Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jejak Debu di Tanah Abang
Suara bor listrik yang menghantam beton membangunkan Alana sebelum alarm ponselnya berbunyi. Jam digital di nakas baru menunjukkan pukul enam pagi, namun Penthouse Wardhana sudah berisik layaknya lokasi proyek. Alana menarik selimut menutupi kepala, mencoba meredam kebisingan, tetapi getaran di dinding kamarnya terlalu kuat.
Ia menyerah. Dengan mata sembab karena kurang tidur—hasil dari semalaman mempelajari dokumen foto yang ia curi dari laci ayahnya—Alana melangkah keluar kamar.
Pemandangan di ruang tengah membuatnya terpaku. Wallpaper krem elegan pilihan mendiang ibunya sudah terkoyak separuh, menampilkan plester semen yang kasar. Sofa kulit Italia tempat ia biasa membaca buku telah raib, digantikan oleh tumpukan kardus berisi material lantai marmer baru berwarna hitam legam.
Di tengah kekacauan itu, Siska berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah lampu gantung kristal. Ia mengenakan piyama sutra berwarna merah marun—yang Alana tahu persis harganya setara dengan gaji Rini selama tiga bulan.
"Itu turunkan saja," perintah Siska pada tukang. "Terlalu kuno. Mas Hendra suka yang minimalis industrial."
"Tunggu," sela Alana, suaranya parau. Ia berjalan cepat mendekati tangga lipat tempat tukang itu berdiri. "Itu lampu kesayangan Mama. Jangan diturunkan."
Siska menoleh perlahan. Senyum di bibirnya tidak mencapai matanya. "Oh, Alana. Sudah bangun? Maaf ya berisik. Mas Hendra ingin renovasi ini selesai sebelum pesta ulang tahunmu bulan depan. Hadiah pembaruan suasana, katanya."
"Aku tidak minta suasana baru," balas Alana dingin. "Dan Papa tidak ada di sini, jadi berhenti berakting seolah kamu peduli padaku."
Siska tertawa kecil, suara yang renyah namun tajam. Ia melangkah mendekat, aroma parfum mahal—parfum yang sama dengan yang dipakai Hendra belakangan ini—menguar darinya. "Alana, sayang. Kamu harus belajar merelakan. Barang-barang tua hanya menampung debu. Mas Hendra butuh energi baru untuk bisnisnya yang sedang ekspansi. Kamu tidak mau menghambat rezeki Papamu, kan?"
Siska menepuk bahu Alana pelan, lalu berbisik, "Lagipula, sertifikat rumah ini atas nama Hendra Wardhana. Bukan Nyonya Wardhana yang sudah tiada."
Alana menepis tangan Siska. Darahnya mendidih, ingin sekali ia menampar wajah cantik yang penuh kepalsuan itu. Namun, bayangan dokumen asuransi dan catatan transaksi ilegal di kepalanya menahannya. Jika ia meledak sekarang, ia kehilangan akses. Ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.
"Lakukan sesukamu," ucap Alana datar, lalu berbalik kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, Alana tidak kembali tidur. Ia berpakaian cepat—jeans, kaos polos, dan topi baseball. Ia mengambil tas selempang murah yang ia beli di pasar swalayan agar tidak mencolok, lalu menyelipkan ponsel dan semprotan merica. Hari ini, ia akan membuktikan ucapan Rini.
***
Alana memarkir mobilnya di mal Grand Indonesia, lalu menyetop taksi biru yang lewat di pinggir jalan. Ia tidak ingin GPS mobilnya merekam perjalanan ini.
"Tanah Abang Blok F, Pak," ujarnya pada sopir.
Jalanan Jakarta pagi itu padat merayap. Alana memandang keluar jendela, melihat transisi pemandangan yang drastis. Dari gedung-gedung kaca pencakar langit di Thamrin, perlahan berubah menjadi deretan ruko kusam, kabel listrik yang semrawut, dan hiruk-pikuk pedagang kaki lima.
Alamat 'PT. Cipta Karya Semesta' yang tertera dalam dokumen foto curian itu mengarah ke sebuah ruko tua di gang sempit di belakang pasar tekstil. Menurut data Rini, perusahaan ini menerima aliran dana ratusan juta setiap bulan dari Wardhana Group untuk jasa 'konsultasi', namun Alana yakin itu hanya kedok.
Taksi berhenti di mulut gang. "Neng, mobil nggak bisa masuk. Harus jalan kaki," kata sopir itu ragu.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya turun di sini."
Alana turun dan langsung disergap udara panas bercampur bau selokan dan asap knalpot bajaj. Ia menarik topinya lebih rendah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan dunianya. Ia terbiasa dengan lantai marmer licin dan AC sentral, bukan becekan air hitam dan tatapan tajam kuli panggul.
Ia berjalan menyusuri gang, menghitung nomor ruko. Ruko nomor 48B. Itu tujuannya.
Bangunan itu tampak menyedihkan. Cat temboknya mengelupas, rolling door-nya berkarat dan tertutup rapat. Tidak ada plang nama perusahaan mentereng. Hanya ada stiker 'Sedot WC' dan 'Pinjaman Kilat' tertempel di pintunya.
Alana mengeluarkan ponselnya, berpura-pura sedang menelepon sambil memotret bangunan itu dari seberang jalan. Tidak mungkin perusahaan konsultan senilai miliaran rupiah berkantor di tempat seperti ini.
Tiba-tiba, sebuah motor matic berhenti di depan ruko itu. Seorang pria berjaket kulit imitasi dengan tato di leher turun. Ia mengeluarkan kunci, membuka gembok rolling door, dan masuk ke dalam.
Alana menahan napas. Ia menyeberang jalan, mendekat dengan hati-hati. Pintu itu terbuka sedikit. Alana mengintip dari celah.
Di dalam tidak ada meja resepsionis atau komputer canggih. Ruangan itu penuh dengan tumpukan kardus rokok dan botol minuman keras. Di sudut ruangan, pria tadi sedang duduk menghitung gepokan uang tunai yang baru saja ia keluarkan dari tas ransel.
Namun, yang membuat darah Alana berdesir bukan uang itu, melainkan sebuah papan tulis putih di dinding. Di sana tertulis struktur organisasi dengan spidol merah.
**Direktur Utama: Siska Damayanti.**
Alana memotret celah itu dengan tangan gemetar. *Klik.* Suara rana kameranya lupa dimatikan.
Pria di dalam menoleh tajam. "Woy! Siapa itu?!"
Jantung Alana serasa copot. Ia langsung berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Kakinya menapak keras di aspal yang tidak rata.
"Hei! Jangan lari!" Terdebat teriakan dan suara langkah berat mengejar.
Alana tidak menoleh. Ia menabrak seorang pedagang bakso tusuk hingga sausnya tumpah, bergumam maaf tanpa berhenti, lalu menyelinap di antara kerumunan pembeli tekstil yang padat. Adrenalin membanjiri tubuhnya. Rasa takut yang nyata, bukan sekadar ketakutan dimarahi ayah, melainkan ketakutan fisik yang primal.
Ia melihat sebuah bajaj kosong. Tanpa pikir panjang, Alana melompat masuk. "Jalan, Bang! Cepat! Ke Sarinah!"
Bajaj itu menderu, meninggalkan asap putih tebal yang mungkin menyelamatkan nyawanya dari pandangan pengejar. Alana merosot di kursi keras bajaj, napasnya memburu. Ia melihat hasil fotonya. Meski sedikit buram, tulisan di papan tulis itu terbaca jelas. Nama Siska ada di sana. Sebagai pimpinan sarang penjahat ini.
***
Sore harinya, Alana menemui Burhan di sebuah kedai kopi di bilangan Menteng. Ia tidak berani ke kantor pengacara itu, takut ayahnya punya mata-mata.
Burhan, pria paruh baya dengan kemeja batik yang sedikit lusuh, menatap layar ponsel Alana dengan kening berkerut dalam.
"Ini berbahaya, Mbak Alana," suara Burhan berat. Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Ini bukan sekadar penggelapan pajak. Ini pencucian uang. Uang tunai dalam jumlah besar, gudang tersembunyi... Ayah Anda tidak hanya korupsi, dia mungkin terlibat dengan sindikat."
"Dan nama Siska ada di sana sebagai Direktur Utama," tekan Alana. "Apakah ini artinya Siska yang mengendalikan semuanya?"
Burhan menggeleng pelan. "Justru sebaliknya. Dalam dunia kejahatan kerah putih, nama yang tertera di dokumen resmi seringkali adalah 'tumbal'. Ayah Anda cerdik—atau kejam. Dia menggunakan nama Siska. Jika polisi mencium jejak PT. Cipta Karya Semesta, yang pertama kali diciduk adalah Direktur Utamanya. Siska yang akan masuk penjara, sementara Ayah Anda bisa cuci tangan karena namanya tidak ada di akta pendirian."
Alana terdiam. Fakta ini menghantamnya dengan cara yang tak terduga. Ia membenci Siska, tapi menyadari betapa liciknya Hendra memanfaatkan wanita itu membuatnya mual. Ayahnya benar-benar monster yang memangsa siapa saja.
"Apa Siska tahu risiko ini?" tanya Alana.
"Mungkin tidak. Dia mungkin hanya melihat jabatan mentereng dan akses ke rekening perusahaan, tanpa sadar dia sedang memegang bom waktu," jawab Burhan. "Mbak Alana, bukti ini kuat, tapi kita butuh lebih. Kita butuh bukti aliran dana dari rekening Hendra masuk ke rekening PT ini. Jika kita punya itu, kita bisa menjatuhkan mereka berdua sekaligus."
"Saya akan cari caranya," janji Alana.
***
Pulang ke rumah malam itu rasanya seperti masuk ke kandang singa. Alana berusaha mengatur napas sebelum membuka pintu utama.
Di ruang makan, Hendra dan Siska sedang menikmati makan malam. Ada steak dan anggur merah. Siska mengenakan gaun malam hitam, terlihat kontras dengan debu konstruksi yang masih tersisa di sudut ruangan.
"Dari mana saja kamu?" tanya Hendra tanpa menoleh, sibuk memotong dagingnya.
"Kuliah tambahan," bohong Alana. Ia berjalan menuju tangga, ingin segera menghilang.
"Tunggu," suara Siska menghentikannya. Siska memutar gelas anggurnya dengan anggun. "Kamu bau asap dan... keringat? Seperti habis main di pasar."
Hendra akhirnya menoleh, menatap putrinya dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Mandi sana. Bau kamu bikin hilang nafsu makan."
Alana mencengkeram tali tasnya erat-erat. Di dalam tas itu ada bukti yang bisa menghancurkan senyum kemenangan di wajah Siska. *Kamu pikir kamu ratu di sini, Siska,* batin Alana, *padahal kamu cuma kambing hitam yang diberi kalung berlian.*
"Baik, Pa. Selamat makan," ucap Alana datar.
Saat menaiki tangga, Alana mendengar Siska tertawa manja. "Mas, soal proyek di Bali, aku sudah tanda tangani berkasnya tadi siang. Cepat kan kerjaku?"
"Bagus," jawab Hendra. "Kamu memang bisa diandalkan, tidak seperti anak itu."
Alana menutup pintu kamarnya dan menguncinya dua kali. Ia menyandarkan punggung ke pintu, merosot duduk di lantai. Air matanya menetes, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mengkristal menjadi tekad.
Ia membuka laptopnya, membuat folder baru dengan nama sandi 'THE FALL'. Ia memindahkan foto ruko kumuh dan papan tulis itu ke sana.
"Nikmati waktumu, Siska," bisik Alana pada layar laptop yang menyala dalam gelap. "Sebentar lagi, giliran aku yang bermain."