Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintili
Sha, gue dari kemarin ke rumah lo, tapi lo nggak ada. Lo kemana aja sih? Gue khawatir banget sama lo tau. Apalagi kemarin ada trending topik cewek terluka, dan setelah gue pikir-pikir, foto yang dipostingan itu mirip kayak lo.
Tolong jawab pesan gue kali ini aja ya!
From: Auretheil
......................
Shahinaz membaca pesan itu berulang kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah tangkap dengan pesan itu. Setelah mencerna isinya, dia tertawa kecil, menemukan sedikit kelucuan di balik kata-kata itu. Seharian dia mengurung diri di kamar tamu Mansion milik Dreven dan terlelap dalam mimpi, saat bangun, ponselnya penuh dengan panggilan dan pesan spam. Dia menguap sebentar sebelum memutuskan untuk membalas pesan tersebut.
Dia akan menemui gadis itu, presetan dengan hari yang sudah berubah malam dan Dreven mungkin tidak mengizinkannya pulang. Masalah dengan Auretheil harus segera dituntaskan agar dia bisa hidup dengan tenang dan aman, jadi dia akan berkata yang sejujurnya soal siapa Auretheil, dan memberi alasan pasti kenapa Shahinaz harus pulang saat ini juga!
"Tapi apa Dreven sekarang ada di Mansion? Gue nggak yakin bisa keluar dari Mansion dengan mudah tanpa gangguan apapun, kalau nggak punya kunci pusatnya kan?" tanya Shahinazaz sambil berpikir sebentar. Namun akhirnya dia memutuskan untuk keluar, mencari jawaban lebih lanjut tentu saja.
Beruntung Shahinaz memilih untuk tinggal di lantai dasar Mansion ini. Kemarin dia memilihnya secara acak, dan pilihannya jatuh ke kamar yang paling ujung dari lantai ini berharap bisa mengisolasi diri dari dunia meskipun sebentar. Berjalan perlahan sembari menatap ke sekeliling, sebentar lagi dia akan sampai di bagian pusat lantai dasar Mansion ini.
"Kenapa bisa salah tangkap? Wakilnya tidak ada untungnya untuk kita pelihara, buang saja. Yang kita butuhkan adalah ketuanya, dia adalah kunci utama kita agar bisa mendapatkan kekuatan penuh untuk jalur eropa." kata Dreven sambil mengetuk-ketukkan tangannya di atas sofa.
Suara Dreven yang terdengar lantang di depan sana, jelas saja membuat Shahinaz langsung memberhentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok. Dia mengamati sebentar, melihat banyak orang berbadan kekar berbaris rapi di depan Dreven. Mereka siapa? Dilihat dari bentukannya saja, Shahinaz berpikir jika mereka dilatih khusus untuk melakukan sesuatu yang cukup besar.
"Maaf Tuan Muda, kami sudah mencobanya dengan baik. Hanya saja..." salah satu dari mereka mencoba untuk memberi alasan, namun sepertinya dia tidak mampu untuk mengatakan alasan sebenarnya.
"Hanya saja?" tanya Dreven sambil mengangkat alisnya, tatapan matanya semakin menusuk saja sekarang.
Shahinaz terdiam memperhatikan. Dari segi manapun, ini bukan Dreven yang lembut dan penuh perhatian seperti yang dia kenal. Dreven yang sekarang terlihat dingin dan berbahaya, auranya begitu mendominasi dan mengintimidasi. Bahkan dari kejauhan, sorot mata Dreven memancarkan banyak ancaman kehancuran yang tak terbantahkan.
Jadi apakah Shahinaz bangun di waktu yang tidak tepat, hingga harus menyaksikan situasi menegangkan ini?
"Saya tidak ingin ada kesalahan lagi," Dreven berkata dengan nada rendah namun tajam. "Kita sudah kehilangan banyak waktu karena ketidak becusan kalian. Kuncinya ada pada ketuanya, dan dia harus segera ditemukan. Jika kalian gagal lagi..."
Dreven berhenti sejenak, menatap tajam ke arah pria-pria kekar di hadapannya. Sorot matanya seperti pisau tajam yang menusuk. "Nyawa kalian taruhannya."
"Ta... Tapi Bos...." percayalah mereka semua menunduk ketakutan hanya karena seorang Dreven Veir Kingsley saja. Padahal secara logika, jika mereka mengeroyok Dreven secara bersamaan, Dreven mungkin akan mati. "Dia licik Bos, dia melakukan segala cara untuk..."
Dreven mengangkat satu tangan, memotong penjelasan yang berusaha disampaikan oleh salah satu pria di depannya. Sorot matanya semakin tajam, penuh dengan kemarahan yang mendidih, namun ekspresi wajahnya tidak ada yang berubah.
"Saya tidak butuh alasan, saya butuh hasil."
Suasana di ruangan itu semakin tegang sekarang. Para pria berbadan kekar yang berbaris di hadapan Dreven terus menunduk semakin rendah, takut menantang otoritas Dreven yang sedang kecewa dengan pekerjaan jelek mereka. Andai waktu bisa diulang, mereka pasti akan berusaha lebih baik lagi. Ketakutan mereka menggantung di udara, terasa nyata di setiap helaan napas mereka.
"Dreven ternyata bisa lebih serem daripada yang waktu itu." gumam Shahinaz sambil menggeleng tak habis pikir, "Tapi gue butuh pulang sekarang. Kalau gue nekat kabur, gue juga gali kuburan buat gue sendiri kan? Apa gue kesana aja ya sekarang?"
Shahinaz lebih baik terus terang, dan mengatakan dia punya kepentingan saat ini juga bukan? Apapun hasilnya, dimutilasi atau tidaknya dirinya, itu urusan belakangan saja. Shahinaz akan mendekati Dreven meskipun aura laki-laki itu terlihat sangat menyeramkan.
Karena berurusan dengan Auretheil lebih penting untuk sekarang. Dia ingin memberi gadis itu pelajaran dan mengibarkan bendera permusuhan jika dirasa tidak menemukan titik terang. Itu salah satu tujuan besarnya saat ini!
"Dreven." panggil Shahinazaz seolah baru saja datang. Wajahnya terlihat memancarkan keramahan, mencoba untuk tampil sebaik mungkin di depan laki-laki itu.
Dreven sendiri menoleh dengan cepat. Wajah mengintimidasinya berubah dalam waktu singkat, menatap Shahinaz dengan penuh perhatian berbeda dari sebelumnya. Gadisnya sepertinya baru saja bangun dari tidur, sayang sekali, padahal dia mau menyusul gadis itu setelah kelar dari sini. Dreven dengan cepat mengkode Shahinaz untuk duduk di sampingnya, dia ingin tau apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"Why, dear? Is there a problem bothering you now?"tanya Dreven dengan suara lembutnya, dan itu membuat semua orang yang berada di sana sontak tersentak kaget.
Apakah ini benar ketua mereka? Lalu apakah gadis itu merupakan kekasih dari ketua mereka? Jika iya, mereka harus berterimakasih kepada Shahinaz sekarang. Berkat dia, mereka selamat dari amukan Dreven yang terkadang bisa lebih dari ini.
Sedangkan Shahinazaz merasa terkejut dengan perubahan sikap Dreven yang tiba-tiba lembut, benar-benar di luar nalar Dreven Veir Kingsley ini. Namun dia tetap melangkah maju, duduk di samping Dreven dengan hati-hati. Ketegangan di ruangan yang sebelumnya sangat kental perlahan-lahan mulai mereda berkat kehadiran Shahinaz di ruangan ini.
Mereka yang berkumpul di sana berjanji, akan sangat berterimakasih kepada Shahinaz, jika diberi kesempatan bertemu lagi ke depannya!
"Aku harus pulang, ada yang perlu aku selesaikan dengan seseorang. Boleh ya?" pinta Shahinaz selanjutnya.
"Seseorang? Siapa? Laki-laki? Perempuan?" tanya Dreven sambil mengangkat alisnya tanda bertanya, "Awas aja selingkuh, aku hamilin kamu sekarang juga!"
Shahinaz mendelik tak percaya. Dia menabok lengan Dreven kesal, bisa-bisanya laki-laki yang terlihat menyeramkan tadi tiba-tiba berubah menjadi semenyebalkan ini.
"Jangan bercanda aneh-aneh Dreven, aku lagi serius." kata Shahinaz selanjutnya.
"Aku juga serius," kata Dreven sambil menatap kearah anak buahnya yang masih berjejer rapi di sana, "Kalian boleh pergi, ini kesempatan terakhir untuk kalian!"
Para pria berbadan kekar itu dengan cepat keluar dari ruangan, meninggalkan Shahinaz dan Dreven berdua dengan langkah penuh syukur. Selama beberapa detik setelah mereka pergi, suasana di ruangan kembali tenang, meski Shahinaz masih merasakan ketegangan di udara berkat aura mendominasi Dreven tadi.
Shahinaz kini memandang Dreven dengan serius, "Dreven, aku harus pulang sekarang. Aku jamin, seseorang yang akan aku temui itu perempuan."
Dreven mengangguk, wajahnya menunjukkan ekspresi serius yang lebih selaras dengan aura dominannya. "Perempuan yang udah melukai kepalamu?"
Shahinaz tertegun sebentar, kenapa Dreven bisa tau? Mungkin Keandra menceritakan semuanya kepada Dreven. Jadi dengan cepat Shahinaz mengangguk membenarkan, sudah tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari laki-laki itu bukan? Shahinaz akan terus terang dengan apa yang mau dilakukan olehnya sejujur-jujurnya.
"Kamu ingin aku melakukan apa? Memberikan luka yang sama atau langsung membunuhnya ditempat aja?" tanya Dreven lagi.
Shahinaz terkejut mendengar pertanyaan Dreven.
"Dreven, jangan bercanda! Biarin ini jadi pertarungan antara aku dan dia aja Dreven, kamu nggak perlu ikut campur urusan perempuan."
"Tapi aku nggak mau kamu terluka lagi." balas Dreven sambil memainkan pipi Shahinaz tanpa permisi. Sungguh halus, ketika tangannya memegang pipi gadis itu.
Shahinaz tersenyum kecil melihat sisi protektif Dreven yang kadang-kadang muncul dengan cara yang tidak terduga. Meskipun sikapnya tampak manis, dia tahu kalau Dreven tidak bercanda saat mengatakan itu. Jadi BIG NO, Shahinaz masih bisa melakukannya sendiri!
"Dreven, aku ngerti kamu khawatir," jawab Shahinaz sambil meraih tangan Dreven yang masih di pipinya. "Tapi ini urusan antara aku dan dia, jadi aku yang akan menyelesaikannya. Aku janji, aku akan baik-baik aja."
Dreven memandangnya sejenak, sorot matanya tajam seolah sedang menilai keteguhan hati Shahinaz. Setelah beberapa detik yang terasa lama, dia mengangguk pelan.
"Baiklah," jawab Dreven, meski ada sedikit ketegangan dalam suaranya. "Tapi kalau sesuatu terjadi, aku nggak akan tinggal diam. Sekarang, makan malam dulu."
Shahinaz menggelengkan kepalanya, "Aku nggak lapar, nanti aja lah di rumah."
Dreven menatap Shahinaz tajam. Gadisnya itu sudah tidak makan dari siang hari karena tidur, jadi dia tidak akan membiarkan Shahinaz pergi begitu saja sebelum perutnya terisi. Dia tidak mau Shahinaz kenapa-napa karena melupakan jadwal makannya, kesehatan adalah yang paling utama.
"Makan atau nggak pergi sama sekali?" tanya Dreven membuat pilihan kepada Shahinaz.
Shahinaz mendesah pelan, menatap Dreven yang tampak serius dengan ancamannya. Dia tahu, ketika Dreven sudah bicara seperti ini, tidak ada gunanya berdebat. Namun, Shahinaz juga merasa waktu semakin sempit, dan dia perlu menemui Auretheil sesegera mungkin.
"Oke fine," jawab Shahinaz akhirnya, mengalah. "Aku makan, tapi nggak banyak."
Kita lihat saja nanti. Dreven tersenyum tipis sambil menyeret Shahinaz menuju ruang makan. Ini mungkin akan menjadi kedua kalinya mereka makan bersama.
Begitu mereka sampai di ruang makan, meja sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Dreven tampaknya sudah menyiapkan segalanya, seolah-olah dia telah memperkirakan Shahinaz tidak akan bisa menolak tawarannya untuk makan nala. Dreven menarik kursi untuk Shahinaz duduk, lalu dia duduk juga di sampingnya agar tidak terhalang oleh jarak.
"Dreven, kamu serius banget sih, padahal aku belum pengin makan." gumam Shahinaz sambil melirik makanan di depannya.
Dreven hanya tersenyum tipis, lalu duduk di sebelahnya. "Aku serius dengan kesehatanmu, Sayang. Lagipula, kalau kamu lapar saat bertemu sahabatmu, siapa yang akan menang kalau kalian berantem?" Dreven mencoba bercanda, meskipun sorot matanya tetap terlihat serius dan tidak bisa diganggu gugat.
Shahinaz melirik Dreven dengan alis terangkat, mencoba menahan tawa. "Berantem sama Auretheil? Kayaknya yang satu itu nggak ada kaitannya sama masalah tenaga deh, tapi otak dan mulut. Siapa yang mulutnya paling pedas, itu yang mungkin menang nanti."
Dreven tersenyum tipis sambil menyendok makanan ke piring Shahinaz. "Tetap aja, otak juga butuh tenaga. Kamu nggak boleh meremehkan siapapun, mengerti?"
Shahinaz akhirnya menyerah dan mulai makan, walau hanya dengan porsi kecil. Di sisi lain, Dreven terus memperhatikan setiap gerakannya, memastikan gadis itu benar-benar makan dengan cukup. Setelah beberapa gigitan, Shahinaz meletakkan garpunya dan menyenderkan punggung ke kursi.
"Udah ya, cukup segini. Kamu nggak makan?" tanya Shahinaz tak lama kemudian. Dreven hanya menghela nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Shahinaz.
"Jangan dulu lergi, kamu belum minum obat." kata Dreven melanjutkan. Kali ini dia tidak akan bertanya kenapa Shahinaz makan dengan porsi sedikit.
"Besok aja, obat nggak terlalu penting untuk dikonsumsi." jawab Shahinaz sambil memalingkan mukanya, tidak ingin melihat reaksi Dreven mendengar pernyataannya bodohnya.
Karena mau bagaimanapun, diantara Shahinaz sang pengonsumsi obat anti-depresan dengan dirinya yang jarang sakit dan jarang minum obat itu jauh berbeda. Dia bergidik ngeri ketika harus Membayangkan dirinya menahan pahit karena obat itu, jelas dia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah itu.
"Obat itu penting, jangan main-main dengan kesehatanmu," kata Dreven tegas, suaranya kembali ke nada serius, "Kalau kamu nggak mau minum obat sekarang, berarti aku yang bakal kasih langsung."
"Kasih langsung kayak gimana?" tanya Shahinaz sambil mengangkat alisnya heran. Anggap saja Shahinaz sedang melawan maut sekarang.
Dreven menerima obat yang diberikan oleh pelayan di sana, lalu membukanya satu persatu di depan Shahinaz sambil membaca resep dokter.
"Taking medicine while kissing, want to try it?" tanya Dreven sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
Shahinaz mendelik mendengar tawaran Dreven.
Dreven jelas-jelas sedang tidak bercanda, sisi usil dan sekaligus dominan dari pria ini selalu berhasil membuat Shahinaz tersudut. Kali ini, Dreven benar-benar tidak mau main-main soal obat rupanya.
Menyebalkan!
"Dreven gila!" seru Shahinaz setengah berteriak, "Nyesel tadi siang, aku bilang mulai cinta sama kamu!"
Namun, Dreven hanya tersenyum lebih lebar. Senyum penuh percaya diri itu mengisyaratkan bahwa dia benar-benar serius. Shahinaz tau, jika terus melawan, mungkin Dreven benar-benar akan menepati ancamannya. Tanpa ragu tentu saja!
"Aku hanya kasih kamu dua pilihan," kata Dreven dengan nada tenang namun tegas. "Kamu minum obat dengan baik-baik, atau aku akan 'membantu' kamu dengan cara yang kita berdua tau bakal lebih 'seru'."
Shahinaz menelan ludahnya, wajahnya sedikit memerah mendengar ancaman halus dari pria itu. Tidak ada jalan lain, Shahinaz harus menyerah. Dia mengulurkan tangan, mengambil obat itu dari Dreven dan menatapnya sejenak.
"Oke, oke. Aku minum sekarang, puas?" kata Shahinaz akhirnya, kemudian memasukkan obat ke dalam mulutnya dan meminum air yang sudah disiapkan Dreven.
Shahinaz berharap agar obatnya bisa langsung berlari menuju lambung, sayangnya obat itu tersangkut ditenggorokan dan membuatnya ingin menangis didetik itu juga. Shahinaz terbatuk pelan, mencoba menelan obat yang tersangkut di tenggorokannya, sayangnya pahitnya semakin terasa saja.
"Sayang, are you okay?"tanya Dreven, lalu meraih segelas air dan menyodorkannya lagi ke Shahinaz. "Minum lagi, pelan-pelan."
Dengan sedikit enggan, Shahinaz menerima gelas itu dan meminumnya. Setelah beberapa tegukan, obat itu akhirnya berhasil turun, meskipun perasaan tidak nyaman masih tersisa di tenggorokannya.
Shahinaz menarik napas dalam-dalam, menatap Dreven dengan tatapan kesal bercampur pasrah. "Gila kamu beneran tega, ya."
Dreven tertawa kecil, tampak lega melihat Shahinaz kembali normal. Dia meraih tangan Shahinaz dan menggenggamnya dengan lembut, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Aku cuma mau kamu sehat. Nggak ada yang lebih penting dari itu. Ini masih ada tiga obat yang tersisa loh."
Shahinaz menghela napas panjang, merasa bahwa meskipun Dreven terkadang berlebihan, dia tahu pria ini benar-benar peduli padanya. Walaupun caranya sering kali ekstrem, namun di balik sikap dominannya, Dreven hanya ingin yang terbaik untuk Shahinaz. Tapi yang benar saja? Minum obat satu saja dia sudah kesusahan!
"Lain kali jangan ngancam kayak gitu lagi, seram tau!" seru Shahinaz kesal.
"Kenapa? Padahal trik itu pernah aku lakuin sebelumnya. Mau coba untuk tiga obat yang tersisa?" jawab Dreven santai dan membuat Shahinaz langsung melotot tak terima.
Shahinaz jadi ingat kejadian ketika dia sempat kembali ke dunia nyata dan bertemu dengan Anya, lalu ketika bangun di dunia ini mulutnya terasa pahit entah karena penyebabnya, itu karena Dreven Veir Kingsley dihadapannya ini? Sialan!
"Dreven Gila! Sialan! Kampret! Bang..." sial Shahinaz telah mengucapkan hal yang seharusnya tidak Shahinaz ungkapkan di depan laki-laki itu. Dia mendapatkan getahnya juga sekarang.
Shahinaz terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan oleh Dreven. Bibirnya membeku, dan matanya membelalak. Dreven, benar-benar memberikan sisa obat yang tersisa dengan rencana gilanya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Dreven akhirnya menarik diri, meninggalkan Shahinaz dengan wajah merah dan napas yang agak memburu, dia hampir menangis, ketika rasa pahit itu semakin terasa dimulutnya sekarang.
"Minum dulu, terus mandi, baru aku nganterin kamu pulang." kata Dreven sambil menyodorkan air minum lagi kepada Shahinaz.
Tanpa banyak bicara juga Shahinaz langsung menyambar gelas berisi air itu, kemudian meminumnya hingga habis. Kesal pasti, ingin sekali dia menang sekali saja melawan laki-laki itu!
"Dreven!" seru Shahinaz kesal, "Kamu nggak bisa seenaknya kayak gitu!"
Dreven hanya menatapnya dengan senyum penuh kepuasan, matanya penuh dengan rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. "Aku bisa, sayang. Dan kamu tau fakta itu."
Shahinaz mendengus kesal, tapi dalam hatinya ada sedikit bagian yang tidak bisa mengingkari bahwa dia memang sedikit terpengaruh oleh sikap Dreven. Entah bagaimana, pria ini selalu bisa membuatnya merasa campur aduk antara benci, sebal, kagum, takut, tunduk, dan... mungkin cinta?
"Aku mau pulang sekarang juga. Mandinya di rumah aja!" seru Shahinaz kesal.
"Oke, ayo. Aku ingin tau seberapa besar dia berani bermain-main dengan gadisku ini." jawab Dreven sambil tersenyum miring.
"Jangan bilang..." kata Shahinaz sambil menyipitkan matanya, "Kamu mau ikut juga?";
"Of course my dear, i will follow you wherever you go."jawab Dreven sambil tertawa kecil.
Shahinaz mendesah kesal, dia seperti memiliki bayi besar saja. Apa Dreven tidak memiliki urusan lain selain mengikutinya? Padahal belum lama tadi, Dreven masih sibuk menancapkan taringnya, dan memberi peringatan besar kepada para bawahannya itu.
Namun ketika melihat tampang Dreven yang sepertinya tidak akan mengalah, akhirnya Shahinaz pasrah juga. "Oke, kalau kamu tetap ingin ikut, kita pergi sekarang juga. Tapi nanti, jangan dulu turun sebelum Auretheil dan aku masuk, tunggu kisaran sepuluh menit baru turun dari mobil, ngerti?!"
"Got it, dear." jawab Dreven sambil menganggukkan kepalanya.
Hari ini sepertinya cukup panjang bagi Shahinaz yang tenaganya sudah terkuras meladeni banyak orang. Tapi tenang saja, setelah dia bertemu dengan Auretheil dan menunjukkan taringnya masing-masing, besok harinya, Shahinaz akan beristirahat secara penuh dan tidak ingin diganggu gugat.
Presetan dengan Dreven yang mengintilinya dimanapun dia berada!