Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Jantung Qi
Dinding beton di sekeliling mereka masih mengerang, sebuah suara rendah yang seolah muncul dari sumsum bumi. Sisa-sisa ledakan vakum yang dipicu Li Wei untuk menghentikan para pembunuh berpakaian kamuflase magnetik tadi masih menyisakan debu putih yang jatuh dari langit-langit, menutupi lantai logam yang dingin seperti salju kelabu. Li Wei berdiri di depan sebuah gerbang melingkar raksasa yang permukaannya dipenuhi ukiran sirkuit kuno.
"Getarannya... itu berasal dari balik pintu ini," bisik Xiao Hu. Tangannya gemetar hebat saat ia mencengkeram tas berisi modul data kristal yang baru saja mereka selamatkan dari ruang arsip berdebu.
Chen Xi melangkah maju, jemarinya dengan cepat menari di atas layar tablet sarafnya yang kini berpendar merah peringatan. "Li Wei, tingkat radiasi elektromagnetik di balik pintu ini melampaui skala aman Level 4. Jika kita memaksa masuk, sistem saraf kita akan terpapar langsung pada partikel Qi murni yang tidak stabil."
"Kita tidak punya jalan kembali," sahut Li Wei tanpa menoleh. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih mengeluarkan percikan energi ungu tipis—sisa dari sinkronisasi paksa dengan data saraf ayahnya. "Para pembunuh itu hanya gelombang pertama dari faksi Naga Laut. Jika kita tidak menemukan sumber kekuatan untuk mengimbangi mereka, kita hanya menunggu waktu sampai koridor ini menjadi kuburan kita."
"Tapi radiasi ini bisa menghanguskan kesadaranmu, Li!" seru Chen Xi, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
"Aku sudah kehilangan banyak hal, Chen Xi. Martabatku sebagai perwira, rumahku, bahkan sahabatku," Li Wei meletakkan telapak tangannya pada panel pintu yang membeku. "Aku tidak akan membiarkan kematian mereka menjadi sia-sia hanya karena aku takut pada sedikit panas di sarafku."
Seketika, simbol matahari bersayap di tengah pintu itu menyala dengan warna biru elektrik. Suara hidrolik yang berat berdesis, dan gerbang itu terbelah perlahan, menyingkapkan sebuah ruangan berbentuk kubah raksasa yang luasnya sanggup menelan sebuah kapal induk.
Di tengah ruangan, sebuah pilar kristal setinggi sepuluh meter berdiri tegak, terbungkus dalam jaring-jaring kabel tembaga masif dan sirkuit saraf yang berdenyut ritmis. Cairan biru berpendar mengalir di dalam pipa-pipa transparan yang mengelilinginya, menciptakan suara detak jantung yang berat dan bergema ke seluruh ruangan.
"Indah sekali..." gumam Xiao Hu, matanya merefleksikan cahaya biru yang memenuhi setiap sudut kubah.
"Ini bukan keindahan, Xiao Hu. Ini adalah mesin pemeras jiwa," potong Li Wei dengan nada getir. Ia melangkah mendekati pilar tersebut, merasakan rambut di lengannya berdiri akibat tegangan listrik statis yang sangat tinggi.
"Li Wei, sensor-ku menangkap pola yang mengerikan," Chen Xi mendekat dengan langkah ragu. "Pilar ini bukan sekadar reaktor energi. Frekuensi energinya memiliki pola gelombang otak manusia yang sedang menderita. Ini adalah inti dari Project Zero yang tertulis di dokumen ayahmu."
"Artinya, cahaya biru ini... berasal dari manusia?" tanya Xiao Hu dengan suara mencicit, ia mundur selangkah dengan wajah pucat.
"Mereka tidak menciptakan energi dari ketiadaan, Xiao Hu," jawab Li Wei sambil menatap pilar itu dengan rasa muak. "Kekaisaran memeras residu kesadaran para prajurit yang gugur dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk mesin-mesin perang mereka. Cahaya yang kau lihat adalah sisa-sisa teriakan yang dibekukan dalam bentuk partikel."
"Dan sekarang, reaktor ini sedang mengalami overload," Chen Xi menunjuk ke puncak pilar di mana bunga api biru mulai meletup secara liar. "Sistem pendingin bunker ini sudah rusak total setelah ledakan di tingkat bawah tadi. Jika energi ini tidak segera dialirkan atau distabilkan, lereng gunung ini akan lenyap dalam ledakan termonuklir siber."
"Aku harus menyerap sebagian muatannya," kata Li Wei pelan, matanya mulai berpendar ungu, bereaksi terhadap radiasi di depannya.
"Kau gila! Kapasitas sarafmu masih di Level 4! Menyentuh energi murni Level 6 seperti ini akan membakar sumsum tulang belakangmu dalam hitungan detik!" Chen Xi mencoba menarik lengan Li Wei, namun ia justru tersentak oleh aliran listrik statis yang memercik dari jubah Li Wei.
"Aku bisa merasakannya, Chen Xi," Li Wei menatap pilar itu dengan ekspresi yang sulit diartikan—perpaduan antara kemarahan dan empati yang dalam. "Energi ini... mereka bukan sekadar angka di layar tabletmu. Mereka adalah jiwa-jiwa yang ingin dilepaskan. Jika aku bisa menyelaraskan frekuensi Void-ku dengan kesedihan mereka, aku bisa menstabilkan intinya."
"Li Wei, dengarkan aku!" Chen Xi berdiri di depan Li Wei, menghalangi jalannya. "Jangan gunakan alasan martabat klan atau tugas untuk bunuh diri. Kau manusia, bukan wadah pembuangan energi!"
"Aku melakukannya agar kau dan Xiao Hu punya kesempatan untuk keluar dari sini," Li Wei meletakkan tangannya di bahu Chen Xi, sebuah gestur yang jarang ia lakukan. "Dunia di luar sana sedang menunggu seseorang yang bisa membongkar kebohongan ini. Aku akan menjadi jembatan itu, meskipun aku harus terbakar karenanya."
Xiao Hu mulai terisak pelan di sudut ruangan, suara tangisnya tenggelam oleh dengungan reaktor yang kian meninggi hingga mencapai frekuensi yang menyakitkan telinga.
"Chen Xi, siapkan protokol monitoring saraf," perintah Li Wei, suaranya kini kembali dingin dan penuh otoritas. "Jika kau melihat sinyal kesadaranku mulai memudar, jangan coba-coba menarikku secara fisik. Gunakan jammer frekuensi untuk memutus koneksinya."
"Aku tidak janji bisa melakukan itu jika kau mulai terpanggang," balas Chen Xi dengan suara parau, jemarinya gemetar saat ia mulai mengatur parameter di tabletnya.
Li Wei melangkah melewati garis batas terakhir. Suhu di sekitarnya melonjak drastis, membuat uap air di udara langsung menguap. Ia berdiri tepat di depan kristal jantung Qi, menatap pantulan dirinya yang tampak sangat kecil di hadapan raksasa energi tersebut.
"Mari kita lihat," bisik Li Wei pada kegelapan di dalam dirinya. "Apakah aku cukup kuat untuk menampung penderitaan dunia ini."
Ia mengulurkan tangan kanannya, perlahan-lahan mendekati permukaan kristal yang bergetar hebat. Ruangan itu tiba-tiba sunyi, seolah-olah waktu berhenti berdetak saat ujung jarinya hampir bersentuhan dengan inti energi yang paling mematikan di seluruh wilayah Neo-Naga.
Ujung jari Li Wei menyentuh permukaan kristal, dan seketika seluruh ruangan meledak dalam cahaya biru yang membutakan. Bukan suara ledakan yang terdengar, melainkan sebuah jeritan frekuensi tinggi yang langsung menghantam pusat sarafnya. Li Wei tersentak, punggungnya melengkung kaku, dan kedua matanya terbelalak memancarkan pendaran ungu yang beradu liar dengan kilatan biru reaktor.
"Li Wei! Putus koneksinya sekarang!" teriak Chen Xi, namun suaranya seolah terhisap oleh kekosongan udara yang tercipta di sekitar pilar.
Di dalam benak Li Wei, gerbang persepsi runtuh. Ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah; ia berada di tengah lautan memori yang pecah. Ia melihat wajah-wajah tanpa nama, para prajurit yang mengenakan seragam klan Li, mereka yang tertawa di kamp latihan, lalu berubah menjadi bayangan pucat yang diseret ke dalam mesin-mesin dingin. Rasa sakit mereka, ketakutan mereka saat kesadaran mereka dicabik untuk dijadikan daya, mengalir masuk ke dalam nadi Void-nya seperti lava cair.
"Terlalu banyak... ini bukan sekadar energi," rintih Li Wei, darah mulai merembes dari pori-pori kulitnya.
"Sinyal sarafnya melonjak ke zona merah! Li Wei, otakmu akan mendidih!" Chen Xi berlutut di depan tabletnya, jemarinya bergerak panik mencoba menyuntikkan kode penstabil melalui udara. "Xiao Hu! Jangan mendekat! Tetap di zona aman!"
"Tapi Kak Li... dia akan mati, Kak Chen!" Xiao Hu berteriak sambil menutup matanya, tak kuat melihat tubuh Li Wei yang mulai mengeluarkan uap panas.
Li Wei merasakan ego-nya mulai terkikis. Ia merasa dirinya bukan lagi seorang perwira, melainkan bagian dari aliran data yang tak berujung. Namun, di tengah badai penderitaan itu, ia menemukan satu titik frekuensi yang berbeda. Sebuah kode enkripsi yang sangat ia kenal—jejak saraf ayahnya.
“Jangan hanya menerima, Li Wei. Arahkan. Kau adalah pengemudi, bukan wadah.”
Suara itu bergema di dalam kepalanya, memberikan pegangan di tengah kekacauan. Li Wei mengertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah. Ia memaksa tangan kirinya yang gemetar untuk ikut mencengkeram kristal tersebut. Dengan satu sentakan tekad yang luar biasa, ia membalikkan arah aliran energinya. Bukannya membiarkan Qi menginvasi sarafnya, ia mulai memaksakan frekuensi Void-nya untuk menyelimuti inti reaktor.
"Dia mencoba melakukan sinkronisasi dua arah," bisik Chen Xi, matanya membelalak menatap grafik di layar. "Dia gila... dia mencoba menjinakkan badai itu dengan tangan kosong."
Pendaran di ruangan itu perlahan berubah. Warna biru yang tajam mulai bercampur dengan warna ungu pekat, menciptakan aura magis yang menyelimuti tubuh Li Wei. Getaran yang tadinya membuat mual perlahan mereda menjadi dengungan rendah yang stabil. Tekanan udara yang menyesakkan di dalam kubah perlahan mulai melonggar.
"Berhasil..." gumam Xiao Hu, perlahan membuka matanya. "Cahayanya... cahayanya jadi tenang."
Li Wei terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan darah. Ia perlahan melepaskan pegangannya dari kristal. Pilar itu kini berdenyut dengan warna ungu kebiruan yang stabil, tidak lagi meletupkan bunga api yang merusak. Namun, Li Wei tidak jatuh. Ia berdiri tegak, meski tubuhnya masih bergetar hebat.
"Li Wei?" Chen Xi mendekat dengan ragu, senjatanya masih disarungkan.
Li Wei berbalik perlahan. Saat ia membuka mata, Chen Xi tersentak mundur. Iris mata Li Wei bukan lagi cokelat gelap; ada lingkaran ungu neon yang berdenyut di sana, dikelilingi oleh urat-urat halus yang bercahaya di bawah kulit pelipisnya.
"Aku bisa mendengar mereka," suara Li Wei terdengar berbeda, lebih berat dan memiliki gema mekanis yang tipis. "Mereka tidak lagi berteriak. Mereka menunggu."
"Kau mencapai sinkronisasi Level 5?" tanya Chen Xi, suaranya nyaris berbisik. "Tapi... itu seharusnya mustahil tanpa perangkat keras tambahan."
"Bukan sinkronisasi penuh," Li Wei menatap tangannya yang kini memiliki aura tipis yang tidak hilang. "Ini adalah beban. Aku baru saja menelan sebagian dari sejarah kelam klan ini. Dan rasanya... sangat perih."
"Kak Li, lihat!" Xiao Hu menunjuk ke arah pintu keluar. "Lampu indikatornya berubah menjadi hijau. Kita bisa lewat!"
"Ayo bergerak," Li Wei melangkah maju, namun langkahnya goyah sejenak sebelum ia menyeimbangkan diri. "Reaktor ini sudah stabil untuk sementara, tapi tindakanku barusan pasti telah mengirimkan sinyal ke pusat kendali Kekaisaran. Mereka akan tahu bahwa ada seseorang yang telah menyentuh Jantung Qi."
"Artinya kita harus keluar dari bunker ini sebelum mereka melakukan penguncian total," tambah Chen Xi sambil mengemas peralatannya.
Mereka berjalan meninggalkan ruang reaktor, menuju koridor medis yang akan membawa mereka ke tingkat permukaan. Li Wei berjalan di depan, langkahnya kini terasa lebih ringan namun meninggalkan jejak energi tipis di lantai logam. Ia tahu bahwa apa yang baru saja ia lakukan adalah sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaannya sendiri, sebuah evolusi yang dipaksakan oleh keadaan.
"Chen Xi," panggil Li Wei saat mereka berada di ambang pintu medis.
"Ya?"
"Jika nanti aku mulai kehilangan kendali atas energi ini... jika aku mulai melupakan siapa diriku... kau tahu apa yang harus kau lakukan," ucap Li Wei tanpa menoleh.
Chen Xi terdiam sejenak, menatap punggung pria yang kini tampak seperti monster sekaligus penyelamat bagi mereka. "Aku akan melakukan apa yang perlu dilakukan, Li. Tapi untuk sekarang, fokuslah pada napasmu."
Mereka memasuki ruang medis yang putih dan berlumut, tidak menyadari bahwa di balik keheningan itu, saraf Li Wei sedang bersiap untuk sebuah gejolak yang jauh lebih menyakitkan—sebuah evolusi perih yang akan mengubahnya selamanya.