Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Bau Rokok
Rumah itu menelan Amara kembali dengan sunyinya yang khas sepulang dari sekolah. Tapi sunyi kali ini terasa berbeda. Tidak lagi seperti selimut yang menenangkan, melainkan seperti ruang hampa sebelum badai.
Dia meletakkan tasnya di atas kursi di foyer, jari-jarinya masih terasa dingin meski udara luar cukup hangat. Suara dentingan jam dinding di ruang tengah—hadiah pernikahan dari orang tua Rafa—bergema terlalu keras, menandai berlalunya detik-detik yang terasa berat.
Amara menuju dapur, otomatis menyiapkan teh. Tangannya terbiasa: panci kecil, air, daun teh celup premium, tunggu mendidih. Ritual ini biasanya menenangkan. Tapi hari ini, dia merasa seperti aktor yang bermain peran dalam hidupnya sendiri.
Dia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen, lalu mengembusnya pelan, matanya menatap uap yang mengepul dan menghilang.
Pesan yang dikirimnya ke Rafa sudah dibaca. Tidak ada balasan.
Amara mengajak Luna makan siang, mendengarkan cerita riang putrinya tentang eksperimen sains di sekolah. Dia tersenyum, mengangguk, tapi pikirannya jauh, terbelah antara kekhawatiran akan percakapan nanti malam dan desain sleeve coat yang mengusik benaknya.
Sore harinya, ketika Luna sedang asyik menonton kartun, bel pintu berbunyi.
Bukan Rafa. Di balik pintu berdiri Ibu Dewi, masih dengan senyum hangat dan mata yang bersinar, membawa sebuah box kue bolu. Dia mengenakan dress katun sederhana, rambutnya diikat longgar.
“Maaf mengganggu, Bu Amara,” katanya.
“Kebetulan lewat, sekalian mau numpang nanya-nanya soal desain. Saya bawa kue, nih.”
Amara terkejut, tapi mempersilakannya masuk. Mereka duduk di ruang keluarga, teh yang tadi dipanaskan kembali.
“Saya serius, lho, Bu,” buka Ibu Dewi setelah basa-basi. “Kantor suami saya di Sudirman, ruangannya kaku banget. Dia dokter gigi spesialis ortodonti, kliennya banyak anak muda."
"Saya pengen ruang tunggunya lebih… fun, tapi tetap professional. Tidak menakutkan.”
Bu Dewi mengeluarkan tabletnya, menunjukkan foto-foto ruang yang suram dan penuh dengan warna krem tua.
Amara melihat foto-foto itu. Secara profesional, tantangannya menarik.
Bagaimana menciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien yang cemas, namun juga modern dan menyenangkan bagi pasien remaja.
“Konsep ‘gigi’ tidak harus literal dengan gambar gigi atau warna putih,” ujar Amara tanpa sadar, suaranya mulai terdengar lebih hidup.
“Bisa lewat bentuk lengkung, kurva, material yang bersih namun hangat. Lighting juga krusial.”
Ibu Dewi mengangguk-angguk antusias.
“Nah! Itu dia! Itu yang saya cari! Saya lihat portfolio lama Bu Amara, Anda sangat jago bermain dengan cahaya dan bentuk organik."
"Saya… saya tahu ini tiba-tiba. Tapi, apakah Anda bersedia mengerjakan ini? Anggaran kami terbatas, tapi saya sangat ingin ruang itu berubah.”
Tawaran itu menggantung di antara mereka. Bukan dari klien besar, bukan proyek glamor. Tapi nyata. Langsung. Ada seseorang yang membutuhkan keahliannya, bukan karena dia istri Rafa, tapi karena karya yang pernah dia buat.
“Saya… saya sedang mengerjakan proyek lain, Bu Dewi,” kata Amara hati-hati.
“Oh, tidak harus sekarang! Tidak harus cepat-cepat. Saya paham Anda sibuk. Tapi… tolong pertimbangkan, ya?” matanya memohon dengan tulus.
Amara melihat kue bolu sederhana di atas meja, dan ketulusan di wajah Ibu Dewi. Ini berbeda dengan dunia Rafa yang penuh dengan kontrak rumit dan negosiasi alot. Ini manusiawi. Langsung.
“Boleh saya pelajari lebih dulu? Saya kirim ide awal nanti?” tawar Amara.
Ibu Dewi berseri-seri. “Tentu! Wah, terima kasih banyak!” Mereka bertukar nomor kontak.
Sebelum pergi, Ibu Dewi menoleh.
“Saya salut, Bu. Bisa mengurus keluarga tapi tetap mau berkarya. Anak-anak butuh contoh ibunya yang punya passion juga.”
Kata-kata itu menyentuh Amara lebih dalam dari yang disadari Ibu Dewi. Dia berdiri di pintu lama setelah tamunya pergi, merenung.
Petang menjelang. Rafa pulang tepat sebelum maghrib. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, ada bayangan kelam di bawah matanya.
Dia melepas sepatu, menyapa Luna dengan pelukan singkat, lalu melihat Amara.
Pandangan mereka bertemu, sebuah arus listrik diam yang penuh dengan segala yang tidak terucap.
“Aku mandi dulu,” ucap Rafa pendek, lalu menghilang ke lantai atas.
Makan malam berlangsung dalam sunyi yang tegang. Luna, yang biasanya cerewet, tampak merasa suasana aneh dan lebih banyak diam. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah Luna tertidur, Amara membereskan dapur. Rafa sudah duduk di ruang keluarga, memegang segelas air, menatap kosong ke arah TV yang mati. Dia sudah mengganti pakaian dengan kaos dan celana training, penampilan paling santainya.
Amara menghampiri, duduk di ujung sofa yang sama, menjaga jarak. Dia menarik napas dalam.
“Kau dapat pesanku?” tanyanya, membuka percakapan.
Rafa mengangguk, tidak menoleh. “Dapat.”
“Aku ingin kita bicara. Seperti dua orang dewasa. Tidak saling menyalahkan.”
Rafa akhirnya menoleh. Matanya mengamatinya, seolah mencari tanda-tanda permusuhan. “Aku juga lelah berdebat, Mara.”
“Ini bukan untuk berdebat,” tegas Amara, suaranya tenang namun jelas.
“Ini untuk menyampaikan. Aku… akan mulai menerima proyek desain lagi. Secara serius. Proyek dari Clara sudah jalan. Dan tadi siang, Ibu Dewi—mama teman Luna—juga menawari aku proyek desain klinik suaminya.”
Rafa mengerutkan kening. “Ibu Dewi? Yang mana?”
“Yang baru pindah. Itu tidak penting. Yang penting, aku akan mengerjakan ini. Aku akan menghasilkan uang dari kemampuanku sendiri.”
“Kita tidak butuh uang itu, Amara,” kata Rafa, mencoba bersikap rasional.
“Aku tahu! Tapi aku butuh ini!” suara Amara sedikit meninggi, tapi dia segera mengendalikannya.
“Ini bukan tentang uang, Rafa. Ini tentang… harga diri. Tentang merasa bahwa aku masih bisa berkontribusi pada sesuatu di luar dinding rumah ini. Tentang Luna melihat bahwa ibunya bukan hanya seseorang yang mengantarnya dan menungguinya.”
Rafa menghela napas, meminum airnya. “Aku tidak pernah melarangmu bekerja.”
“Kau juga tidak pernah mendukungnya! Setiap kali aku mencoba bicara tentang diriku, tentang keinginanku, kau mengalihkannya. Atau bilang ‘kita sudah bahagia seperti ini’. Atau yang terakhir, bilang aku ‘emosional’.”
Amara mengepalkan tangannya di pangkuannya.
“Aku tidak emosional. Aku jelas. Aku akan bekerja lagi. Aku butuh dukunganmu untuk ini. Atau setidaknya… pengertianmu.”
Diam sejenak. Rafa memandangi gelas di tangannya.
“Dan kalau proyek-proyek ini menyita waktumu? Mengabaikan Luna? Mengabaikan… kita?”
“Aku akan mengatur waktu. Seperti kau mengatur meeting-mu. Luna tetap prioritas. Tapi aku tidak akan lagi menjadi prioritas terakhir untuk diriku sendiri.” Amara bersuara dengan keyakinan yang bahkan mengejutkan dirinya.
“Dan tentang ‘kita’… Rafa, ‘kita’ sedang tidak baik-baik saja. Dan berpura-pura baik-baik saja sambil diam bukan cara memperbaikinya.”
Rafa terdiam lama. Suasana ruangan terasa padat oleh semua hal yang tidak diucapkan: tentang kuitansi, tentang jarak, tentang kebohongan.
“Aku tidak tahu harus berkata apa, Mara,” akhirnya Rafa berujar, suaranya lelah. “Semua berubah terlalu cepat.”
“Tidak cepat, Rafa. Sudah bertahun-tahun. Aku baru mulai menyadarinya.”
Tidak ada tanggapan. Percakapan macet lagi. Tapi kali ini, Amara tidak merasa kalah. Dia sudah menyatakan niatnya. Itu sudah cukup untuk malam ini.
Dia berdiri. “Aku tidur di kamar kita. Kau bisa di kamar tamu lagi kalau mau. Atau… terserah.”
Dia berjalan pergi, meninggalkan Rafa sendirian dengan pikirannya yang gelap.
Beberapa hari kemudian, di suatu Sabtu sore, kedatangan yang tidak terduga menyemarakkan rumah itu.
Kakak Amara, Riana, muncul dengan tas ransel besar dan tawa yang riuh. Riana, yang lebih tua tiga tahun, adalah kebalikan Amara: rambut pendek diwarnai merah tembaga, berpakaian celana cargo dan tank top, seorang fotografer lepas yang hidupnya penuh petualangan.
“Tante Ri!” teriak Luna, berlari dan memeluknya.
“Wah, ponakanku makin cantik!” Riana mengangkat Luna tinggi-tinggi. Dia mencium Amara di pipi.
“Surprise! Lagi ada assignment di Jakarta, sekalian numpang mandi air panas yang enak, dong. Kos-kosan aku airnya payah.”
Amara tersenyum lega. Kehadiran kakaknya seperti angin segar. Riana langsung mencium suasana. Matanya yang tajam memindai ruangan, lalu menatap wajah Amara, dan kemudian Rafa yang berdiri agak kaku di belakang.
“Rafa, masih sibuk kayak semut, ya?” sapa Riana riang.
“Biasa saja, Ri,” jawab Rafa dengan senyum tipis. “Kamu mau menginap?”
“Satu dua malam, ganggu kalian,” goda Riana.
Malam itu, setelah makan malam yang lebih ramah karena Riana, dan setelah Rafa mengundurkan diri ke ruang kerjanya dengan alasan kerja, Riana dan Amara duduk di balkon belakang.
Kota Jakarta berkelap-kelip di kejauhan. Riana menyalakan sebatang rokok.
“Larilah, kalau bau,” katanya.
“Nggak apa-apa,” jawab Amara. Dia jarang merokok, tapi aroma tembakaunya mengingatkannya pada masa muda mereka.
Mereka duduk dalam diam yang nyaman untuk beberapa saat.
“Gue liat tadi,” ucap Riana tiba-tiba, suaranya lebih rendah, lebih serius.
“Kaya ada tembok kaca setebal tiga meter antara lu dan Rafa. Bisa lihat, tapi nggak bisa sentuh.”
Amara tertawa getir. “Segitukah?”
“Iya. Dan lu, Mara…” Riana menoleh, matanya penuh perhatian.
“Kamu dulu yang paling berapi-api. Ingat nggak, waktu mau masuk jurusan desain, berantem sama Bapak sampe minggu nggak bicara? Waktu proyek pertama, lu begadang tiga hari, mata kayak panda, tapi sorotnya nyala-nyala. Lu yang berani, yang keras kepala, yang percaya sama suara sendiri.”
Amara mendengarkan, nostalgia yang pahit menyeruak.
“Sekarang…” Riana menghembuskan asap, memandangi adiknya.
“Kayak lilin yang hampir habis. Masih ada apinya, tapi kecil banget. Kayak sebentar lagi bisa mati tertiup angin.”
Metafora itu tepat sasaran. Amara merasa dadanya sesak. Air matanya, yang selama ini ditahan, akhirnya menetes diam-diam di pipinya yang diterangi cahaya lampu balkon yang temaram.
“Gue lelah, Ri,” bisiknya, suaranya pecah. “Gue tersesat di rumah sendiri.”
Riana mematikan rokoknya, lalu mendekat, memeluk bahu Amara.
“Gue tahu. Keliatan. Rumah ini… bagus, sih. Tapi kayak set film. Terlalu sempurna. Nggak ada ‘berantakannya’. Nggak ada hidup.”
Pelukan itu membuat Amara semakin meleleh. Dia menceritakan segalanya.
Tentang taplak meja, tentang kuitansi, tentang pertengkaran, tentang proyek Clara, tentang pertanyaan Ibu Dewi, tentang perasaannya yang hampa.
Riana mendengarkan tanpa menghakimi. Saat Amara selesai, dia berkata, “Lu udah ambil langkah pertama."
"Proyek itu. Itu bagus. Tapi jangan cuma kerja, Mara. Lu harus reclaim hidup lu. Bukan cuma karir. Tapi diri lu sendiri. Hobi lu, teman-teman lu, kegilaan kecil lu.”
“Aku nggak tahu lagi siapa diriku di luar itu semua.”
“Maka cari!” kata Riana. “Lu punya kaki. Punya tangan. Punya otak. Punya hati. Coba lagi hal-hal yang dulu bikin lu senyum-senyum sendiri. Keluar dari rumah ini. Jalan-jalan sendiri. Nongkrong di kafe yang nggak mungkin Rafa dateng. Kenalan sama orang baru. Baca buku yang nggak ada hubungannya dengan parenting atau desain interior.”
Nasihat itu terdengar sederhana, tapi bagi Amara, seperti sebuah wahyu. Dia telah membatasi dunianya begitu kecil.
“Rafa…,” gumam Amara.
“Urusan Rafa nanti. Urus dirimu dulu. Kalau lu sudah kembali jadi ‘Amara’, baru lu bisa lihat dengan jelas apa yang lu mau dari hubungan ini. Dan lu bisa berdiri sejajar, nggak cuma numpang hidup.”
Mereka berbicara sampai larut. Riana bercerita tentang petualangannya, tentang orang-orang aneh dan tempat-tempat indah yang dilihatnya.
Dunia di luar sana tiba-tiba terasa begitu besar, begitu mungkin, lagi.
Saat mereka masuk, rumah itu masih sunyi. Rafa sudah tidur di kamar tamu. Tapi malam ini, Amara tidak merasa kesepian. Dia memiliki secercah cahaya dari kakaknya, dan sebuah peta kasar yang mulai digambarkan di benaknya.
Di kamar tidurnya, sebelum tidur, Amara membuka sketchbook birunya. Dia tidak menggambar desain. Dia menulis, dengan huruf-huruf besar dan penuh keyakinan:
“RECLAIM.”
Dan di bawahnya, sebuah daftar kecil:
Jalan pagi ke taman sendiri.
Nonton film arthouse di bioskop sendiri.
Telpon Sari (teman kuliah).
Coba kelas pottery?
Dia menutup buku itu, mematikan lampu. Dalam kegelapan, api kecil di dalam dirinya, yang disebut Riana seperti lilin yang hampir habis, terasa seperti mendapatkan sumbu baru.
Masih kecil, tapi nyalanya lebih stabil, lebih bertekad untuk tidak mudah padam.
Kunjungan Riana adalah katalis yang dia butuhkan.
Bukan hanya untuk berkarya, tapi untuk hidup kembali. Dan besok, dia akan memulai, dengan satu langkah kecil di luar gerbang rumah sempurna yang sekaligus menjadi penjaranya.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.