Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Luffy vs Crocodile — Round Two
"GOMU GOMU NO PISTOL!"
Tinjuan Luffy melesat ke arah Crocodile dengan kecepatan tinggi!
Tapi Crocodile tidak menghindar.
Tubuhnya berubah jadi pasir—tinjuan Luffy melewatinya tanpa efek!
"Masih sama seperti tadi," Crocodile berkata dengan santai. "Kau sudah tahu tangan kananmu berdarah, tapi tinjuanmu hanya menyentuh pasir—"
Tapi Crocodile tiba-tiba berhenti bicara.
Karena tinjuan Luffy yang sudah melewati tubuh pasirnya... meregang kembali ke belakang!
Dan menghantam tubuh Crocodile dari belakang dengan darah di permukaan tinjuannya!
WHAM!
Crocodile terpental ke depan!
"APA?!" untuk pertama kalinya, ekspresi Crocodile benar-benar terkejut.
Kami semua di pinggir alun-alun terbuka mulutnya.
"DIA KENA!" Usopp berteriak histeris.
"Brilliant!" aku tidak bisa menahan senyum. "Luffy sengaja melewatkan tinjuannya melalui tubuh pasir Crocodile—lalu menarik kembali dari arah yang tidak terduga!"
Zoro yang duduk di sampingku menyeringai meskipun kesakitan. "Baka-Luffy ternyata tidak sebodoh yang kukira."
Crocodile berdiri, menyeka debu dari mantelnya. Ekspresinya sudah berubah total—tidak ada lagi senyum mengejek. Matanya menatap Luffy dengan serius.
"Kau... benar-benar bisa menyentuhku."
"Kubilang kan," Luffy mengepalkan tangan berdarahnya. "Kali ini aku yang menang."
Crocodile terdiam sejenak.
Lalu pasir di seluruh alun-alun mulai bergerak sekaligus.
Bukan sedikit-sedikit seperti tadi. Semua pasir. Setiap butir pasir di alun-alun itu bangkit sekaligus, membentuk dinding-dinding pasir yang mengepung Luffy dari segala arah!
"Kau mungkin bisa menyentuhku dengan darah itu," Crocodile berkata dengan suara rendah yang lebih berbahaya dari sebelumnya. "Tapi aku tidak perlu menyentuhmu secara langsung untuk membunuhmu."
Dinding-dinding pasir runtuh ke arah Luffy dari segala penjuru!
"Ground Burial!"
Pasir menghantam Luffy dari semua arah sekaligus—menguburnya!
"LUFFY!" Vivi berteriak.
Aku sudah siap berlari—tapi sesuatu di tengah tumpukan pasir itu bergerak.
Bergerak... dan mengembang.
"Gomu Gomu no... FUSEN!"
BOOM!
Tubuh Luffy mengembang seperti balon raksasa—mendorong semua pasir yang menguburnya ke luar dengan kekuatan ledakan!
Pasir beterbangan ke segala penjuru!
Luffy muncul dari tumpukan pasir, masih berdiri, tangan kanannya masih mengeluarkan darah.
"Keren," gumamku.
Crocodile mengernyit. "Tubuh karetmu... lebih merepotkan dari yang kukira."
"Aku belum selesai!" Luffy menarik lengan kirinya ke belakang jauh sekali. "Gomu Gomu no—"
Crocodile mengangkat tangan kanannya—hook emas berkilauan!
"Kau sudah bilang kau butuh darah untuk menyentuhku. Tapi bagaimana dengan ini—"
Tiba-tiba dari hook emasnya, cairan kuning pekat mengalir!
"POISON HOOK!"
Hook beracun itu melesat ke arah Luffy!
"LUFFY HINDARI!" teriakku keras.
Luffy melompat ke samping—tapi hook itu menyerempet lengan kirinya!
Goresan kecil. Tapi dari goresan itu, racun mulai menyebar dengan cepat—kulit di sekitar goresan berubah kehijauan!
"GAH!" Luffy meringis, memegangi lengannya.
"Luffy!" Chopper langsung berlari ke pinggir arena dengan wajah panik. "Itu racun berbahaya! Aku butuh—"
"Tetap di sana, Chopper!" Luffy memotong dengan tegas. "Ini pertarunganku!"
"Tapi racun itu akan—"
"AKU BILANG TETAP DI SANA!"
Chopper berhenti, air mata menggenang di matanya.
Crocodile tertawa pelan. "Racun itu akan mematikan sistem sarafmu dalam sepuluh menit. Kau masih bisa bergerak sekarang, tapi semakin lama... semakin lemah."
Luffy menatap lengannya yang perlahan membiru.
Lalu dia menatap Crocodile.
"Sepuluh menit lebih dari cukup."
Ekspresi Crocodile mengeras.
Luffy menarik kedua tangannya ke belakang sejauh mungkin—lebih jauh dari yang pernah kulihat sebelumnya!
Udara di sekitar tinjuannya mulai bergetar karena kecepatan regangan!
"Gomu Gomu no... BAZOOKA!"
WHAM!
Kedua tinjuan menghantam Crocodile dari depan!
Tapi Crocodile sudah siap—tubuhnya berubah jadi pasir di titik impak!
Hanya... tidak semua bagian tubuhnya berhasil berubah.
Karena darah di tinjuan Luffy menyebar ke partikel-partikel pasir yang membentuk tubuh Crocodile—membuatnya solid sebentar!
CRACK!
Crocodile terpental ke belakang, menghantam dinding alun-alun!
Retak di batu dinding itu dalam dan panjang.
Debu beterbangan.
Semua orang terdiam.
Crocodile berdiri perlahan dari dinding yang retak. Untuk pertama kalinya... ada darah di sudut bibirnya.
Dia menyekanya dengan ibu jari.
Menatap darah di tangannya.
"...Kau memukul aku," katanya pelan. Bukan dengan marah. Lebih seperti... tidak percaya.
"Aku bilang aku akan menang," Luffy menjawab sambil mengatur napas.
Tapi aku bisa melihat—lengan kiri Luffy sudah berubah setengahnya menjadi biru kehitaman. Racun menyebar semakin cepat.
Waktu terus berjalan.
Crocodile menarik napas panjang.
Dan sesuatu berubah dalam dirinya.
Pasir di sekitarnya mulai bergerak dengan cara yang berbeda—lebih cepat, lebih liar, lebih tidak terkendali. Udara di alun-alun itu tiba-tiba terasa kering dan panas luar biasa.
"Aku akui," kata Crocodile dengan suara yang lebih dalam. "Kau memaksaku serius."
Dia mengangkat kedua tangannya tinggi ke udara.
Dan seluruh langit di atas Alubarna berubah.
Awan pasir raksasa terbentuk—bukan dari bawah, tapi dari udara! Pasir mengumpul dari seluruh penjuru kota, ditarik oleh kemampuan Crocodile!
"Apa itu?!" Usopp berteriak.
Vivi wajahnya pucat. "Aku... aku pernah baca tentang ini di catatan sejarah Alabasta. Kemampuan tertinggi Suna Suna no Mi..."
"Apa?" Nami bertanya cemas.
"Kalau penggunanya benar-benar serius... dia bisa menciptakan badai pasir yang bisa menghancurkan seluruh kota."
Semua orang terdiam dengan horror.
Awan pasir di atas kami terus menggelap dan membesar. Angin kencang menerpa dari segala arah. Pasir mulai berjatuhan seperti hujan—menggores kulit dan menghalangi pandangan!
"LUFFY! LARI DARI SANA!" Nami berteriak.
Tapi Luffy tidak bergerak.
Dia berdiri di tengah alun-alun, menatap awan pasir raksasa di atasnya dengan tenang.
Lengan kirinya sudah hampir sepenuhnya berwarna biru kehitaman.
Waktunya tinggal sedikit.
"Luffy," kataku keras. "Berapa banyak serangan yang masih bisa kau lakukan dalam kondisi ini?!"
Luffy berpikir sejenak. "Mungkin... dua atau tiga serangan besar."
"Kalau begitu—"
"Satu serangan cukup," dia memotong dengan tenang.
Dia menutup matanya.
Di tengah badai pasir yang mulai turun. Di tengah angin yang semakin kencang. Di tengah racun yang terus menyebar di tubuhnya.
Luffy menarik kedua tangannya ke belakang—sejauh yang dia bisa.
Lebih jauh dari Bazooka tadi.
Lebih jauh dari apapun yang pernah kulihat.
Ototnya bergetar karena regangan ekstrem. Tanah di bawah kakinya retak karena tekanan.
Darah di telapak tangannya masih mengalir.
Crocodile menatap dari atas awan pasirnya dengan ekspresi yang sudah jauh melampaui kewaspadaan biasa.
"DESERT GRANDE—"
"GOMU GOMU NO..."
Kedua serangan siap dilepaskan pada saat yang sama.
Satu dari langit. Satu dari bumi.
Badai pasir siap menghancurkan segalanya.
Tinjuan karet siap menghancurkan satu target.
"...STORM!"
"ESPADA!"
BOOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh alun-alun!
Kami semua terpental ke belakang karena shockwave!
Asap dan pasir memenuhi segalanya—tidak ada yang bisa melihat apapun!
"LUFFY!" Nami berteriak.
"KAPTEN!" aku berteriak.
Tidak ada jawaban.
Asap terus mengepul. Pasir terus beterbangan.
Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik.
Perlahan, pasir mulai mengendap.
Dan kami melihat—
Crocodile berdiri di atas reruntuhan. Mantelnya robek di beberapa tempat. Ada luka di dadanya—luka nyata yang mengeluarkan darah. Tapi dia masih berdiri.
Dan di tengah kawah yang terbentuk dari ledakan tadi—
Luffy tergeletak.
Tidak bergerak.
"...LUFFY!" aku berlari ke arahnya sebelum siapapun bisa menahanku.
Aku meluncur ke sisinya, berlutut.
"Luffy! Luffy! Dengarkan aku!"
Tidak ada respon.
Napasnya masih ada—lemah, tapi ada. Tapi lengan kirinya sudah hampir sepenuhnya hitam karena racun. Dan dari serangan tadi, ada luka baru di sekujur tubuhnya.
"Chopper! CHOPPER CEPAT!" teriakku.
Chopper sudah berlari dengan kecepatan penuh, langsung berlutut di sisi Luffy, tangannya langsung bekerja memeriksa kondisi.
"Racun sudah sampai ke dekat jantung," suara Chopper gemetar tapi tetap profesional. "Aku butuh... aku butuh antidot. Aku bawa beberapa bahan dasar tapi—"
"Buat itu sekarang!" Sanji berteriak sambil berdiri di hadapan Crocodile bersama Zoro yang entah dari mana mendapat kekuatan untuk berdiri lagi.
Crocodile mengamati Luffy yang tergeletak dari kejauhan.
"Sudah berakhir," katanya pelan. "Racun itu akan membunuhnya dalam beberapa menit."
"BELUM BERAKHIR!" Vivi berteriak sambil berlari ke depan, Peacock Slashers-nya berputar dengan marah. "SELAMA KAMI MASIH BERDIRI—"
"Vivi! Mundur!" Nami menarik bahunya.
Tapi Vivi tidak bergerak. Dia berdiri di antara Crocodile dan Luffy yang terbaring, tubuh gemetar tapi mata penuh api.
"Kau... kau sudah menghancurkan negeriku," kata Vivi dengan suara bergetar. "Membuat rakyatku saling membunuh. Melukai teman-temanku. Dan sekarang—"
Air matanya mengalir.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka lagi!"
Crocodile menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Putri... kau menghiburku."
Dia melangkah maju.
Tapi sebelum dia bisa bergerak lebih jauh—
"TORNADO TEMPO!"
Petir menyambar dari atas—tepat mengenai Crocodile!
CRACK!
Crocodile terpental ke belakang beberapa langkah, tubuhnya mengepulkan asap.
Nami berdiri dengan Clima-Tact teracung, napasnya terengah-engah. "Kau tidak akan maju selangkah pun!"
Crocodile menatapnya dengan kesal—petir tidak melukai badannya secara signifikan, tapi mengejutkan untuk seorang navigator biasa.
"Kalian... sungguh merepotkan."
Dia mereformasi dirinya dan mengangkat tangannya sekali lagi.
"Sables—"
"AKU YANG AKAN MENGHENTIKANMU."
Suara itu bukan dari kami.
Semua orang menoleh.
Robin berdiri di pinggir alun-alun. Ekspresinya—untuk pertama kalinya—bukan lagi tenang dan dingin.
Ada sesuatu yang berbeda di matanya.
"Robin?" Crocodile menoleh ke arah wakilnya dengan alis terangkat. "Apa maksudmu?"
Robin berjalan perlahan memasuki alun-alun. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dari Alabasta?"
"Belum," Crocodile menjawab datar. "Pluton masih—"
"Pluton tidak ada," Robin memotong dengan tenang.
Keheningan total.
Crocodile menatap Robin dengan mata menyempit. "Apa yang kau katakan?"
"Poneglyph di istana," Robin melanjutkan tanpa ekspresi. "Aku sudah membacanya. Informasi tentang Pluton tidak ada di sana. Senjata kuno itu... tidak ada di Alabasta."
Wajah Crocodile berubah.
Untuk pertama kalinya... amarah nyata terlihat di matanya.
"Kau... sudah membaca Poneglyph itu sejak kapan?"
"Beberapa jam lalu," Robin menjawab. "Sebelum pertempuran ini dimulai."
"Dan kau baru memberitahuku sekarang?"
"Karena aku ingin melihat seberapa jauh kau akan pergi," Robin menatapnya langsung. "Dan sekarang aku sudah melihatnya."
Dia menoleh ke arah kami—ke arah Luffy yang masih terbaring dengan racun menyebar di tubuhnya.
"Aku... punya antidot untuk racun di hook-nya."
Chopper langsung berdiri. "APA?! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI?!"
"Karena dari tadi aku tidak di pihak kalian," Robin menjawab dengan jujur yang pahit.
Dia mengeluarkan sebuah vial kecil berisi cairan hijau dari balik mantelnya.
Melemparkannya ke arah Chopper.
Chopper menangkapnya dengan cepat, langsung memeriksa isinya.
"Ini... ini antidot yang tepat! Dari mana kau—"
"Aku sudah menyiapkannya sejak pertama kali Crocodile menunjukkan hook itu padaku," Robin menjawab pelan. "Hanya berjaga-jaga."
Chopper tidak membuang waktu. Dia langsung menyuntikkan antidot ke lengan Luffy.
Semua orang menahan napas.
Satu detik.
Dua detik.
Warna hitam di lengan Luffy... mulai memudar.
Perlahan. Sangat perlahan. Tapi memudar.
"Berhasil," Chopper menghela napas lega bercampur tangis. "Antidotnya bekerja!"
Sementara itu, Crocodile menatap Robin dengan amarah yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih berbahaya.
"Kau mengkhianati Baroque Works."
"Aku tidak pernah setia pada Baroque Works," Robin menjawab. "Aku hanya menggunakannya. Seperti kau menggunakanku."
"Menarik," Crocodile mengeluarkan cerutu baru, menyalakannya dengan tenang meskipun dalam situasi seperti ini. "Jadi ini berakhir dengan pengkhianatan."
"Ini berakhir dengan kekalahanmu," Robin mengoreksi.
Crocodile tertawa—bukan tawa mengejek seperti biasanya, tapi tawa yang terdengar benar-benar menghibur.
"Kekalahan? Aku? Dari sekumpulan bajak laut ingusan dan seorang arkeolog yang bahkan tidak punya kemampuan fisik yang memadai?"
Dia mengangkat tangannya—pasir mulai bergerak lagi.
"Aku akan bunuh kalian semua. Lalu aku akan—"
"Crocodile."
Semua orang menoleh.
Luffy duduk.
Entah bagaimana—dengan semua luka di tubuhnya, dengan racun yang baru saja mulai dinetralisir, dengan kelelahan yang seharusnya membuatnya tidak sadarkan diri—
Luffy duduk tegak.
Matanya menatap Crocodile dengan intensitas yang membuat udara di alun-alun itu terasa berbeda.
"Aku belum selesai."
Crocodile menatapnya.
Hening panjang.
Lalu senyum di wajah Crocodile kembali—tapi kali ini berbeda dari sebelumnya. Bukan senyum mengejek. Bukan senyum meremehkan.
Senyum seseorang yang untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama... merasa tertantang.
"Kau benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah, Straw Hat."
"Aku tidak pernah belajar caranya," Luffy menjawab sambil perlahan berdiri.
Tangannya mengambil pisau kecil itu lagi.
Menyayat luka lama di telapak tangannya yang sudah mulai mengering.
Darah segar mengalir kembali.
"Satu serangan lagi," Luffy berkata dengan suara yang tidak memberi ruang untuk dipertanyakan. "Satu serangan terakhir. Aku akan akhiri ini."
Crocodile tidak menjawab.
Tapi pasir di sekitarnya mulai berputar lebih cepat.
Mereka berdua bersiap untuk pertukaran terakhir.
Dan kali ini—aku yakin dalam diriku—
Hanya akan ada satu yang masih berdiri setelahnya.