PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Perayaan Penyambutan Pernikahan
Kediaman Alvarezh
Jihan telah sampai di kediaman Alvarezh setelah dari acara kelulusannya. Jihan berjalan di koridor kediaman utama Alvarezh, diikuti oleh para pengawal yang menempel ketat di belakangnya.
Di ujung koridor, ia melihat sosok yang paling ia hindari, yaitu Mahreya memiliki jabatan dewan parlemen negara. Ibu kandung Rahez berdiri dengan angkuh. publik hanya mengetahui bahwa Rahez adalah putra mendiang Sereena. Mahreya, wanita yang tak pernah dinikahi ayahnya, diamasa lalu Mahreya pernah mejebak hingga hamil dan melahirkan rahez, pada akhirnya rahez diakui sebagai anak khaizar dan sereena. kini Mahreya memiliki akses bebas ke mansion ini sejak orang tua Jihan tiada.
Di sampingnya, berdiri Adreena yang sedang menggandeng Razhar, putra kecilnya yang baru berusia tiga tahun.
Ketegangan terjadi saat mata Jihan dan Mahreya bertemu. Kebencian Mahreya pada Jihan bukan rahasia lagi. setiap kali ia menatap Jihan, ia melihat bayangan Sereena yang selalu ia benci.
“Ate Jihan!” Ucap Razhar
Suara mungil itu memecah keheningan.
Razhar berlari kecil ke arah Jihan dengan mata berbinar-binar. Bocah itu tidak mengerti badai yang sedang terjadi di antara orang dewasa di sekitarnya.
Jihan berlutut kecil, senyum tulus terlihat di wajahnya yang letih. Hanya kepada Razhar lah ia bisa menunjukkan kehangatan yang tersisa. "Hai, Sayang..."
Razhar menarik-narik ujung gaun Jihan dengan wajah memelas. “Ate Jihan, ayo main! Aku kangen...”
Sebelum Jihan sempat menjawab, suara tajam Mahreya memotong, penuh nada provokatif. “Razhar, jangan ganggu Tantemu. Jihan sangat sibuk sekarang. Dia harus mempersiapkan diri menjadi pengantin untuk Tuan Marculles.
Adreena menyeringai,memanaskan suasana sambil melipatkan tangan nya. “ kau akan menjadi istri orang Jihan dan kau akan pergi dari sini untiuk menjadi milik tuan marculles.” Adreena sambil tertawa mengejek. “akhirnya rumah ini akan menjadi milik kamisepenuhnya."
Mahreya melangkah maju, sorot matanya penuh provokasi. "Dia harus belajar bagaimana caranya menyenangkan calon suaminya agar tidak dibuang ke jalanan."
Tawa Adreena dan sindiran Mahreya bergema di koridor, membuat darah Jihan mendidih. Kata-kata kasar sudah berada di ujung lidahnya, siap untuk meledak dan menghancurkan kedua wanita di hadapannya. Namun, ia merasakan tarikan kecil di bajunya.
Jihan menatap mata polos keponakannya itu dan seketika mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin Razhar melihat sisi gelap dari keluarganya.
Jihan berdiri perlahan, wajahnya kembali datar dan sedingin es. Ia melangkah mendekat ke arah Mahreya, berhenti tepat di samping telinga wanita itu.
“Seberapa keras, kau mencoba menjadi nyonya di sini, di mata dunia dan di mata sejarah, kalian tetaplah sampah yang menyelinap masuk saat pemilik aslinya sudah tiada. Menjijikkan.” Jihan memberikan senyum tipis yang mematikan.
lalu tanpa menunggu balasan, ia melangkah pergi melewati mereka dengan kepala tegak.
Mahreya mendengus kasar, wajahnya merah padam. “Anak nakal itu... benar-benar seperti ibunya!”
Jihan terus melangkah menuju kamarnya, mengabaikan gerutu marah di belakangnya.
—-
Beberapa hari kemudian
Malam perayaan penyambutan pernikahan
Kembang api meledak di langit gelap di atas laut marmoria, Kapal-kapal mewah berlayar di kejauhan, menyambut perayaan pernikahan esok hari dengan sorotan lampu dan klakson penghormatan.
Pemandangan yang luar biasa itu perpaduan kemegahan alam dan kemajuan kota metropolitan. memberi penghormatan atas pernikahan yang akan digelar besok.
Di aula besar kediaman keluarga Alvarezh, pesta megah berlangsung, Musik bercampur dengan dentingan gelas sampanye, orang-orang bergaun mahal dan jas mewah saling berbicara, tertawa, menikmati makanan terbaik, Para keluarga besar dan semua kerabat dekat , Perayaan penyambutan dan perpisahan bagi pernikahan Jihan yang dilaksanakan esok hari, sebelum ia menjadi bagian keluarga Marculles.
Jihan berdiri di balkon kamarnya yang luas. Ia mengenakan gaun malam navy yang mewah, diukir dengan emas di bagian tengah, menampakkan bahu, punggung, dan sedikit belahan dada yang elegan. Perhiasan mewah dan mahal berkilauan di leher dan telinganya, menjadikannya pusat perhatian yang sempurna. Namun, matanya kosong.
Jihan menghela nafas matanya berkaca kaca menatap langit, melihat bunga api mekar bergnati. ia bisa melihat ke arah ruang pesta di lantai bawah yang terbuka, Musik dan tawa menyusup sampai ke telinganya, tawa keras, dan dentingan gelas terdengar jelas.
Di tengah keramaian itu, ia menangkap sosok Rahez, kakaknya, sang pemimpin Alvarezh Group yang kejam, tampak karismatik dan ramah di depan umum. Rahez sedang berbicara dengan Paman Daniel, Panglima Aestrasia, dengan senyum palsu lebar, suami dari adik ayahnya, suami dari tante Helena. Mereka tampak begitu percaya diri, seakan seluruh dunia sudah dalam genggaman mereka.
Jihan tidak berhenti meneteskan air matanya menutup matanya perlahan. Air mata mulai membasahi bulu matanya yang panjang.
Beberapa hari terakhir berkelebat dalam ingatannya, setelah ia berhasil mengaktifkan ponsel barunya dan kartu SIM rahasia.
Flashback on
Jihan mengetik pesan ke Zeiran. Kekasihnya itu membalas dengan cepat, menanyakan keberadaan Jihan yang tiba-tiba hilang.
Jihan hanya membalas dengan singkat, meminta informasi tentang Jinan. Zeiran meyakinkannya bahwa Jinan masih kritis, tetapi ia terus menjaganya, menggunakan koneksinya di militer untuk memastikan keamanan terbaik.
Namun, ketika Zeiran menanyakan kabar Jihan dan keberadaan Jihan meninggalkan semua hal tanpa sepatah kata pun, Jihan terdiam . Ia tidak bisa menjawab dan menjelaskan apapun, ia tak ingin zeiran terlibat lebih jauh yang nanti nya akan berakhir seperti Jinan ataupun Alvaren.
Meskipun batinya ingin berteriak menceritakan segalanya ancaman, pernikahan paksa, kekerasan Rahez.
“Terimakasih memberiku kabar soal jinan dan menjaganya, aku berhutang banyak padamu, aku senang kau baik baik saja Sayang, aku mencintaimu.”
Jihan akhirnya mematikan ponsel itu. Kontak telah terjalin dan dia tahu Jinan masih hidup. Itu sudah cukup untuk saat ini.
Flashback off.
Jihan Membuka matanya. Air matanya mengalir membasahi pipi, Pemandangan kembang api yang seharusnya meriah kini terasa ironis.
Suara ketukan lembut terdengar di pintu, Seorang pelayan masuk dengan wajah sopan namun kaku “ Nona Jihan, para tamu sudah menantikan kehadiran Anda.” Ucap pelayan
Jihan terdiam, Ia tidak menjawab, hanya menundukkan wajahnya, menahan gemetar.
Pelayan itu menunggu, lalu menambahkan dengan nada penuh tekanan halus “Tuan Rahez memanggil anda Anda hadir malam ini, Semua orang menunggu.”
Jihan mengangkat wajahnya perlahan, air matanya masih menempel di pipi, Ia hanya mengangguk kecil, tanpa sepatah kata, Lalu ia menoleh sekali lagi pada langit yang masih dihiasi kembang api indah, namun baginya hanyalah pesta perpisahan dari kebebasan.
——
Diaula pesta
jihan melangkah menuruni tangga utama yang megah menuju ruang pesta. Gaun navy berukiran emasnya, perhiasan yang berkilauan, dan postur tubuhnya yang tinggi menarik semua pandangan. kecantikan dan keanggunan seorang bangsawan Alvarezh.
Musik seketika terdengar lebih lembut saat ia muncul. Seluruh tamu, para konglomerat, pejabat militer, dan kerabat terdekat Aestrasia, menatap dengan kekaguman.
Rahez, yang sedang berbicara dengan Daniel, segera menghentikan pembicaraannya. Senyum bangga dan manipulatif muncul di wajahnya. Ini adalah panggung miliknya, dan Jihan adalah bintang utamanya.
Adreena segera menyambutnya.Ia mengenakan gaun merah menyala dan wajahnya diselimuti senyum sosialita yang tebal, namun matanya yang tajam menyadari ada yang salah pada Jihan.
Adreena segera menghampiri dengan senyum sinis, berbisik. “Kendalikan ekspresimu, Jihan, Senyummu yang sedih itu memalukan… ingat, semua mata sedang melihatmu.” dengan nada menusuk.
Jihan hanya menoleh sekilas, tak membalas sepatah kata pun, Ia tetap melangkah, menahan air mata yang hampir jatuh.
Acara segera dimulai, Sesuai adat keluarga, doa-doa tradisional dilantunkan sebagai simbol restu bagi mempelai, untuk mendoakan kebahagiaan Jihan dan keberkahan bagi keluarga.
Setelah doa selesai, Rahez mengambil alih melancarkan pidato yang bertujuan untuk pencitraan dirinya sebagai kakak yang bertanggung jawab.
Rahez suara percaya diri dan mengharukan “ Malam ini adalah malam yang penting. Kita bersedih karena Jihan akan segera meninggalkan tempat ini, tetapi kita bahagia karena ia akan bergabung dengan salah satu keluarga paling terkemuka di dunia, Marculles Group. Sebagai kakaknya, aku hanya ingin Jihan tahu betapa berharganya dia bagi keluarga Alvarezh.” Ucap rahez seolah dengan nada manipulatif.
Rahez meraih sebuah kotak beludru merah dari asistennya zaffer. Ia membukanya, memperlihatkan satu set perhiasan berlian yang menakjubkan yang menunjukkan statusnya.
Rahez meletakan kalung itu di leher Jihan. Ia menyentuh bahu Jihan, gerakan yang terlihat penuh kasih sayang dihadapan semua orang, tetapi di mata Jihan, itu adalah tindakan yang menjijikkan.
“ tersenyumlah Jihan dan buktikan pada dunia bahwa kau layak menjadi bagian Marculles.”
Saat Rahez memasangkan kalung itu, Jihan melihat sekilas Mahreya, yang orang orang menganggapnya kerabat keluarga.
Wajah Mahreya memancarkan kepuasan yang sinis. Ia menikmati tontonan ini, terutama saat melihat wajah Jihan yang hampir menangis.
Bagi Mahreya, kesedihan Jihan adalah simbol kemenangan putranya atas garis keturunan Khaizar dan sereena.
Jihan kau akan hidup dengan pria kejam yang tak menginginkanmu, sama halnya ayah mu yang tak menginginkanku dan lebih memilih ibumu, kau harus hidup menderita seperti aku yang dibuat menderita oleh ibumu, sereena lihat lah apa yang terjadi pada putrimu yang malang, kau bahkan hanya bisa liat dari atas langit. Batin Mahreya
Senyum mahreya yang penuh kemenangan
Jihan, yang merasakan tatapan Mahreya, segera menyadari bahwa air matanya adalah kegembiraan bagi musuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengendalikan wajahnya, dan mengeras kembali menjadi wajah dingin. Ia menatap Rahez, dan senyum palsu yang ia berikan kini terlihat lebih tajam daripada pisau.
Pesta pun berlanjut, Jihan yang kini menjadi pusat perhatian meja-meja panjang dipenuhi hidangan terbaik, gelas-gelas sampanye untuk bersulang, dan tawa kembali mengisi ruangan.
Pamanya Daniel dengan suara berat penuh wibawa berkata “Pestanya akan berlangsung besar-besaran, Tiga hari penuh di kediaman keluarga, agar semua kerabat dan sahabat dekat bisa memberi restu, Lalu, tujuh hari berikutnya, rangkaian perayaan akan berlanjut di perusahaan dan kota-kota yang terkait dengan bisnis Alvarezh, Itu sudah menjadi tradisi dan bentuk penghormatan.”
Beberapa tamu mengangguk setuju, dan bersorak penuh kebahagiaan.
“Segalanya sudah diatur, Keamanan akan diperketat, semua undangan sudah disebar, dan acara akan menjadi catatan besar bagi nama keluarga kita.” Rahez dengan nada penuh angkuh.
Namun, di tengah keramaian, ada bisikan di antara keluarga besar, Tante Helena, adik dari khaizar, istri Daniel, duduk dan menatap Jihan dengan iba, lalu menoleh pada kakaknya Yaitu Marisa, yang duduk di sampingnya.
“Bagaimana mungkin seorang kakak tega melakukan ini pada adiknya sendiri, kita tau siapa orang yang dicintai Jihan sebenarnya?”
Helena berbisik. Helena tahu perayaan ini bukan sekadar pesta pernikahan tetapi juga pamer kekuasaan.
Marisa, yang lebih dingin, hanya mengangkat bahu pelan. “Bukankah itu hal yang sudah biasa dalam keluarga kita? Kekuasaan selalu kalah dengan cinta.” membalas pembicaraan Helena adiknya.
Helena terdiam, matanya kembali memandang Jihan dengan hati yang pilu.
Di meja utama, Rahez sedang terlibat dalam diskusi serius dengan Paman Daniel dan paman garrdio. jihan duduk di sebelah Rahez Di seberang mereka duduk Mahreya dan beberapa pejabat penting lainnya.
“Aliansi ini, Rahez, akan mengamankan posisi kita untuk satu abad ke depan. Kekuatan Marculles di logistik Eropa ditambah dengan dominasi Infrastruktur dan energi kita... sungguh kombinasi yang tak terhentikan. Jihan adalah kuncinya.” Daniel tersenyum bangga.
Rahez Menyeringai, menoleh sekilas ke Jihan “Dia tahu peranannya, Paman.”
Mahreya Mengangguk puas “ Pastikan William Marculles tahu bahwa ia mendapatkan kekasih yang berpengaruh, bukan hanya pengantin yang cantik. Jihan, kau harus makan sesuatu. Kau terlalu kurus.”
Jihan hanya menatap dan tersenyum sinis sebagai respons pada Mahreya, ia tidak mengeluarkan suara. Keheningan Jihan di antara obrolan bisnis dan politik
Adreena Berbisik sinis ke Jihan “Mereka sedang bicara tentang masa depan kita. Cobalah tertarik sedikit. Atau setidaknya, senyum.”
Jihan Memandang Adreena sekilas, matanya tajam. Ia menarik napas, ia tidak tahan lagi dengan sandiwara ini.
Ditengah keluarga dan tamu sibuk bercakap dengan senyum penuh basa-basi. seorang pelayan perempuan datang membawa nampan berisi hidangan penutup ke meja utama.
Jihan memperhatikannya ketika pelayan itu semakin dekat, tepat didepan Jihan, dengan sengaja sedikit menggerakkan lengannya ke samping tepat mengenai sikut pelayan. Gerakan yang tidak terlihat.
PRANGG!!!
Piring terjatuh dari tangan pelayan. Makanan dan saus kental, beberapa tetes besar jatuh dan merusak gaun navy Jihan, tepat di bagian perut.
Suasana di meja makan seketika terdiam. Daniel, Rahez, dan Adreena menghentikan pembicaraan mereka. Semua mata tertuju pada Jihan.
Pelayan itu langsung panik dan membungkuk. “Nona Jihan, maaf, aku tidak sengaja” suaranya terbata-bata.
Namun Jihan meraba tubuhnya yang terkena makanan, matanya menatap pelayan itu dengan ekspresi dingin “Bagaimana mungkin kau ceroboh seperti ini?!! Kau baru saja merusak gaun malamku, Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar?, membuatku sangat kesal.” Ucap Jihan menusuk dan kejam.
Batin Jihan. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak nyaman, bahwa aku tidak bahagia di sini. Aku tidak bisa berteriak, aku tidak bisa lari.
Biasanya Jihan sangat baik pada para staff atau pelayan. Pelayan itu hanya bisa menunduk, menangis ketakutan
Rahez merasakan ada yang salah. Jihan tidak pernah kehilangan ketenangan kecuali saat berhadapan dengannya. Ia menatap Jihan, berusaha membaca ekspresinya dan Adreena menyipitkan matanya.
Rahez Maju sedikit, wajahnya mengeras, mencoba mengendalikan situasi “ Jihan, hentikan. Itu masalah kecil. Pelayan, singkirkan ini dan segera bersihkan.”
Adreena terkejut, tetapi segera menutupinya dengan tawa kecil yang canggung. “Astaga, Jihan! Jangan terlalu keras pada pelayan. Kau harus santai!”
Namun, Jihan tetap mempertahankan ekspresi marahnya. Ia ingin semua orang melihat gejolak emosinya.
Jihan menoleh ke Rahez. “Ini tidak bisa dimaafkan, Aku tidak ingin melihatnya di rumah ini lagi!” nadanya masih emosional
Suasana benar-benar tegang. Rahez dan Adreena saling pandang, kesal dan bingung. Namun, kerabat lain dari jauh ikut memperhatikan nya.
Rahez menahan emosi mengarah ke Jihan. “ berhenti bicara dan diam!!!” Bisik rahez penuh ancaman.
Tante Helena dan Marisa saling berpandangan, sama-sama terkejut. Helena berbisik lirih “Sikap Jihan… dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.”
Marisa datar “ kau salah..belakangan ini sikapnya benar benar kacau tak terkendali”
Mahreya, sebaliknya, tersenyum samar. Ia menikmati pertunjukan terutama saat melihat wajah Jihan yang tetap terlihat anggun meski jelas sedang menahan sesuatu.
Jihan Kembali tenang dan diam, kembali duduk tegak, mengambil serbet, dan membersihkan noda kecil di gaunnya. ekspresinya kembali datar, seolah tidak ada yang terjadi.
Rahez menatap adiknya dalam-dalam, bibirnya melengkung tipis antara marah dan tersenyum paksa.
Adreena mendekat. “Lihat? Adikmu bahkan tidak bisa menjaga wajah keluarganya sendiri.”berbisik pada suaminya.
Rahez berusaha mencairkan suasana, mengambil inisiatif, tersenyum ke arah orang orang yang di meja. “Hanya ketegangan sebelum pernikahan, semuanya. Jangan khawatir. Mari kita lanjutkan. Paman Daniel, tentang investasi kita di teknologi pertahanan...”
Perbincangan di meja makan kembali memanas, berputar-putar dalam lingkaran kekuasaan dan finansial yang membuat batin Jihan semakin tertekan dan muak.
Daniel bersandar sambil tersenyum puas “...Dan mita harus memastikan bahwa saat aliansi Marculles diumumkan, saham Energi Terbarukan kita di Asia Timur naik minimal 15%. Itu menunjukkan leverage Alvarezh. Rahez, kau yakin Marculles akan menyetujui poin itu?”
Rahez Meneguk air putihnya, matanya berbinar karena ambisi “William Marculles hanya peduli pada efisiensi, Paman. Selama kita menawarkan dia kontrol di Infrastruktur Aestrasia dia akan menyerahkan apa pun yang kita minta di pasar Asia. Pernikahan ini hanya mempercepat proses penyerahan itu.”
Batin Jihan. Hanya proses penyerahan’? Aku adalah penyerahan itu. Tubuhku, hidupku, masa depanku, hanyalah angka di papan saham mereka. Aku muak mendengar angka-angka kotor ini yang telah merenggut segalanya dariku.
Adreena menoleh ke Jihan, mencoba melibatkan Jihan dalam obrolan yang lebih ringan agar Jihan tidak terlihat terlalu mati rasa. “Jihan, apakah kau putuskan tempat bulan madu kalian? Mungkin maladewa? Atau ski di Alpen? William pasti akan memberimu yang terbaik.”
Jihan bahkan tidak melihat Adreena. Ia hanya menatap piringnya yang dingin. Tiba-tiba meletakkan serbetnya di atas meja, mengangkat wajahnya, menatap Rahez, dan berbicara dengan suara tenang yang membuat keheningan sesaat di meja itu.
“Aku merasa lelah, aku ingin beristirahat lebih dulu.” Ucap Jihan.
Rahez mengerutkan kening. Keheningan itu membuat percakapan mereka terpotong.