"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Setelah pertemuannya dengan Arlan ditempat gym, kini Keyla sudah kembali kerumah dengan perasaan bersalah karena sudah terlalu jauh menyinggung kehidupan pribadi sang duda..
Gadis itu kini hanya duduk diam di tepi tempat tidurnya, menatap sebuah bingkisan kecil yang sudah ia bungkus dengan kertas kado bermotif minimalis. Isinya tidak mewah, hanya beberapa botol minyak aromaterapi, koyo kualitas premium, dan sekotak cokelat hitam yang katanya bisa memperbaiki suasana hati.
"Apa ini terlalu berlebihan ya, Re?" tanya Keyla melalui sambungan video call dengan Rena.
Rena, yang sedang memakai masker wajah di seberang sana, mendengus. "Key, lo itu antara terlalu baik atau emang udah hilang akal. Dia udah ngebentak lo di gym, bilang lo sok tau, dan lo malah mau ngasih dia obat pegal?"
"Ya kan emang salah gue, Re. Gue nyinggung soal mantan istrinya. Gue nggak tau kalau lukanya masih sebasah itu," Keyla menghela napas, jemarinya memainkan pita bingkisan itu. "Gue cuma pengen dia tau kalau gue nggak bermaksud jahat."
"Ya udah, kirim aja lewat kurir. Jangan lo lagi yang dateng ke kantornya. Kasihan satpamnya, nanti kena SP gara-gara lolosin lo terus."
Keyla tersenyum licik. "Siapa bilang gue mau kirim lewat kurir? Gue bakal titipin ke Pak Maman, supirnya."
"Lo dapet nomor supirnya dari mana?!"
"Ada deh. Rahasia perusahaan!"
Sore harinya, di depan gerbang keluar gedung Dirgantara Group, Keyla mencegat mobil Rolls Royce hitam yang sangat ia kenali. Saat mobil itu melambat karena kemacetan Jakarta, Keyla mengetuk kaca jendela depan.
Pak Maman, sang supir, menurunkan kaca jendela dengan wajah bingung. "Eh, Neng yang kemarin di halte ya?"
"Iya, Pak! Pak Maman, aku titip ini ya buat Om Arlan. Bilang aja dari Anak Kecil yang Sok Tau. Tolong banget ya, Pak. Jangan sampai dibuang!" Keyla menyerahkan bingkisan itu dengan wajah memelas.
Pak Maman terkekeh melihat kegigihan gadis itu. "Aduh, Neng. Bapak nggak janji ya, tapi nanti Bapak sampaikan di mobil."
"Makasih, Pak Maman yang ganteng!"
Keyla berdiri di trotoar, melambaikan tangan saat mobil itu menjauh. Di kursi belakang yang gelap, Arlan sebenarnya memperhatikan interaksi itu melalui kaca film yang tebal. Ia melihat gadis itu masih dengan seragam SMA-nya yang rapi tampak melonjak kegirangan hanya karena titipannya diterima oleh supirnya.
"Ada apa, Maman?" tanya Arlan dingin.
"Ini, Tuan. Ada titipan dari Neng yang tadi. Katanya dari Anak Kecil yang Sok Tahu," Pak Maman menyerahkan bingkisan itu ke belakang.
Arlan menatap bingkisan bermotif garis-garis itu dengan kening berkerut. Ia menerimanya, membukanya perlahan, dan menemukan deretan obat pegal serta sebuah surat kecil dengan tulisan tangan yang rapi, sangat kontras dengan kepribadiannya yang berantakan.
> Dear Om Arlan,
> Maaf ya buat kejadian di gym kemarin. Aku beneran nggak bermaksud sok tau soal masa lalu Om. Aku cuma pengen Om nggak sedih lagi. Ini ada obat pegal sama koyo, dipake ya habis latihan berat. Sama ada cokelat, katanya bisa bikin mood bagus. Jangan dibuang ya, Om. Capek lho nyarinya. Kalau Om masih marah, Om boleh block nomorku. Tapi jangan benci aku, ya?
Arlan terdiam cukup lama. Ia mengambil satu botol minyak aromaterapi dan menghirup aromanya. Wangi lavender yang menenangkan. Entah kenapa, rasa sesak yang ia rasakan sejak kemarin di gym sedikit berkurang.
Ia mengambil ponselnya. Jemarinya ragu di atas layar. Setelah berperang dengan egonya selama sepuluh menit, ia akhirnya mengetik sesuatu.
Arlan:Terima kasih. Cokelatnya terlalu manis. Lain kali jangan lakukan hal seperti ini lagi.
Di tempat lain, di sebuah kedai jus, Keyla nyaris tersedak saat ponselnya bergetar. Ia membaca pesan itu berulang kali.
"RENA! DIA BALES! DIA BALES!" teriak Keyla histeris, membuat pengunjung kedai lain menoleh kaget.
"Mana? Mana?!" Rena merebut ponsel Keyla. "Idih, ini mah bukan balesan cinta, Key. Ini namanya teguran halus."
"Tapi dia bilang terima kasih! Dan dia bilang lain kali jangan lakukan hal seperti ini lagi. Itu artinya apa? Artinya dia nungguin hal lain dari gue!" interpretasi Keyla benar-benar di luar nalar.
"Key, logika lo bener-bener butuh diservis," keluh Rena.
Keyla tidak peduli. Ia segera membalas pesan Arlan.
Keyla: Oh, Om lebih suka yang pahit ya? Kayak omongan Om kemarin? Oke, besok-besok saya bawain kopi hitam tanpa gula paling pahit se-Jakarta. Besok Om ada di kantor jam berapa?
Arlan: Jangan ke kantor.
Keyla: Berarti boleh ke rumah?
Arlan: Keyla, jangan memancing kesabaranku.
Keyla: Hehe, bercanda Om. Tapi beneran, cokelatnya dimakan ya. Jangan dikasih ke asisten Om yang mukanya kayak kanebo kering itu.
Arlan, di dalam mobilnya, tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang tulus setelah sekian lama. Ia segera merubah raut wajahnya kembali datar saat menyadari Pak Maman memperhatikannya lewat spion tengah.
"Dia memang lucu ya, Tuan? Mengingatkan saya sama anak saya yang di kampung," celetuk Pak Maman berani.
"Dia berisik, Maman. Sangat berisik," jawab Arlan, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.
Arlan menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Pikirannya melayang. Mengapa seorang gadis muda yang punya masa depan cerah seperti Keyla mau bersusah payah menghadapi pria rusak seperti dirinya? Apakah ini hanya sekadar obsesi remaja, ataukah ada sesuatu yang lebih tulus yang tidak ia sadari?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi.
Keyla: Om, besok aku ada ujian matematika. Doain ya biar lulus. Kalau lulus, hadiahnya boleh minta makan bareng Om nggak? Sekali aja!
Arlan menatap pesan itu. Ia tidak membalas, namun ia juga tidak menghapusnya.
"Hegh, gadis keras kepala ini benar-benar.... Heumph."