Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 25
Hari-hari berlalu.
Dan tanpa pernah mengucapkan apa pun, James mulai menjaga jarak dari Karin.
Bukan dengan sikap dingin.
Bukan dengan kemarahan.
Melainkan dengan ketenangan yang justru terasa paling menyakitkan.
Dulu, setiap kali Karin tiba di lokasi syuting, James selalu jadi orang pertama yang menyapanya.
Dengan senyum lebar.
Dengan sapaan ringan yang seolah berkata, aku di sini.
Sekarang… tidak lagi.
James tetap datang ke lokasi.
Ia duduk di area produksi, mengenakan headphone di lehernya.
Kadang sibuk dengan laptop dan alat musik portabelnya,
kadang berbicara singkat dengan kru soal aransemen atau timing musik.
Ia tenggelam dalam dunianya sendiri—
nada, ritme, dan suara—
seolah itu satu-satunya tempat aman baginya sekarang.
Dulu, waktu makan siang selalu mereka habiskan bersama.
Berbagi cerita, tawa kecil, dan keheningan yang nyaman.
Sekarang, James memilih duduk di meja lain.
Tidak jauh.
Tapi cukup untuk menciptakan jarak yang jelas.
Namun ia juga tidak pernah benar-benar menjadi orang asing.
Setiap kali pandangan mereka bertemu secara tak sengaja—
di lorong lokasi syuting,
di dekat monitor,
atau saat jeda pengambilan gambar—
James selalu berhenti sejenak.
Ia membungkukkan badan ringan, sopan, seperti kebiasaan orang Korea.
“Hello.”
(Halo.)
Sederhana.
Tenang.
Tanpa emosi berlebihan.
Karin selalu membalasnya.
Dengan senyum kecil yang tertahan.
Dengan dada yang entah kenapa terasa semakin sesak.
He keeps his distance,
but he never crosses the line.
(Ia menjaga jarak, tapi tak pernah melewati batas.)
Dan justru di sanalah Karin mulai mengerti—
jarak ini bukan karena James tak peduli,
melainkan karena ia terlalu menghargai keputusan Karin untuk tetap berdiri di tempatnya sendiri.
Terkadang, tanpa sadar, Karin memperhatikan James dari kejauhan.
Pemuda itu duduk sedikit menyendiri di sudut ruangan terbuka, laptop terbuka di hadapannya. Headphone menutup salah satu telinganya, sementara telinga lainnya dibiarkan bebas, seolah tetap ingin terhubung dengan dunia sekitar. Jemarinya bergerak pelan di atas keyboard, menyesuaikan nada, mengulang bagian tertentu, lalu berhenti—menghela napas—dan mencoba lagi.
Ia tampak begitu tenggelam dalam musiknya.
Sesekali James memejamkan mata, mengangguk kecil mengikuti melodi yang ia ciptakan sendiri. Tidak terburu-buru. Tidak tergesa. Seolah setiap nada harus benar-benar ia rasakan sebelum dibiarkan lahir.
Karin menghentikan langkahnya.
Ia berdiri diam, menatapnya.
Terlalu lama.
Ada sesuatu dalam cara James memahami musik—tenang, dalam, dan penuh kesabaran. Seolah musik baginya bukan sekadar pekerjaan, tapi bahasa lain untuk menyampaikan perasaan yang tidak selalu bisa diucapkan.
Tanpa sadar, senyum kecil terukir di wajah Karin.
Senyum yang hangat.
Senyum yang bangga.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa tatapannya terlalu dalam.
“He’s very handsome, isn’t he?”
(Dia sangat tampan, bukan?)
Suara itu datang tiba-tiba dari sampingnya.
Karin tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati salah satu kru berdiri di dekatnya, ikut memperhatikan James dari kejauhan.
Tanpa berpikir panjang, Karin menjawab spontan, suaranya pelan tapi jujur,
“He’s not just handsome…”
(Dia bukan hanya tampan…)
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut,
“He’s very mature.”
(Dia sangat dewasa.)
Begitu kalimat itu keluar, Karin terdiam.
Ia baru menyadari apa yang baru saja ia katakan—dan betapa dalam maknanya.
Di kejauhan, James yang sejak tadi sibuk dengan musiknya, perlahan mengangkat pandangan. Entah karena merasakan tatapan itu, entah hanya kebetulan.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sepersekian detik.
James tersenyum kecil, lalu mengangguk sopan ke arah Karin, membungkukkan badannya sedikit—kebiasaan sederhana yang selalu ia lakukan. Setelah itu, ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin melanggar jarak yang telah ia jaga dengan sengaja.
Namun di dada Karin, ada sesuatu yang perlahan menghangat—
dan bersamaan dengan itu, kebingungan yang semakin dalam.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah rasa ini hanya kagum…
atau sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu?
Arka memperhatikan perubahan itu sejak beberapa hari terakhir.
James tidak lagi berdiri terlalu dekat dengan Karin. Tidak lagi berjalan di sisinya. Tidak lagi tertawa ringan seperti biasanya. Ada jarak yang jelas—terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Dari kejauhan, Arka menyimpulkan satu hal sederhana:
Mereka mungkin bertengkar.
Dan di dalam pikirannya, jarak itu adalah celah.
Kesempatan yang selama ini ia tunggu.
Sore itu, saat aktivitas hampir selesai, Arka memberanikan diri mendekati Karin. Langkahnya pelan, ragu, seolah takut ditolak bahkan sebelum sempat bertanya.
“Karin… mau pulang sekarang?” tanyanya hati-hati.
Karin menoleh. Wajahnya tenang, nyaris datar. Ia tidak langsung menjawab, seakan menimbang sesuatu di dalam dirinya.
“Iya,” jawabnya akhirnya, santai.
Jawaban itu membuat dada Arka sedikit menghangat.
“Kalau begitu… biar aku antar,” ucap Arka, kali ini lebih berani.
Karin menatapnya beberapa detik. Ada keraguan di matanya—bukan pada Arka, tapi pada dirinya sendiri.
“Oke,” katanya kemudian. “Kalau kamu nggak merasa direpotin.”
Arka tersenyum kecil, cepat-cepat menggeleng.
“Nggak kok. Masuk aja,” katanya. “Lagian… kita searah.”
Padahal ia tahu betul—
hotel mereka tidak searah sama sekali.
Karin tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Mobil perlahan menjauh dari lokasi itu.
Dan dari kejauhan—
James melihat semuanya.
Ia berdiri diam, tangan di saku jaketnya, menatap mobil yang membawa Karin pergi. Tidak ada ekspresi marah. Tidak ada wajah kecewa yang meledak-ledak.
Hanya senyum tipis.
Senyum seseorang yang sudah memilih untuk menepati janjinya sendiri.
“I hope you find your answer.”
(Aku harap kamu menemukan jawabanmu.)
Ia menghela napas pelan, lalu menunduk, kembali melangkah pergi—
meninggalkan jarak yang memang sengaja ia jaga.
Bukan karena ia menyerah,
melainkan karena ia mencintai dengan cara yang tidak memaksa.
Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan.
Karin duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Gedung-gedung tinggi berlalu begitu saja, lampu-lampu kota memantul di kaca, sementara pikirannya sibuk berkelindan pada hal-hal yang tak mampu ia ucapkan.
Di sampingnya, Arka menggenggam kemudi dengan hati-hati. Ia ingin berbicara, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Kata-kata yang dulu terasa begitu mudah kini terasa asing di lidahnya.
Berada sedekat ini dengan Karin terasa… canggung.
Tidak lagi seperti dulu.
Keheningan itu terus bertahan, hingga mobil akhirnya berhenti di depan hotel Karin.
Karin membuka pintu, turun dari mobil, lalu menoleh sebentar. “Terima kasih,” katanya singkat.
“Sama-sama,” jawab Arka.
Karin mengangguk kecil.
“Aku masuk dulu.”
Ia baru melangkah satu langkah ketika Arka tiba-tiba menahan tangannya.
“Karin,” panggilnya lembut.
Karin berhenti. Ia menoleh, menatap Arka dengan ekspresi datar—menunggu.
Arka terdiam sesaat, seolah menimbang keberaniannya sendiri. Lalu akhirnya ia berkata, “Terima kasih.”
Karin mengernyit kecil, bingung. “Untuk apa?”
Arka tersenyum. Senyum yang jujur, hampir kekanak-kanakan—senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan pada Karin. “Terima kasih… karena kamu mau bicara lagi denganku.”
Kata-kata itu sederhana, tapi keluar dengan perasaan yang nyata.
Karin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arka beberapa detik, lalu menarik tangannya perlahan. “Aku masuk dulu, ya,” katanya akhirnya. “Selamat malam.”
Arka mengangguk. “Selamat malam.”
Ia berdiri di sana, memandangi punggung Karin hingga sosoknya menghilang di balik pintu hotel.
Karin terasa begitu asing sekarang.
Tidak lagi sepenuhnya miliknya, tapi juga belum sepenuhnya pergi.
Namun di balik rasa asing itu, Arka tetap tersenyum kecil.
Karena setidaknya, malam ini—
Karin mau berbicara lagi dengannya.
Dan bagi Arka, itu sudah cukup… untuk sementara.
Sesampainya di dalam kamar hotel, Karin langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Ia tidak menyalakan lampu.
Hanya membiarkan cahaya kota dari balik tirai menyusup samar ke dalam ruangan.
Matanya menatap langit-langit kamar, kosong, sementara pikirannya melayang entah ke mana.
Ke taman.
Ke perjalanan tadi.
Ke wajah-wajah yang kini membuat hatinya semakin rumit.
Perlahan, ia meraih ponselnya.
Jarum jam di layar bergerak pelan, tak ada notifikasi baru.
Tidak ada pesan.
Tidak ada stiker lucu.
Tidak ada sapaan singkat seperti biasanya.
Dari James—tidak ada apa-apa.
Karin menatap layar itu cukup lama, lalu terkekeh pelan pada dirinya sendiri.
Ia sadar betul sejak hari itu James memang menjaga jarak. Tidak lagi mengirim pesan random, tidak lagi menggodanya dengan candaan kecil yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.
“Aku ini kenapa, sih,” gumamnya, sambil memiringkan ponsel di tangannya.
Ia lalu berbisik sangat pelan, hampir seperti mengaku pada dirinya sendiri, “Aku merindukanmu.”
Kata-kata itu membuat dadanya terasa hangat—dan perih—di saat yang bersamaan.
Tiba-tiba, ingatannya melompat ke masa lalu.
Ke tahun-tahun ketika ia baru saja putus dengan Arka.
Saat itu, ia juga melakukan hal yang sama.
Terus-menerus mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk.
Berharap ada satu kalimat saja dari Arka yang mengatakan bahwa ia masih berarti.
Bedanya, dulu ia menunggu dengan gelisah.
Dengan cemas.
Dengan rasa takut kehilangan.
Sedangkan sekarang…
Ia menunggu karena rindu.
Karin membuka galeri ponselnya.
Deretan foto-foto lama muncul di layar—dirinya dan James di Pulau Jeju. Tawa mereka. Langit biru. Angin pantai. Hari-hari yang terasa ringan, tanpa beban.
Ia tersenyum lebar tanpa sadar.
“Tiba-tiba aku merindukan Pulau Jeju lagi,” katanya pelan.
Namun yang sebenarnya ia rindukan bukan hanya tempat itu.
Melainkan perasaan tenang yang ia rasakan saat bersama seseorang—
perasaan yang kini perlahan membuatnya sadar,
bahwa hatinya sedang berjalan ke arah yang tak ia rencanakan.