Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atasanmu
Seluruh orang yang berada di dalam Restoran itu serentak menoleh ke arah datangnya suara berat yang menggema, seolah membawa tekanan tak kasatmata. Langkah kaki itu terdengar mantap, teratur, dan penuh wibawa, seakan setiap hentakannya menegaskan kedudukan sang pemilik suara di tempat ini.
Dari arah pintu utama, tampak seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan sorot mata setajam bilah Pedang yang baru diasah. Ia adalah Tianda Baskara, sosok yang namanya dikenal luas di seluruh Jakarta, pemilik jaringan kuliner raksasa yang menjangkau berbagai Wilayah. Di hadapan orang biasa, ia bagaikan gunung yang menjulang—tenang, kokoh, namun menyimpan daya tekan yang mampu meremukkan siapa pun yang berdiri di jalur yang salah.
Begitu melihat kehadiran atasannya, Irman Sudrajat ada—manajer Restoran bergegas menghampiri dengan wajah penuh senyum menjilat, tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ingin memperkecil keberadaannya di hadapan sang pemilik.
“Bos, Anda akhirnya datang,” katanya tergesa-gesa, nada suaranya dibuat sehalus mungkin. “Ada orang yang tidak tahu diri membuat keributan di restoran kita. Saya akan segera membereskannya, tak perlu Anda turun tangan—”
Belum sempat kalimat itu selesai, suara tamparan keras meledak di udara.
Plak!
Bunyi itu menggema tajam, membuat seluruh ruangan seakan terdiam. Irman Sudrajat terhuyung ke samping, wajahnya memerah, matanya membelalak tak percaya. Ia bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika suara dingin Tianda Baskara kembali terdengar.
“Dasar bajingan!” hardiknya. “Aku akan membereskanmu terlebih dahulu! Beraninya kau tidak menghormati Tuan Fauzan Arfariza!”
Amarah Tianda Baskara bukanlah amarah biasa. Itu adalah luapan murka seseorang yang telah mengorbankan begitu banyak demi menjalin hubungan baik dengan Fauzan Arfariza—bahkan rela menyerahkan Restoran ini sebagai bentuk penghormatan. Namun kini, bawahannya yang bodoh dan berpikiran sempit justru hampir menyentuh orang yang ia junjung tinggi. Bagi Tianda Baskara, itu sama saja dengan menusukkan pisau ke punggungnya sendiri.
Ia melangkah cepat ke arah Fauzan Arfariza. Sikapnya yang barusan meledak-ledak seketika berubah. Wajah keras itu melunak, digantikan ekspresi penuh penyesalan dan hormat.
“Dokter Fauzan,” ucapnya dengan nada tulus, “saya mohon maaf. Di perjalanan tadi lalu lintas agak padat, sehingga saya datang terlambat. Namun, saya pastikan, Anda akan mendapatkan penjelasan yang pantas atas kejadian ini.”
Fauzan Arfariza berdiri dengan tenang. Auranya stabil, Energi Vital di tubuhnya beredar lembut, bagaikan sungai tenang yang menyimpan arus kuat di kedalaman. Di Energi Murni -nya, keseimbangan dan kestabilan terjaga sempurna, mencerminkan prinsip Keseimbangan dan Kestabilan yang telah ia pahami sejak kecil dari ajaran Leluhur Tua.
Tianda Baskara berbalik, matanya kembali dingin. Ia menatap Irman Sudrajat dengan sorot tajam.
“Sekarang katakan padaku,” ujarnya perlahan namun menekan, “apa sebenarnya yang terjadi di sini?”
Irman Sudrajat masih terhuyung oleh tamparan tadi. Dengan wajah pucat dan suara gemetar, ia menjawab, “Bos… Bapak Herlambang mengatakan bahwa Tuan Fauzan ini menyelinap masuk tanpa izin…”
Di saat genting itu, Irman Sudrajat tahu ia telah membuat kesalahan besar. Maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah melemparkan tanggung jawab pada orang lain. Ia berharap nama Ir. Herlambang Ahda cukup besar untuk menyelamatkannya.
Tianda Baskara mengalihkan pandangannya. Tatapannya kini jatuh pada pria muda dengan setelan rapi yang berdiri tidak jauh dari sana.
Melihat itu, Ir. Herlambang Ahda segera melangkah maju, kedua tangannya terulur, senyum dibuat selebar mungkin.
“Halo, Pak Baskara,” katanya, berusaha menunjukkan keakraban.
Namun Tianda Baskara hanya meliriknya sekilas, tanpa sedikit pun niat menyambut uluran tangan itu.
“Siapa Anda?” tanyanya dingin. “Apakah kita sangat akrab?”
Tangan Ir. Herlambang Ahda tertahan di udara. Dengan canggung, ia menariknya kembali, senyum di wajahnya membeku.
“Pak Baskara sungguh sibuk, mungkin lupa,” katanya tergagap. “Kita pernah makan bersama. Ayah saya, Syafrudin Ahda”.
Sebenarnya, klaim itu hanyalah upaya membesarkan diri. Bahkan ayahnya pun tidak berada di tingkat yang sama dengan Tianda Baskara. Keluarga Baskara adalah raksasa industri kuliner dengan aset bernilai puluhan triliun Rupiah, sementara keluarga Ir. Herlambang Ahda hanyalah orang kaya baru dengan kekayaan ratusan miliar. Perbedaan itu bagaikan langit dan bumi.
Ia bermaksud menggunakan nama ayahnya untuk pamer dan menyelamatkan muka. Namun tak disangka, ia benar-benar berhadapan langsung dengan Tianda Baskara, dan kebohongannya runtuh seketika.
Meski nama ayahnya telah disebutkan, Tianda Baskara tetap tidak menunjukkan ketertarikan. Ia bahkan tidak repot menanggapi, melainkan kembali menatap Irman Sudrajat dengan wajah penuh kemarahan.
“Bajingan,” katanya tajam, “seperti inikah caramu menjalankan posisi manajer?”
“Bos, dengarkan penjelasan saya—” Irman Sudrajat berusaha membela diri.
Namun Tianda Baskara langsung memotong ucapannya, suaranya bagaikan palu yang menghantam meja sidang.
“Jangan panggil aku bos lagi,” katanya dingin. “Mulai hari ini—”
Kalimat itu menggantung di udara, namun beratnya terasa menghimpit seluruh ruangan. Semua orang menahan napas, seolah sadar bahwa sebuah keputusan besar akan dijatuhkan. Di sudut ruangan, beberapa tamu menunduk, tidak berani bergerak. Bahkan suara sendok dan piring pun seakan enggan berbunyi.
Di tengah ketegangan itu, Fauzan Arfariza berdiri dengan tenang, seolah badai yang berkecamuk di sekitarnya hanyalah angin lalu. Dalam benaknya, ia teringat ajaran Leluhur Tua: bahwa manusia yang benar-benar kuat tidak perlu meninggikan suara. Cukup berdiri tegak, maka dunia akan menyesuaikan diri.
Ia tahu, sejak langkah Tianda Baskara memasuki Restoran ini, takdir Rahmat Hendarto telah ditentukan. Dan bagi mereka yang masih memandang rendah dirinya, hari ini akan menjadi pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan.
“Restoran Pasar Baru ini milik Tuan Fauzan Arfariza. Dialah pemilik sekaligus atasan tertinggi di tempat ini.”
Ucapan Tianda Baskara jatuh laksana petir di tengah langit cerah.
Seketika itu pula, ia membuka tas kerjanya dengan gerakan mantap. Dari dalamnya, ia mengeluarkan setumpuk dokumen resmi—lembaran kertas yang nilainya jauh melampaui sekadar tinta dan cap. Dengan kedua tangan, dokumen itu diserahkan kepada Fauzan Arfariza.
“Bapak Fauzan,” katanya dengan sikap hormat yang nyaris sempurna, “seluruh prosedur pengalihan kepemilikan telah selesai. Mulai hari ini, segala sesuatu di Restoran Pasar Baru ini—dari satu sendok hingga satu gedung—sepenuhnya berada di bawah keputusan Anda.”
Sejenak, dunia seolah berhenti berputar.
Udara di Restoran terasa membeku. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Semua yang hadir terdiam membatu, mata terbelalak, pikiran kosong, seakan barusan menyaksikan hukum langit dijungkirbalikkan di depan mata mereka sendiri.
Irman Sudrajat merasakan jantungnya jatuh ke dasar perut.
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan—bahkan dalam mimpi terliarnya—bahwa pemuda miskin yang barusan ia rendahkan, hina, dan hampir ia seret keluar dengan bantuan satpam, ternyata berubah menjadi atasannya hanya dalam sekejap mata. Bukan hanya itu, ia bahkan telah melakukan semua hal yang paling pantang dilakukan seorang bawahan: tidak menjilat, tidak memuji, malah menendang pintu neraka dengan kedua kakinya sendiri.
Jika ada bentuk kebodohan yang paling sempurna, maka itulah yang baru saja ia lakukan.
Di sisi lain, Natasya Dermawan membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya kosong, pikirannya kacau. Satu jam yang lalu, ia masih memandang Fauzan Arfariza sebagai pria miskin tak berguna, seseorang yang pantas ditinggalkan tanpa penyesalan. Ia menendangnya keluar dari hidupnya demi uang, demi kenyamanan semu.
Namun kini, pria yang sama berdiri di hadapannya sebagai pemilik sebuah restoran megah di jantung Jakarta—tempat yang bahkan untuk memesan satu ruangan saja membutuhkan status, kekayaan, dan koneksi.
Seandainya Tianda Baskara tidak berdiri di sana sebagai saksi hidup, ia hampir saja mengira ini semua hanyalah sandiwara murahan.
Wajah Ir. Herlambang Ahda terasa panas seperti disiram air mendidih. Beberapa menit lalu, ia dengan pongah mengejek Fauzan Arfariza karena tidak punya uang untuk makan di tempat ini. Namun sekarang, realitas menamparnya lebih keras daripada kata-kata mana pun—orang yang ia ejek barusan telah menjadi pemiliknya.
Tidak ada penghinaan yang lebih kejam dari itu.
Orang pertama yang sadar dari keterkejutan adalah Irman Sudrajat.
Dengan wajah pucat dan tangan gemetar, ia menampar pipinya sendiri dua kali—plak, plak—seolah ingin menebus dosa dengan rasa sakit.
“Bos! Semua ini salah saya!” katanya tergagap, suaranya penuh kepanikan. “Saya buta, saya bodoh, saya tidak tahu diri! Saya mohon, ampuni saya! Tolong jangan masukkan ke hati…”
Fauzan Arfariza menatapnya datar, tanpa emosi.
“Tidak perlu,” jawabnya ringan namun dingin. “Aku juga bukan bosmu. Mulai hari ini, kau dipecat.”
Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya menghancurkan.
“Tidak! Tolong, Bos!” Irman Sudrajat hampir berlutut. “Memang saya salah, tapi ada alasannya. Saya tidak menyangka Anda akan datang ke ruangan yang dipesan Bapak Herlambang.
Tolong beri saya satu kesempatan saja, demi keadaan yang meringankan…”
Bertahun-tahun ia mengabdikan diri di dunia kuliner, merangkak dari bawah hingga akhirnya duduk di kursi manajer umum dengan gaji tahunan yang menggiurkan. Jika semuanya berakhir di sini, maka seluruh jerih payahnya akan lenyap seperti asap.
Namun Fauzan Arfariza tetap tenang.
“Aku sudah memberimu kesempatan,” katanya datar. “Aku menyuruhmu memeriksa catatan pemesanan, tetapi kau menolak. Dalam pandanganmu, tamu sudah dibagi menjadi kelas-kelas.
Apa pun yang dikatakan Ir. Herlambang—kau percaya begitu saja. Namun apa pun yang kukatakan, kau anggap angin lalu.
Orang yang memandang dunia dengan kacamata berwarna seperti dirimu, memang tidak pantas bekerja di bawahku.”
Ucapan itu bagaikan vonis terakhir.
“Dasar kau bermarga Fauzan, jelas-jelas kau berbohong!”
Ir. Herlambang Ahda akhirnya meledak. Ia takut pada Tianda Baskara, tetapi tidak pada Fauzan Arfariza. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan ponselnya.
“Lihat ini! Aku punya catatan pemesanan. Aku memesan Ruang Pribadi Nomor Satu!”
Nada suaranya penuh keyakinan.
Mendengar itu, Fauzan Arfariza pun sedikit mengernyit. Di benaknya terlintas kemungkinan—apakah Nora Ananta melakukan kesalahan?
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi, Irman Sudrajat merebut ponsel itu. Matanya menelusuri layar, lalu wajahnya seketika pucat pasi.
“Dasar kau keluarga Ahda, kau benar-benar mencelakaiku!” teriaknya putus asa. “Pernahkah kau masuk tempat kelas atas? Kau bahkan tidak tahu apa yang kau pesan!
Kau hanya memesan Ruang Pribadi Nomor Satu biasa! Sedangkan ini—ini adalah Ruang Pribadi VIP Nomor Satu! Dua hal yang sama sekali berbeda!”
Penyesalan memenuhi dadanya. Andai saja ia memeriksa pesan itu sejak awal, semua bencana ini tidak akan terjadi.
“Ini…” Ir. Herlambang Ahda terdiam, wajahnya memerah.
Ia salah masuk ruangan, masuk ke ruang VIP, lalu bertingkah sok berkuasa di sana. Hari ini, ia benar-benar mempermalukan dirinya sendiri sampai ke akar-akarnya.
Irman Sudrajat kembali memohon, “Bos, mohon beri saya satu kesempatan lagi. Saya bersumpah akan setia—”
Namun Fauzan Arfariza mengibaskan tangannya.
“Aku sudah mengatakan, kesempatan terakhirmu telah berlalu,” ujarnya dingin. “Bereskan barang-barangmu dan pergi.”
Irman Sudrajat menggertakkan gigi. Hatinya penuh ketidakrelaan, tetapi ia tak punya pilihan. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan Restoran, meninggalkan segalanya.
Kemudian, Fauzan Arfariza menoleh ke arah Ir. Herlambang Ahda dan Natasya Dermawan.
“Bukankah tadi kalian berkata, jika aku ada di sini, kalian tidak akan makan di tempat ini?” katanya tenang. “Mulai hari ini, nama kalian masuk daftar hitam. Restoran Pasar Baru tidak akan melayani kalian lagi.”
Wajah Ir. Herlambang Ahda terasa perih. Ia datang untuk mengusir orang, tetapi justru dialah yang diusir.
“Anak sialan,” geramnya. “Apa yang perlu kau sombongkan? Wanita milikmu tetap direbut olehku!”
Ia menatap Fauzan Arfariza dengan amarah, lalu berbalik ke Natasya Dermawan. “Apa lagi yang kau lakukan di sini? Belum cukup malukah? Cepat ikut aku pergi!”
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Natasya Dermawan tidak bergerak. Ia malah berlari ke depan Fauzan Arfariza dan berlutut, suaranya bergetar penuh penyesalan.
“Fauzan… aku salah. Aku benar-benar salah,” pintanya. “Demi masa lalu kita, bisakah kita kembali bersama?”
Dalam benaknya, perhitungan telah selesai. Ir. Herlambang Supriadi memang punya uang, tetapi ia hanya bermain-main. Cepat atau lambat, ia pasti akan ditendang.
Sedangkan Fauzan Arfariza—pria yang dulu rela menghabiskan seribu Rupiah terakhirnya demi dirinya—kini memiliki restoran bernilai puluhan miliar.
Jika ia bisa kembali, maka hidup mewah sudah di depan mata.
Namun, apakah roda takdir masih mau berputar ke arah yang sama?
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT