"Bunda dia bukan kakak, dia orang lain. kalau memang dia kakak tidak mungkin dia melupakan kita dan kenapa dia tidak pernah datang mencari kita selama dua puluh tahun." Kenan mencoba menjelaskan kepada Kanaya.
Devano menerima panggilan di ponselnya, setelah mengakhiri panggilan dia pamit untuk pergi karena ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan. "Nona Adara saya pamit, sekali lagi selamat atas pembukaan cbang butik barunya."
"Terima kasih Tuan Devano, maaf atas ketidak nyamanan anda selama berada di pesta kami." Devano hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Adara.
"Ya ampun tuan Devano sangat ganteng Adara, dia cocok sama kamu tuh." Ledek Kira.
"Siapa yang cocok dengan putriku." Tiba-tiba Alex ada di belakang Adara dan Kira.
Mereka berdua pun berbalik "Ayah, paman besar." Ucap Adara dan Kira bersamaan.
"Siapa yang cocok dengan putri ayah." Alex kembali bertanya.
"Tidak ada ayah, Kira hanya bercanda." Adara tersenyum kepada Alex.
Di dalam ruang kerja Adara, Kanaya tampak gelisah, Kenan yang duduk di sofa melihat bundanya mondar mandir di depannya kayak setrikaan.
"Apa yang membuat bunda segelisah ini." Batin Kenan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tampak Alex berdiri diambang pintu, "Mas Kavin ada di luar, anak-anak tidak ada yang percaya." Kanaya menghampiri suaminya yang masih berdiri.
"Dia bukan Kavin sayang, dia investor di butik Adara, Adara sudah menceritakan semuanya."
"Tidak, hatiku mengatakan di putraku. Aku mengandungnya danbesarkannya tidak mungkin hati seorang ibu salah mas." Alex memeluk istrinya.
"Baiklah mas akan cari tau identitas pria itu, jadi jangan seperti ini lagi." Kanaya langsung mengangguk.
****
Di sebuah perusahaan ternama Devano duduk di kursi kebesarannya, "Aku sudah menemukan keluarga yang telah menghancurkan keluargaku. Tinggal memainkan permainan yang seru." Gumam Devano dengan senyum liciknya.
"Tuan ada telepo dari Nyonya besar, apa malam ini anda akan pulang?" Ucap Arka sekretaris pribadi Devano.
"Aku akan menghubungi mommy sendiri."
Devano mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan menghubungi orang tuanya. "Halo mom."
"...."
"Iya aku akan pulang, aku ada kabar baik untuk mom dan kakek."
"...."
"Baiklah aku akan membelikannya untukmu mom, love you." Devano mengakhiri panggilan teleponnya.
Malam pun tiba Devano sudah berada di rumah keluarga Henandra, sebuah makan malam antar keluarga. "Katanya ada kabar baik yang ingin kamu sampaikan kepada mommy dan kakek."
"Aku sudah masuk dalam bisnis Keluarga Handoko, dan rupanya putri Keluarga Handoko sedikit tertarik denganku."
"Ini berita yang sangat bagus sayang, mommy bangga punya putra sepertimu. Sudah saatnya keluarga mereka merasakan apa yang sudah mereka lakukan pada keluarga kita." Devano tersenyum mendengar ucapan momminya.
Siang ini Adara, Kira dan Echa sedang sibuk di butik, seorang pria masuk ke dalam toko, salah satu pegawai menghampirinya. "Selama datang tuan, ada yang bisa kami bantu." Ucap Rina pegawai toko butik Adara.
"Aku ingin bertemu dengan nona Adara." Devano langsung duduk di sofa yang ada di pojokan.
"Saya akan memanggilkan bu Adara." Rina pun pergi keruangan Adara.
Tok...Tok.. "Masuk."
Pintu terbuka, Rina masuk dan memberitahu Adara kkalau ada seorang pria yang sedang menunggunya di luar. Adara yang penasaran pun mengikuti pegawainya untuk melihat siapa pria yang di maksud.
DEG... Jantung Adara langsung berdetak saat melihat Devano duduk di sofa, dia pun menghampirinya.
"Tuan Devano? Ada apa?" Tanya Adara.
"Apa hari ini nona sibuk?"
"Ah, sedikit. Memangnya kenapa?"
"Karena sudah jam makan siang, apa aku bisa mengajak nona pergi makan diluar?"
"Aku akan memberi tahu Kira dan Echa dulu kalau aku keluar." Devano menganggukkan kepalanya.
Adara kembali keruangannya untuk mengambil tas, dia masuk keruangan Kira dan Echa untukberi tahu kalau dia akan makan diluar bersama Devano.
Setelah memberitahu sahabatnya Adara pun menghampiri Devano yang masih berdiri menunggunya. "Ayo sekarang kita pergi." Ucap Adara, Devano langsung menggenggam jemari Adara.
Wajah Adara sudah bersemu merah dan jantungnya berdetak kencang "Apa ini yang dinamakan cinta?" Batin Adara.
Mereka pergi salah satu restauran dan memesan ruangan VVIP, Adara sangat kagum melihat ruangan itu yang di penuhi dengan tanaman hijau dan kolam ikan.
"Apa kamu suka Adara." Bisik Devano.
"Apa?" Adara berbalik dan tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan. "Ah! Ma-maaf kan saya tuan Devano." Adara sudah salah tingkah.
"Cukup panggil Devano saja." Devano tersenyum penuh maksud.
Adara langsung duduk wajahnya sudah seperti kepiting rebus, dan dia menyentuh bibirnya. Devano tersenyum licik melihat tingkah Adara "Akhirnya kau masuk juga dalam perangkapku." Batin Devano.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Votenya...
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..