NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: tamat
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika / Tamat
Popularitas:25.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Kembali Terpasang

Lantai marmer apartemen itu memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang terang benderang, seolah-olah suasana hangat dan remang-remang di balkon semalam hanyalah sebuah halusinasi kolektif.

Pagi ini, udara tidak lagi beraroma sup hangat atau bunga lili; aroma itu telah digantikan oleh bau tajam kopi espresso yang pekat dan wangi cologne mahal Arash yang menusuk, menandakan bahwa sang penguasa telah kembali mengenakan zirah perangnya.

Raisa berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan kemeja putih kerjanya yang masih sedikit kaku karena baru dikeluarkan dari plastik laundry. Ia menggerakkan pergelangan kakinya, memutar tumitnya dengan hati-hati.

Tidak ada rasa sakit yang menusuk. Hanya ada sensasi otot yang sedikit kaku, namun ia sudah bisa berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun. Ia telah pulih. Dan pemulihan itu berarti satu hal: dinding pemisah yang sempat runtuh semalam harus dibangun kembali dengan batu bata yang lebih keras.

Langkah kaki yang ritmis dan berat bergema di belakangnya. Raisa tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Getaran atmosfer di sekitarnya seketika berubah—menjadi lebih dingin, lebih kaku, dan penuh tekanan profesional yang menyesakkan.

"Kau sudah selesai bersiap?"

Suara Arash terdengar datar, tanpa nada rendah yang penuh kerentanan seperti di bawah langit ungu semalam. Raisa berbalik dan mendapati pria itu sudah tampil sempurna dengan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang. Rambutnya disisir rapi ke belakang tanpa sehelai pun yang berani keluar dari tempatnya.

"Sudah, Arash. Aku siap kembali ke kantor hari ini," jawab Raisa, mencoba menyuntikkan keberanian ke dalam suaranya.

Arash berjalan melewatinya begitu saja, menuju meja kerja di sudut ruangan untuk mengambil tas kantornya. "Bagus. Karena aku tidak menggajimu untuk menjadi pajangan di apartemen ini selamanya. Ada tumpukan laporan yang harus kau selesaikan dalam dua jam pertama setelah kita sampai."

Raisa tertegun sejenak. Perubahan sikap itu begitu drastis hingga ia merasa seperti disiram air es di tengah tidur nyenyaknya. "Tentu. Aku tahu tanggung jawabku. Aku hanya ingin memastikan apakah ... pembicaraan kita semalam di balkon ...."

"Lupakan soal semalam," potong Arash cepat, bahkan sebelum Raisa menyelesaikan kalimatnya. Ia berbalik, menatap Raisa dengan mata yang kembali menjadi dua bongkah es yang tak tertembus. "Semalam adalah pengecualian. Aku sedang lelah, dan kau sedang dalam masa pemulihan. Itu hanya momen lemah yang tidak akan terulang."

Raisa merasakan dadanya sedikit sesak, namun ia menolak untuk terlihat terluka. "Momen lemah? Jadi, semua yang kau ceritakan tentang keluargamu, tentang tekanan yang kau rasakan, itu hanya dianggap sebagai kelemahan?"

Arash melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Raisa hingga wanita itu bisa merasakan aura dominasi yang kembali memancar kuat. "Di dunia bisnis, Raisa, kejujuran adalah celah bagi lawan untuk menyerang. Aku memberimu akses ke celah itu karena aku menganggapmu bagian dari 'proyek pemulihan' ini. Tapi sekarang, kau sudah sembuh. Artinya, masa istimewa ini sudah berakhir."

Ia menatap Raisa dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang bersifat evaluatif. "Kembalilah menjadi asisten yang kompeten. Jangan bawa perasaanmu ke gedung kantorku. Bisakah kau mengerti itu?"

Raisa mengepalkan tangannya di samping tubuh. Arash tetaplah Arash, pikirnya pahit. Pria yang mampu memberikan kehangatan di satu detik, lalu membekukan seluruh dunia di detik berikutnya. "Aku sangat mengerti, Arash. Jangan khawatir, aku tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan."

Suasana di dalam mobil selama perjalanan menuju kantor terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh suara halus mesin mobil yang meluncur di jalanan Jakarta yang mulai padat. Arash sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya bergerak lincah memeriksa grafik saham dan e-mail masuk, sama sekali tidak menoleh ke arah Raisa yang duduk di sampingnya.

Raisa menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung yang berlari menjauh. Ia merasa ada yang aneh. Meskipun kata-kata Arash sangat tajam dan menusuk, ada sesuatu yang tidak pas. Pria itu tampak lebih tegang dari biasanya, seolah-olah ia sedang memaksa dirinya sendiri untuk tetap menjadi sosok yang dingin itu.

Ketika mobil berhenti di depan lobi gedung perkantoran mewah mereka, Arash keluar terlebih dahulu tanpa menunggu. Raisa menghela napas, mengambil tas kerjanya yang berada di kursi belakang. Namun, saat ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, jemarinya menyentuh sebuah botol plastik kecil yang terasa asing.

Ia menarik botol itu keluar. Itu adalah botol vitamin dan suplemen kalsium dosis tinggi, tipe yang sama dengan yang diberikan dokter selama masa pemulihannya. Ada secarik kertas kecil yang ditempelkan di botol itu dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan tangan yang tegas namun sedikit terburu-buru.

"Habiskan. Jangan sampai kau pingsan di depan meja kerjamu dan merepotkan orang lain."

Raisa tertegun. Kalimatnya memang masih terdengar kasar dan bossy, namun tindakan itu mengatakan hal yang sebaliknya. Arash secara diam-diam memperhatikan kebutuhannya, bahkan ketika pria itu baru saja mengusirnya kembali ke zona profesional yang kaku.

Raisa berjalan masuk ke lobi gedung dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia melihat punggung Arash di kejauhan, berjalan dengan langkah lebar dan angkuh, dikelilingi oleh beberapa staf yang langsung menyambutnya dengan laporan-laporan mendesak.

Pria itu kembali menjadi sang "Pangeran Es" yang ditakuti semua orang. Ia memberikan perintah dengan suara tajam, tidak memberikan toleransi pada kesalahan sedikit pun, dan menatap semua orang dengan sorot mata yang mengintimidasi. Namun, bagi Raisa, topeng itu kini tampak berbeda.

Ia menyadari bahwa di balik setelan jas mahal yang kaku dan kata-kata yang mematikan itu, ada Arash yang semalam memohon padanya untuk tetap kuat. Ada Arash yang merasa kesepian di puncak kekuasaannya. Dan ada Arash yang menyelipkan vitamin di tas asistennya karena ia terlalu gengsi untuk menunjukkan rasa peduli secara langsung.

Raisa tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang tidak terlihat oleh siapapun. Ia menggenggam botol vitamin itu erat-erat sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas.

"Kau boleh memakai topengmu sekuat yang kau mau, Arash," bisik Raisa pada dirinya sendiri saat ia melangkah masuk ke dalam lift yang sama dengan Arash. "Tapi aku sudah melihat apinya. Dan aku tidak akan membiarkannya padam begitu saja."

Lift mulai bergerak naik, membawa mereka kembali ke dunia penuh intrik dan persaingan. Arash berdiri tegak di depan, menatap angka lantai yang terus berganti tanpa ekspresi. Namun, saat pantulan mereka bertemu di dinding lift yang mengkilap, Raisa bisa melihat kilatan singkat di mata Arash—sebuah pengakuan rahasia bahwa janji di balkon itu masih berlaku, meski dunia tak boleh tahu.

Tepat saat pintu lift terbuka di lantai eksekutif, sebuah suara lantang memecah keheningan.

"Tuan Arash! Akhirnya Anda sampai. Tuan Vino sedang menunggu di ruangan Anda."

Arash membeku sesaat, otot rahangnya mengeras. Ia melirik Raisa sekilas, sebuah tatapan yang penuh peringatan dan ketakutan tersembunyi, sebelum ia melangkah keluar menuju badai yang baru saja dimulai.

1
Marini Suhendar
Bagus Ceritanya Thor...Semangat Berkarya💪
Marini Suhendar
Huuh...Good Job Arash
Marini Suhendar
mampooos pàk tua & ulat bulu
Zakia Ulfa
hadehhh selain Selin ,Mr Tan orang paling jahat di crita ini
Zakia Ulfa
naaaahhhh kaaaannnnn😄😄😄
Zakia Ulfa
dan ahirnya arash sadar dan Raisa pergi dalam keadaan hamidun.surat Raisa tidak di baca arash karna ketahuan Selin.selin akan memanipulasi seolah olah Raisa berkhianat..eaaaaaa🤭
Idha Rahman: hahahaha sepertinya crita nya akan seperti itu sista sudah biasa jalan cerita dalam novel seperti itu jalan ceritanya
total 1 replies
Zakia Ulfa
di bab bab awal padahal sudah di jelaskan bahwa arash hanya peduli pada Raisa,tak lagi peduli pada perusahaan.daan jika perusahaan bangkit bukankah yg menang kakek peot itu
Zakia Ulfa
knapa tiap nge like slalu eror ya,padahal critanya bagus lo.sepi pulang yg komentar.semangat thooorrrr
EsKobok: terima kasih 🙇🙏
total 2 replies
Zakia Ulfa
knapa kakek arash semengeerikan itu
Marini Suhendar
Raisa....kenapa kmu percya k selin sih
Zakia Ulfa
oh Raisa malang sekali nasipmu,kuatlah raisa.jangan biarkan monster itu menang,kau harus kuat kuat kuat
Zakia Ulfa
plissss Raisa aku menangisi mu yg di perlakukan tidak manusiawi oleh suamimu.jadiiiiii jangan mudah luluh plisss..biar air mataku tak sia sia🤭
Zakia Ulfa
plissss Raisa jangan mudah goyah oke,,orang seperti arash ini musti di kasih kejut jantung
Zakia Ulfa
Halah arassss,,,gegayaan banget sok jual mahal,padahal mlehoy
Zakia Ulfa
awal bab tiap katanya mudah di pahami,, kayaknya seruuuu💪💪💪
Marini Suhendar
Raisa..bisa gila lama" dlm tekanan begini
Marini Suhendar
lanjut thor💪
falea sezi
raisa kebanyakan drama
Morince Moren
terbaik cerita ini
Marini Suhendar
Thor..jangan terlalu lama Raisa d sakiti/Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!