Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual dan Sendirian
Kehamilan satu bulan ternyata bukan masa indah seperti yang Nayara bayangkan. Bukan tentang perut yang membulat lucu, bukan tentang belanja baju bayi imut, bukan tentang suami yang perhatian mengelus perut sambil berbisik pada calon bayi.
Tidak. Ini tentang mual. Mual yang gila-gilaan sampai Nayara benci bangun pagi.
Jam lima pagi. Nayara terbangun dengan perut yang bergejolak seperti ada pabrik deterjen di dalamnya. Mual. Mual banget. Dia langsung lompat dari ranjang, berlari ke kamar mandi sambil menutup mulut dengan tangan.
Bleeekkk!
Semua isi perutnya keluar. Nasi kemarin malam, air putih, empedu yang pahit sekali. Nayara muntah sampai air mata keluar, sampai kerongkongannya perih, sampai lututnya gemetar.
"Nayara!" Suara Gilang dari kamar, keras dan kesal. "Pelanin dikit! Berisik banget sih!"
Nayara tidak sempat jawab. Mual lagi. Blekkk! Kali ini cuma air sama cairan kuning pahit. Perutnya kosong tapi tetap mual.
Gilang muncul di pintu kamar mandi, rambut acak-acakan, wajah kusut penuh emosi. "Masa muntah aja berisik begitu? Gua lagi tidur enak tau!"
Nayara menatap Gilang dengan mata berkaca-kaca, masih setengah jongkok di depan kloset. Bibirnya bergetar. "Maaf, Mas. Aku, aku tidak bisa kontrol. Mual banget."
"Ya udah muntah sana, tapi pelanin! Jangan kayak orang mo mati!" Gilang balik ke kamar, membanting pintu.
Nayara terdiam. Tangan gemetar, lututnya sakit karena jongkok terlalu lama. Perutnya masih mual tapi tidak ada yang bisa dimuntahkan lagi.
Dia bangun perlahan, berkumur dengan air dingin. Mulutnya pahit sekali, seperti makan obat campur cuka. Nayara menatap wajahnya di cermin. Pucat. Mata cekung. Bibir kering pecah-pecah.
Cantik dari mana sih dulu Gilang bilang aku cantik?
Nayara keluar dari kamar mandi, berjalan pelan ke ranjang. Gilang sudah tidur lagi, membelakangi sisi Nayara, selimut ditarik sampai ke kepala. Nayara duduk di tepi ranjang, menatap punggung lebar Gilang.
Pengen dipeluk. Pengen ditanya, "Kamu baik-baik aja, sayang?" Pengen dibuatin teh hangat. Pengen dikasih perhatian walau cuma sedikit.
Tapi Gilang cuma kesal karena suara muntahannya berisik.
Nayara berbaring lagi, meringkuk seperti udang. Tangannya memeluk perutnya yang masih rata. "Maafin Mama ya, Nak. Mama lemah. Mama tidak bisa jaga kamu dengan baik."
Jam enam pagi, alarm Gilang berbunyi. Gilang bangun, langsung mandi, ganti baju rapi. Jas abu-abu, kemeja putih, dasi biru. Wangi parfum menyengat hidung Nayara yang sensitif.
Nayara mual lagi. Tapi dia tahan. Jangan sampai muntah lagi. Nanti Gilang marah lagi.
"Mas, sarapan dulu yuk," ajak Nayara pelan, mencoba bangun dari ranjang meski kepalanya pusing berputar.
"Tidak usah. Gua beli di jalan." Gilang mengambil tas kerjanya, melirik Nayara sekilas. "Lo istirahat aja. Muka lo jelek banget."
Jelek. Dia bilang jelek.
Nayara menunduk, tangannya meremas selimut. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Gilang keluar tanpa bilang apa-apa lagi. Tidak ada kecupan selamat tinggal, tidak ada pelukan, bahkan tidak ada senyum.
Pintu rumah tertutup. Suara mobil menyala lalu menjauh.
Nayara sendirian lagi.
Seharian Nayara muntah enam kali. Enam kali! Sampai perutnya kosong melompong, sampai kerongkongannya berdarah, sampai tubuhnya lemas tidak bisa berdiri.
Dia coba makan roti tawar. Muntah. Coba minum susu. Muntah. Coba makan bubur ayam. Muntah juga.
Gilang pulang jam sepuluh malam. Wajah lelah, mata merah. Nayara sudah siapkan makan malam, nasi goreng sederhana karena cuma itu yang tidak bikin dia mual.
"Mas, makan dulu," kata Nayara sambil menyodorkan piring.
Gilang duduk, makan tanpa bicara. Nayara duduk di seberangnya, menatap Gilang makan. Pengen cerita tentang hari ini, tentang betapa beratnya, tentang betapa dia butuh Gilang di samping.
Tapi Gilang tidak melirik Nayara sama sekali. Matanya fokus ke ponsel yang diletakkan di samping piring.
Selesai makan, Gilang langsung naik. "Gua mau tidur. Besok pagi-pagi ada meeting."
"Mas, aku, aku boleh cerita sebentar tidak?" Nayara mencoba menahan Gilang.
"Besok aja. Gua capek." Dan Gilang naik tangga, meninggalkan Nayara yang berdiri sendirian di meja makan.
Tengah malam, sekitar jam dua, Nayara terbangun karena perutnya keroncongan. Lapar. Lapar banget. Padahal tadi malam sudah makan nasi goreng dua piring.
Tapi bukan lapar biasa. Ini lapar yang aneh, yang spesifik. Nayara pengen makan seblak. Seblak pedas yang kenyal-kenyal itu. Atau sate kambing. Sate kambing yang wangi dengan bumbu kacang kental.
Ngidam.
Nayara pernah dengar ibu-ibu hamil suka ngidam. Tapi dia tidak kira bakal separah ini. Perutnya sampai melilit-lilit, keringat dingin keluar, mulutnya ngiler membayangkan seblak atau sate kambing.
Nayara melirik Gilang yang tidur nyenyak di samping. Dia ragu. Mau bangunin atau tidak? Kalau dibangunin, pasti Gilang marah. Tapi kalau tidak, perutnya makin sakit.
Akhirnya Nayara memberanikan diri. Tangannya menggoyangkan bahu Gilang pelan. "Mas. Mas, bangun sebentar."
Gilang menggeram, matanya tetap tertutup. "Apaan sih? Tengah malem."
"Aku, aku pengen makan seblak. Atau sate kambing. Yang deket-deket gitu ada tidak, Mas?" Suara Nayara kecil, hampir seperti bisikan.
Gilang membuka mata, menatap Nayara dengan tatapan malas bercampur kesal. "Tengah malam lo minta seblak? Sate kambing? Gila lo?"
"Aku lagi ngidam, Mas. Perutku sakit kalau tidak makan itu." Nayara meremas-remas tangannya sendiri.
"Ngidam apaan! Lo cuma manja! Kehamilan baru sebulan udah kayak gini! Nanti kalau udah bulan ke-sembilan gimana? Mau gua jadi budak lo?" Gilang membalikkan tubuhnya, membelakangi Nayara.
Air mata Nayara langsung jatuh. Dadanya sesak. "Mas, kumohon. Aku benar-benar pengen. Aku tidak bisa tidur kalau tidak makan itu."
"Ya udah pesan lewat aplikasi sono! Jangan ganggu gua tidur!" bentak Gilang.
"Ponselku habis baterai, Mas. Pinjam ponsel Mas sebentar boleh tidak?"
"Ponsel gua lagi di-cas. Ambil sendiri sono kalau mau."
Nayara tahu ponsel Gilang tidak sedang dicas. Tadi sebelum tidur Gilang masih main ponsel sampai jam satu. Tapi Nayara tidak berani protes.
"Mas, tolong bantu aku pesan. Aku tidak kuat bangun. Pusing." Nayara mencoba sekali lagi, suaranya sudah bergetar menahan tangis.
"UDAH BILANG GUA CAPEK! LO MANJA BANGET SIH, NAYARA! HAMIL DOANG KOK LEBAY!" Gilang berteriak keras, sampai Nayara tersentak kaget.
Nayara tidak bicara lagi. Tangannya gemetar, bibirnya bergetar, seluruh tubuhnya bergetar. Dia turun dari ranjang pelan-pelan, mengambil ponselnya yang tergeletak di meja rias, lalu keluar dari kamar.
Di ruang tamu, Nayara duduk di sofa sambil mencas ponselnya. Menunggu baterai naik walau cuma lima persen supaya bisa nyala.
Sepuluh menit kemudian ponsel menyala. Nayara langsung buka aplikasi pesan antar makanan. Tangannya gemetar waktu mengetik "seblak pedas" di kolom pencarian.
Tidak ada yang buka jam segini.
Nayara coba cari sate kambing. Ada satu warung yang masih buka dua puluh empat jam. Nayara pesan dua porsi sate kambing dengan bumbu kacang ekstra pedas.
Empat puluh lima menit kemudian, pesanan datang. Nayara terima di depan pintu, membayar pakai uang sisa tabungan pribadinya. Gilang tidak pernah kasih uang jajan sejak Nayara hamil. Katanya Nayara kan tidak kemana-mana, untuk apa butuh uang.
Nayara bawa sate kambing ke meja makan, membuka plastiknya dengan tangan gemetar karena lapar. Aroma bumbu kacang tercium kuat. Enak. Perut Nayara langsung berbunyi keras.
Nayara baru mau suap sate pertama ketika Gilang turun dari tangga. Wajahnya merah, mata melotot.
"LO BELI SATE KAMBING? DI RUMAH? TENGAH MALEM?" teriak Gilang, suaranya memenuhi seluruh ruangan.
Nayara tersentak, tusuk sate jatuh dari tangannya. "Aku, aku kan tadi bilang lagi ngidam, Mas."
"GUA GAK KUAT BAU KAMBING! GUA ALERGI BAU ITU! LO GAK MIKIR APA?" Gilang mendekat, tangannya meraih plastik sate lalu melemparnya ke tempat sampah. Sate-sate jatuh berantakan, bumbu kacang tumpah ke mana-mana.
"MAS! ITU MAKANANKU!" Nayara berdiri, matanya melotot tidak percaya.
"GUA GAK PEDULI! INI RUMAH GUA! GUA GAK MAU ADA BAU KAMBING DI RUMAH GUA!" Gilang menunjuk Nayara dengan jari telunjuk. "LO INI EGOIS BANGET TAU GAK SIH? CUMA MIKIRIN LO DOANG! GUA CAPEK KERJA SEHARIAN, MALEM-MALEM MALAH LO GANGGU TERUS!"
Nayara menangis. Tangisannya pecah, keras, tidak terkendali. "Aku lagi hamil anak kamu! Kenapa kamu tidak bisa pengertian sedikit aja?"
"HAMIL BUKAN ALASAN BUAT JADI MANJA! IBU GUA DULU HAMIL TUJUH ANAK, TIDAK PERNAH SEREPOT LO!" Gilang mengusap wajahnya kasar. "Gua naik. Lo terserah mau ngapain. Tapi jangan berisik lagi!"
Gilang naik tangga dengan langkah berat, meninggalkan Nayara yang berdiri menangis di tengah ruang makan.
Nayara menatap tempat sampah. Sate kambingnya ada di sana, tercampur dengan sampah lain. Bumbu kacang yang tadi dia tunggu-tunggu sekarang jadi noda cokelat di lantai keramik putih.
Nayara jatuh terduduk di lantai. Tangannya memeluk perutnya yang mulai sedikit membesar. "Maafin Mama, Nak. Mama tidak bisa kasih kamu makanan yang kamu mau. Mama lemah. Papa tidak sayang sama kita."
Nayara menangis sampai pagi. Tidak tidur. Tidak makan. Hanya menangis sambil memeluk perutnya sendiri, memberi kehangatan pada bayi yang mungkin bisa merasakan kesedihan ibunya.
Pagi itu Gilang berangkat tanpa bilang apa-apa. Bahkan tidak melirik Nayara yang masih duduk di lantai dengan mata bengkak dan wajah pucat.
Dan Nayara tahu, kehamilannya akan seperti ini. Sendirian. Tanpa dukungan. Tanpa cinta.
Hanya ada dia dan bayinya. Berdua melawan dunia yang keras ini.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭