Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginspirasi Dunia
Temukan kerusakan pada lokasi pembangunan dan ancaman dari kelompok lokal membuat tim Bumi Kreatif harus berpikir cepat untuk menemukan solusi. Nara tahu bahwa mereka tidak bisa hanya memaksakan kehendak – mereka perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal jika ingin program ini berhasil.
"Saya punya ide," ucap Sofia dengan suara yang jelas saat mereka berkumpul untuk membahas situasi. "Kenapa kita tidak mengadakan festival seni yang menggabungkan tradisi Quechua dengan seni modern? Begitu orang-orang melihat betapa indah dan berharganya budaya kita, mereka akan mengerti bahwa program ini hanya ingin membantu mengembangkannya."
Ide Sofia membuat semua orang terinspirasi. Mereka segera mulai merencanakan "Festival Inka Kreatif" yang akan menjadi ajang untuk menunjukkan keindahan budaya Peru kepada dunia sambil juga memperkenalkan konsep pendidikan kreatif yang mereka bawa.
PERENCANAAN FESTIVAL
Mereka bekerja sama dengan komunitas Quechua, seniman lokal, dan pemerintah daerah untuk menyusun konsep festival yang benar-benar mencerminkan jiwa budaya Peru:
- Pameran Seni Tradisional – menampilkan karya seni dari berbagai komunitas adat di Peru, termasuk anyaman, ukiran, dan keramik
- Pertunjukan Musik dan Tari – menggabungkan tarian tradisional Inka dengan musik modern yang menggunakan alat musik tradisional
- Lokakarya Kreatif – mengajarkan teknik seni baru sambil tetap menghargai metode tradisional
- Pameran Foto – menampilkan kehidupan sehari-hari komunitas adat dan keindahan alam Peru
- Pasar Kreatif – untuk memasarkan produk karya tangan masyarakat lokal dengan harga yang adil
Sofia menjadi salah satu koordinator muda dalam penyelenggaraan festival. Dia bekerja dengan teman-temannya dari komunitas Quechua untuk mengumpulkan karya seni terbaik dan mempersiapkan pertunjukan yang akan mereka tampilkan.
"Aku ingin orang-orang tahu bahwa budaya kita tidak kuno atau tertinggal," ucap Sofia saat sedang mengajak teman-temannya berlatih tarian tradisional. "Budaya kita bisa hidup dan berkembang jika kita bisa menggabungkannya dengan hal-hal baru."
MENGAJAK KELOMPOK PENENTANG
Nara dan timnya memutuskan untuk menghubungi kelompok yang telah mengganggu pembangunan pusat. Mereka menemukan bahwa pemimpin kelompok tersebut adalah Diego – seorang pemuda lokal yang sangat mencintai budaya Peru dan takut bahwa masuknya budaya asing akan merusaknya.
Kita ingin bertemu denganmu untuk berbicara dengan tenang," ucap Nara saat menemui Diego di sebuah kafe kecil di dekat Cuzco. "Kami tidak ingin menjadi musuhmu atau merusak apa yang kamu cintai. Sebaliknya, kami ingin membantu kamu melindungi dan mempromosikannya."
Diego awalnya masih curiga, tapi setelah melihat rencana festival dan karya seni yang akan ditampilkan, dia mulai menunjukkan minat. "Aku hanya takut bahwa orang-orang akan melupakan akar kita dan budaya kita akan hilang seiring waktu," ucapnya dengan suara yang penuh emosi.
Reza yang telah mempelajari banyak tentang budaya Peru menjawab, "Kita mengerti kekhawatiranmu. Tapi seni dan budaya tidak bisa hidup jika hanya diam dan tidak berkembang. Kita bisa membantu kamu mengembangkan budaya kamu agar tetap relevan dan bisa dinikmati oleh generasi muda."
Mereka mengundang Diego dan anggota kelompoknya untuk bergabung dalam penyelenggaraan festival. Awalnya mereka ragu, tapi setelah melihat betapa seriusnya tim Bumi Kreatif dalam menghargai budaya lokal, mereka akhirnya menyetujuinya.
HARI FESTIVAL INKA KREATIF
Festival yang diadakan di lapangan besar dekat situs kuno Sacsayhuamán berhasil menarik ribuan pengunjung – dari masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara. Tempat tersebut dihiasi dengan dekorasi tradisional Quechua yang indah dan karya seni dari berbagai komunitas adat.
Acara dimulai dengan pertunjukan tarian tradisional yang dilakukan oleh anak-anak dari komunitas Quechua, termasuk Sofia dan teman-temannya. Penampilan mereka yang penuh semangat membuat seluruh penonton terpukau dan memberikan tepuk tangan yang meriah.
Setelah itu, tim Bumi Kreatif menunjukkan karya seni anak-anak Indonesia yang menggabungkan tradisi lokal dengan seni modern. Banyak pengunjung yang terkejut melihat kesamaan antara budaya Indonesia dan Peru dalam menghargai alam dan makna filosofis di balik karya seni.
"Lihat ini," ucap Dito saat menunjukkan sebuah patung dari Indonesia yang mirip dengan patung tradisional Peru. "Meskipun kita berada di belahan dunia yang berbeda, tapi kita memiliki nilai-nilai yang sama dalam seni dan kehidupan."
Di lokakarya kreatif, anak-anak dari berbagai komunitas bekerja bersama untuk membuat karya seni kolaboratif. Mereka menggabungkan teknik anyaman Quechua dengan teknik melukis dari Indonesia, menghasilkan karya yang unik dan penuh dengan makna.
Diego yang awalnya menentang program mereka kini sedang aktif membantu mengatur acara festival. Dia melihat dengan bangga bagaimana masyarakat lokal dengan senang hati menerima ide baru sambil tetap menjaga tradisi mereka.
"Aku salah besar untuk menentang kalian," ucap Diego saat berbicara dengan Nara. "Kalian benar – budaya kita bisa tumbuh dan berkembang jika kita bersedia untuk berbagi dan belajar dari orang lain."
KEMENANGAN DAN KEBAHARGAIAN
Festival berjalan dengan sangat sukses. Banyak produk karya tangan masyarakat lokal terjual habis, dan banyak seniman lokal mendapatkan tawaran kerja sama dengan seniman dari Indonesia dan negara lain.
Pemerintah lokal yang awalnya ragu juga memberikan dukungan penuh setelah melihat suksesnya festival. Mereka bahkan menyetujui untuk memberikan tambahan dana untuk pembangunan pusat pendidikan kreatif dan mengembangkan program serupa di daerah lain di Peru.
"Saya tidak pernah membayangkan bahwa festival ini akan sukses seperti ini," ucap Maria dengan senyum lebar saat melihat anak-anak yang sedang bahagia membuat karya seni bersama. "Kalian telah membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan orang dari berbagai latar belakang."
Pada malam hari, saat festival memasuki puncak acara, seluruh peserta berkumpul untuk membuat karya seni besar secara bersama-sama. Di atas kanvas besar yang melintang di tengah lapangan, mereka menggambar pemandangan alam Peru dengan tambahan elemen dari berbagai budaya dunia, termasuk Indonesia.
Sofia diberi kehormatan untuk membuat sentuhan akhir pada karya tersebut. Dia menggambar dua burung yang terbang bersama di langit – satu mewakili burung Garuda dari Indonesia dan satu lagi mewakili burung Kondor dari Peru.
"Burung ini terbang bersama walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda," ucap Sofia saat menjelaskan makna karyanya. "Begitu juga dengan kita – kita bisa hidup bersama dan saling membantu walaupun kita memiliki budaya yang berbeda."
Seluruh penonton memberikan tepuk tangan yang meriah dan banyak yang menangis haru melihat momen yang penuh makna ini.
Setelah suksesnya festival, pembangunan pusat pendidikan kreatif bisa dilanjutkan dengan lancar. Banyak orang yang dulunya menentang kini menjadi pendukung aktif program tersebut, termasuk Diego yang menjadi salah satu instruktur seni di pusat.
Namun saat pembangunan memasuki tahap akhir, mereka mendapatkan kabar mengejutkan dari Indonesia. Ada masalah besar yang terjadi di kampus utama Bumi Kreatif – beberapa orang yang tidak senang dengan perkembangan program internasional mencoba mengambil alih kendali yayasan dengan tuduhan bahwa Nara dan timnya terlalu fokus pada pekerjaan luar negeri dan melupakan anak-anak di Indonesia.
"Kita harus kembali ke Indonesia segera," ucap Nara dengan wajah yang serius setelah menerima panggilan dari Clara. "Kampus utama adalah rumah kita dan kita tidak bisa membiarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab merusak semua yang telah kita bangun."
Mereka harus membuat keputusan sulit – sebagian dari mereka harus kembali ke Indonesia untuk menangani masalah tersebut, sementara yang lain harus tetap di Peru untuk menyelesaikan pembangunan pusat dan memastikan program berjalan dengan baik.
Apakah mereka akan berhasil mengatasi masalah di Indonesia dan membuktikan bahwa program internasional mereka juga bermanfaat bagi anak-anak di dalam negeri? Dan bagaimana dengan pusat pendidikan kreatif di Peru – apakah akan tetap berjalan dengan baik meskipun sebagian tim harus kembali ke Indonesia?
Selain itu, mereka mendapatkan tawaran dari organisasi pendidikan dunia untuk mengembangkan program pendidikan kreatif di lebih dari 20 negara di seluruh dunia. Ini adalah kesempatan besar, tapi juga akan mengharuskan mereka untuk bekerja lebih keras dan menemukan cara untuk mengelola program yang semakin luas...