NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut Puncak dan "Audit" Kasur yang Semakin Intens

Sisa pagi di kamar nomor 909 masih terasa seperti medan perang pasca-ledakan bom canggung.

Nara Amelinda, dengan rambut yang masih mencuat ke segala arah akibat posisi tidur baling-baling bambu semalam, duduk di tepi kasur sambil memeluk bantal gepeng hotel dengan protektif.

Di depannya, Arga berdiri dengan kaus hitamnya, terlihat sangat segar bahkan terlalu segar untuk seseorang yang baru saja melakukan pemerasan emosional lewat foto selfie tengah malam.

"Nara, kamu punya waktu lima belas menit untuk mandi sebelum kita ke restoran untuk sarapan. Secara jadwal, kita sudah terlambat sepuluh menit dari waktu prime time omelet yang baru matang," ujar Arga sambil memeriksa jam tangannya dengan wajah tanpa dosa.

"Gak mau! Aku mogok! Kamu licik banget, Ga! Masa foto orang lagi tidur estetik eh, maksudku tidur mangap gitu dijadiin barang bukti denda?" Nara mencebikkan bibir.

"Hapus gak fotonya!"

Arga mendekat, lalu sedikit membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Nara. Aroma maskulin bercampur wangi sabun hotel yang mahal langsung menyerang indra penciuman Nara.

"Foto itu sudah saya pindahkan ke folder terenkripsi dengan keamanan tingkat tinggi. Anggap saja itu jaminan investasi agar kamu tidak menendang saya keluar dari kasur di masa depan."

"Argaaaa! Kamu bener-bener robot mesum berkedok auditor!" teriak Nara, namun kakinya tetap melangkah menuju kamar mandi karena ia tahu mendebat Arga saat perut lapar adalah bunuh diri logis.

Di restoran hotel yang mewah dengan pemandangan lembah yang berkabut, Nara mencoba mengembalikan harga dirinya dengan cara mengambil makanan sebanyak mungkin. Piringnya penuh dengan sosis, omelet, jamur tumis, dan tiga jenis kue manis.

"Nara, secara nutrisi, piring kamu itu mengandung kalori yang cukup untuk menghidupi satu desa kecil selama dua hari," komentar Arga sambil memotong roti gandumnya dengan sangat rapi.

"Berisik! Ini cara aku ngatasin stres gara-gara semalam! Lagian, mumpung gratis!" Nara menyuap sosis besar ke mulutnya.

Tiba-tiba, seorang pria tinggi dengan pakaian olahraga ketat, sepertinya tamu hotel yang baru selesai lari pagi, berhenti di dekat meja mereka.

"Nara? Nara Amelinda?" tanya pria itu dengan mata berbinar.

"Ini aku, Rio! Kakak tingkat kamu pas kuliah yang dulu pernah minjemin kamu catatan akuntansi dasar!"

Nara tersedak beneran kali ini. Belum sempat ia menjawab, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol mendarat di atas meja, tepat di samping tangan Nara.

"Dia bersama suaminya," suara Arga terdengar sangat rendah, dingin, dan memiliki frekuensi yang sanggup membuat es di gelas jus Nara membeku kembali.

Rio menatap Arga, lalu menelan ludah. Aura Arga saat ini benar-benar seperti predator yang sedang menjaga wilayahnya. Setelah Rio kabur dengan alasan ingin lanjut lari, Nara menatap Arga dengan tatapan jahil.

"Cieee... ada yang cemburu nih?" goda Nara sambil menoel dagu Arga.

Arga kembali memotong roti gandumnya.

"Saya tidak cemburu. Saya hanya melakukan proteksi aset terhadap gangguan eksternal yang tidak memiliki izin operasional."

"Halah... Proteksi aset apa??? Bilang aja cemburu gengsi amat dah."

Gerutu Nara sambil memasukkan omlete ke dalam mulutnya.

Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar untuk mengemas barang. Nara sedang mencoba mengambil tasnya yang diletakkan Arga di atas lemari tinggi, sebuah tindakan yang menurut Nara adalah diskriminasi terhadap tinggi badannya.

"Arga! Turunin tas aku! Jangan tinggi-tinggi naruhnya, aku bukan jerapah!"

"Gunakan kursi, Nara. Itu alat bantu yang diciptakan manusia untuk mengatasi keterbatasan fisik," sahut Arga dari arah balkon.

Nara mendengus, ia nekat berjinjit di atas karpet yang licin. Saat ujung jarinya menyentuh tas, kakinya selip.

"Aaaaa!"

Nara jatuh ke belakang. Tepat pada saat itu, Arga melangkah masuk dan refleks menangkapnya. Namun, karena berat badan Nara yang tiba-tiba meluncur deras, Arga kehilangan keseimbangan. Mereka berdua jatuh ke atas tempat tidur king size dengan posisi yang sangat mengkhawatirkan yaitu Arga di bawah, dan Nara menindihnya tepat di atas dada.

Napas mereka beradu. Wajah Nara hanya berjarak beberapa milimeter dari wajah Arga. Hening, hanya suara detak jantung yang entah milik siapa, yang berdegup kencang seperti sedang lari maraton.

Nara terpaku melihat mata tajam Arga yang biasanya dingin kini tampak sedikit goyah. Tatapan Arga turun ke bibir Nara, lalu kembali ke matanya. Tangan Arga yang awalnya berada di pinggang Nara untuk menahan jatuh, entah mengapa tidak segera dilepaskan.

"Nara..." bisik Arga, suaranya lebih berat dari biasanya.

"I-iya?" Nara tidak bisa bergerak.

Ia merasa seperti tersihir oleh tatapan sang robot.

Arga perlahan menggerakkan tangannya, menyentuh tengkuk Nara, menariknya sedikit lebih dekat. Nara memejamkan mata, mengira ledakan besar akan terjadi. Namun, di detik terakhir, suara pintu kamar diketuk dengan keras.

"Permisi! Housekeeping!"

Nara langsung meloncat bangun seolah baru saja tersengat listrik tegangan tinggi. Ia buru-buru merapikan piyamanya yang berantakan, sementara Arga duduk dengan wajah yang, meskipun tetap lempeng tapi telinganya berubah menjadi merah padam yang sangat mencolok.

"Masuk saja!" teriak Arga dengan suara yang sedikit pecah.

Petugas hotel masuk untuk mengambil cucian kotor, meninggalkan pasangan itu dalam keheningan yang lebih panas daripada oven roti.

Satu jam kemudian, mereka sudah berada di area kebun teh untuk jalan-jalan terakhir sebelum check out. Kabut tebal turun, membuat jarak pandang hanya sekitar dua meter.

"Ga, dingin..." keluh Nara sambil mengerutkan jaketnya.

Tanpa berkata apa-apa, Arga menarik tangan Nara dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang hangat. Jari-jari mereka bertautan di dalam sana.

"Lakukan ini agar suhu tubuh kita tidak drop. Ini murni tindakan medis untuk mencegah hipotermia ringan," ujar Arga, masih menatap lurus ke depan seolah sedang membacakan laporan cuaca.

Nara tersenyum kecil di balik syalnya.

"Modus bilang aja, Pak Audit. Tapi makasih ya, anget."

Arga tidak membantah. Ia justru semakin erat menggenggam tangan Nara di dalam saku jaketnya. Mereka berjalan menembus kabut dalam diam, tidak ada pengakuan perasaan, tidak ada drama cinta yang berlebihan, hanya sebuah genggaman tangan yang seolah menegaskan bahwa di tengah kabut yang tidak pasti, mereka setidaknya punya satu sama lain untuk dipegang.

"Nara," panggil Arga pelan saat mereka hampir sampai di mobil.

"Ya?"

"Denda semalam... saya anggap lunas."

Nara menoleh kaget.

"Lho, beneran? Kok tumben baik?"

Arga membukakan pintu mobil untuk Nara.

"Karena secara nilai tukar, momen tadi... di atas tempat tidur tadi... jauh lebih berharga daripada dua puluh lima juta rupiah."

Nara melongo, wajahnya kembali panas. Sebelum ia sempat membalas, Arga sudah menutup pintu dan berjalan menuju sisi kemudi dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan tapi juga sangat tampan.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!